Kalian tahu Reuni itu apa?
Kalian tentu sudah tahu.
Pertemuan kembali setelah berpisah cukup lama.
REUNI betul-betul mengubah hidupku.
Aku bertemu dengan jodohku saat REUNI.
REUNI mempertemukanku kembali, dengan siswa terpintar saat SMA dulu. Sampai benih-benih cinta tumbuh diantara kami. Dan kami pun sepakat mengikat janji suci dalam pernikahan.
Namun siapa sangka?
REUNI yang telah mempertemukan aku dengan jodoh.
Namun REUNI pula membuat rumah tanggaku nyaris berantakan.
Ketika seorang pria yang tidak pernah diperhitungkan di masa lalu. Tiba-tiba hadir dengan segudang pesonanya.
Rumah tanggaku pun dipertaruhkan.
****************
Author : INA AS
Facebook : INA AS
Instagram: INA AS
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina As, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Jangan Ganggu Aku Lagi
Sudah beberapa hari sejak Bimasena datang bermain catur di rumahnya, ia belum pernah membalas pesan Bimasena. Memikirkannya membuat Nadia galau. Pada satu bahagian hati ia sangat ingin membalas pesan itu, tetapi pada bahagian hati yang lain mencegahnya.
Bukan lagi khawatir, namun sekarang ia sudah takut. Terhadap perasaan yang tumbuh begitu saja dari hati. Pada pria bernama Bimasena.
Sekarang dirinya selalu ingin bertemu pria itu. Selalu ingin mendengar suaranya. Selalu ingin mendapat pesan darinya. Semakin hari semakin menjadi. Tidak terkendali.
Keinginan itu begitu menggebu. Ia tak mampu lagi mencegah hatinya, terseret ombak yang tercipta oleh daya pikat Bimasena.
Tidak. Ia tidak boleh mengikuti perasaannya. Mengikuti perasaan sama saja dengan bermain api. Kelak, ia akan terbakar sendiri.
Ia ingin menanggalkan rasa itu. Ia ingin hatinya seperti sebelum bertemu Bimasena. Rasa itu terlalu membebani. Rasa yang begitu gemulai dengan liukannya, namun tidak ubahnya ular berbisa. Racun bisanya bisa membunuh.
Rasanya ingin menangis saja, saat ia telah mencoba membulatkan tekad, tiba-tiba ponselnya berdering dan tertera nama Bimasena pemanggilnya. Batinnya berkecamuk.
Jawab Nadia ...
Jangan ...
Jawab Nadia ... atau kamu akan menyesal ...
Jangan ... atau kamu akan menghancurkan rumah tanggamu ...
Jawab Nadia ... Bimasena pria yang baik ...
Jangan Nadia ... Bimasena hanya ingin bermain hati, pria baik-baik tidak akan mengganggu istri orang.
Begitulah perang yang terjadi di dalam batin Nadia, dan Nadia lebih percaya pada bisikan terakhir, Bimasena hanya ingin bermain hati.
Setelah tiga panggilan ia abaikan, Bimasena menyusul dengan mengirim pesan padanya.
Bimasena:
Nadia ... besok aku berangkat ke Amerika. Kalau kamu nggak keberatan, boleh bertemu denganmu dulu sebelum aku berangkat?
Akal sehat sedang menguasai dirinya. Dengan segera tangan Nadia mengetik pesan, sebelum pikirannya berubah kembali.
Nadia:
Bima tolong jangan ganggu aku lagi. Jangan hubungi aku. Jangan dekati aku. Jangan masuk di hidupku.
Dengan segera ia mengirim pesan itu. Sebelum perasaannya kembali mengalahkan akal sehat.
Namun setelah ia mengirim pesan itu hatinya diliputi penyesalan. Ingin menangis. Baru saja ia mengirim pesan yang sangat kasar pada Bimasena. Padahal Bimasena tidak pernah kasar kepadanya. Sudah terlanjur basah, Bimasena sudah membaca pesan itu. Tidak bisa ia tarik kembali.
Ia berharap Bimasena membalas ataupun menelponnya. Agar ia bisa memperbaiki kembali kosakatanya. Namun ternyata pria itu tidak pernah menghubunginya lagi. Berjam-jam menunggu, balasan Bimasena tidak pernah masuk di ponselnya lagi.
Kini ia benar-benar menangis. Menyesal telah mengirim pesan itu. Tetapi dirinya yang lain, menguatkan hati untuk tidak menghubungi Bimasena.
Terlebih lagi besok ... Bimasena akan ke Amerika.
Duhai hati ... mengapa begitu lemahnya kamu.
Dengan mudah terperangkap.
********
Bimasena melempar ponselnya begitu saja ke atas sofa di sampingnya setelah membaca pesan dari Nadia.
Nadia:
Bima tolong jangan ganggu aku lagi. Jangan hubungi aku. Jangan dekati aku. Jangan masuk di hidupku.
"Sial ...," makinya atas penolakan yang ia dapat dari Nadia.
Wanita itu sudah membuatnya kacau hari ini. Ia tidak bisa berkonsentrasi duduk di meja kerjanya. Dua pesan sewaktu ia bermain catur di rumahnya tidak dibalas. Tiga teleponnya tadi, tidak dijawab. Dan terakhir pesan yang ia kirim, malah mendapat balasan mengecewakan.
Ia lalu menaikkan kaki secara bersilangan di atas meja sofa, menyandarkan kepalanya pada dinding Sofa. Berusaha menjauhkan wajah berparas rupawan itu dari pelupuk matanya.
Nadia sekarang tidak ubahnya hantu, bayangan Nadia terus menghantui dirinya. Bahkan Bimasena bisa mengingat dengan jelas, wangi yang ia cium saat wanita itu berdiri di sampingnya meletakkan cangkir kopi di atas meja. Atau tangan sedingin es karena ketakutan saat mendorong dadanya keluar dari rumahnya.
Ah ... Nadia.
Ia berusaha menjauhkan bayangan Nadia, namun malah tenggelam dalam lamunan.
"Pak, Bapak sudah ditunggu Direktur Hulu untuk rapat di meeting room." Sekretarisnya membuyarkan lamunan. Dengan segera ia bangkit dan berjalan menuju ruangan meeting room.
Melakukan hal penting lebih berguna daripada duduk diam memikirkan istri orang. Sejak kapan ia menjadi segila ini? Ia sudah meragukan tingkat kewarasan dirinya sendiri.
Nadia ... kamu harus tanggung jawab!
******
"Tahun depan kita sudah bisa meluncurkan teknologi baru dalam pembangunan proyek bawah laut dengan menggunakan subsea connect dan aptara totex-lite."
"Subsea connect dan aptara totex-lite sebuah sistem modular yang dapat digunakan sepanjang umum pengeboran." Bimasena menjelaskan teknologi baru yang rencana ia gunakan dalam pengeboran.
"Bagaimana tingkat efektifitas dan efisiensinya?" Direktur Hulu antusias mendengarkan pemaparan Bimasena mengenai teknologi baru yang sudah diterapkan di Amerika itu untuk dibawa ke Indonesia.
Soal penerapan teknologi baru, Bimasenalah ahlinya di perusahaan itu. Mungkin karena itu, dari awal karirnya ia selalu di tempatkan di eksplorasi. Sehingga sebahagian besar waktunya dihabiskan dari sumur ke sumur minyak yang lain.
"Teknologi ini diklaim dapat menghemat biaya pembangunan dari proyek-proyek bawah laut rata-rata 30%, serta berpotensi untuk menambah ketersediaan cadangan minyak global hingga 16 miliar barel," papar Bimasena.
"Nadia, tolong tayangkan slide yang berisi dokumentasi penggunaan sistem modular itu di Amerika!" perintah Bimasena pada Sekretarisnya.
Namun tidak seperti biasanya, sekretarisnya yang selalu responsif, sekarang wanita itu hanya melongo kepada Bimasena. Dengan keheranan atas atas ekspresi sekretarisnya, ia balas memberi isyarat perintah kepada sekretarisnya.
Namun suara tawa para peserta rapat disusul ledekan Direktur Hulu menyadarkannya.
"Sejak kapan nama sekretarismu berubah?" disusul gelak tawa peserta rapat yang lain.
"Jadi Nadia nih nama calonnya?" seru SPV D&T.
Akhirnya ia hanya bisa tertawa menahan malu.
Bimasena masih tidak percaya mengucapkan "Nadia" saat menyebut nama sekretarisnya.
Wanita itu ternyata sangat mempengaruhinya.
Nadia, kamu sudah membuatku kacau. Kamu harus tanggung jawab.
*******
Malam ini Bimasena datang ke sebuah cafe menghadiri acara kumpul-kumpul bersama teman komunitas Mobil Sport-nya untuk membahas jadwal touring. Saat masuk ke dalam cafe, ia berpapasan dengan rekan komunitasnya, Danindra.
"Akhirnya, dua cowok tampan dan mapan kita sudah datang nih," seru Andre, salah satu anggota komunitas, begitu ia dan Danindra bergabung.
"Tampan dan mapan, sayang nggak laku-laku," seloroh Prayitno yang disambut riuhnya tawa anggota komunitas.
Begitulah mengenaskannya bila masih membujang di usia 30 tahun. Ia harus siap selalu menjadi bulan-bulanan teman-temannya. Beruntung masih ada Danindra yang senasib dengannya.
"Bukannya nggak laku, banyak kok yang mau. Tapi gimana mau jadi, gua jatuh cinta sama bini orang," ujar Danindra disusul ledakan tawa.
Seketika itu juga wajah Bimasena memerah. Ia merasa Danindra sedang menyindir dirinya. Tapi bagaimana Danindra tahu, bila ia sedang naksir istri orang? Bila dibiarkan bisa jadi gosip panas. Sehingga begitu mendapat kesempatan berdua dengan Danindra, ia tidak melewatkan kesempatan itu.
"Maksud kamu tadi jatuh cinta pada bini orang?" Bimasena mengatakannya pada Danindra dengan wajah memerah menahan kesal pada Danindra.
Danindra terkekeh. Lalu memperlihatkan sebuah foto perempuan padanya lewat ponsel. Perempuan berwajah tirus dengan kulit seperti pualam. Sangat cantik. Asal saja fotonya tidak diedit.
"Cantik kan? namanya Adinda. Gua sukanya sama cewek ini. Sayang ia sudah punya suami. Sudah dua kali nikah malah.
Ia dan Danindra lalu sama-sama terbahak. Sekarang ia sudah lega, ternyata Danindra bukan menyindir dirinya. Tetapi menceritakan kisahnya sendiri. Ternyata mereka betul-betul senasib. Ia nyaris tidak percaya, betapa blak-blakannya pria itu. Dengan bangga membongkar aib sendiri.
"Trus bagaimana upaya kamu mendapatkannya?" Mengapa ia jadi penasaran begitu, seolah ia akan menuntut ilmu kepada Danindra.
"Dulu Gua udah pernah usaha, tapi gagal. Adinda memang bercerai dengan suaminya, tapi kawin lagi ama sepupunya."
"Jadi sekarang biarlah begini saja dulu sambil menunggu peruntungan. Siapa tahu sepupunya blunder. Dan gua ditakdirkan berjodoh."
"Atau menunggu wanita lain yang bisa menarik hati lagi. Merusak rumah tangga orang ternyata bukan ide yang baik. Beresiko tinggi bro. Jangan coba-coba," jawab Danindra sambil tersenyum.
Bimasena menghela nafas panjang atas kalimat terakhir Danindra.
Merusak rumah tangga orang ternyata bukan ide yang baik. Beresiko tinggi.
"Emang lu belum punya calon ya?" Danindra bertanya balik.
Bimasena menghela nafas lalu tertawa sumbang.
"Kita senasib bro," jawab Bimasena mantap.
**********
Nadia hampir tidak bisa tidur semalaman. Memikirkan pesan yang sudah terlanjur ia kirim pada Bimasena. Entah setan dari mana yang membisikinya untuk mengirim pesan sekasar itu pada seorang pria yang baik padanya. Sekarang ia menyesal.
Terlebih lagi Bimasena tidak pernah membalas pesan itu. Ataupun menelponnya kembali. Mungkin ia sudah tersinggung. Bimasena marah. Dan tidak ingin menghubunginya lagi kembali.
Lalu mengapa ia merasa sedih?
Mengapa ia merasa kehilangan?
Apalagi hari ini Bimasena berangkat ke Amerika.
Entah berapa lama.
Bima aku rindu.
Ucapan yang hanya tertahan di hati. Tanpa mampu tersampaikan. Karena menyampaikannya merupakan kesalahan besar. Sementara ia harus konsisten bertahan pada jalurnya. Jalur yang tidak menyimpang.
Betapa tidak menyenangkannya menjadi dirinya sekarang. Ia sudah melarang, namun kepalanya tidak pernah kehabisan cara melukiskan bayangan Bimasena.
Ia memilih duduk berdiam di ruang kerjanya. Daripada keluar mengontrol pekerjaan karyawan. Tidak ada semangat sama sekali sejak kemarin ia mengirim pesan yang membuatnya menyesal. Menjadikannya galau dan gelisah. Seolah anak remaja yang baru mengenal cinta. Apa daya, rindu sudah terlanjur terukir di hati. Atau haruskah ia mengirim pesan kembali kepada Bimasena?.
**********
Bimasena sedang dalam perjalanan menuju Bandara.
"Mungkin aku agak lama, karena aku akan melihat uji coba teknologi baru dulu di Amerika, ya sekalian ngumpul kembali dengan keluarga di sana," ucap Bimasena pada seseorang lewat sambungan telepon.
"Oke, terima kasih ya, sampai ketemu," lanjutnya lagi seraya memutus sambungan telepon.
Ia hendak meletakkan ponselnya, namun diurungkan karena sebuah pesan masuk yang membuatnya penasaran.
Nadia:
Bim, jadi ya berangkat ke Amerika hari ini?
Bimasena mengernyit, mengapa Nadia tiba-tiba mengirim pesan padanya? Apa terjadi apa-apa dengannya? Bukankah kemarin Nadia sudah mengirim pesan agar berhenti mengganggunya.
Bimasena segera membalas pesan Nadia dengan perasaan agak cemas, khawatir terjadi apa-apa dengannya. Tidak mungkin Nadia menghubunginya untuk sesuatu yang tidak penting.
Bimasena:
Jadi Nadia. Ini sudah di jalan menuju Bandara. Ada apa? kamu baik-baik saja?
Bimasena menunggu balasan dari Nadia dengan perasaan cemas. Begitu bunyi notifikasi terdengar, ia segera membacanya.
Nadia:
Nggak ada apa-apa. Hati-hati ya Bim.
Hati-hati ...
Kata sederhana yang mampu melambungkan Bimasena seketika. Membuat senyumnya merekah sempurna. Semangatnya yang sempat dihempaskan oleh Nadia kemarin tumbuh kembali. Tanpa sadar ia terus tersenyum. Macam bocah yang baru mengenal cinta. Sangat menggelikan. Betapa berartinya kata hati-hati yang diucapkan oleh Nadia. Membuat energinya terdongkrak berkali-kali lipat.
Hati-hati.
********
Bimasena kembali tidak membalas pesannya. Sudah setengah jam ia menunggu. Mungkin pria itu sudah marah padanya. Untung saja ia hanya mengirim pesan hati-hati kepada Bimasena. Bagaimana bila ia mengirim pesan ungkapan rindu pada Bimasena? Tentu ia akan dibuat malu karenanya.
Sekarang, ia sedang tidak baik-baik saja. Nadia menelungkupkan kepalanya di atas meja kerja, menahan rasa rindu yang menusuk-nusuk dan galau yang terus menggigit.
Namun ia dikagetkan dengan bunyi pintu yang dibuka tanpa diketuk sebelumnya. Andriani berdiri di muka pintu.
"Mbak, ada tamu yang mencari Mbak Nadia," ucap Andriani tersenyum.
"Siapa?" tanyanya.
"Cowok cakep yang pernah datang kemarin." Senyum Andriani sudah disertai tatapan menuduh.
Bima?
Oh Tuhan, memang benar aku rindu, tapi tidak seperti ini. Mendadak bertemu tanpa direncanakan. Mengapa selalu begini? Aku butuh persiapan bila hendak bertemu dengannya.
Seketika jantungnya kembali kepada mode on bila bertemu Bimasena.
*********
Readers tersayang,
Maaf jadwal UP nya Reuni selalu kelamaan.
Karena penulis masih berkonsentrasi pada masalah Adhitama dan Adinda 😄.
Terimakasih atas segala dukungannya.
Semoga bacaan ini dapat menghibur.
Salam sayang dari Author 😘😘😘
Nadia: Apakah kamu sering tidur dg banyak wanita sblm denganku, Bim.karena sbg seorang jejaka kamu sangat pro dlm sex?
itu diotakku, ternyata beda yg diotak kak Ina..🤣🤣
tentulah kalo jadi iatri Tristan, akan pilih selingkuh dg Bima.Kalau istri Adit akan pilih setia,krn suami sdh baik, sayang, kaya lagi..hehe
.hehehe