Di sebuah kota yang dikuasai geng-geng jalanan dan kekuasaan gelap, sekelompok pemuda memilih bertahan hidup sambil melindungi warga lemah. Di markas tua mereka, tersembunyi sebuah rahasia berusia puluhan tahun — sebuah benda yang bisa mengubah nasib banyak orang, sekaligus menjadi sumber malapetaka kalau jatuh ke tangan yang salah.
Ketika kelompok berbahaya bernama Elang Darah mulai memburunya, identitas tersembunyi dan masa lalu kelam setiap tokoh perlahan terungkap. Arda yang terlihat malas ternyata menyimpan kekuatan dan tanggung jawab besar, sementara Kael dan kawan-kawannya harus memilih: ikut berebut kekuasaan, atau tetap memegang prinsip di tengah pertarungan yang melibatkan banyak pihak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArdaKings, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Jejak yang Menghilang
Udara pagi di sepanjang tepi dermaga terasa asin dan lembap. Angin berhembus membawa bau air laut, ikan basi, dan kayu lapuk yang menempel di tiang-tiang penyangga bangunan tua.
Kael dan kawan-kawannya berjalan terpisah, masing-masing menjaga jarak sekitar sepuluh langkah agar tidak terlihat berkelompok. Niko berjalan paling depan, memegang keranjang anyaman di lengan, sesekali berhenti melihat ikan yang dijual pedagang di pinggir jalan seolah hanya warga biasa yang hendak berbelanja.
Bastian berjalan di sisi kanan, matanya menyapu setiap sudut gang dan pintu yang tertutup rapat. Tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket, jari-jarinya memegang gagang sebilah pisau pendek yang tersembunyi di balik kain.
Mikhael berjalan di kiri, sesekali menyapa warga yang dikenalnya dengan senyum santai, seolah tidak ada beban apa pun di pikirannya. Hanya Kael yang berjalan paling belakang, langkahnya lambat, matanya menatap lurus ke depan tapi menangkap setiap gerakan kecil di sekelilingnya.
Mereka sampai di ujung dermaga yang sudah sepi. Tempat penyimpanan ikan yang dimaksud Lio tadi berdiri terpisah dari bangunan lain, dindingnya terbuat dari papan kayu yang sudah menghitam terkena air laut dan matahari. Pintu depannya tertutup rapat, dikunci dengan gembok besi besar yang terlihat baru dipasang.
Niko berhenti di dekat tumpukan jaring ikan yang tergeletak di tanah. Dia membungkuk seolah merapikan jaring itu, tapi matanya melirik ke arah bangunan itu dari sudut pandang yang aman.
"Pintunya dikunci rapat," bisiknya tanpa menoleh. "Tidak ada orang yang terlihat berjaga di depan."
Bastian melangkah mendekat, berdiri membelakangi bangunan itu sambil memandang ke arah laut. "Kalau tidak ada penjaga, berarti mereka yakin tidak ada yang berani masuk ke sini. Atau... ada penjaga yang bersembunyi."
Kael berhenti di samping tiang kayu besar. Dia mengamati sekelilingnya, lalu menatap tanah di depan pintu. Jejak roda gerobak yang tercetak jelas di tanah basah semalam sudah terhapus sebagian oleh embun dan langkah kaki orang lain yang lewat pagi ini. Tapi masih ada sisa bekas tanah yang tertekan lebih dalam, menandakan beban yang cukup berat.
Dia berjalan perlahan mendekati dinding samping, lalu menyandarkan telinganya ke papan kayu. Suara di dalam hanya terdengar samar — tidak ada langkah kaki, tidak ada percakapan, hanya suara angin yang menerobos lewat celah papan.
"Kosong?" tanya Mikhael dari jarak beberapa meter.
Kael menggeleng pelan. Dia melirik ke arah atap yang rendah, lalu menunjuk ke atas dengan dagunya.
Bastian mengangguk mengerti. Dia melangkah ke sisi lain, melompat sedikit dan memegang tepi atap, lalu menarik tubuhnya naik dengan tenaga yang terkontrol. Tidak ada bunyi berisik sama sekali. Dia merangkak perlahan sampai ke bagian tengah atap, lalu mengintip lewat celah papan yang longgar.
Matanya menyapu seluruh ruangan di bawah. Lantai terbuat dari tanah padat, dindingnya dipenuhi jamur dan lumut. Di tengah ruangan itu terlihat tanda bekas kotak-kotak yang diletakkan rapi, tapi kini sudah kosong. Hanya ada bekas debu yang membentuk pola persegi panjang di lantai.
Bastian turun kembali dengan gerakan yang sama senyapnya. Dia berdiri kembali di samping mereka, lalu menggeleng pelan.
"Sudah dipindahkan lagi. Tidak ada apa-apa di dalam."
Niko mengerutkan dahi. Dia melangkah mendekati pintu, lalu berjongkok memeriksa gemboknya. Gembok itu masih utuh, tidak ada bekas dipaksa terbuka.
"Mereka membawanya pergi lewat pintu depan lagi, dan memasang kunci kembali seolah tidak ada yang terjadi."
Kael berjalan mengelilingi bangunan itu, matanya meneliti setiap sudut dinding dan tanah di sekitarnya. Di bagian belakang, dia menemukan bekas jejak sepatu yang lebih besar dan tercetak lebih dalam, mengarah ke jalan setapak yang tertutup semak belukar menuju ke hutan kecil di pinggiran kota.
Dia berlutut, menyentuh tanah di dekat jejak itu dengan ujung jarinya. Masih terasa agak lembap, berarti baru saja dilewati tidak lebih dari satu jam yang lalu.
"Mereka tidak keluar lewat jalan utama," ucapnya pelan. "Lewat jalan belakang ini."
Bastian melangkah ke sisi semak-semak itu, menarik ranting-rantingnya ke samping untuk membuka pandangan. Jalan setapak itu sempit, hanya cukup dilewati satu orang, dan tertutup bayangan pohon yang rapat.
"Kita ikuti?" tanyanya sambil menoleh.
Kael berdiri kembali. Dia menatap jalan setapak itu, lalu melirik ke arah matahari yang mulai naik lebih tinggi ke langit.
"Tidak sekarang. Kalau kita masuk ke sana saat mereka masih baru lewat, mereka pasti sudah meninggalkan tanda peringatan atau jebakan. Kita tunggu sampai sore, saat cahaya mulai redup dan mereka mengira tidak ada yang berani menyusul."
Niko mengangguk setuju. Dia melirik ke arah jalan utama yang mulai makin ramai. "Lebih aman begitu. Kalau kita terburu-buru, kita hanya akan mengikuti jejak yang sudah dipersiapkan untuk menjebak kita."
Mereka perlahan mundur kembali ke arah jalan ramai, berbaur dengan warga yang beraktivitas seolah tidak pernah mendekati bangunan tua itu sama sekali.
Saat mereka berjalan pulang melewati pasar, Niko berhenti sejenak di depan kios penjual kertas dan tinta. Dia membayar sejumlah uang receh, lalu membawa selembar kertas kosong dan sebatang arang halus.
"Kita catat semua yang kita temukan hari ini," katanya saat mereka sudah berjalan agak jauh dari keramaian. "Setiap jejak, setiap perubahan tempat, nanti bisa menjadi petunjuk saat kita menyusun gambaran utuhnya."
Di dalam perjalanan pulang, tidak ada banyak bicara. Setiap orang sibuk dengan pikirannya masing-masing. Bastian sesekali melirik ke arah jalan setapak yang tertutup semak itu, matanya menyiratkan rasa ingin tahu yang besar. Mikhael menghela napas panjang, berharap apa yang mereka cari bukanlah sesuatu yang terlalu berbahaya.
Sementara itu, Kael berjalan di depan, jari-jarinya kembali memutar koin perak di dalam saku. Dia tahu bahwa barang yang dipindahkan itu tidak akan hilang begitu saja. Ia hanya berpindah tempat, menunggu waktu yang tepat untuk dibawa keluar kota atau digunakan sesuai rencana yang sudah disusun.
Sesampainya kembali di pabrik tua, mereka menemukan Arda masih duduk di tempat yang sama. Di depannya sudah tergeletak kulit kacang yang menumpuk cukup banyak, dan tangannya masih sibuk memecahkan biji baru.
Dia mengangkat kepalanya mendengar suara langkah kaki mereka masuk. Matanya melirik satu per satu wajah mereka, lalu berhenti sejenak pada tatapan Kael.
"Sudah dapat apa-apa?" tanyanya dengan nada datar.
"Jejak ada, tapi isinya sudah dipindahkan lagi," jawab Kael singkat.
Arda mengangguk pelan, lalu memasukkan biji kacang ke mulutnya. Dia mengunyah perlahan, lalu menunjuk ke arah panci di atas tungku yang masih menyimpan sisa air rebusan.
"Ada teh hangat di situ. Kalau sudah lelah, minum dulu. Jangan sampai kepala panas karena terlalu banyak berpikir."
Mereka duduk mengelilingi meja, menuangkan air teh ke dalam cangkir masing-masing. Suasana menjadi tenang kembali, hanya terdengar suara sendok beradu dengan cangkir dan angin yang berhembus lewat celah dinding.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sebentar.
Saat Niko hendak meletakkan cangkirnya kembali ke meja, matanya tertuju pada selembar kertas kecil yang terselip di balik celah papan meja itu — kertas yang tidak ada di sana saat mereka berangkat pagi tadi.
Dia mengerutkan dahi, lalu mengeluarkan kertas itu perlahan. Di atasnya tertulis tulisan tangan yang kasar dan hanya satu kalimat pendek:
"Berhenti mengikuti, atau tempat ini akan menjadi kuburan kalian."
Tinta tulisannya masih sedikit basah.
Bersambung...