Arthur Fabian Kell adalah vampir yang dianugerahi kekuatan terlarang dari Lucifer. Bukannya dipuja, ia justru dibenci oleh klannya sendiri dan ditolak oleh ayahnya, pemimpin Dark Moon.
Saat sang ibu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkannya, Arthur berubah menjadi sosok kejam yang hidup hanya untuk membalas dendam. Untuk menyempurnakan kekuatan hitamnya, ia harus meminum darah manusia yang diberkahi.
Setelah berabad-abad menunggu, Arthur akhirnya bertemu Sonja, gadis yang memiliki darah tersebut. Namun, alih-alih membunuhnya, ia justru jatuh cinta.
Kini Arthur harus memilih, menyempurnakan dendamnya atau mempertahankan satu-satunya orang yang mampu menghidupkan kembali hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pernikahan
Sonja kembali menatap pantulan wajahnya di cermin besar yang berdiri di sudut ruangan. Tatapannya terpaku cukup lama, seolah gadis yang berdiri di balik kaca itu adalah orang lain.
Benarkah itu dirinya?
Bahkan Sonja hampir tidak mengenali wajahnya sendiri.
Rambut panjangnya yang semula lurus kini ditata bergelombang lembut, terurai anggun melewati bahu. Sejumput rambut di sisi kanan disematkan ke belakang telinga dengan jepit kecil berbentuk bunga berwarna perak. Riasan tipis menghiasi wajahnya. Sapuan eye shadow bernuansa lembut, bulu mata yang tampak lebih lentik, serta bibir merah muda yang dipoles tipis membuat kecantikannya terlihat alami tanpa kesan berlebihan.
Kalung berlian putih bening melingkar indah di leher jenjangnya, memantulkan cahaya ke seluruh ruangan. Kalung itu begitu serasi dengan gaun putih yang dikenakannya. Gaun selutut itu memiliki sulaman bunga mawar kecil di bagian dada hingga pinggang, sementara rok berlapis kain tipis membuat setiap langkahnya tampak ringan bak seorang putri. Gaun itu membalut tubuh mungil Sonja dengan sempurna.
Sesungguhnya, memberikan gaun sependek itu kepada Sonja membuat Elleanor sempat dilanda kebimbangan. Bagaimana kalau Arthur mengamuk karena melihat calon istrinya mengenakan gaun sependek ini? Namun setelah berpikir beberapa saat, Elle hanya mengangkat bahu, itu urusan nanti. Yang terpenting baginya saat ini adalah membuat Sonja tampil secantik mungkin. Bagaimanapun juga, hari ini adalah hari pernikahan sahabatnya.
"Sempurna," gumam Elleanor penuh kepuasan sambil mengagumi hasil kerjanya dari belakang. Sejak pagi buta hingga matahari hampir tenggelam, ia menghabiskan waktu hanya untuk memilih gaun, menata rambut, hingga merias wajah Sonja. Semua rasa lelahnya kini terbayar lunas. Menurutnya, gadis yang sebelumnya terlihat manis dan sederhana itu kini menjelma menjadi wanita yang begitu memesona.
Sonja mengusap pelan ujung kalung di lehernya, masih sulit mempercayai apa yang dilihatnya."Benarkah ini aku?" tanyanya lirih tanpa mengalihkan pandangan dari cermin.
Elleanor tersenyum bangga sambil melipat kedua tangannya di depan dada."Tentu saja. Dan aku yakin.." ujarnya sengaja menggantung kalimat. Sonja menoleh penasaran."Arthur bahkan tidak akan sempat menghadiri pesta setelah pernikahan. Begitu melihatmu seperti ini, dia pasti langsung menyeretmu masuk ke kamar."
"A,apa yang kau katakan?" seru Sonja dengan wajah memerah.
"Kau lihat? Bahkan pipimu sudah merah duluan."
"Elle."
Elleanor tertawa kecil melihat Sonja menundukkan wajah karena malu.
Tok...
Tok...
Suara ketukan pintu memecah suasana.
"Apa kau sudah siap, Sonja?"
Pintu perlahan terbuka, memperlihatkan sosok Alea yang berdiri di ambang pintu dengan ekspresi datarnya seperti biasa. Namun begitu pandangannya jatuh kepada Sonja, langkah Alea seolah terhenti. Matanya yang dingin tampak melembut untuk sesaat. Sonja benar-benar terlihat berbeda.
Cantik.
Sangat cantik.
"Dan Alea pun terpana..." goda Elleanor sambil menahan tawa.
Alea langsung mendengus pelan.
Elle justru semakin tersenyum lebar."Bagaimana hasil karyaku? Luar biasa, bukan?"
"Ya." Alea mengangguk singkat. "Kau memang berbakat untuk urusan seperti ini."
Mendengar pujian itu, Elleanor langsung tersenyum lebar."Akhirnya! Selama bertahun-tahun menjadi sahabatmu, baru kali ini kau memujiku."
Sonja memperhatikan tingkah kedua vampir itu sambil tersenyum kecil."Apa kau sudah membaik, Lea?" tanyanya kemudian. Wajah Sonja berubah sedikit khawatir."Terakhir kali aku lihat, keadaanmu tidak terlalu baik."
Bayangan pertarungan dengan pria misterius itu kembali memenuhi kepalanya. Luka Alea saat itu begitu parah hingga Sonja sempat takut sahabatnya tidak akan selamat.
Alea mengangguk tenang."Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja."
Sonja mengembuskan napas lega."Syukurlah..."
Elleanor yang berdiri di samping Alea tiba-tiba menyipitkan mata penuh rasa penasaran."Aku sungguh heran padamu, Lea. Seberapa parah pun lukamu, semuanya selalu sembuh begitu cepat. Bahkan luka yang menurutku seharusnya membuatmu terbaring berhari-hari bisa menghilang dalam hitungan jam." Elle mendekat sambil menyenggol pelan bahu Alea. "Ayo, katakan pada sahabatmu yang cantik dan seksi ini. Apa rahasianya?" Sebenarnya pertanyaan itu sudah lama mengganjal pikirannya. Hanya saja, setiap kali ingin bertanya, selalu ada saja kejadian lain yang membuatnya lupa.
Alea hanya menatap datar."Kau mulai lagi mengatakan omong kosong."
"Ayolah..."
Elle menggantungkan kedua tangannya di lengan Alea sambil menggoyang-goyangkannya."Beritahu aku."
"Kalau begini, kau terlihat seperti anak kecil."
Elle langsung melepaskan pegangannya sambil mendengus."Kau benar-benar menyebalkan."
Sonja tak mampu menahan senyumnya melihat tingkah mereka berdua. Di tengah semua kegugupan yang sejak tadi menghantuinya, candaan sederhana itu sedikit menghangatkan suasana. Namun senyum itu perlahan memudar. Tatapannya kembali jatuh ke pantulan dirinya di cermin. Masih sulit dipercaya. Beberapa hari yang lalu ia hanyalah gadis biasa yang menjalani hidup dengan tenang.
Kini, dia berada di tengah-tengah kaum vampir, menjadi bagian dari mereka, dan yang lebih sulit diterima lagi, hari ini ia akan menikah dengan vampir. Jantungnya kembali berdegup lebih cepat.
"Sonja."
Suara Alea membuyarkan lamunannya."Apa kau masih di sini?"
Sonja tersentak."Ma-maaf, aku hanya..."
"Kau gugup, ya?" tanya Elleanor lembut kali ini.
Sonja tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan.
Elleanor tersenyum usil."Tenang saja. Nanti aku akan mengajarimu bagaimana caranya supaya tidak gugup saat berada di kamar pengantin."
Mata Sonja langsung membulat. Wajahnya kembali memerah.
"Aku serius, loh."
"Elleanor..." Suara Alea terdengar berat, disertai tatapan tajam yang langsung membuat Elle mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
"Apa? Aku hanya ingin membantu."
"Bantuanmu tidak diperlukan."
"Tapi.."
"Cukup."
Elleanor mengembuskan napas panjang sambil cemberut. Alea menggeleng pelan, seolah sudah terlalu sering menghadapi tingkah sahabatnya itu. Tatapannya kemudian beralih kepada Sonja."Waktunya sudah hampir tiba."
Alea mengulurkan tangan kepada gadis itu."Ayo. Kita keluar."
Sonja mengangguk pelan. Dengan satu tarikan napas panjang untuk menguatkan dirinya, ia menerima uluran tangan Alea. Apa pun yang akan menunggunya setelah pintu itu terbuka, dia tahu, tak ada jalan untuk kembali.
***
Wajah Arthur mengeras, seolah dipahat dari batu dan dibingkai oleh cahaya api yang menari liar di dalam perapian. Sorot mata merah gelapnya memancarkan kemarahan yang mengerikan. Aura dingin yang selama ini selalu menyelimutinya berubah menjadi tekanan yang begitu mencekam hingga membuat seluruh ruangan terasa sesak."Kenapa kau baru memberitahukan ini padaku, Damian?" bentak Arthur. Suaranya menggelegar, mengguncang seluruh isi ruangan.
Damian sontak menundukkan kepala."Sa, saya mengira My Lord sudah mengetahuinya," jawabnya gugup. Kalimat itu bahkan terdengar nyaris bergetar.
Di sudut ruangan, Yuno dan Greg saling berpandangan. Mereka belum pernah melihat Arthur semurka ini.
"Aku tidak tahu apa pun tentang ritual itu!" Arthur kembali menghardik. "Berengsek! Kalian semua tahu, tapi tak ada satu pun yang merasa perlu memberitahuku?"
Tak seorang pun berani menyahut. Keheningan justru membuat kemarahan Arthur semakin membuncah. Dadanya naik turun menahan emosi. Baru kali ini ia mengetahui bahwa setiap pernikahan vampir harus disempurnakan dengan sebuah ritual kuno, yang menurut penjelasan Damian, akan menyakiti Sonja. Gadis yang selama ini ia lindungi mati-matian.
Selama ini Arthur selalu memastikan tidak ada seorang pun yang menyentuhnya, bahkan tidak mengizinkan siapa pun membuat Sonja menangis. Namun kini, justru dirinya sendiri yang harus menyeret gadis itu ke dalam ritual yang menyakitkan.
Arthur mengepalkan kedua tangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih."Sial!"
Pria itu berdecak kesal. Untuk pertama kalinya ia benar-benar menyalahkan dirinya sendiri. Sikap acuh tak acuh terhadap adat istiadat vampir kini berbalik menghantamnya. Bahkan Damian, yang hanyalah seekor werewolf, mengetahui ritual itu. Sementara dirinya, sama sekali tidak mengetahuinya.
Percuma saja semua usahanya menjaga Sonja selama ini, jika pada akhirnya gadis itu tetap harus terluka karena dirinya.
"Maafkan kami, My Lord." Damian kembali menundukkan kepala lebih dalam. "Kelalaian ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab kami."
Arthur hanya memejamkan mata sejenak. Sejak kemunculan Ethan, emosinya memang menjadi semakin sulit dikendalikan. Amarah, kecemasan, dan tekanan silih berganti memenuhi pikirannya. Bahkan tanpa sadar, Sonja beberapa kali menjadi sasaran ledakan emosinya.
Suasana kembali diliputi keheningan. Hingga...
Klik.
Pintu ruangan terbuka perlahan. Victoria masuk dengan langkah hati-hati. Tatapannya langsung menyapu seluruh ruangan yang dipenuhi aura mencekam.
"My Lord..." panggilnya pelan.
Arthur membuka mata.
"Sonja sudah siap. Dia sedang menunggu di aula bawah."
Arthur mengembuskan napas panjang. Tak ada jalan untuk mundur. Pernikahan ini tidak mungkin dibatalkan. Apalagi Ethan sudah mulai bergerak mengambil alih kepemimpinan Klan Dark Moon. Jika Arthur menunjukkan sedikit saja kelemahan, Ethan akan memanfaatkannya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Arthur melangkah keluar ruangan. Damian, Greg, Yuno, dan beberapa vampir lainnya segera mengikuti langkah pemimpin mereka.
Begitu memasuki aula utama, langkah Arthur terhenti. Ruangan itu telah disulap Elleanor menjadi begitu megah. Lilin-lilin kristal menggantung indah di langit-langit, bunga-bunga putih memenuhi setiap sudut ruangan, sementara kain-kain hitam dan emas menghiasi pilar-pilar besar istana. Namun semua keindahan itu seketika menghilang dari pandangan Arthur. Netra elangnya hanya terpaku pada satu sosok.
Sonja.
Gadis itu berdiri di samping Alea.
Gaun putih yang dikenakannya membalut tubuh mungilnya dengan sempurna. Rambut panjang bergelombangnya terurai lembut di bahu, dihiasi jepit bunga kecil di salah satu sisi kepala.
Cantik.
Terlalu cantik.
Untuk sesaat Arthur bahkan lupa cara bernapas. Jantungnya berdetak lebih cepat. Seolah seluruh dunia berhenti berputar hanya karena satu senyum kecil yang terpancar dari wajah Sonja. Namun kekaguman itu hanya bertahan beberapa detik. Tatapan Arthur perlahan turun. Lalu...
Rahangnya mengeras. Kenapa gaunnya sependek itu? Tatapannya menyorot bagian kaki Sonja yang terekspos. Wajah Arthur langsung berubah masam. Siapa pun yang memilihkan gaun itu, akan menerima akibatnya nanti.
Arthur menghela napas panjang sambil menahan amarahnya. Sementara itu Sonja sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya. Tatapan Arthur terasa terlalu intens hingga membuat pipinya memanas.
Arthur sendiri mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih yang membuat penampilannya jauh lebih rapi dibanding biasanya. Rambut hitamnya disisir ke belakang, mempertegas wajah tampannya yang dingin dan berwibawa.
"Sudah kubilang, kan?" bisik Elleanor sambil menyenggol pelan lengan Sonja.
Sonja menoleh gugup.
"Lihat tatapan Arthur."
Elle menahan tawa."Dia kelihatannya sudah tidak sabar memakanmu."
Sonja langsung membelalak."Elle..." gumamnya pelan.
"Serius. Dia seperti ingin menelanmu hidup-hidup."
"Elleanor." Suara Alea terdengar tegas."Cukup."
Elle hanya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, meski senyum jahilnya belum juga hilang.
Sonja justru semakin gugup. Jantungnya berdebar sangat cepat. Semua mata kini tertuju kepadanya. Telapak tangannya mulai dipenuhi keringat dingin. Seolah memahami kegelisahan itu, Alea perlahan menggenggam tangan Sonja. Genggamannya dingin, tetapi terasa begitu menenangkan."Jangan gugup," bisik Alea lembut."Aku ada di sini."
Sonja menoleh. Tatapan lembut Alea membuat napasnya perlahan kembali teratur. Ia membalas genggaman tangan wanita itu sambil mengangguk pelan. Tak lama kemudian Damian melangkah ke depan.
"Kalau begitu..." Pria itu menatap kedua mempelai secara bergantian."Kita mulai upacaranya."
Suasana aula berubah khidmat. Seluruh prosesi berlangsung dengan lancar. Hingga akhirnya, dengan disaksikan seluruh anggota klan, Sonja resmi menjadi istri Arthur Fabian Kell. Setelah semua selesai, Arthur mendekat.
Pria itu meraih pinggang Sonja dengan lembut, menariknya sedikit lebih dekat."Kau sangat cantik, Sonja," bisiknya lirih.
Pipi Sonja kembali memerah."Kau juga sangat tampan," balasnya dengan senyum malu-malu.
Senyum itu membuat Arthur ikut tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya sejak tadi, wajah dinginnya sedikit melunak. Namun senyum itu segera menghilang saat ia mengingat ritual yang masih menunggu mereka. Arthur menggenggam tangan Sonja lebih erat."Kita masih harus melakukan satu ritual lagi..." Nada suaranya terdengar jauh lebih pelan."Untuk menyempurnakan pernikahan kita."
Sonja menatap Arthur dengan bingung, tetapi tetap mengikuti langkah pria itu ketika Arthur perlahan menuntunnya menuju kamar yang telah dipersiapkan.