NovelToon NovelToon
AKU ADALAH SUBJEK PENELITIAN

AKU ADALAH SUBJEK PENELITIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dosen / Anak Genius
Popularitas:70
Nilai: 5
Nama Author: Sara Zefa

Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.

Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.

Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.

Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?

Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ILUSI KEHENDAK BEBAS

Keenan dan Alya saling bertukar pandang setelah mendengar jawaban dari perempuan itu. Keenan meneguk ludah sebelum berbicara. "Apakah ada hal lain yang terasa mencurigakan saat anda menjadi subjek 03 selama ini?"

Dan perempuan itu kembali tenggelam dalam kenangannya satu tahun yang lalu.

Saat itu, dia masih duduk di ruangan. 

Seorang observer duduk di hadapannya sambil memegang lembar observasi, sesekali mencatat sesuatu dari setiap jawaban yang ia berikan. “Selama mengikuti penelitian ini, apakah kamu pernah merasa ada perubahan dalam dirimu?”

Perempuan itu berpikir sejenak sebelum menggeleng. “Tidak ada perubahan yang terlalu terasa.”

“Kalau begitu, bagaimana dengan caramu mengambil keputusan?”

Dia kembali terdiam. “Maksudnya?”

“Misalnya ketika kamu menghadapi sesuatu yang membuatmu tidak nyaman. Apakah kamu biasanya langsung menghindarinya atau mencoba mencari tahu terlebih dahulu?”

Perempuan itu mulai memikirkan beberapa kejadian yang pernah dialaminya. “Aku biasanya mencari tahu.”

Observer mengangguk kecil. “Kenapa?”

“Karena aku tidak suka kalau mengambil keputusan tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”

“Jadi, kamu lebih percaya pada keputusan yang kamu ambil setelah mendapatkan informasi yang cukup?”

“Iya.”

“Bagaimana jika informasi tersebut berasal dari seseorang yang menurutmu lebih memahami situasi daripada dirimu sendiri?”

Perempuan itu terdiam cukup lama. “Mungkin aku akan mempertimbangkannya.”

Observer kembali menulis sesuatu. “Berarti kamu tidak keberatan jika seseorang membantu mengarahkanmu ketika kamu belum memiliki cukup informasi?”

Perempuan itu mengangguk pelan. “Kalau memang tujuannya membantu.”

“Dan jika bantuan tersebut membuatmu menemukan sesuatu tentang dirimu yang sebelumnya tidak kamu sadari?”

Kali ini perempuan itu tersenyum kecil. “Aku mungkin akan berterima kasih.”

Observer berhenti menulis dan menatapnya. “Jadi, selama penelitian ini membantumu memahami dirimu sendiri, kamu merasa tidak keberatan untuk mengikuti arahan yang diberikan?”

Perempuan itu tidak langsung menjawab. Dia memikirkan kembali semua pertanyaan yang telah diberikan kepadanya selama beberapa sesi terakhir. “Tidak,” jawabnya akhirnya. “Aku tidak keberatan.”

Observer kembali menundukkan kepalanya dan mencatat sesuatu.

Dan perempuan itu kembali tersadar dari lamunannya. Dia refleks menunduk dan memegangi kepala. Setelah mengingat ulang, hal yang tadinya terasa normal baginya mendadak menakutkan.

"Anda tidak apa-apa?" Ucap Alya khawatir.

Perempuan itu kembali mengangkat wajah berkata dengan suara lemah. "Bahkan aku tidak tahu diriku benar-benar sedang dimanipulasi atau tidak. Karena waktu itu aku benar-benar merasa semua keputusan itu berasal dari diriku sendiri."

"Jadi... Mereka bahkan mempelajari pikiran seseorang yang menjadi subjek dan secara tidak langsung memanipulasi pikiran orang itu?!" Ucap Keenan mencoba menyimpulkan.

Dan seketika ruangan itu menjadi hening. Ketiganya terdiam dalam pikiran masing-masing, sampai akhirnya perempuan itu kembali bersuara. "Aku... Sepertinya harus memikirkan ulang banyak hal. Terimakasih atas kunjungan kalian kesini." Ucap perempuan itu.

Keenan dan Alya langsung beranjak berdiri, mereka paham bahwa keberadaan mereka sudah diusir secara halus. "Terimakasih sudah meluangkan waktu anda terhadap kita. Maaf bila sempat menganggu anda." Dan perempuan itu hanya menganggukkan kepala.

Mereka berdua keluar dari rumah perempuan itu, dan Alya menaiki motor Keenan, dan pria itu mengantarkannya ke kost Alya. Keenan menaikkan helm full face nya dan berbicara kepada Alya sebelum dia pergi lagi. "Jujur. Gue takut buat ke kampus besok. Mana langsung ketemu bu Aglaea di jam pertama lagi."

Alya memasang senyum canggung. "Boleh bolos aja gak sih? Aku juga takut." Alya langsung memijit kepalanya ketika perempuan itu mengingat kejadian saat dirinya mendorong bu Aglaea sampai jatuh.

Keenan yang mendengar ucapan Alya malah tertawa. "Sejak kapan anak sepintar dan serajin kamu malah bolos? Hahahaha"

Alya mengulas senyum "Di ajarin Anaxa."

"Hah?" Keenan malah mendadak terdiam.

"Iya. Anaxa yang ajakin aku bolos. Yasudah. Jadinya bolos berdua di kost nya." Ucap Alya yang malah kelewat polos.

Keenan menatap Alya seolah tidak berkedip. Bener-bener syok. Sampai beberapa saat kemudian lelaki itu berkata. "Kapan kamu bolos sama Anaxa?"

"Hmm... Belum lama ini sih." Ucap Alya.

"Jangan-jangan... Sepatu cewek yang ada di kost Anaxa... Itu punyamu?" Tanya Keenan sambil melihat ke sepatu Alya. Keenan pun tertegun karena menemukan kemiripan dari sepatu yang dipakai.

Alya mengangguk. "Emangnya kenapa? Ada masalah?" Tanya Alya lagi kepada Keenan.

"Kalian pacaran?" Tembak Keenan.

"Belum sih..." Ucap Alya. Tertawa pelan sambil memainkan rambutnya.

"Jujur janggal melihat hubungan kalian." Ucap Keenan pada akhirnya. Dan Alya menendang main-main sepatu Keenan.

"Gih sana balik kost. Udah hampir tengah malam." Ucap Alya sembari mengecek waktu di ponselnya itu.

"Oke gue balik dulu. Owh shit—" Tiba-tiba Keenan mengerang. Membuat Alya yang mendengarnya jadi ikutan khawatir.

"Ada apa?" Tanya Alya.

"Gue mendadak lupa kalau gue tinggal se kost sama Dimas. Mampus gue. Lagi malas banget ketemu sama dia."

"Itukan derita mu. Bukan aku." ejek Alya. "Dah Keenan. Selamat malam ya. Hati-hati." Dan Alya pun langsung melarikan diri ke dalam kost nya. Menyisakan Keenan yang masih terdiam di atas motor.

Keenan sebal sekali rasanya, tapi gak tau mau lampiaskan ke siapa. Mau tak mau Keenan menutup helm dan mengendarai motor nya kembali menuju ke kost nya dengan Dimas.

Sepanjang perjalanan, Keenan kurang fokus mengendarai motornya. Di kepalanya, dia memikirkan banyak skenario untuk meladeni Dimas. Keenan sama sekali belum siap. Tapi dirinya juga tidak bisa kabur kemana-mana.

Maka, setelah dirinya sampai di gedung kost dan memikirkan motor, Keenan mengambil beberapa hembusan nafas, seolah menyiapkan mentalnya untuk masuk ke kost nya dan berhadapan dengan Dimas.

Dirinya baru membuka pintu kost yang tidak terkunci, dan benar saja dia langsung mendengarkan suara seseorang yang berjalan mendekati dirinya. Keenan melangkah lebih dalam ke dalam kost, dan dia berhadap-hadapan dengan Dimas sekarang.

Keenan langsung menatap Dimas dengan datar sebelum Dimas sempat membuka mulut untuk mengeluarkan kata-kata. "Gue lagi males sama lu. Jangan bikin gue lebih unmood sama lu."

Keenan beranjak melewati Dimas. Tapi Dimas belum putus asa. "Oke. Lu boleh marah sama gue. Boleh benci sama gue. Tapi lu harus tau suatu hal yang menyangkut keselamatan Anaxa sekarang."

Mendengar nama temannya disebutkan, mau tak mau Keenan membalikkan badannya dan menatap Dimas. "Apa?" Katanya. Singkat.

Dimas mengeluarkan ponselnya dan memberikan nya ke Keenan.

"SOCIAL NETWORK MONITORING: CONTINUED."

Keenan tertegun. "Ini... Maksudnya apa?"

Dimas menjawab "Gue rasa, segala aktivitas digital Anaxa masih di tracking. Dan mungkin... Aktivitas digital kita juga ikut di tracking? Gue gak tau sebenarnya kayak gimana. Mengingat kita semua udah ketahuan oleh CCTV di ruang bawah tanah..."

Keenan merasakan tubuhnya yang menegang. Karena dia berpikir apa yang dikatakan Dimas cukup masuk akal.

"Gue gak tahu apa aja yang mereka tahu tentang kita." Ucap Keenan pada akhirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!