Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.
Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Bukan Sekedar Eufoni
Langkah kaki Mahika terasa sedikit canggung saat melintasi hamparan apron beton yang luas menuju bagian ujung pangkalan. Gesekan heels krim yang ia kenakan terdengar beradu dengan sunyi nya area hangar utama yang terpisah dari keriuhan tenda tamu undangan. Udara di dalam bangunan raksasa itu terasa lebih sejuk, terlindung dari terik matahari siang yang kian menyengat. Aroma khas bahan bakar jet, pelumas mesin, dan besi dingin mendadak memenuhi indra penciumannya.
Di hadapan mereka, berdiri kokoh satu unit pesawat latih jet bertubuh ramping dengan garis warna tajam yang memikat. Burung besi itu seperti raksasa tidur yang diselimuti keanggunan.
"Ini hangar tempat biasanya kami melakukan pemeriksaan rutin sebelum dan sesudah penerbangan," suara Mahija memecah keheningan.
Pria itu sudah memegang kap pet perwiranya di tangan kiri, sementara tubuh tegapnya berbalik menatap Mahika. Mahika melipat kedua tangannya di depan dada, berusaha keras menjaga raut wajahnya agar tetap datar, meski kenyataannya dadanya bergemuruh hebat.
"Kenapa ajak saya ke sini? Pamer kalau kamu bisa mengendalikan besi terbang raksasa ini?"
Mahija terkekeh pelan. Suara tawa rendah itu bergema halus di dalam hangar, menciptakan getaran aneh yang menjalar ke tengkuk Mahika. Mahija melangkah mendekat hanya dua langkah namun sudah cukup membuat Mahika menahan napasnya seketika.
"Bukan pamer," ucap Mahija lembut. Matanya yang tajam mengunci pandangan Mahika tanpa ampun. "Banyak orang bilang, suara deru mesin jet di langit itu cuma kebisingan yang mengganggu. Tapi buat kami, para penerbang, suara itu adalah eufoni—bunyi paling indah dan harmonis yang menandakan kami sedang menjalankan tugas menjaga langit negara."
Mahija jeda sejenak.
Ia menurunkan pandangannya pada wajah Mahika yang memerah merona di bawah balutan hijab navy-nya, lalu kembali menatap manik mata gadis itu dengan kedalaman yang tak tertandingi.
"Tapi sejak saya ketemu kamu di teras rumah pantai malam itu... saya sadar ada bunyi lain yang jauh lebih indah dari sekadar eufoni mesin jet."
Mahika mengerjap, tenggorokannya mendadak terasa amat kering. "B-bunyi apa maksud kamu?"
"Suara kamu," bisik Mahija santun namun sarat akan penekanan. "Walaupun isi kalimat kamu ketus, galak, dan selalu usir saya, suara kamu itu ketenangan buat saya, Mahika. Kehadiran kamu di sini hari ini bukan sekadar pemandangan biasa buat mata saya, tapi sesuatu yang bikin dada saya rasanya jauh lebih sesak dari saat saya harus menahan G-force di kokpit."
Deg!
Jantung Mahika serasa melompat keluar dari tempatnya. Wajahnya membakar hebat. Efek dari perkataan Mahija barusan seperti sengatan listrik yang melumpuhkan seluruh pertahanan memorinya. Ia reflek memalingkan wajahnya ke arah badan pesawat di samping mereka, berpura-pura sangat tertarik pada baling-baling dan sirip sayapnya, padahal jarinya jemarinya sudah meremas kain dress navy-nya dengan sangat erat karena salting brutal yang tak tertahankan.
"Gak usah bual," gumam Mahika dengan suara yang bergetar tipis, berusaha sekuat tenaga agar tidak terdengar panik. "Perwira TNI AU memang diajarin obral kata-kata manis begini ya kalau lagi bertugas?"
Mahija tidak marah. Sebaliknya, senyum tipis yang amat memikat kembali terbit di bibirnya. Ia melihat bagaimana daun telinga Mahika di balik hijabnya merona merah padam. Gadis di depannya ini sedang panik setengah mati karena ulah perasaannya sendiri.
"Saya ga pernah obral kalimat begini ke siapa pun, Mahika. Cuma ke kamu. Dan saya serius," tambah Mahija seraya melangkah maju satu tapak lagi, mencondongkan sedikit tubuhnya agar sejajar dengan tinggi Mahika. "Kamu tau kenapa saya minta kamu pakai baju ini hari ini?"
Mahika menoleh cepat dengan mata membelalak. "Mana ada kamu minta? Bu Lasmi yang suruh saya pakai ini!"
"Memang," sahut Mahija santai sambil tersenyum manis. "Tapi saya yang titip pesan ke Bu Lasmi kemarin lusa, minta tolong bujuk kamu supaya mau pakai warna navy. Karena saya mau lihat warna kesukaan saya... menyatu di tubuh wanita yang belakangan ini bikin tidur saya ga pernah tenang."
Brak!
Dinding pertahanan batin Mahika rasanya hancur berkeping-keping. Napasnya memburu. Perlakuan sederhana namun penuh manipulasi manis dari Mahija ini benar-benar membuat kepalanya panas dan dadanya berdebar tidak karuan. Bagaimana bisa seorang pria berseragam PDU yang biasanya terlihat kaku dan mengintimidasi di depan anak buahnya, mendadak berubah menjadi sosok yang begitu gencar dan puitis saat berduaan dengannya?
"Kamu... kamu benar-benar keterlaluan ya, Mahija," cicit Mahika lirih. Ia benar-benar tidak sanggup menatap mata Mahija lebih lama lagi.
Rasa malu dan sensasi mendebarkan di dadanya bercampur menjadi satu, membuatnya ingin segera lari kembali ke pelukan ombak di rumah pantainya. Di sudut hangar yang berjarak sekitar lima hingga tujuh meter di belakang mereka, dua sosok berseragam piket tampak berdiri siaga di dekat tiang penyangga utama. Jaka dan Hansen mengawal dengan tubuh tegap sempurna, namun mata mereka sibuk menyimak pertunjukan romantis di depan sana.
"Jak, Jak... liat tuh. Komandan kita bener-bener gak dikasih kendor," bisik Hansen tanpa merubah posisi berdirinya yang tegap. "Ibu negara sampai gak berani nengok gitu, mukanya merah kayak kepiting rebus."
Jaka menahan tawa sampai bahunya sedikit berguncang.
"Belum tahu dia aura perwira udara kalau lagi manuver mendekati sasaran. Sekali tembak pakai kalimat pamungkas, langsung lock target. Tapi kasihan juga Mba Mahika, kelihatan banget salting-nya sampai megangin baju begitu."
"Ssst! Jaga sikap. Kalau Komandan nengok terus tau kita merhatiin, jatah cuti kita bulan depan melayang," pangkas Hansen pelan sambil merapikan baretnya, berusaha kembali berakting menjadi pengawal yang kaku dan tidak tahu apa-apa.
Sementara itu di dekat pesawat, Mahija perlahan merogoh saku dalam jas PDU-nya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berbalut kain beludru berwarna biru tua.
"Mahika," panggilnya lagi.
Mahika refleks menarik napas dalam-dalam sebelum berani membalikkan badannya. Namun matanya langsung tertuju pada benda kecil yang kini ada di telapak tangan Mahija.
"Apa lagi ini?" tanya Mahika defensif, mencoba menyembunyikan getaran di suaranya.
"Ini bukan lamaran. Jangan takut dulu," sela Mahija cepat seraya membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terbaring sebuah pin kecil berbahan logam mengkilap berlogo wings penerbang TNI AU, namun dengan ukiran nama kecil yang amat rapi di bagian bawahnya: M.A.Z.
"Pin ini... bentuk miniatur dari wing penerbang saya," jelas Mahija dengan nada suara yang perlahan berubah menjadi begitu hangat dan emosional. "Saya dapat wing yang asli setelah perjuangan bertahun-tahun yang hampir bikin saya nyerah. Tapi miniatur ini... saya buat khusus buat kamu. Tulisan namanya, nama kamu. Mahika Avisa Zalana."
Mahika terpaku. Matanya menatap pin mengkilap itu tanpa kedip. "Buat apa kamu kasih ini ke saya? Saya bukan siapa-siapa kamu."
"Buat pengingat," balas Mahija lembut. Pria itu menatap Mahika penuh ketulusan yang belum pernah Mahika lihat pada pria mana pun sepanjang hidupnya. "Pengingat kalau sejauh apa pun saya terbang di atas sana, dan sekeras apa pun kamu berusaha ngusir saya dari hidup kamu... ada satu nama yang selalu saya bawa di dalam dada. Saya ga minta kamu balas perasaan saya sekarang. Saya cuma mau kamu tahu, kalau di dunia yang luas dan bikin kamu lelah ini, ada saya yang selalu bersedia jadi tempat kamu pulang."
Kalimat itu meluncur begitu jujur. Tidak ada nada paksaan, tidak ada keangkuhan seorang perwira. Yang ada hanyalah ketulusan seorang Mahija yang sedang menyerahkan sebagian hatinya untuk dijaga oleh wanita pilihan jiwa-raganya.
Air mata mendadak menggenang di pelupuk mata Mahika. Pertahanan emosinya yang dibangun rapat-rapat sejak ia lari dari keluarga dan kenyataan hidupnya yang pahit, mendadak luluh oleh kehangatan yang ditawarkan pria ini. Selama ini, ia selalu merasa sendiri, harus berjuang sendiri, dan tidak pernah dianggap berharga tanpa utang budi. Tapi di sini, di dalam hangar pesawat yang dingin ini, seorang pria berseragam lengkap menyatakannya sebagai tempat pulang dengan begitu indahnya.
Mahika menunduk dalam-dalam, menyembunyikan satu tetes air mata bahagia yang jatuh di pipinya. Ia meremas jemarinya sendiri yang makin bergetar.
"Kamu jahat banget, Mahija..." bisik Mahika pelan, suaranya tercekik oleh rasa haru dan sensasi jatuh cinta yang luar biasa hebat. "Kamu bikin saya gak punya alasan lagi buat benci sama kamu."
Mahija tersenyum sangat manis, senyuman paling lega yang pernah terpancar dari wajahnya. Ia tidak memaksakan diri untuk menyentuh Mahika. Ia cukup berdiri di sana, menjadi benteng dan pelindung bagi wanita yang kini resmi menguasai seluruh sudut hatinya.
Suara angin sore yang berhembus memasuki hangar membawa aroma laut yang familiar, menyatukan dua dunia mereka dalam sebuah harmoni baru. Bukan lagi sekadar suara bising mesin jet atau deburan ombak yang sepi, melainkan sebuah simfoni cinta yang mulai bergema indah di antara Mahija dan Mahika.