NovelToon NovelToon
Buy 1 Get 1

Buy 1 Get 1

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Hari sudah malam saat seluruh persiapan keberangkatan Sari selesai.

Di ruang tamu kediaman Maheswara yang megah namun terasa sunyi, Sari berdiri di hadapan sang nenek.

Tas koper berukuran sedang sudah berada di genggaman sopir pribadi yang menunggu di dekat pintu.

Nenek memeluk Sari dengan erat, menyalurkan kehangatan yang tersisa di tengah badai yang sedang menimpa cucu kesayangannya.

"Jaga diri kamu baik-baik di Yogyakarta, Sari," bisik Nenek dengan nada berat namun penuh ketegasan.

"Nenek yang akan turun tangan langsung untuk menggantikan posisi kamu sementara waktu. Tidak akan ada Diana, ibunya, atau siapa pun yang menyentuh kursi itu. Posisi CEO itu tetap milik kamu. Hanya kamu."

Sari menganggukkan kepalanya pelan, merasakan sedikit kelegaannya di tengah kekosongan hati yang mendalam.

"Terima kasih, Nek..."

Sari kemudian menoleh ke arah asisten pribadinya yang berdiri tak jauh dari sana.

"Nanda, jaga Nenek selama aku tidak ada."

"Iya, Bu. Pasti. Ibu tidak perlu khawatir," jawab Nanda dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, menahan rahasia yang telah ia bocorkan kepada Arka beberapa jam lalu.

Sopir pribadi segera melajukan mobil, mengantarkan Sari membelah pekatnya malam menuju terminal bus.

Sesampainya di sana, Sari sengaja memilih naik bus patas AC jurusan Yogyakarta untuk menghindari kebisingan yang biasa ada di kelas ekonomi.

Ia ingin benar-benar tenggelam dalam kesendirian.

Suasana di dalam bus malam itu tampak sangat lengang.

Hanya ada beberapa orang penumpang yang duduk tersebar, menunggu detik-detik keberangkatan armada tersebut.

Sari melangkah pelan menyusuri lorong kabin, lalu memilih duduk di barisan tengah, tepat di dekat jendela kaca yang berembun.

Tak berselang lama setelah Sari memosisikan dirinya, seorang lelaki dengan langkah tergesa masuk ke dalam bus.

Lelaki itu mengenakan hoodie hitam longgar dengan kupluk yang ditarik dalam, serta masker kain yang menutupi hampir seluruh wajahnya.

Tanpa memedulikan kursi lain yang kosong, lelaki itu langsung mengambil posisi duduk tepat di samping Sari.

Sari sempat melirik sekilas dengan tatapan dingin khasnya, namun ia memilih tidak peduli.

Tak lama kemudian, deru mesin bus terdengar lebih berat saat sopir mulai melajukan armada tersebut keluar dari area terminal, memulai perjalanan panjang menuju Yogyakarta.

Untuk mengusir rasa dingin yang mulai merayap di kulitnya, Sari merogoh tasnya dan mengambil sebuah tumbler yang berisi teh manis panas yang ia bawa dari rumah.

Tepat saat ia hendak meneguk tehnya, lelaki di sampingnya tiba-tiba bergerak.

Lelaki ber-hoodie itu menyodorkan sebuah kotak kue berbahan kardus kecil ke hadapan Sari.

Sari menatap kotak itu dengan dahi mengernyit, lalu menggelengkan kepala.

"Tidak, Mas. Terima kasih," tolak Sari dengan suara datar dan formal.

Namun, lelaki itu tidak menyerah. Ia kembali menggeser kotak tersebut, memaksanya agar Sari menerima pemberiannya.

Merasa terusik, Sari akhirnya menerima kotak itu dengan helaan napas berat.

Ia membuka tutup kardusnya perlahan. Begitu penutupnya terbuka, pandangan Sari seketika terkunci.

Di dalam kotak itu, berjajar rapi beberapa butir kue klepon hijau dengan taburan kelapa parut yang sangat ia kenali bentuk dan aromanya.

Jantung Sari berdegup kencang. Ia langsung menoleh tajam ke arah lelaki di sampingnya.

"Arka?" bisik Sari dengan suara yang mendadak tercekat.

Lelaki itu perlahan menurunkan masker kainnya dan membuka kupluk hoodie yang menutupi kepalanya, menampilkan wajah Arka yang tampak sangat lelah, dengan gumpalan penyesalan yang begitu nyata di matanya.

"Iya, Mbak. Ini aku," sahut Arka, suaranya bergetar menahan gejolak emosi.

"Aku, mau meminta maaf..."

Sari terdiam sesaat, lalu mengalihkan pandangannya lurus ke depan dengan sorot mata yang kembali membeku.

"Minta maaf untuk apa?"

"Untuk semua ucapanku tadi pagi, Mbak. Aku salah. Aku bodoh karena tidak mendengarkanmu," ucap Arka lirih, mencoba meraih tangan Sari yang masih terbalut kasa, namun Sari dengan cepat menarik tangannya menjauh.

"Turunlah di halte atau terminal berikutnya, Arka. Aku ingin sendiri," usir Sari tanpa ekspresi, suaranya sedingin es yang mampu membekukan kabin bus.

Arka menggelengkan kepala dengan tegas, menatap wajah pucat Sari dengan tatapan memohon yang mendalam.

"Aku tidak akan turun dari bus ini sebelum Mbak Sari memaafkan aku. Aku akan ikut sampai ke Yogyakarta kalau perlu."

Sari mendengus pelan, sebuah tawa hambar yang menyiratkan rasa sakit yang mendalam.

"Terserah kamu."

Sari kemudian memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela kaca, memejamkan kedua matanya rapat-rapat, dan memutuskan untuk tidak menghiraukan keberadaan Arka sama sekali.

Di balik kelopak matanya yang tertutup, Sari mencoba meredam denyut luka di hatinya, sementara Arka tetap duduk di sampingnya dalam keheningan yang panjang, bertekad menebus kesalahan terbesarnya di sepanjang jalur antarprovinsi ini.

Arka menatap lekat-lekat wajah Sari yang masih memejamkan mata.

Di bawah temaram lampu kabin bus patas yang bergoyang ritmis, wajah wanita itu tampak semakin pucat bagai pualam.

Napasnya terdengar pendek dan berat. Ada rasa bersalah yang kian menghimpit dada Arka setiap kali matanya turun menatap sepasang telapak tangan Sari yang terbalut kasa putih di atas pangkuannya.

Setelah menempuh perjalanan selama hampir empat jam membelah kegelapan jalur Pantura, laju bus perlahan melambat.

Sopir membelokkan kemudi masuk ke area pom bensin besar yang letaknya cukup strategis.

Suara desis rem angin terdengar nyaring saat bus akhirnya berhenti sempurna di area parkir.

Sopir bus berdiri dari kursinya, lalu menoleh ke arah kabin penumpang.

"Bapak, Ibu, bus berhenti lima belas menit di pom bensin. Silakan jika ada yang mau ke kamar mandi untuk buang air besar atau sekadar meluruskan kaki," serunya ramah.

Beberapa penumpang mulai bangkit dari kursi mereka dan melangkah turun.

Arka memanfaatkan momen ini untuk kembali mencoba mencairkan kebekuan di antara mereka. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat.

"Mbak, enggak mau ke kamar mandi dulu? Atau mau saya belikan air minum yang hangat?" tanya Arka lembut, suaranya sarat akan kekhawatiran.

Hening.

Tidak ada kecamuk jawaban dari Sari. Wanita itu masih bergeming dengan kepala yang bersandar kaku pada kaca jendela bus.

"Mbak Sari..." panggil Arka lagi, kali ini sembari memberanikan diri menyentuh pundak Sari dengan ujung jarinya.

"Mbak..."

Sentuhan pelan itu rupanya membuat keseimbangan tubuh Sari goyah.

Tanpa diduga, tubuh Sari yang semula bersandar pada kaca jendela mendadak terkulai lemas ke samping, ambruk tepat ke arah dada bidang Arka. Kepalanya terkulai pasrah di pundak pria itu.

Arka tersentak kaget. Saat telapak tangannya menahan bahu Sari agar tidak terjatuh, ia merasakan suhu tubuh wanita itu luar biasa panas, berbanding terbalik dengan telapak tangannya yang sedingin es.

Sari sama sekali tidak merespons panggilannya; matanya tertutup rapat dengan kesadaran yang telah hilang sepenuhnya.

Rasa lelah fisik karena tidak tidur semalaman, perut yang kosong melompong sejak kemarin, ditambah tekanan batin yang luar biasa akibat fitnah keji tadi pagi akhirnya membuat pertahanan tubuh Sang CEO tumbang total di samping Arka.

"Astaghfirullah, Mbak!!" pekik Arka panik, suaranya seketika memecah kesunyian kabin bus.

Jantung Arka berdegup kencang seketika. Dengan perasaan campur aduk antara takut, panik, dan sesal yang mendalam.

Ia mendekap tubuh lemas Sari, mencoba membangunkan wanita yang telah ia lukai itu di tengah kepungan malam yang kian mencekam.

1
nunik rahyuni
lagian klo baru pertama kerja itu jgn lgsung dilepas di beri bimbingan dlu..suruh melihat dlu atau sambil di kasih aba aba apa dlu urutanya dan cara kerjanya..sdh tau orang kota kaya nyata ae g pernah tau bab dapur..melepuh kh tangan org..lgsg terjadi kecelakaan kerja
nunik rahyuni
thor sepanjang cerita aq masih bingung..bagaimana mereka lgsg serumah seatap tanpa ada ikatan pernikahan.....yg satu duda satunya wanita dewasa lho thor..mereka hidup di negara mana..pasti punya norma dan adat istiadat kan✌️✌️
nunik rahyuni
klo di dunia kita g ada ya thor modelan sari kya ini...yg ada sih sarimin🤣🤣🤣
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎
nunik rahyuni
mampir ya thor...perdana ni di lapak author..✌️✌️✌️
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Gege
cepetan kek arka disambar petirnya..🤣 trus diinjek sistem trilyuner gitu...🤭😄🤣
Gege
semua yang namanya sari selalu keras kepala ego tinggi suka bermain perasaan 🤣🤭😄kenyataan...
Rian Moontero
mampiiirr👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!