PERHATIAN! INI ADALAH KISAH LANJUTAN DARI KARYAKU LOVE BY PSYCHOPATH 1, JADI BUAT KALIAN YANG AKAN MEMBACA KARYA INI LEBIH BAIK MEMBACA YANG SEASON 1 AGAR DAPAT MEMAHAMI CERITANYA.
.
.
.
.
Kau mencoba berlari, tapi semakin berlari semakin aku menginginkanmu kembali. Jika kau lihat ke belakang sebuah kisah kita akan terulang. Suatu keberuntungan bisa melihat sang Dewi berhasil aku taklukkan.
-Darrel
Ini adalah kisah cinta psychopath yang selalu mencari cara bagaimana agar bisa menyembunyikan cintanya. Cerita ini menunjukkan bagaimana seorang psychopath mencintai seseorang dengan sudut pandang berbeda. Tapi apakah ada perbedaan antara posesif dan cinta, menurut Darrel sama saja. Jika bisa membuat cintanya si Dea Mahesa berada di pelukannya, itulah cara dia mengekspresikan cintanya.
HALLO SEMUANYA!! Makasih yang udh mampir ke cerita author. Semoga kalian menikmati cerita dari awal hingga akhir. Jangan lupa dukung author dengan tinggalkan jejak di setiap babnya. Dan author hanya terbit di noveltoon ataupun mangatoon ya, selain itu author tak menerbitkan di apk manapun. terimakasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuriko Harumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 16 •LBP2• : TERLUKA
Seketika aku terdiam mendengar perkataan Darrel. Baru kali ini aku melihat orang gila yang sadar dirinya memang gila. Aku tersenyum melihat Darrel, dengan wajah terharu melihat kesadaran orang gila ini.
"Oh maaf sepertinya aku datang di saat ada masalah keluarga" terdengar seseorang yang tiba-tiba datang, membuyarkan keheningan ini.
"Bedebah!" umpat Darrel sambil menatap tajam, saat melihat Raffyn lah yang datang.
"Ha-halo" kataku sambil tersenyum melihat Raffyn yang datang.
"Maafkan saya nyonya Dea, bolehkah saya berbicara dengan orang yang sadar akan kegilaannya sendiri?" tanya Raf mengejek sambil memposisikan duduk di sebelah Darrel.
Aku hanya tertawa pelan, tidak menyangka Raffyn berkata seperti itu. Mungkin Raffyn bukanlah orang yang aku kira. Seperti terlihat penurut, tapi lebih seperti adik yang nakal.
"Cepatlah katakan atau aku akan memukulmu keluar" kata Darrel tanda tidak suka.
Sedangkan aku, aku hanya membuatkan jus yang niatnya hanya untuk Darrel. Tapi sekarang Raffyn ada di sini mungkin aku akan membuatkan untuk dia juga.
"Aku sudah terbiasa akan hal itu, ngomong-ngomong tadi malam sepertinya ulah tikus kandang" kata Raffyn.
Sepertinya ada yang salah dengan percakapan Raffyn barusan. Karena setelah perkataannya, membuat Darrel tidak menjawabnya. Begitu pula Raffyn tidak mengatakan apapun lagi.
"Maaf mengganggu ini aku buat-"
...PRANK!...
Nampan yang berisi jus yang aku buat untuk mereka berdua tumpah, apalagi saat Darrel tiba-tiba berdiri di depanku.
"Darrel! Apa yang kau lakukan!" teriakku sambil berjongkok berusaha membersihkan pecahan kaca.
"Ikut aku sekarang Dea!" teriak Darrel dengan nafa tingginya.
"Iya aku harus membersihkan ini duku agar tidak ada yang terluka" kataku mulai membersihkan pecahan gelas dengan tanganku.
"Dea!"
"Akh!" teriakku saat telapak tanganku mulai terkena pecahan gelas, karena Darrel menariknya tiba-tiba.
"Pergi ke kamar sekarang!" teriak Darrel sambil menyeretku ke kamar dengan tangan kirinya.
"Darr-"
"Masuk! Masuk sekarang!" kata Darrel dengan tegas, saat kita ternyata sudah sampai di depan kamar.
"Tapi Dar-"
...BRAK!...
Terdengar jelas tinju Darrel kuat pada dinding kamar. Aku melihat tangan Darrel yang sudah memerah karena pukulan dengan dinding. Aku ingin memegang tangannya yang lebam, tapi Darrel menarikku kembali tanpa berkata.
"Tetaplah di dalam sampai aku datang, aku akan membawa kotak obat nanti tapi tolong jangan keluar" ucap Darrel cepat sambil menutup pintunya kuat.
Aku hanya menghela nafasku. Pikiranku masih tidak bisa memproses apa yang terjadi. Awalnya Darrel bersikap seolah dia sangat lemah dan memohon, tapi saat ini dia bersikap layaknya Darrel yang sebenarnya.
Apalagi tangannya yang lebam karena memukul dinding kamar. Itu membuatku tambah menggelengkan kepala.
"Kenapa saat dia terluka tidak sekalian kedua tangannya saja" kataku sambil duduk di kasur kamar.
Saat duduk entah kenapa justru aku lebih merasakan sakit akibat pecahan gelas tadi. Aku tidak tau, mungkin karena tadi pikiranku teralihkan atau bagaimana. Aku mulai beranjak dan menuju ke kamar mandi yang ada di kamar. Hanya sebuah shower, serta tempat cuci tangan. Tidak ada bak untuk berendam, ataupun semewah tempat mandi di bawah.
"Ack!" teriakku saat ternyata ada pecahan kecil gelas masih tertencap di telapak tanganku.
Aku terus mencucinya bersih, meskipun terasa sakit tapi ini bukanlah apa-apa. Benar ini sakit, tapi di bandingkan dengan luka bersama Darrel dulu itu lebih menyakitkan. Tubuh di cambuk, tangan di ikat, kaki siram air keras, kaki hampir di gergaji, bahkan sampai di tusuk. Aku menghela nafas saat mengingat Darrel yang aku temui beberapa bulan lalu, dengan Darrel yang saat ini bersamaku. Mungkin memang benar orang bisa berubah, tapi melihat cara Darrel memperlakukan ku sekarang membuatku berpikir dua kali untuk memikirkannya lagi.
"Apa yang kau pikirkan" ucap Darrel tiba-tiba sambil memelukku dari belakang.