Edi Sudrajat takpercaya ketika, Erico Atmaja melamar putrinya menjadi istrinya
Syakila gadis 20 tahun yang memilih mengabdikan ilmunya di pesantren, dengan yakin menerima lamaran lelaki 31 tahun menjadi pendamping hidupnya.
Lelaki yang di kenal dingin dan kaku itu, ternyata begitu lemah lembut memperlakukan kila sebagai istrinya, tentu saja itu membawa kebahagiaan pada rumah tangga mereka.
Di depan Kila Rico adalah sosok lemah lembut penuh cinta, sifat itu berbanding terbalik saat dengan anak buahnya dia terkenal dingin dan tanpa ampun, tapi itu dulu..
Mengenal Kila membuat perubahan pada Rico,sedikit demi sedikit, isteri yang penuh kelembutan itu berhasil melunakkan kekerasan hatinya.
Konflik mulai datang, ketika orang di masa lalu Erico mulai muncul satu persatu, membongkar perbuatan sadisnya di masa lalu, hal itu memaksa Erico melakukan banyak pengorbanan, bahkan dia nyaris kehilangan orang yang begitu berharga di dalam hidupnya.
Hal itu malah merubah jalan hidupnya seratus delapan puluh derajat.
Silahkan menikmati kelanjutannya happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali mengajar
Rico belum pergi tapi Kila sudah kehilangan semanagat, pria yang kadang dingin terkadang juga hangat itu, membuatnya tak mampu menjauh darinya.
Tapi kila tak ingin merengek pada Rico Agar membawanya, atau meminta Rico membatalkan kepergianya.
"Nyonya, tuan menghubungi handphone nyonya, kenapa tidak nyonya angkat." suara mbak Nana mengejutkan Kila yang sedang melamun.
"Benarkah, handphone tinggal di kamar." Ujar Kila.
"Sebaiknya tuan nyonya telpon kembali saja." usul Nana
"Iya deh mbak Na"
Kila melangkah meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya, mencari handphone nya guna menghubungi suaminya.
Kila rebahan di ranjang, seraya membuka layar handphone nya, ada lima panggilan tak terjawab dari suaminya.
"Tuut"
"Tuut"
"Halo, sayang" terdengar suara barito di ujung telepon menyapa Kila.
"Assalamualaikum mas, maaf tadi gak angkat pangilan mas"
"Gak apa sayang, aku cuma mau beritau siang aku makan diluar jangan menunggu ku"
"Oohh baiklah mas."
"Ya sudah ya sayang Aku sibuk sekali hari ini"
"Iya mas"
Rico mengakhiri pangilan telpon, dia memang terlalu sibuk beberapa hari ini, itu karena dia akan pergi ke paris selama sepuluh hari.
Kila maklum kesibukan suaminya, dia memilih mengisi waktu senggangnya dengan membaca Alqur'an , serta mendengarkan pengajian dari handphone nya.
Dari makan siang hingga makan malam Rico belum juga pulang, bahkan dia tak sempat walau hanya memberi kabar.
Kila terlihat lesu, hidangan di meja tak satupun mampu menggugah seleranya, nafsu makannya benar-benar hilang saat ini, hal itu tak luput dari perhatian Nana.
"Buk, boleh saya makan di sini" suara Nana mengejutkan Kila, Kila menatap Nana yang membawa piring kosong di tangannya.
"Tentu saja" jawab Kila dengan sumringah.
"Mereka juga buk" ujar Nana lagi menunjuk pada pelayan yang dulu hanya berdiri di belakang meja makan. mereka juga membawa piring kosong di tangan mereka.
"Iya gak apa, mari silahkan" jawab Kila penuh semangat.
Baru kali ini Kila melihat meja panjang ini di penuhi orang saat jam makan, biasanya hanya dia dan Rico. karena suasana yang menyenangkan hatinya, entah mengapa hidangan di meja berubah menjadi lezat semua di lidah Kila.
Walau canggung mereka berusaha membuat nyonya mereka sedikit merasa terhibur dengan kehadiran mereka.
Kila sudah tertidur saat Rico pulang dari kantornya, dia terlihat sangat lelah, bagaimana tidak, seharian ini dia sibuk mengadakan pertemuan dengan koleganya.
Rico menatap tubuh kila yang tertidur pulas di atas ranjang, seharian ini dia sama sekali tak ada waktu buat Kila. Setelah membersihkan tumbuhnya Rico berbaring di samping Kila, rasa lelah membuat kantuk menggelayuti kelopak matanya.
Karena sudah terbiasa bangun pagi untuk tahajut, seperti ada alram yang berupaya membangunkannya di waktu-waktu sholat malam. Kila menatap wajah tampat di sampingnya, ingin rasanya membangunkannya agar ikut serta dalam sujud malamnya.
Kila menghela nafas panjang, saat ini hanya doa saja yang bisa Kila berikan untuk suaminya. kila beranjak bangkit, pergi kekamar mandi membersihkan diri, lalu ke ruang Sholat.
"Mas, bangun sudah pagi" Kila mengguncang tubuh Rico pelan. Rico mengerjab beberapa kali mengumpulkan kesadarannya.
Rico menatap Kila, aroma sampo tercium dari rambutnya yang basah.
"Sinih" ujar Rico merengkuh tubuh Kila yang berada di sisi ranjang, kini Kila sudah berada di pelukan Rico.
"Mas sudah pagi" berusa mengikatkan Rico.
"Aku tau" ujarnya tak bergeming.
Kila pasrah, ketika tangan Rico menyusup di balik baju, menyentuh lembut kulit mulusnya dengan mata yang masih terpejam. Kila mengeliat pelan menerima sentuhan Rico, merasakan geliat tubuh Kila, Rico tersenyum senang.
Dia membuka matanya menatap wajah cantik yang berada begitu dekat dengan wajahnya.
"Masih pagi kenapa sudah seharum ini, kau membangkitkan hasrat ku sayang, bagaimana ini" bisik Rico, tatapannya terlihat begitu liar menatap setiap lekuk wajah Kila.
"Aku, bahkan tak memakai parfum" ujar Kila dengan pipi yang sudah merona merah.
"Benarkah, tapi aku sudah berhasrat sayang" bisik Rico dengan suara beratnya. Kila bingung harus apa , dia memilih menunggu suaminya melakukan apa padanya.
Tak butuh waktu lama Rico sudah mulai menjalankan aksinya, Rico menindih tubuh kila, mencumbunya dengan hangat, sentuhan yang semula lembut berubah sedikit ganas.
Kila yang juga berhasrat mulai membalas setiap sentuhan hangat Rico, dia mulai pandai membuat Rico mendesah berkali-kali, menikmati segala sentuhan yang membuatnya ingin segera memuntahkan lahar kenikmatan miliknya, pada rongga terdalam milik Kila.
Rico terkulai bermandi keringat di samping kila, sungguh tak disangka Kila belajar begitu cepat , baru kemarin dia merasakan kepolosan Kila, tapi tadi apa yang dia rasa begitu menejutkan , juga menyenangkan, Kila mengalakanya dalam permainan ini, sunggu wanita memang cepat belajar.
"Ayo mandi sayang" ajak Rico seraya beranjak bangkit dari ranjang.
Kila tak menyahut, dia tampak ragu mengiyakan ajakan suaminya, mengingat peristiwa yang lalu.
"Ayolah, hanya mandi, aku tidak akan melakukannya" ujarnya meyakinkan Kila.
Mendengar itu Kila pun mengikuti suaminya menuju kamar mandi.
Kila menyiapkan baju suaminya, dengan hanya memakai handuk yang menutup sebagian kecil tubuh mulusnya. Rico menatap tak berkedip.
"Sayang, pakai lah bajumu dulu, jangan sampai aku benar-benar kesiangan karena melakukannya lagi" ujar Rico dengan tatapan liarnya.
Mendengar itu, Kila bergegas keruang ganti memakai baju longgarnya sebelum suaminya berubah pikiran. baru kemudian menyiapkan baju Suaminya.
"Mas,"
"Hemm"
"Aku, ingin kembali mengajar" ujar Kila seraya membantu Suaminya memasang dasi.
"Kenapa, kau kesepian di rumah sendiri" tanya Rico menatap intens wajah cantik Kila. Kila menganguk pelan, dia bosan hanya berkurung di dalam rumah tanpa melakukan apa-apa.
Rico menghela nafas panjang, dia sungguh tak rela Kila berkeliaran di luar rumah tanpa dirinya.
tapi dia juga tak tega membiarkan Kila kesepian di rumah mewahnya.
"Tunggulah sayang, aku pertimbangkan lagi usul mu" jawab Rico akhirnya.
Kila terlonjak kegirangan, dengan sepontan dia memberi kecupan lembut di bibir suaminya.
Rico hanya terbelalak kaget menerima kecupan hangat dari istrinya. kemudian menggeleng pelan oleh tingkah istrinya yang seperti gadis kecil yang dapat permen.
"Trimakasih Mas" ujar Kila sumringah.
"Heemm" sahut Rico dengan gumaman.
Rico baru akan mempertimbangkan usulnya tapi Kila sudah begitu antusias, begini mana mungkin Rico tega menolak keinginan istrinya.
Kila menggandeng lengan Rico dengan manja menuju lift, Rico tersenyum mendapat perlakuan manis di pagi hari dari istrinya.
Benar orang bilang istri adalah jiwa pada rumah tangga. kebahagiannya mampu membuat rumah senyaman surga.
Sehabis sarapan Kila mengantar suaminya berangkat kekantor, menjalani rutinitasnya sebagai pimpinan perusahaan.
"Aku pergi sayang, undanglah mama berkunjung kerumah, sudah lama sayang tidak bertemu mama." ujar Rico, membuat binar mata kila kembali terlihat.
"Benar mas" tanya Kila sumringah.
"Tentu sayang, ya sudah aku pergi dulu sayang" pamit Rico.
Kila menatap Mobil Rico hingga menghilang di balik tembok rumahnya.
Kila menghubungi mamanya lewat telpon, mengundangnya berkunjung kerumahnya. tentu saja hal itu di sambut dengan senang hati oleh mama.
"Sayang..." seru mama saat tiba di istana putri semata wayang nya.
"Mama, sehat" tanya Kila seraya memeluk tubuh mamanya yang terlihat awet muda.
"Tentu sayang, kenapa baru mengundang mama, padahal mama rindu" ujar mama sewot.
"Maaf ma,"
"Kalian, sudah lupa dengan mamanya, tidak kakak mu, tidak kamu begitu nikah, lupa sama mama"
"Bukan lupa ma, hanya baru ada waktu, kami tidak mungkin melupakan mama" ucap Kila hati hati.
"Papa mu makin tua makin sibuk, mama gak ada teman di rumah" keluh mama.
"Mintalah papa berhenti kerja ma, papa sudah waktunya istrahat" usul Kila.
"Mama belum pernah bicara tentang hal itu pada papa"
"Cobalah ma"
"Iya, sayang, Eh sayang mama mau merasakan Treatment di rumah mu ya, sudah lama gak treatment di salon" ujar mama seraya mengerling manja pada putrinya.
"Baiklah ma, kebetulan aku juga ingin di pijat" jawab kila.
Ada rasa bersalah di hati Kila, membuat mamanya merasa sedih dengan ketidak pedulian mereka anak anaknya, Kila janji akan lebih perhatian
pada mamanya.
.
.
.
Happy reading 🥰
Tinggalkan like and vote ya sayang 🙏🙏😍