Kesalahan yang dilakukan Azalea Calista membuat suaminya kecewa dan berakhir ingin menceraikannya. Namun demi cinta yang tumbuh di hati Alea, dia bertekad untuk mengejar kembali cinta sang suami.
Sayangnya Alea harus kehilangan Fathan karena laki-laki itu pergi tanpa berpamitan. Hingga suatu hari, keduanya kembali dipertemukan dalam keadaan berbeda.
Akankah mereka kembali bersama atau justru memilih saling melepaskan bersama pasangan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 - Pertengkaran
Deg.
Bola mata Alea membulat sempurna, terkejut dengan apa yang dia dengar. Kepala Alea menengok perlahan ke belakang, tersenyum canggung dilanda khawatir.
"Mas Fa-fathan."
'Aduh gimana ini, dia denger gak sih yang gue bilang? Please jangan denger, bisa gawat darurat tingkat nasional ini mah.' batin Alea.
"Hmmm kayaknya gue harus pergi duluan, baru ingat cowok gue ngajak ketemuan." Amel tak ingin ikut campur, melihat tatapan Fathan yang tajam penuh intimidasi membuatnya takut, lebih baik kabur daripada di telan hidup-hidup.
"Sa-sayang, sejak kapan disana? Bukannya tadi pergi sama temen kamu?"
"Kita bicara berdua sekarang juga!" ujar Fathan tegas tanpa penolakan. Laki-laki itu berjalan duluan ke luar cafe.
"Aduh gimana ini? Bantuin gue napa, gue takut banget dia marah besar, dia pasti kecewa sama gue. Apa gue pergi ngilangin diri ke planet aja ya?"
"Elo sih, makanya kalau bertindak itu pikir dulu, nah jadi repot kan," kata Valerie. Ya, nama gadis yang sedang bersama Alea adalah Valerie atau sering disapa Vale.
Alea menghela nafas, barulah dia berdiri setelah berusaha tenang meski ada rasa takut menyelimuti hati. Dia harus menghadapi suaminya, mempertanggungjawabkan perbuatannya dan menerima segala konsekuensi dari perbuatannya.
********
"Sayang, jangan diem aja dong, biasanya juga banyak bicara, masa istri sendiri di cuekin."
Meski hatinya gelisah, Alea berusaha mencairkan suasana mencekam diatas motor. Dia duduk di belakang memeluk erat pria yang sudah menikahinya dua bulan lalu.
Tidak ada jawaban apapun dari Fathan, rahangnya mengeras menahan amarah, ia menambah laju kendaraannya.
Gruumm... Bruuumm...
"Sayang jangan ngebut, aku takut, kalau kita celaka gimana? Kamu gak akan bisa nemuin aku dimanapun loh, pelan-pelan dong sayang." Alea memeluk erat pinggang sang suami kala kendaraan motor yang mereka tumpangi melaju kencang.
Namun Fathan tidak mendengarkan, dia semakin menambah kecepatannya.
"FATHAN KAMU MAU BUNUH AKU? INI BAHAYA! PELAMINAN MOTORNYA!"
Kendaraan itu berbelok menuju jalan sepi, dengan keadaan kesal Fathan mengerem dadakan membuat Alea semakin ketakutan.
Ckiittt...
Laju motor itu terhenti, Fathan mematikan suara motornya lalu melepaskan tangan Alea secara kasar dari pinggangnya.
"Turun!"
"Aku gak mau, nanti kita kenapa-kenapa, takut banget ada begal disini. Ayo pulang ya, cari jalan lain."
"TURUN AZALEA CALISTA!" suara Fathan meninggi tersulut emosi.
Alea terdiam mematung, tidak percaya Fathan meninggikan suaranya karena selama mengenal laki-laki itu, dia belum pernah dibentak oleh Fathan.
Alea pun turun menundukkan kepalanya dengan raut wajah sendu, ia akui semua ini karena kesalahannya dan Fathan marah karena ulahnya juga. Tapi entah kenapa hatinya sakit dibentak seperti itu oleh orang yang sudah berhasil mencuri hatinya, ya Alea akui dia telah jatuh cinta sama Fathan.
"Mas .." suara Alea begitu lirih, sorot mata berubah sendu berkaca-kaca.
Pria berstatus suaminya terkekeh, menertawakan dirinya sendiri, merasa bodoh karena sudah percaya dan terlena oleh pesona Alea.
"Ternyata aku hanya mainanmu, ternyata kamu hanya menjadikanku bahan taruhan, ternyata semua yang kamu lakukan palsu?" Tidak ada niatan dia turun dari atas motornya namun sorot mata tajam menatap kecewa pada Alea.
"A-aku ..."
"Aku dengar semuanya Lea, pembicaraan kalian semuanya aku dengar. Aku bodoh karena sudah percaya sama kamu, aku bodoh karena telah jatuh cinta sama kamu, ternyata kamu ..." Fathan mengepalkan tangannya, memukul keras stang motor melampiaskan emosinya.
"Aku bisa jelasin, Mas ..." Tangannya terulur hendak meraih tangan suaminya, namun malah di tepis kasar oleh Fathan.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, aku kecewa sama apa yang kamu lakukan. Aku sudah percaya sama kamu bahkan melebihi kepercayaanku pada diriku sendiri, namun apa yang aku dapat? Hanya sebuah kebohongan belaka. Kamu tarik aku kedalam duniamu, menawarkan aku sebuah perasaan, membawaku kedalam lingkaran perasaan yang kamu tunjukan sampai kamu benar-benar bisa membuatku jatuh cinta padamu. Tapi apa? Semua ini hanya sandiwara, perasaanmu kebohongan belaka, semua yang kamu lakukan hanyalah skenario yang telah kamu rancang dan Yap .. kamu berhasil Alea, taruhanmu, semua rencanamu untuk menjebakku juga berhasil, kita berhasil menghabiskan malam bersama yang ternyata itu adalah ulahmu, rencanamu, KAMU ... KETERLALUAN!"
"Aku minta maaf." Bibir Alea bergetar, menunduk tak berani menatap karena memang itu kenyataannya. Tapi soal perasaan ia tak bisa bohong, dia mencintai suaminya.
"Tapi ..."
Namun belum selesai ucapan Alea, Fathan lebih dulu mengucapkan kata yang membuat Alea diam mematung.
"KITA BERCERAI!"
Deg.
Ucapan Fathan begitu lantang seraya menoleh pada Alea, menatapnya penuh kecewa serta marah merasa dipermainkan.
Diam, itu yang saat ini terjadi, mendadak tubuh Alea diam mematung selepas mendengar kata cerai dari suaminya. Rasanya begitu sesak, dia yang sudah terlanjur mencintai tidak ingin kisah cintanya berakhir begitu saja.
"Ce-cerai," lirihnya mendongak menatap Fathan, buliran bening meluncur begitu saja membasahi pipi cantiknya. Langkahnya mundur dengan tubuh terasa lemas.
"Ya, aku menceraikan kamu Alea! Aku benci kebohongan, aku tidak bisa menjalin hubungan dengan pembohong seperti kamu."
"Mas, ka-kamu .."
"Berhenti menangis, aku tidak percaya air mata palsu mu itu. Begitu banyak kebohongan yang kamu lakukan membuatku sulit mempercayainya lagi, aku kecewa sama kamu Alea. Lebih baik kita bercerai daripada hidup dengan kebohongan."
Fathan enggan melihat wajah Alea, ia sakit namun rasa kecewa dan amarahnya membuat dia mengambil keputusan secara mendadak. Dia paling benci dibohongi.
Tidak ingin emosinya semakin menambah, Fathan memilih pergi dari sana meninggalkan Alea seorang diri.
"Cerai," lirihnya begitu terasa menyesakkan dada.
Ia benar-benar baru sadar bawa dirinya sudah jatuh cinta pada pesona suaminya. Bibirnya tersenyum getir, menangis seraya mendongak ke atas menatap langit malam.
"Diceraikan tanpa mau mendengarkan penjelasan gue dulu, segitunya? Hahaha ini benar kan? Kapi kenapa hati gue sakit banget ya? Setidaknya dengerin dulu penjelasan gue gitu, tapi dia malah ninggalin gue sendirian disini." Tak terasa air matanya terus menetes.
Fathan pergi dari sana dengan emosi tidak stabil, dia menjalankan kendaraannya secara ugal-ugalan meluapkan rasa kecewanya.
Jangan ditanyakan keadaan Alea, dia terdiam seribu bahasa tak mampu berkata-kata lagi. Kenapa semuanya jadi begini? Ia melihat jelas sorot mata itu membencinya, marah dan juga kecewa, semuanya telah berakhir, suaminya menceraikannya, meninggalkannya disana.
Tidak ada kata-kata yang diucapkan, hanya sorot mata kosong dengan tubuh berdiri kaku. Tidak ada pergerakan dari Alea tetap berdiri tanpa sepatah kata, pandangannya memburam, kesadarannya berkurang, tubuhnya melemas dan ....
Brukk..
Flashback end.