NovelToon NovelToon
Kau Yang Ku Rawat Hingga Sembuh

Kau Yang Ku Rawat Hingga Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: SulSya

Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.

Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.

Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.

Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.

Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.

Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Aroma karbol yang menyengat bercampur dinginnya pendingin ruangan menyambut Maya saat melangkah menyusuri koridor rumah sakit. Pagi itu, sinar matahari menembus jendela kaca, menerpa wajah pucat Bagas yang masih terbaring kaku. Monitor di samping ranjang terus berbunyi teratur, menegaskan betapa tipisnya batas antara hidup dan mati bagi suaminya.

Maya menarik kursi plastik dekat ranjang. Tangannya yang dingin menggenggam jemari Bagas yang kaku.

"Mas... ini aku," bisik Maya pelan. "Dokter bilang kondisi Mas stabil hari ini. Mas bisa dengar suara aku, kan?"

Hening. Hanya bunyi bip mesin yang menyahut.

Pintu kamar mendadak terbuka. Dokter Frans masuk bersama seorang perawat yang membawa papan catatan medis. Raut wajah dokter paruh baya itu tampak serius.

"Selamat pagi, Ibu Maya," sapa Dokter Frans.

"Selamat pagi, Dok. Bagaimana perkembangan suami saya?" tanya Maya cepat, langsung berdiri dari kursinya.

Dokter Frans memeriksa pupil mata Bagas dengan senter kecil sebelum menatap Maya dengan tatapan prihatin. "Secara umum kondisinya tidak memburuk, tapi Pak Bagas masih dalam koma yang dalam. Kami harus segera memindahkan beliau ke ruang perawatan intensif untuk pemantauan ketat agar tidak terjadi komplikasi pada otaknya."

Maya mengangguk pelan. "Lakukan yang terbaik, Dok. Saya mohon."

"Tentu," Dokter Frans menghela napas panjang. "Namun, saya perlu mengingatkan soal administrasi. Penanganan trauma otak berat dan perawatan alat penunjang hidup membutuhkan biaya yang sangat besar. Pihak rumah sakit minta deposit awal sebelum pemindahan ruang perawatan dilakukan."

Dada Maya terasa sesak. "Kira-kira... berapa biaya yang harus saya siapkan sekarang, Dok?"

"Untuk tahap awal, sekitar tiga puluh juta rupiah, Bu. Itu belum termasuk obat-obatan harian dan tindakan medis susulan jika ada kondisi darurat."

"Tiga puluh juta?" suara Maya tercekat di tenggorokan.

"Saya sarankan Ibu segera mengurusnya ke bagian keuangan di lantai dasar," ujar Dokter Frans menepuk pelan bahu Maya sebelum berpamitan keluar ruangan.

Sepeninggal dokter, Maya terduduk lemas di tepi tempat tidur. Jemarinya yang gemetar merogoh tas kain lusuhnya. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang agak lecek di bagian pinggirnya.

Di dalam amplop itu terdapat lembaran kertas resmi berlogo universitas ternama. Surat penerimaan beasiswa penuh program Sarjana Desain Mode—impian yang ia perjuangkan mati-matian selama dua tahun terakhir. Hari ini adalah tenggat waktu terakhir untuk melakukan pendaftaran ulang dan penyerahan berkas fisik.

"Gimana aku bisa kuliah..." gumam Maya dengan suara bergetar. Air mata mulai menetes membasahi kertas di tangannya. "Kalau aku ambil beasiswa ini, aku harus kuliah dari pagi sampai sore. Siapa yang jaga Mas Bagas? Siapa yang cari uang buat bayar rumah sakit?"

Ia menatap Bagas yang terbaring helpless. Bayangan masa lalu mendadak melintas di ingatan Maya. Saat Bagas rela bekerja lembur hingga larut malam demi membelikannya mesin jahit bekas, atau saat Bagas tersenyum lebar sambil berkata, “Suatu hari nanti, kamu pasti jadi desainer hebat, May. Mas bakalan bangga banget punya istri kaya kamu.”

Maya menyapu air matanya kasar. Pandangannya mantap menatap surat di tangannya.

"Maafkan aku, Mas..." bisik Maya. "Cita-citaku nggak ada artinya kalau aku kehilangan kamu."

Dengan kedua tangannya sendiri, Maya memegang pinggiran kertas sertifikat penerimaan beasiswa itu. Sreeek! Kertas tebal itu terbelah menjadi dua. Sreeek! Ia merobeknya lagi hingga menjadi potongan-potongan kecil tak berharga. Maya melemparkan serpihan kertas impiannya ke dalam tong sampah di sudut ruangan.

Ia lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Bagas, menggenggam jemari pria itu rapat-rapat.

"Mas Bagas jangan khawatir," tutur Maya dengan nada mantap meski air mata terus mengalir. "Maya udah lepas beasiswa itu. Maya nggak butuh gelar desainer. Maya cuma butuh Mas Bagas bangun. Aku yang bakal cari uangnya. Aku yang bakal rawat Mas sampai sembuh. Aku janji."

Siang harinya, Maya mendatangi toko kelontong tempatnya bekerja paruh waktu. Bau rempah dan barang sembako menyambutnya saat melangkah mendekati meja kasir. Pak Kusno, pemilik toko yang bertubuh tambun, sedang sibuk menghitung nota.

"Pak Kusno..." panggil Maya pelan.

Pak Kusno menoleh dan menghentikan penanya. "Eh, Maya. Gimana keadaan suamimu? Katanya kemarin kecelakaan?"

"Masih koma di rumah sakit, Pak," jawab Maya menahan serak di suaranya. "Pak... saya mau minta tolong."

"Tolong apa, May?"

"Boleh saya minta tambah jam kerja? Saya mau kerja dari toko buka jam tujuh pagi sampai toko tutup jam sembilan malam, Pak. Boleh ya?" mohon Maya dengan mata berkaca-kaca.

Pak Kusno mengerutkan dahi, tampak ragu. "May, kamu itu perempuan. Kalau kerja dari pagi sampai malam, badanmu bisa hancur. Lagian, suami kamu kan lagi sakit di rumah sakit, siapa yang nungguin?"

"Saya bisa atur waktunya, Pak! Pagi sebelum ke toko saya urus Mas Bagas dulu, malam setelah toko tutup saya langsung ke rumah sakit buat jaga malam. Tolong saya, Pak... saya butuh uang buat biaya rumah sakit Mas Bagas," pangkas Maya cepat, hampir berlutut di depan meja kasir.

Pak Kusno mendesah berat, tak tega melihat raut putus asa di wajah karyawan mudanya itu. "Ya sudah, ya sudah. Kamu bisa ambil shift penuh mulai besok. Nanti gajimu Saya naikkan sedikit dan Saya beri uang makan harian."

"Terima kasih banyak, Pak Kusno! Terima kasih banyak!" sahut Maya membungkuk berulang kali.

"Tapi ingat, May, jangan memaksa diri kalau sudah tidak kuat," pesan Pak Kusno prihatin.

"Saya kuat, Pak. Saya harus kuat," balas Maya tegas.

Keluar dari toko kelontong, Maya tidak langsung pulang atau kembali ke rumah sakit. Ia menyusuri lorong-lorong pemukiman padat di belakang pasar, mendatangi rumah-rumah warga untuk menawarkan jasa mencuci dan menyetrika pakaian harian. Maya tahu, gaji dari toko kelontong saja tidak akan pernah cukup untuk menutup biaya rumah sakit Bagas yang menggunung.

Malam harinya, Maya kembali ke kamar rawat Bagas dengan tubuh lelah dan jemari tangan yang kasar akibat detergen. Ia duduk di samping tempat tidur, mengelap wajah dan tubuh suaminya menggunakan handuk basah secara perlahan.

"Mas... hari ini aku dapat kerjaan tambahan," ucap Maya tersenyum tipis sembari mengusap dahi Bagas. "Pak Kusno baik banget, kasih aku izin kerja seharian. Jadi Mas harus janji ya, harus berjuang buat bangun. Jangan biarkan perjuangan kita sia-sia."

Maya meletakkan kepalanya di tepi ranjang, berbantal lengan tangannya sendiri. Sambil terus memegang tangan Bagas yang dingin, perlahan mata Maya terpejam karena kelelahan yang amat sangat, siap menghadapi ketidakpastian besok hari.

1
Ma Em
Bagas tdk tau diri diwaktu dia sakit Maya yg mengurusnya sekarang setelah sehat malah mau menyingkirkan Maya tanpa memberi kompensasi apapun , semoga usaha Bagas yg dia agung agungkan itu bangkrut dan menerima karma yg sangat menyedihkan karena sdh berkhianat .
SulSya
👍terimakasih kk penyemangat maya
Ma Em
Ayo Maya bangkit tunjukan pada Bagas bahwa tanpa dia Maya bisa cari uang dan sukses , buat Bagas menyesal karena sdh menceraikan mu Maya .
Ma Em
Alhamdulillah Maya selamat dan ada orang yg menolong .
Ma Em
Maya kamu kok bisa kalah dari Bagas sampai ngemis ngemis bikin malu saja , semoga Maya bisa sukses balas si Bagas buat dia menyesal dan berlutut minta maaf sama Maya tapi jgn mau untuk memaafkan nya .
Ma Em
Bagus Maya kamu hrs tegas jgn bisanya cuma nangis itu wanita lemah , Maya hrs berani buat Bagas menyesal setelah ditinggalkan sama Maya .
Ma Em
Thor yg benar nama suami Maya itu sebenarnya Bagas atau Aris jadi bingung , sebentar dipanggil Bagas sebentar dipanggil Aris .
SulSya: Rania mengaku kepada Maya bahwa nama pacar nya itu Aris kepada Maya agar tidak ketahuan sama maya
total 1 replies
Ma Em
Maya kamu jgn cuma nangis cepat bergerak dan selidiki kelakuan Bagas diluar rumah seperti apa kelakuan nya .
SulSya: iya itu, ini malah nangis aja
total 1 replies
SulSya
🙏🙏
Ma Em
Lelaki modelan Bagas yg tdk pantas ditolong sama maya dulu lbh baik biarkan saja dia cacat dan tdk bisa berjalan lagi , sungguh menyebalkan setelah sehat dan mapan malah melupakan Maya yg merawat dan banting tulang untuk membiayai Bagas .
SulSya: bener banget tuh kak, besok kita siksa dia
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!