Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16.Pertemuan.
Di dalam kamar yang remang dan sepi, Shi Yin berbaring tengkurap di atas tempat tidur yang luas. Punggungnya yang terluka terasa perih dan panas, napasnya tertahan setiap kali ia bergerak sedikit saja. Di sampingnya berdiri pelayan pribadinya — gadis muda yang sejak tadi menangis pelan, tangannya gemetar memegang wadah berisi salep penyembuh.
"Sabar, Nona..." bisik pelayan itu pelan, mencoba mengoleskan salep dengan hati-hati. "Saya akan berhati-hati..."
Shi Yin meringis, kuku telapak tangannya mencengkeram seprai hingga kain itu terlipat berantakan. "Lebih pelan lagi... kau ingin menyiksaku, hah?"
"Saya berusaha sebaik mungkin, Nona..." Pelayan itu menelan ludah, tangannya gemetar semakin hebat. Saat hendak mengoleskan salep di bagian yang memerah parah, jemarinya tergelincir tanpa sengaja — menekan tepat di atas luka yang masih basah dan perih.
"Aduh! Bodoh sekali!" Shi Yin melonjak sedikit karena kesakitan, menoleh ke belakang dengan wajah merah padam menahan amarah. "Kau tidak punya mata? Kamu sengaja ya?!"
"Maafkan saya, Nona! Saya tidak sengaja!" Pelayan itu mundur selangkah, menunduk dalam, air mata mulai menetes. "Saya mohon maaf..."
"Maaf? Sekadar kata maaf bisa menyembuhkan rasa sakit ini?" Shi Yin menunjuknya dengan jari gemetar, suaranya melengking penuh kebencian. "Kau memang tidak berguna! Sejak tadi kau hanya merusak! Aku sudah cukup menderita, dan kau malah menambah sakitku!"
"Saya... saya akan lebih berhati-hati..."
"Diam! Jangan bicara padaku!" Shi Yin memukul tepi tempat tidur dengan telapak tangan. "Kau diusir! Sekarang juga! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!"
Pelayan itu pucat seketika, lututnya terasa lemas. "Nona... kumohon... jangan usir saya... ke mana saya harus pergi? Saya tidak punya keluarga..."
"Itu bukan urusanku!" Shi Yin memalingkan wajah, menatap dinding dengan tatapan dingin. "Panggil Kepala Pelayan ke sini! Katakan padanya, gadis ini harus dijual! Tapi sebelum dijual, beri hukuman setimpal — biarkan dia merasakan apa yang kurasakan!"
"Nona, tolong ampun! Saya mohon!" Pelayan itu berlutut, merangkul ujung tempat tidur sambil menangis tersedu-sedu. "Saya berjanji akan berubah! Jangan jual saya, Nona! Ampuni kesalahan saya!"
"Tidak ada ampun! Pergi!" Shi Yin berteriak, menendang ujung selimut seakan mengusir binatang menjijikkan. "Bawa dia keluar dari hadapanku!"
Beberapa pelayan lain yang mendengar keributan itu datang dengan tergesa-gesa. Mereka saling bertukar pandang cemas, tak berani bicara apa pun, lalu mendekat dan menarik pelayan yang berlutut itu berdiri. Gadis itu meronta, memohon, memanggil nama tuannya berulang kali, namun Shi Yin tetap memalingkan wajah, tak mau menoleh sedikit pun. Pintu tertutup rapat di belakang mereka, menyisakan keheningan yang dingin di kamar itu.
Shi Yin menghela napas kasar, mencoba menenangkan dadanya yang naik turun. Sakit di punggungnya belum hilang, kini ditambah rasa kesal yang membara. Semua orang di rumah ini berubah menjadi jahat, batinnya. Ayah, Ibu... bahkan Putra Mahkota pun memihak mereka.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu — lembut namun berwibawa.
"Masuk..." ucap Shi Yin pelan, mengatur napasnya.
Pintu terbuka, dan Jun Yi melangkah masuk. Ia mengenakan jubah sederhana namun tetap memancarkan keagungan seorang Putra Mahkota. Matanya menyapu ruangan, lalu tertuju pada gadis yang berbaring di tempat tidur itu.
Shi Yin segera berusaha bangkit, menahan rasa sakit yang menyergap punggungnya. Ia menurunkan kakinya, hendak berlutut memberi hormat.
"Jangan..." Jun Yi melangkah cepat mendekat, menahannya dengan lembut namun tegas. "Kau sedang terluka. Tidak perlu bersikap formal di depanku."
Shi Yin menatapnya, matanya masih berkaca-kaca — bukan lagi karena takut, melainkan karena tersinggung. Ia menarik tangannya perlahan.
"Putra Mahkota datang ke sini untuk apa?" suaranya terdengar dingin dan menjaga jarak. "Ini bukan tempat yang pantas untuk kedatangan Yang Mulia. Lebih baik Yang Mulia berada di aula utama bersama keluarga terhormat ini... atau bersama saudari kembarku yang begitu disukai semua orang."
Jun Yi menghela napas pelan, duduk di kursi dekat tempat tidur. "Aku tidak menyangka kau masih marah karena kejadian tadi di halaman depan."
"Bagaimana mungkin aku tidak marah?" Shi Yin menatapnya lurus, keberaniannya tiba-tiba muncul. "Yang Mulia melihat sendiri bagaimana mereka memperlakukanku! Tidak ada yang membela! Bahkan Yang Mulia pun membiarkan mereka melanjutkan hukuman itu!"
"Aku tahu kau kecewa..." Jun Yi menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku datang ke sini bukan untuk berdebat. Aku membawa sesuatu — hadiah dari Kaisar."
Mata Shi Yin langsung berbinar. Rasa kesal sejenak terlupakan. "Hadiah... dari Kaisar?"
Jun Yi tersenyum tipis, lalu menepuk telapak tangannya tiga kali. Pintu terbuka, dan dua pelayan masuk membawa tiga kotak kayu berukir indah, terbuat dari kayu cendana yang harumnya tercium hingga ke sudut kamar. Mereka meletakkannya di meja dekat jendela, lalu mundur hormat.
"Bukalah," ucap Jun Yi lembut.
Shi Yin menarik napas panjang, menahan rasa sakit saat bergerak mendekat. Ia membuka kotak pertama — kalung berhias permata yang memancarkan cahaya lembut. Kotak kedua — gelang giok murni yang bening seperti air mata. Kotak ketiga — peniti mahkota kecil yang dirancang begitu indah, terlihat mahal tak ternilai.
"Semua ini... untukku?" tanyanya tak percaya, matanya tak lepas dari perhiasan-perhiasan itu.
"Tentu," jawab Jun Yi tenang. "Ayahanda sangat memikirkanmu."
Shi Yin tersenyum bangga, menyentuh permata yang berkilau di tangannya. Namun perlahan senyum itu memudar. Ia menatap Jun Yi dengan curiga.
"Tunggu dulu..." ucapnya pelan. "Kaisar... kenapa tiba-tiba memberikan hadiah sebesar ini? Bukankah dulu beliau tidak begitu menyukai aku?"
Jun Yi terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Sepertinya tidak bisa disembunyikan darimu." Ia menoleh ke arah pelayan yang masih berdiri di ambang pintu. "Kalian semua, tinggalkan kami berdua."
Para pelayan itu menunduk hormat, lalu keluar menutup pintu rapat-rapat. Kini hanya mereka berdua di ruangan itu.
Jun Yi menatap gadis di hadapannya dengan tatapan serius. "Hadiah ini... adalah tanda pertunanganmu."
Wajah Shi Yin berubah cerah seketika. "Pertunangan... dengan Yang Mulia?"
Jun Yi menggeleng pelan. "Bukan denganku, Shi Yin. Hadiah ini untuk membujukmu agar bersedia menjadi pengantin dari Negeri Tang Liang."
Senyum di bibir Shi Yin mati seketika. Ia mundur selangkah, seakan mendengar hal yang mustahil. "Negeri Tang Liang... bukankah kesepakatannya Li Hua yang akan dikirim ke sana? Ayah sendiri yang bilang begitu! Aku yang akan tetap di sini!"
"Aku tahu rencana itu," ucap Jun Yi lembut namun tegas. "Tapi Kaisar mengetahui rencana keluargamu — mengirim Li Hua dengan alasan ramalan, sementara kau tetap di sini. Beliau memutuskan mengubahnya. Rencana itu dibatalkan."
"Tidak..." Shi Yin menggeleng cepat, kakinya gemetar. "Itu tidak mungkin! Aku tidak mau pergi ke sana! Putra Mahkota Tang Liang itu... dikatakan sedang sekarat! Siapa yang tahu berapa lama lagi dia akan hidup? Lalu bagaimana dengan nasibku nanti?"
"Aku mengerti kekhawatiranmu..."
"Kalau aku pergi ke sana dan dia meninggal, aku akan menjadi janda di negeri asing!" Shi Yin menatapnya dengan mata berkaca-kaca, meraih lengan pria itu. "Putra Mahkota... tolong aku! Bukankah Yang Mulia berkuasa? Bukankah Yang Mulia bisa membantuku? Katakan pada Kaisar... katakan padanya aku tidak mau!"
Jun Yi menatap tangan gadis itu di lengannya, lalu menatap wajahnya yang penuh ketakutan. Ia melepaskan pelukan itu perlahan, namun dengan lembut.
"Aku akan berusaha membujuk Ayahanda sebelum titah resmi turun," janjinya pelan. "Itu saja yang bisa kulakukan. Tapi aku tidak bisa menjanjikan lebih dari itu, Shi Yin."
"Katakanlah apa saja..." Shi Yin memohon, air mata mulai jatuh. "Katakanlah aku sakit... katakanlah aku belum siap... apa saja, asalkan aku tidak pergi ke sana!"
Jun Yi menghela napas panjang, berdiri dari tempat duduknya. "Aku akan mencoba. Tapi kau harus bersiap menerima keputusan apa pun."
Ia melangkah menuju pintu, berhenti sejenak sebelum keluar. "Istirahatlah, Shi Yin."
Pintu tertutup, meninggalkan Shi Yin sendirian di tengah kamar yang tadi terasa megah dan kini terasa begitu sepi dan dingin. Ia menatap kotak-kotak perhiasan di meja — benda-benda indah yang tadi memancarkan kebahagiaan, kini terlihat seperti rantai emas yang mengikatnya untuk pergi jauh dari rumahnya.
Duduk sendirian di sana, rasa sakit di punggungnya seakan tak terasa lagi. Yang kini menggerogoti hatinya adalah kegelisahan yang lebih dalam — pertanda bahwa takdirnya mungkin tidak seperti yang selalu ia yakini. Dan di kejauhan, tanpa ia sadari, langkah-langkah menuju perpisahan itu sudah mulai berjalan.