Musim telah berganti dengan begitu cepat. Denting waktu membawa kita pada detik ini. Musim pertama telah usai meninggalkan bait-bait kenangan yang begitu indah.
Mereka telah bersama setelah melewati rintik sendu. Kini saatnya berbahagia. Namun adakah waktu yang tidak terbatas untuk merasa bahagia?
Bagaimana cinta akan menjawabnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16_Mari Sabar Sebentar Lagi
Pagi harinya di rumah Vano.
“Tante ….” Arai mengucek sebelah matanya. Ia duduk di atas ranjang. Neva yang tengah duduk di sofa segera beranjak dan menghampirinya. Ia duduk disisi ranjang dan mengusap rambut keponakannya dengan sayang.
“Bagaimana tidurmu? Nyenyak?” tanyanya.
Arai mengangguk, “Hu’um,” jawabnya tanpa membuka mulut.
“Sikat gigi, cuci muka lalu kita bersepeda. Yuk,” ajaknya. Arai mengangguk lagi. Dia dengan patuh turun dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu ia keluar dari kamar mandi tapi sudah tidak ada Neva di dalam kamar. Sebagai gantinya, ada Vano disana.
“Sudah selesai?” tanya Vano. Dia mengeringkan wajah Arai. Mengganti bajunya lalu menyisir rambutnya. “uhh tampannya putra kecil Leo,” Vano mencubit pipi keponakannya.
“Paman Vano lebih tampan,” jawab sikecil yang membuat Vano terkekeh.
“Hahhaahaha. Kenapa begitu?” tanyanya.
“Cewek-tewek banyak yang tuka,” jawabnya dengan lugu. Ia ingat Vano pernah bercerita padanya tentang itu.
Vano semakin tertawa, “Hahaa. Betull. Pacar paman sangat banyak. Paman bahkan menolak cinta dari cewek-cewek setiap hari.”
Arai bertepuk tangan dengan tawa riang khas anak kecil.
“Tante nomor berapa?” tanyanya kemudian.
“Tante paling terakhir doong.”
“Yeyyy, Tante hebat. Mengalahkan banyak tewek.”
“Huum. Karena … Tante sangat baik. Jadi, paman langsung jatuh hati padanya. Jatuh sejatuh jatuhnya. Ohh aku akan mati tanpamu ….” Pada akhir kalimat, suara Vano berubah bak Romeo yang tidak akan bisa hidup tanpa Juliet. Arai tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan ringan. Vano ikut tertawa melihat si kecil tertawa. Ia mencubit pipi Arai dengan gemas.
“Yuk, turun kebawah. Tante sudah menunggu kita ….” Ajaknya. Arai mengangguk. Mereka turun kebawah bersama dan langsung menuju meja makan.
“Waahh, sudah ganteng ponakan Tante.” Neva menyambutnya. Ia langsung menyiapkan kursi untuk Arai dan meletakkan susu di atas meja. “Sini,” ucapnya. Vano mengangkat tubuh Arai untuk membuatnya duduk di kursi.
“Terima kacih, Paman. Tapi sebenarnya aku bita tendiri. Aku cudah tinggi,” ucap Arai menatap Vano dengan mata bulatnya yang menggemaskan.
“Tidak apa-apa. Hari ini kau boleh manja,” jawab Vano.
“Tapi dia bukan anak manja, Paman.” kini Neva yang menyahutnya. Si kecil tampan mengangguk membenarkan ucapan Tante cantiknya.
“Ok.” Vano berdiri dengan tegak di depan Arai. “Hari ini … kau adalah raja. Dan aku akan melayanimu raja kecil yang imut,” ucapnya dengan gagah bak prajurit yang patuh pada rajanya. Kedua mata bulat Arai berbinar. Ia tersenyum lebar memperlihatkan barisan gigi putihnya. Pun juga dengan Neva. Dia tersenyum lebar dan memberikan tepuk tangan pelan.
“Rajaku. Apa yang bisa hamba lakukan untukmu,” tanya Vano. Si kecil nampak berfikir. Ia ingin apa?
“Nanti … kalau aku tapek bertepeda, Paman gendong aku.”
“Siap paduka. Apa lagi?”
“Tudah,” jawabnya. Ia tidak tahu harus meminta apa lagi.
“Apa rajaku tidak ingin mainan?” kini Neva yang bertanya.
Arai menggeleng. Ya. Dia tidak boleh meminta apapun selain pada Daddy dan Mommy. Dia diajarkan hanya boleh meminta sesuatu pada, Daddy dan Mommy. Jadi, meskipun ia ingin, ia tidak akan memintanya pada Paman atau Tante.
“Aku mau minum tutu,” ujarnya dengan pandangan imut. Neva dan Vano segera mengalihkan pandangan pada segelas susu yang berada di depan Raja kecilnya. Dan itu membuat mereka tertawa kecil. Mereka sampai lupa jika susu itu sudah ada sedari tadi. Mereka malah menunda Arai untuk meminumnya.
“Baik. Silahkan, Paduka,” ujar Vano. Kemudian mereka bertiga sarapan dengan perasaan yang begitu hangat. Vano dan Neva memperhatikan bagaimana si kecil menyelesaikan sesi makannya. Itu terlihat sangat imut.
Vano dan Neva saling merangkul menyaksikan sosok menggemaskan didepan mereka. Tidak bisa dipungkiri jika mereka sangat mengharapkan ada sosok malaikat kecil yang hadir diantara mereka. Sangat-sangat menginginkannya. Tidak perlu ditanya ‘Kapan.’ Saat ini juga mereka mau, saat ini juga mereka siap. Tidak perlu ditanya ‘Kapan.’ Mereka lebih menginginkannya dari pada siapapun.
Setelah itu, mereka bersiap bersepeda.
“Raja, hal apa yang ingin kau lakukan untuk dunia ini?” tanya Neva sebelum mereka berangkat. Mereka duduk di teras, Neva memakaikan topi dengan perhatian dan sayang. Rasanya, ia ingin si kecil bersamanya sepanjang hari.
“Membuat dunia bertih dari campah,” jawab Arai cepat.
“Wawwww ….” Vano dan Neva berseru. Paman Vano langsung bertepuk tangan untuknya.
“Hebat ….” Vano memberinya dua jempol.
Setelah itu, mereka kemudian berkeliling dengan sepeda. Arai berboncengan dengan Neva dan Vano akan mengejar mereka dari belakang. Terkadang mereka berjejeran. Di belakang mereka, ada dua asisten rumah tangga yang turut serta. Mereka membawa dua kantong besar. Saat mereka menemukan sampah tercecer maka mereka akan mengambilnya. Hingga membuat beberapa pejalan kaki ikut membantu untuk membersihkan sampah. Petugas kebersihan saja tidak cukup, jika kesadaran dari diri kita masih minim.
Tak lupa … Neva mengabadikan moment ini di akun social medianya. Dia membuat tagar.
Mari bersihkan dunia dari sampah. Lakukan sekarang dari diri kita. Stop buang sampah sembarangan.
“Sayang, sini,” Neva mengarahkan kameranya pada Arai. Saat ini mereka berhenti di taman bermain. Udara sangat sejuk di kota B. Lahan perkebunan teh terbentang luas. Langit cerah, biru dan begitu indah.
Arai naik ketangga lalu meluncur dari atas. Neva berjalan kerahnya sambil terus mengarahkan kamera. Neva tengah melakukan live streming saat ini.
“Sayang, bilang keteman-teman ….” Pintanya. “Teman-teman ….” Neva mengajari Arai tapi Arai cuek padanya. Laki-laki kecil itu kini berlari menuju permainan panjat tali. Neva membututinya. “Sayang,” Neva membujuknya. Arai masih cuek padanya. “Ayoo dong say hai pada teman-teman.”
“Tidak,” jawab Arai. Dia bermain lagi. Neva membujuknya lagi.
“Ayo dong, sayang. Teman-teman ….” Neva mengajari Arai untuk berbicara pada teman-teman social medianya. Namun ia harus kecewa karena Arai tidak menghiraukannya. Dia asik naik tali lalu meluncur kebawah. Vano menjaganya dari jarak yang dekat. Ia takut keponakannya terjatuh. Anak kecil itu sangat aktif dan tidak mau diam.
Neva masih saja membujuknya dan Arai masih cuek padanya.
“Sayang jangan dipaksa,” kini Vano menegurnya. Neva menoleh kearah Vano lalu mengangguk.
“Sebentar saja,” bujuknya. “sayangku, ayoo dong,” pinta Neva lagi. Sikecil bersiap meluncur dari atas dan Vano segera menempatkan diri tepat didepan seluncuran. Arai tertawa kecil melihat itu.
“Paman, tangkap aku,” serunya dan langsung meluncur begitu saja.
YAP. Tepat. Vano menangkap si kecil dalam pelukannya. Dia kemudian menggendongnya dan membawanya pada Neva.
“Bagaimana jika kita mengajak teman-teman untuk tidak membuang sampah sembarangan?” ujar Vano. Si kecil mengangguk. “Ok, bilang ke kamera Tente,” pinta Vano. Neva tersenyum dengan itu. Ia memfokuskan kameranya. Wajah tampan nan imut itu menatap tepat pada kamera Neva.
“Teman-teman ayo jaga bumi kita,” ucap Arai dengan senyum manis dan tatapan mata bulat yang menggemaskan. Vano langsung mencium pipinya setelah itu.
“Good job, My King,” puji Neva.
“Kau mau main apa lagi?” tanya Vano. Arai menunjuk permainan trampolin dan Vano menurutinya.
Vano dan Neva duduk di bangku memperhatikan Arai melompat-lompat dengan lincah. Bibir mereka terus melengkung dengan indah. Terkadang Neva sedikit berteriak saat si kecil tak sengaja terjatuh.
Vano mengangkat tangannya untuk diletakkan di pinggang Neva. Ia memeluk istrinya dengan kasih. Rasanya melihat senyum Neva hari ini, membuat hatinya begitu hangat. Vano lebih mendekatkan dirinya pada Neva lalu membuat kecupan kasih di rambut istrinya.
Neva menoleh kearahnya, menatap Vano dengan senyum. “Sayang, dia sangat lincah,” ujarnya memuji Arai.
“Dan kamu sangat cantik,” jawab Vano. Pipi Neva seketika memerah dan Vano langsung mencium pipi merah itu.
Tak lama, sebuah teriakan terdengar.
“Pamaaan!!” si kecil terlihat turun dari trampoline lalu berlari kerah mereka. Neva panik. Kenapa si kecil berteriak dan bahkan menyudahi permainannya.
“Sayang, kenapa?” tanyanya cemas dan perhatian. Pun juga dengan Vano, ia menatap si pangeran tampan dengan cemas.
Arai menempatkan dirinya tepat didepan mereka berdua. Kedua tangannya terangkat dan diletakkan di pinggangnya. Dia berkacak pinggang, menatap Vano dan Neva secara bergantian.
“Paman jangan tium-tium. Itu tidak copan.” Ujarnya galak tapi menggemaskan.
Neva dan Vano membeku beberapa saat sebelum akhirnya tertawa kecil.
“Paman, dengerin. Tidak boleh cium-cium ditempat umum.” Neva memperjelas ucapan pangeran tampan. Vano masih tertawa kecil, ia tidak menyangka jika si kecil akan menegurnya. Dengan gemas ia mengangkat tubuh Arai dan membawanya berlari.
Setelah selesai dengan keseruan pagi ini, mereka kembali kerumah. Neva segera memandikan keponakannya dengan sangat bersih. Dia akan mati ditangan kakaknya jika ada satu bercak kotor ditubuh keponakannya. Mereka bernyanyi seru di kamar mandi.
Siang harinya, Arai tidur setelah setelah bermain game bersama Vano. Sama seperti semalam, ia berada ditengah diantara Neva dan Vano.
“Setelah dia kembali nanti, pasti akan terasa sangat sepi,” ujar Neva sedih. Vano mengusap rambut Arai dengan pelan dan hati-hati. Dia tersenyum, kemudian ia membawa pandangannya pada Neva.
Neva membalas tatapan matanya. Kemudian dengan berat ia berkata, “Bagaimana jika kita mengodopsi seorang putra yang lucu dan pintar seperti dia? Kita bisa mengadopsi bayi lucu di panti asuhan. Atau kita bisa mengunjungi yayasan milik Kak Yuna. Kita akan mengurus bayi dari dalam kandungan ibunya.”
Vano menghela nafasnya mendengar itu. Ia tahu Neva begitu tertekan setelah papanya bertanya sore itu.
“Sayang, mari sabar sebentar lagi.” Vano mengusap lengan Neva dengan kasih. Kemudian berpindah kepipinya.
Sikecil mendengar percakapan mereka. Hatinya menjadi sedih, ia adalah anak yang perasa, perasaannya halus dan mudah tersentuh. Ia berjanji dalam hati untuk lebih sering mengunjungi paman dan tantenya. Ia juga berdo’a dalam hati, agar paman dan tantenya segera memiliki bayi yang lucu.
_____
Catatan Penulis.
Jangan Lupa Like Komentar ya kawan tersayang. Saaaaaayang kalian cemua.
masih tetap di sana atau gimana ya?
Leo dan Yuna ditakdirkan selalu bersama,menua bersama oleh kakak author.
kalo Kiara migrasi ke Mars 🤣🤣