Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semua Untukku?
Tok Tok Tok
Di dalam gudang, Annabella dan Yumna baru saja selesai makan ketika terdengar ketukan di pintu. Ia segera bangkit lalu membuka pintu sedikit.
“Minah?”
“Ini barang yang kamu minta.”
Minah menyerahkan sebuah kotak besar kepadanya. Annabella membukanya dengan rasa penasaran, lalu seketika membelalakkan mata.
Di dalamnya terdapat perlengkapan menjahit: mesin jahit portabel, benang beragam warna, jarum, gunting kain, serta beberapa peralatan lainnya.
“Ini semua untukku?”
“Benar. Tuan Lucian yang menyuruh Faisal mengantarkannya.”
Annabella tertegun. Ia tidak menyangka Lucian benar‑benar memenuhi permintaannya.
“Terima kasih, Minah.”
Annabella tersenyum tulus. Ia senang mendapatkan sesuatu yang bisa membantunya melakukan hal yang ia sukai.
Minah lalu melirik ke arah dalam gudang. Namun Annabella kembali berdiri di depan pintu, menghalangi pandangannya.
“Kalau begitu, aku masuk dulu, ya. Terima kasih banyak.”
Annabella segera menutup pintu sebelum Minah sempat melihat Yumna.
Minah mengernyit. Ada sesuatu yang terasa aneh. Sejak tadi, Annabella terus berusaha menutupi bagian dalam gudang. Apalagi ia mendengar suara kecil dari balik pintu.
Sebenarnya, apa yang disembunyikan wanita itu?
Begitu pintu tertutup rapat, Annabella membawa kotak itu ke sudut ruangan.
Yumna yang sedang duduk di atas karpet pun menghampirinya dengan mata berbinar.
“Onty, itu apa?”
“Ini alat untuk menjahit, Sayang.”
Annabella mengeluarkan mesin jahit portabel dari kotaknya, lalu meletakkannya di atas meja kecil yang sudah ia bersihkan.
Yumna berjongkok di sampingnya, memperhatikan benda itu dengan penuh rasa ingin tahu.
“Wah! Onty punya mecin?”
Annabella tertawa kecil.
“Iya. Dengan ini, Onty bisa membuat baju untuk Yumna.”
“Baju balu Yumna?”
“Benar. Nanti Onty buatkan baju yang cantik untuk Yumna.”
Yumna bertepuk tangan kegirangan.
“Yumna mau baju cantik‑cantik!”
Melihat kebahagiaan gadis kecil itu, hati Annabella terasa hangat. Ia tidak memiliki banyak hal untuk diberikan, tetapi setidaknya ia bisa memakai keterampilannya agar Yumna bahagia.
Annabella mulai menyiapkan kain dari beberapa pakaian lamanya yang sudah kekecilan. Ia mengukur tubuh kecil Yumna dengan cermat, lalu menggambar pola sederhana di atas kain.
Meskipun kedua telapak tangannya masih terluka, ia berusaha bekerja perlahan agar rasa sakit tidak mengganggu gerakannya.
Yumna duduk di sampingnya, mengamati setiap gerakan dengan penuh kekaguman.
“Onty pintal cekali!”
Annabella tersenyum.
“Dulu waktu sekolah, Onty sering menjahit. Onty ingin menjadi desainer pakaian.”
“Decainel?”
“Iya. Orang yang membuat berbagai model pakaian.”
Yumna mengangguk‑angguk seolah mengerti, meskipun mungkin belum sepenuhnya memahami arti pekerjaan itu.
Beberapa saat kemudian, gadis kecil itu mulai menguap. Ia menarik ujung baju Annabella dengan kedua tangan mungilnya.
“Onty, ayo tidul. Yumna udahhh ngantuk.”
Annabella meliriknya.
“Yumna tidur duluan, ya. Onty mau menyelesaikan pekerjaan ini sebentar lagi.”
Yumna menggeleng pelan.
“Ndak mau. Yumna mau tidul cama Onty.”
“Kalau begitu, pejamkan mata dulu. Nanti kalau Onty selesai, Onty akan menyusul.”
Annabella membujuknya dengan lembut.
Setelah beberapa saat, Yumna akhirnya menyerah. Sebelum berbaring, ia mendekat lalu mengecup pipi Annabella.
Cup!
“Celamat malam, Onty.”
Annabella terdiam sejenak, lalu tersenyum haru.
“Selamat malam, Yumna.”
Ia membantu Yumna berbaring di atas karpet dan menyelimutinya dengan kain yang ada, lalu mengusap rambutnya sampai gadis kecil itu tertidur.
Setelah memastikan Yumna terlelap, Annabella mulai bekerja. Senyum lembutnya perlahan berubah menjadi tatapan serius. Ia mengambil pensil, memperbaiki garis pola, lalu memotong kain dengan hati‑hati.
Setiap ukuran diperhitungkan dengan teliti. Tangannya bergerak cekatan meskipun rasa perih terus menjalar dari telapak tangannya.
Annabella tidak menjahit asal‑asalan. Ia tahu bagaimana kain harus dipotong, bagaimana pola disesuaikan dengan bentuk tubuh, dan bagaimana setiap bagian pakaian disatukan agar hasilnya rapi.
Gerakannya begitu terampil, seolah ia sudah melakukan pekerjaan itu selama bertahun‑tahun.
Jarum bergerak menembus kain. Potongan‑potongan yang semula terpisah mulai membentuk pakaian kecil yang indah.
Di tengah kehidupan yang terasa begitu kejam, menjahit menjadi satu‑satunya hal yang membuat Annabella merasa masih memiliki dirinya sendiri.
Dulu, ia pernah bermimpi menjadi desainer terkenal. Ia membayangkan memiliki rumah mode sendiri, menciptakan pakaian‑pakaian indah, dan membuktikan bahwa dirinya bisa meraih sesuatu lewat kemampuannya sendiri.
Namun semua impian itu terkubur bersama kesalahan masa lalu dan hukuman yang harus ia jalani.
Kini, ia bahkan harus bersembunyi di gudang tua hanya untuk menjahit pakaian bagi seorang anak kecil.
Annabella menunduk menatap kain di tangannya. Meskipun hatinya terasa pedih, ia tidak berhenti.
“Tidak apa‑apa. Selama aku masih bisa berusaha, aku tidak boleh menyerah.”
Ia kembali menggerakkan jarum dengan hati‑hati.
Malam semakin larut, tetapi Annabella tetap tekun bekerja. Ia ingin menyelesaikan pakaian pertama Yumna sebelum pagi tiba.
Tanpa disadarinya, di balik pintu gudang yang tertutup rapat, sebuah bakat yang lama terpendam mulai menemukan jalannya kembali.
Mungkin suatu hari nanti, keterampilan yang selama ini ia sembunyikan akan menjadi awal kehidupan baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Dengan mesin jahit ini, aku akan mencari uang tambahan untuk biaya perawatan Paman di rumah sakit, sekaligus mencari orang‑tua Yumna."
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???