Setelah mengorbankan keluarga kandung, masa muda, dan hidupku demi menjadikan suamiku pewaris Mahendra Group, Sebastian justru memfitnah putra kami, membiarkan menantu dan cucuku meninggal, lalu mendorongku hingga tewas.
Saat kembali membuka mata, aku kembali ke hari Sebastian melamar ku.
Jika dulu aku memilih Sebastian Mahendra...
maka di kehidupan ini, aku akan menikahi adiknya, Stefanus Mahendra.
Aku tidak akan menikahi pria yang menghancurkan hidupku.
Aku akan memilih pria yang ternyata diam-diam mencintaiku sejak awal.
Namun, mengubah takdir ternyata tidak semudah mengganti calon suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Bukan Soal Siapa yang Paling Benar
"Berdiri," kata Shaquena akhirnya. Suaranya pelan, tapi tidak bisa dibantah. "Kamu sudah basah kuyup. Ikut aku."
Maya mendongak. Matanya bengkak merah. "Saya tidak butuh dikasihani, Bu Shaquena."
"Ini bukan kasihan." Shaquena mengulurkan tangan. "Ini strategi. Pengacara yang sakit tidak bisa bekerja besok pagi."
Kalimat itu membuat Maya terdiam sesaat. Ia menatap uluran tangan Shaquena, lalu menerimanya dengan enggan.
Genggaman tangan Maya dingin dan gemetar. Shaquena mengeratkan pegangannya sedikit, cukup untuk menahan gadis itu tetap berdiri tegak.
Mereka menyeberangi jalan kecil di samping gedung pengadilan, berteduh di bawah satu payung yang sama. Hak sepatu Shaquena tenggelam beberapa kali di genangan air, tapi ia tidak peduli.
Kedai kopi pinggir jalan itu hanya beratap terpal biru lusuh. Tiga bangku plastik oranye berdiri berantakan di sekitar meja kayu kecil bekas gores pisau.
"Dua wedang jahe panas, Bu. Satu pisang goreng," ucap Shaquena kepada penjual kedai, seorang perempuan paruh baya berdaster kembang yang sibuk mengipasi arang.
Maya duduk dengan tubuh masih menggigil. Shaquena melepas blazernya dan menyampirkannya ke bahu Maya tanpa bertanya.
Gadis itu tidak menolak kali ini.
Uap tipis mengepul dari gelas kaca berisi wedang jahe hangat begitu diletakkan di meja. Maya menerimanya dengan kedua tangan gemetar, lalu menyesapnya perlahan.
Rasa hangat dan pedas jahe menjalar turun ke tenggorokannya yang serak habis menangis dan berteriak di ruang sidang.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang bicara. Hanya suara hujan menghantam terpal biru di atas kepala mereka, dan suara arang yang mendesis pelan di kedai kecil itu.
Maya menggenggam gelas kacanya erat erat, seperti gelas itu satu satunya benda hangat yang tersisa di hidupnya hari ini. Bau jahe yang menguar dari gelasnya mengingatkan Maya pada dua butir permen murah yang tadi diberikan Pak Karya.
Shaquena membiarkan keheningan itu berlangsung sedikit lebih lama sebelum akhirnya bicara.
"Kau menangis sepanjang jalan ke sini," ucap Shaquena, menatap lurus ke jalanan yang basah. "Sekarang menangislah yang terakhir kalinya. Setelah ini, kita bekerja."
Maya menggeleng lemah. "Saya sudah kalah, Bu. Riyadi benar. Tanda tangan itu sah. Prosedur hukum menutup semua celah."
"Prosedur hukum menutup gugatan Pak Karya," koreksi Shaquena tenang. "Bukan menutup kebenaran."
Maya mengangkat wajah menatap Shaquena.
"Emosi tidak pernah menang di ruang sidang, Maya." Shaquena meletakkan gelasnya perlahan. "Kemarahanmu tadi jujur. Tapi hakim tidak butuh kejujuran. Dia butuh dokumen."
Maya menunduk. Jarinya mengepal erat di sekitar gelas hangat itu.
"Saya paham teorinya. Saya belajar itu tiga tahun di kampus." Suara Maya pahit. "Tapi teori tidak berlaku kalau lawan punya seratus pengacara, dan saya cuma punya map kertas lecek."
"Kalau begitu, jangan lawan pakai map kertas lecek."
Shaquena meletakkan gelasnya di meja, lalu diam sesaat.
"Kasus Pak Karya sudah ditutup hari ini. Hakim sudah mengetuk palu. Tidak ada banding yang bisa membalikkan putusan itu secepat ini." Suara Shaquena tetap datar, tanpa basa-basi menghibur. "Itu kekalahan yang harus kamu terima."
Ucapan itu terasa pahit, tapi jujur. Maya menahan napas mendengarnya.
"Tapi ada pertarungan lain yang belum pernah kamu coba menangkan," lanjut Shaquena. "Pertarunganmu sendiri."
Maya mengernyit bingung. "Maksud Anda?"
Shaquena membuka tas kerja kulit hitam di sampingnya. Ia mengeluarkan sebuah map cokelat tebal, sudutnya agak lusuh, diikat tali rafia tipis.
Ia meletakkan map itu di atas meja, tepat di samping piring pisang goreng yang masih mengepul.
Maya menatap map itu dengan curiga. "Apa itu?"
"Laporan audit pajak internal Mahendra Group. Sepuluh tahun lalu." Suara Shaquena tetap datar, tanpa nada dramatis. "Sebelum ayahmu masuk penjara."
Tangan Maya membeku di udara.
"Ini bukan bagian dari berkas yang Anda kasih waktu itu," ucap Maya pelan, nyaris tidak percaya.
"Berkas yang kamu pelajari kemarin itu cuma salinan yang dipakai jaksa di pengadilan." Shaquena mendorong map itu lebih dekat ke arah Maya. "Ini laporan aslinya, sebelum diubah. Buka, dan baca baik baik."
Maya membuka tali rafia dengan tangan gemetar. Lembar pertama berupa laporan hasil audit lengkap dengan cap basah dan tanda tangan asli.
Matanya bergerak cepat menyusuri deretan angka dan nama.
Ia menemukan satu nama di kolom penanggung jawab laporan. Nama itu berbeda dari nama yang tertera di berkas pengadilan sepuluh tahun lalu, berkas yang menyeret ayahnya masuk penjara atas tuduhan penggelapan pajak.
"Ini..." Suara Maya tercekat. "Laporan asli ini menyebutkan penanggung jawab yang berbeda. Bukan nama ayah saya."
"Laporan yang dipakai di pengadilan sudah diubah." Shaquena menyesap wedang jahenya sendiri, tenang. "Nama ayahmu ditambahkan belakangan, menggantikan nama asli yang seharusnya bertanggung jawab. Dokumen ini versi sebelum diubah."
Tangan Maya bergetar hebat memegang lembar kertas itu. Ia membaca ulang tanggal cap basah di pojok kanan atas. Sepuluh tahun lalu, tiga minggu sebelum tanggal penangkapan ayahnya.
"Ayah saya... dikorbankan." Suara Maya nyaris tidak terdengar. "Dia bukan pelakunya. Dia cuma kambing hitam yang paling mudah dijatuhkan."
"Karena ayahmu jujur, dan tidak berani melawan atasannya." Shaquena menatap lurus ke mata Maya. "Orang jujur selalu jadi korban paling mudah untuk orang yang licik."
Air mata menggenang lagi di mata Maya, tapi kali ini bukan air mata kekalahan.
"Kenapa baru sekarang Anda kasih ini ke saya?" Suara Maya bergetar, antara marah dan syukur. "Kalau ini sudah ada dari dulu..."
"Karena hari ini kamu baru cukup kuat untuk membacanya tanpa hancur." Shaquena menatap gadis itu lekat. "Dan karena dokumen ini cuma berguna kalau dipegang orang yang tahu cara memakainya di ruang sidang, bukan cuma menangis membacanya sendirian di kamar."
Kalimat itu menampar Maya. Ia menatap lembar demi lembar di depannya dengan cara berbeda sekarang. Bukan lagi sebagai gadis yang baru kalah di ruang sidang, tapi sebagai pengacara yang baru menemukan senjata sungguhan.
"Fokus pada pembuktian dokumen ini," lanjut Shaquena. "Bukan pada amarahmu ke Riyadi atau Sebastian. Amarah cuma membuatmu berteriak di ruang sidang tadi. Dokumen ini yang akan membuatmu menang."
Maya mengangguk pelan, lalu makin mantap. Ia teringat alasan awal kenapa ia mati matian belajar hukum sejak masuk kuliah.
"Siapa nama asli di laporan ini?" tanya Maya, mengangkat wajah tegang.
Shaquena diam sesaat, memperhatikan hujan yang mulai mereda menjadi gerimis tipis di luar terpal.
"Bambang Wirawan," jawab Shaquena akhirnya. "Sekarang menjabat direktur keuangan Mahendra Group."
Nama itu menghantam dada Maya, keras dan tiba-tiba.
Rahang Maya mengeras. Tangannya mengepal kuat di atas map cokelat itu.
"Dia masih bekerja di sana? Bertahun tahun setelah menjebak orang tidak bersalah?"
"Dia bahkan naik jabatan," ucap Shaquena datar. "Orang yang berbohong dengan baik selalu naik lebih cepat daripada orang jujur, di perusahaan macam Mahendra Group."
"Keadilan bukan soal siapa yang paling benar, Maya." Shaquena menyeruput wedang jahenya yang mulai hangat suam. "Tapi soal siapa yang sabar menyimpan bukti sampai waktu yang tepat, lalu berani memakainya."
Kalimat itu terasa pahit, tapi juga benar sampai ke tulang.
Maya menutup map itu perlahan, memeluknya erat ke dada seperti memeluk sesuatu yang baru saja diselamatkan dari reruntuhan.
"Bu Shaquena." Suara Maya kini jauh berbeda dari suara yang menangis di anak tangga pengadilan tadi. "Saya butuh salinan resmi dokumen ini. Saya butuh saksi ahli yang bisa memverifikasi keaslian cap dan tanda tangannya."
"Daniel sudah saya minta menyiapkan jalurnya." Shaquena bangkit dari bangku plastiknya, merapikan blazer yang masih tersampir di bahu Maya. "Kamu tinggal fokus menyusun argumen hukumnya. Jangan buru buru mengajukan gugatan baru sebelum semua bukti pendukung siap."
Maya mengangguk cepat, pikirannya sudah berlari jauh ke depan, menyusun langkah demi langkah yang harus ia tempuh.
Angin sisa hujan menerpa wajah Maya, tapi kali ini ia tidak lagi merasa kecil di depan gedung pengadilan itu.
Ia menatap map cokelat itu lekat lekat. Matanya menyala, bukan lagi oleh air mata, tapi oleh sesuatu yang jauh lebih tajam.
Maya menatap dokumen tersebut dengan mata menyala. "Aku akan menghancurkan sistem mereka."