Bagi Arvin, Karin bukan sekadar tante dari sahabatnya. Karin adalah tempatnya pulang, tawa yang selalu ia cari, dan masa depan yang ingin ia tuju. Di saat kedekatan mereka mulai mencairkan dinding perbedaan usia, sebuah kencan tak sengaja justru membawa kembali bayang-bayang masa lalu Karin yang belum usai.
Ketika masa lalu menuntut tempatnya kembali, akankah Karin bertahan pada zona nyamannya, atau berani melangkah demi rasa yang lebih dari sekadar tante?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembicaraan di Puncak Bukit
Arvin berhasil menemukan tempat duduk yang nyaman berupa bangku kayu panjang yang menghadap langsung ke arah tebing. Setelah memastikan Karin duduk dengan nyaman, Arvin berdiri di sampingnya.
"Tan, mau minum gak? Mau minum apa?" tanyanya menawarkan diri.
"Air mineral aja, Vin," jawab Karin sambil mengibaskan tangannya ke wajah, mencoba mengusir rasa gerah yang tersisa.
"Oke, tunggu bentar, ya." Arvin pun melangkah menuju warung kecil yang berada tidak jauh dari area puncak bukit.
Di depan warung, ternyata sudah ada Dito dan pacarnya, Sela, yang sedang mengantri membeli es kelapa muda. Melihat kedatangan Arvin, Sela langsung menyenggol lengan Dito lalu tersenyum menggoda ke arah Arvin.
"Cie... yang lagi deketin tantenya si Eja," celetuk Sela dengan nada usil.
Arvin yang sedang mengambil dua botol air mineral dari dalam kulkas mini hanya mendengus pelan. "Apaan sih lo?" sahut Arvin datar, mencoba menyembunyikan salah tingkahnya.
Sela terkekeh melihat respons dingin yang sangat khas dari cowok itu. "Banyak cewek di sekolah yang ngejar-ngejar lo, Vin. Tapi ternyata selera lo yang dewasa, ya? Tapi hati-hati lho, nanti sakit hati."
Arvin tidak menggubris ucapan pacar temannya itu. Setelah menyerahkan selembar uang kepada pemilik warung dan menerima kembaliannya, dia langsung membalikkan badan dan berjalan pergi begitu saja, mengabaikan tawa kecil Dito dan Sela di belakangnya. Kata-kata Sela sempat terngiang di kepalanya, namun Arvin buru-buru menepisnya.
Arvin kembali ke bangku tempat Karin menunggu. Sebelum menyerahkan botol tersebut, dengan sigap Arvin memutar tutup botolnya terlebih dahulu hingga segelnya terbuka, baru kemudian meletakkannya di atas meja kayu di depan Karin.
"Minumnya, Tan," ucap Arvin.
Karin menoleh, lalu menyunggingkan senyum manis yang tulus. "Wah, makasih banyak ya, Arvin."
Karin kembali mengarahkan pandangannya ke arah hamparan lembah hijau di bawah mereka sambil meneguk air mineralnya perlahan. Angin sore meniup helai-helai rambutnya yang mulai kering, menciptakan pemandangan yang membuat Arvin lagi-lagi terpaku di tempatnya berdiri.
"Vin," panggil Karin tiba-tiba, matanya masih menatap lurus ke depan. "Kenapa kamu gak pacaran kayak teman-temanmu yang lain?"
Pertanyaan itu membuat Arvin sedikit terkejut. Dia ikut mendudukkan dirinya di sebelah Karin, memberi jarak beberapa sentimeter. "Belum ada yang menarik perhatian gue, Tan," jawab Arvin jujur, tatapannya kini lurus menatap wajah samping Karin.
Karin manggut-manggut, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. "Bagus kalau gitu. Berarti kamu tahu apa yang kamu mau, gak asal pacaran cuma karena nafsu sesaat atau ikut-ikutan tren aja. Mending sekarang fokus belajar dulu aja yang bener."
Karin mengucapkan kalimat itu dengan nada santai khas seorang kakak, tanpa menyadari kalau sejak tadi pandangan Arvin tidak pernah beralih dari wajahnya. Arvin menatap lekat bibir Karin yang bergerak saat berbicara, lalu beralih ke matanya yang berbinar. Ada keseriusan dan ketegasan dalam tatapan remaja 17 tahun itu, jauh dari kesan sekadar menghormati tante teman.
Karena tidak mendengar jawaban atau sahutan dari cowok di sebelahnya, Karin akhirnya menoleh ke samping. Saat itulah matanya langsung bertubrukan dengan tatapan dalam Arvin yang begitu intens.
Sadar dirinya tertangkap basah sedang memandangi Karin, Arvin tidak buru-buru memalingkan wajah. Dia menahan pandangan Karin selama beberapa detik sebelum akhirnya menjawab dengan suara ngebasnya yang pelan namun mantap.
"Iya, Tante.”
Suasana kembali hening sejenak, hanya menyisakan suara angin bukit. Arvin memutar-mutar botol minuman di tangannya, sebelum akhirnya memberanikan diri melontarkan pertanyaan yang sejak tadi mengusik kepalanya.
"Terus... Tante sendiri kenapa belum nikah?"
Karin menghela napas panjang. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku, kembali menatap hamparan pemandangan hijau di depan mereka.
"Nikah itu gak semudah itu, Vin. Nikah itu beda banget sama pacaran," jawab Karin pelan. Dia menjeda kalimatnya sejenak, tampak berpikir. "Gimana ya bilangnya..."
Karin menoleh sekilas ke arah Arvin sebelum melanjutkan, "Nikah itu kebanyakan isinya ngobrol, dan gak melulu soal cinta-cintaan manis kayak pas pacaran. Masalah sepele kayak naruh handuk basah di atas kasur aja bisa bikin berantem hebat kalau udah nikah. Makanya, Tante itu nyari orang yang bener-bener enak diajak ngobrol."
Karin tersenyum tipis, menerawang. "Kayak... percuma aja gitu kita suka sama orang, tapi ujung-ujungnya kita malah males buat cerita apa-apa ke dia karena udah tahu respons dia bakal gimana atau gak nyambung. Nah, Tante gak mau punya pasangan kayak gitu. Tapi, ya... itu cuma pandangan Tante aja sih soal pernikahan."
Arvin mendengarkan setiap untaian kata yang keluar dari bibir Karin dengan saksama. Kedewasaan cara berpikir Karin justru membuat kekagumannya makin berlipat ganda.
"Emang dari mantan-mantan pacar Tante yang dulu, gak ada yang kayak gitu ya?" tanya Arvin penasaran.
Karin spontan menolehkan kepalanya, menatap Arvin dengan alis terangkat dan senyum menggoda. "Kenapa kamu penasaran banget sama kisah cinta Tante?"
Ditanya begitu, Arvin langsung salah tingkah. Dia buru-buru mengalihkan pandangannya ke depan, tenggorokannya mendadak kering. "Ya... cuma tanya aja, Tan. Maaf kalau gak sopan."
Karin terkekeh renyah melihat kepanikan remaja di sebelahnya. "Enggak apa-apa, kok. Mantan-mantan Tante yang dulu belum ada yang bisa memenuhi standar Tante. Kebanyakan toxic, makanya sekarang Tante milih sendiri dulu."
Arvin hanya mengangguk mendengar penjelasan Karin. Diam-diam, sebuah kalimat tercetak jelas di dalam benaknya, ‘Kalau standarnya cuma cowok yang enak diajak ngobrol dan bisa jadi pendengar yang baik, gue pasti bisa.’
Mencoba mencairkan suasana yang sempat mendalam, Karin tiba-tiba menepuk lengan Arvin. "Eh, fotoin Tante lagi dong! Mumpung pencahayaannya lagi bagus banget nih mau golden hour."
Arvin tersenyum, langsung mengangkat ponselnya kembali. Dia membidik beberapa foto Karin yang sedang tersenyum manis menghadap matahari sore. Namun, setelah mengambil beberapa foto, Arvin tidak langsung menurunkan ponselnya.
Dia mengubah mode kamera menjadi kamera depan, lalu menggeser posisi duduknya menjadi sedikit lebih rapat di samping Karin.
"Tan, foto bareng yuk," ajak Arvin, mengarahkan kamera ponselnya ke arah mereka berdua.
Karin sempat berkedip kaget, namun sedetik kemudian dia tersenyum lebar dan mendekatkan kepalanya ke arah bahu Arvin agar pas di dalam bingkai foto.
Cekrek.
Layar ponsel Arvin berhasil mengabadikan momen tersebut. Karin yang tersenyum riang dengan mata menyipit cantik, dan Arvin yang menyunggingkan senyum tipis penuh arti, menyembunyikan debaran jantungnya yang menggila karena jarak mereka yang teramat dekat.
Matahari sudah hampir tenggelam sepenuhnya di balik bukit, meninggalkan semburat warna jingga yang indah di langit sore. Udara yang semula sejuk perlahan berubah menjadi semakin dingin, menjadi penanda bahwa mereka harus segera menyudahi agenda jalan-jalan hari ini.
"Yuk, pulang. Udah makin sore, nanti kemalaman di jalan," ajak Karin sambil bangkit dari bangku kayu dan meregangkan tubuhnya.
Arvin mengangguk, lalu mengikuti langkah Karin berjalan turun menuju area parkir. Di sana, teman-teman Reza dan pacar mereka masing-masing sudah bersiap di atas motor. Karena formasi rombongan bertambah dengan kehadiran para gadis, total kini ada tujuh motor yang terparkir rapi.
Melihat teman-teman keponakannya sudah duduk berpasangan dengan mesra, Dito bersama Sela, Reza bersama Aurel, begitu pula dengan Reno, Fino, dan Bima dengan gandengan mereka Karin langsung menghela napas pasrah. Liburan santainya kali ini benar-benar dikepung oleh rombongan remaja yang sedang dimabuk asmara.
"Yah... kalau formasinya begini, Tante terpaksa bawa motor sendiri lagi deh," ucap Karin sambil meraih helm matic-nya dari spion.
Reza yang sudah siap membonceng Aurel hanya nyengir tanpa dosa. "Maaf ya, Tante. Daripada Tante jadi nyamuk di antara kita-kita, mending Tante nyetir sendiri aja."
"Dasar keponakan durhaka," gerutu Karin bercanda, membuat anak-anak yang lain terkekeh geli.
Pada akhirnya, dari tujuh motor yang beriringan sore itu, hanya Karin dan Arvin yang berkendara sendirian tanpa boncengan. Arvin menstarter motor sport-nya, lalu memundurkannya hingga posisinya sejajar di sebelah motor matic Karin. Dia membuka kaca helmnya sedikit.
"Tante di depan aja, biar gue yang jaga dari belakang," ucap Arvin dengan suara yang tenang, menawarkan perlindungan secara tersirat sepanjang perjalanan pulang nanti.
Karin menoleh, lalu tersenyum hangat di balik maskernya. "Oke, Vin. Makasih, ya."
Rombongan tujuh motor itu pun mulai bergerak membelah jalanan perbukitan yang mulai temaram. Selama perjalanan pulang, Arvin benar-benar menepati ucapannya. Dia tidak memacu motor sport-nya dengan kencang seperti anak-anak SMA pada umumnya. Arvin dengan sabar menjaga jarak tepat beberapa meter di belakang motor matic Karin, memastikan wanita itu berkendara dengan aman di bawah penerangan lampu jalan yang mulai menyala satu per satu.
Lewat lampu spionnya, sesekali Karin melirik ke belakang dan mendapati sorot lampu motor Arvin yang setia mengiringinya. Entah karena hawa dingin sore itu atau karena obrolan mendalam mereka di bukit tadi, dada Karin mendadak kembali merasakan desiran hangat yang aneh.