NovelToon NovelToon
Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Detak Jantung Di Balik Jas Putih

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Dokter
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia Sky

Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.

​Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.

​Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Canggung yang Mengendap

​Pagi itu, kedamaian rumah Aira terobrak-abrik oleh keriuhan yang tercipta di lantai bawah. Suara tawa yang renyah berpadu dengan intonasi nyaring sang mama menembus pintu kamar. Aira, yang baru saja membasuh wajahnya guna mengusir sisa kantuk, melangkah keluar dengan raut bingung menyaksikan suasana rumah yang mendadak ramai.

​"Mama ngapain berisik sekali? Sampai terdengar jelas ke dalam kamar," gumam Aira mengucek matanya.

Dengan keadaan rambut masih acak-acakan, serta menggunakan kaos oversize lengan pendek berwarna biru tua, dan dipadukan celana pendek santai berwarna hitam polos.

​"Aduh aduh ya ampun, anak perawan Mama baru bangun sekarang? Ini sudah siang, Aira! Mau jadi apa kamu nanti kalau punya kebiasaan bangun jam segini?"

​Suara berat seorang laki-laki tiba-tiba menyapa dari belakang, disusul sebuah jemari yang tanpa ampun langsung menjewer telinganya cukup kencang.

​"Bang Reyhan?!" jerit Aira terbelalak.

​"Iya, ini Abang. Kenapa? Ada masalah?" sahut Reyhan santai, sementara tangannya masih betah mengunci daun telinga adiknya.

​"Aduh, Abang! Sakit! Telinga Aira bisa putus!" keluh Aira mengaduh kesakitan.

​Reyhan akhirnya melepaskan jewerannya, lalu melangkah santai menuju sofa. Ia mendaratkan tubuhnya, menyilangkan kaki, dan melipat tangan di dada dengan raut berwibawa.

​"Ma, si Aira ini sebenarnya anak dari mana, sih? Mama memungutnya di mana?" tanya Reyhan pada Bu Windy yang tengah sibuk menata meja sarapan.

​"Kurang ajar kamu, Reyhan! Walaupun adikmu ajaib seperti ini, kalian berdua lahir dari rahim yang sama!" sahut Bu Windy sembari mengibaskan serbet.

​Reyhan mendengus, menatap Aira dengan kilat mata menelisik. Sementara Aira yang kini berdiri tak jauh dari sofa hanya bisa menunduk lesu. Ia sudah paham kemana arah angin perbincangan ini. Kehadiran kakak laki-lakinya yang mendadak ini pasti tak lepas dari laporan sang mama mengenai hukuman skorsing yang menjeratnya kemarin.

​"Berapa kali Abang katakan, Aira? Kamu itu anak gadis. Kenapa selalu saja membuat ulah? Sekarang malah sampai dijatuhi hukuman skors!" tegas Reyhan menuntut penjelasan.

​Tebakan Aira tepat sasaran. Kemarin Bu Windy memang tak sanggup lagi mengomeli putrinya yang kepala batu, sehingga Reyhan-lah yang ditunjuk sebagai eksekutor untuk menyidangnya.

​"Itu... itu musibah, Bang. Aira sungguh tidak sengaja," cicit Aira pelan. Ia memilih mendaratkan duduknya di atas karpet, bergabung dengan keponakannya yang sedang asyik bermain balok kayu.

​"Tidak sengaja? Tidak sengaja seperti apa yang sampai membuat dahi temanmu robek dan harus menerima jahitan?" cecar Reyhan dengan nada meninggi.

​Bu Windy yang mendengar nada bicara putranya mulai meninggi akhirnya menyela, ikut bergabung di area ruang keluarga. "Mengingatkan boleh, Rey, tapi tidak perlu pakai emosi."

​"Bagaimana Reyhan tidak emosi, Ma? Sejak pindah sekolah, Aira ini tidak berhenti membuat keonaran. Mulai dari mencuri buah mangga di belakang sekolah, jahil pada teman-temannya, dan sekarang... tepat saat Ujian Nasional di depan mata, dia justru diskors!"

​Aira makin merapatkan kepalanya ke dada. Ia tak pernah mampu membantah jika Reyhan sudah menyalakan mode tegasnya. Jika pada sang mama ia masih bisa memamerkan jurus bujuk rayu, maka di hadapan Reyhan, semua pertahanannya runtuh.

​"Abang dari TK sampai bangku kuliah tidak pernah sekalipun membuat masalah di sekolah. Kak Nadia pun begitu selalu tenang, anggun, dan feminim. Tapi kamu? Kamu anak perempuan tapi tingkahmu persis preman pasar!"

​Bu Windy yang tengah mengunyah potongan apel terkekeh pelan. "Jangan menyombongkan diri begitu, Rey. Kamu lupa saat SD dulu sering membuat Mama malu? Kamu itu sering ngompol di celana sampai kelas 4 SD! Mama sampai berkali-kali dipanggil wali kelasmu karena celanamu berbau pesing."

​PFFF!!!!!

​Aira yang mendengar rahasia kelam itu serta-merta menyemburkan tawanya. Rasa takutnya menguap seketika digantikan lelucon tak terduga tentang sang kakak yang selama ini selalu membanggakan deretan prestasinya.

​"Mama! Jangan buka kartu Reyhan di sini, dong!" gerutu Reyhan dengan wajah memerah menahan malu.

​"Lho, Mama tidak membuka kartu. Mama cuma mengajak nostalgia," balas Bu Windy santai tanpa dosa.

​Reyhan yang tadinya berapi-api mendadak kehilangan taji. Amarahnya lenyap berganti rasa canggung akibat perbuatan sang mama.

​"Sudahlah, Rey. Ngapain dimarahi terus? Anak itu juga sudah menerima hukumannya. Sana panggilkan Dinda dan Nora, kita sarapan bersama," titah Bu Windy seraya bangkit menuju meja makan.

​"Kak Dinda dan Nora datang juga?" tanya Aira dengan mata berbinar.

​"Mau apa kamu? Jangan harap kamu boleh menggendong anak perempuan Abang. Yang ada nanti anak Abang tertular virus pembuat ulah darimu," cibir Reyhan sengit.

​"Abang jahat sekali! Awas ya kalau nanti minta bantuan Aira untuk menjaga Nora dan Noah!" ancam Aira memanyunkan bibirnya.

​Gemas melihat polah adiknya, Reyhan bergerak cepat menarik kepala Aira dan mengapitnya rapat di bawah ketiaknya.

​"Abang! Lepaskan! Bau!" jerit Aira tercekik.

​"Hukumanmu belum selesai! Nanti kalau Noah dan Nora buang air, kamu yang wajib mengganti popoknya!" tawa Reyhan puas seraya menyeret adiknya menuju meja makan.

​"Yang membuat anak siapa, yang disuruh tanggung jawab siapa..." gumam Aira gusar.

❀ ─── 𖤣𖥧𖥣𖡡𖥧𖤣 ─── ❀ ─── 𖤣𖥧𖥣𖡡𖥧𖤣 ─── ❀

​Siang hari bergulir. Bu Windy telah berangkat menuju acara arisan bulanan, menyisakan Reyhan, Dinda, kedua anak kembar mereka, serta Aira di rumah.

​Namun sejak sejam lalu, suasana rumah kembali terusik. Dinda terlihat keluar masuk kamar mandi dengan raut wajah yang kian pucat pasi. Reyhan yang melihat kondisi istrinya mulai dilanda cemas luar biasa.

​"Kak Dinda kenapa?" tanya Aira yang sedang meremang mengayun Noah di pangkuannya.

​"Tidak tahu, Aira... Sejak tadi perut Kakak mual sekali, terus-terusan muntah," sahut Dinda lemas.

​"Sayang, kita ke rumah sakit sekarang, ya? Mas takut kamu kenapa-kenapa, apalagi kalau sampai salah makan," puji Reyhan mengusap punggung istrinya penuh kekhawatiran.

​Belum sempat Dinda menjawab, rasa mual kembali menyerang. Ia berlari kembali ke kamar mandi. Reyhan dengan sigap menidurkan Nora di atas ranjang lalu bergegas menyusul istrinya.

​"Kita pergi berobat sekarang. Kamu sudah empat kali keluar masuk kamar mandi, Mas tidak tenang," tegas Reyhan.

​Dinda yang sudah tak bertenaga hanya mampu mengangguk pasrah. "Tapi... bagaimana dengan si kembar?"

​"Mereka ikut kita ke rumah sakit saja," usul Reyhan.

​"Jangan, Mas," tolak Dinda cepat. "Mereka masih terlalu kecil dan dalam kondisi sehat. Riskan sekali membawa bayi ke rumah sakit."

​"Noah bisa dititipkan pada Aira, tapi bagaimana dengan Nora?" gumam Reyhan berpikir keras.

​Aira yang mendengar perbincangan itu bersuara sinis, "Tadi ada yang bilang kalau anaknya tidak boleh didekati Aira, takut tertular virus. Sekarang malah mau menitipkan."

​"Adik macam apa kamu? Kakak iparmu sedang sakit, bukannya kasihan!" tegur Reyhan menatap tajam adiknya.

​Aira hanya mengerucutkan bibirnya. Sementara itu, Dinda yang bersandar di dinding segera merogoh ponselnya dan mencari sebuah nomor.

​"Kamu menelepon siapa, Sayang?" tanya Reyhan.

​"Dinda menelepon Kak Arkan untuk minta tolong datang ke sini menjaga anak-anak. Mumpung dia sedang tidak ada jadwal tugas pagi sampai siang ini," jawab Dinda lemas.

​"Kak Arkan?" cetus Aira terbelalak.

​"Kenapa, Aira? Bukankah kamu biasanya senang kalau ada Kak Arkan?" goda Dinda menatap adik iparnya itu.

​Aira mendadak mengatupkan bibirnya rapat-rapat, memilih bungkam dan menyembunyikan keterkejutannya.

❀ ─── 𖤣𖥧𖥣𖡡𖥧𖤣 ─── ❀ ─── 𖤣𖥧𖥣𖡡𖥧𖤣 ─── ❀

​Tak sampai setengah jam kemudian, deru mesin mobil yang sangat dihafalkan Aira terdengar berhenti di pelataran. Sosok pria dengan gaya kasual melangkah turun, lalu menekan bel pintu rumah.

​Dinda yang sudah siap bergegas membukakan pintu. Ia menyapa Arkan hangat, menyalami pria yang sudah dianggapnya seperti kakak kandungnya sendiri sejak masa kuliah.

​"Tumben sekali kamu menyuruh saya datang ke rumah?" tanya Arkan heran.

​"Sudah lama kita tidak mengobrol, Kak. Apalagi jadwal piket kita sering bentrok," alibi Dinda tersenyum.

​Dinda mempersilakan Arkan duduk di sofa. Tak lama, Reyhan muncul dari arah dalam.

​"Arkan! Bagaimana kabarmu? Sehat?" sapa Reyhan hangat seraya menjabat tangan Arkan.

​Arkan sempat terpana sejenak. Sikap ramah Reyhan terasa tak biasa, mengingat pria itu biasanya selalu memasang mode protektif jika melihatnya berdekatan dengan Dinda.

​"Pekerjaan di rumah sakit lancar?" lanjut Reyhan lagi.

​"Alhamdulillah lancar, Bang. Semua terkendali," jawab Arkan makin bingung. "Tapi... sebenarnya ada hal darurat apa sampai saya dipanggil ke sini?"

​Dinda muncul dari koridor dalam seraya menggendong Nora, sementara di belakangnya, Aira melangkah pelan membuai Noah dalam dekapannya.

​"Berhubung Kak Arkan sudah di sini, Dinda jelaskan ya," ujar Dinda tanpa basa-basi. "Sejak pagi perut Dinda mual dan muntah-muntah. Rencananya Bang Reyhan mau mengantar Dinda ke rumah sakit. Tapi karena si kembar tidak mungkin dibawa, Dinda mau minta bantuan Kak Arkan untuk menjaga mereka di sini... bersama Aira."

​Arkan membeku di tempatnya. Matanya berkedip lambat menatap Dinda yang memang berwajah pucat. Ia tak menyangka panggilan darurat dari sahabatnya ini ternyata bertransformasi menjadi tugas menjadi pengasuh bayi dadakan.

​Sementara itu, Aira yang menggendong keponakannya hanya mampu menunduk, enggan bertatap mata dengan Arkan. Sikap acuh Aira justru membuat atmosfer di antara mereka kian terasa canggung dan asing.

​"Bagaimana, Arkan? Kamu bisa membantu kami?" tanya Reyhan menatap Arkan penuh harap.

​"Bagaimana kalau saya saja yang memeriksa kondisi Dinda di sini? Kebetulan saya membawa peralatan medis dasar di mobil," tawar Arkan mencoba mencari celah.

​"Tidak usah, Kak. Sekalian nanti Bang Reyhan mau membelikan stok susu untuk si kembar," potong Dinda cepat.

​"Kalau begitu... baiklah. Asal tidak terlalu lama, karena sore nanti saya ada jadwal tugas," pasrah Arkan akhirnya.

​Dinda tersenyum lega, lalu menyerahkan Nora ke dalam dekapan Arkan. Pria itu menyambutnya dengan cekatan.

​"Kami titip anak-anak, ya. Kalau mereka menangis, Aira sudah tahu letak susu dan perlengkapannya," ujar Reyhan seraya merangkul Dinda menuju pintu keluar.

​"Tolong dijaga baik-baik ya, Kak Arkan," tambah Dinda.

​Arkan hanya mengangguk pelan seraya menimang Nora yang tampak tenang di dalam pelukannya. Sesekali matanya mencuri pandang ke arah Aira yang kini duduk di sofa seberang, sibuk mengajak Noah berbicara dengan suara lirih.

​Sebelum benar-benar melangkah keluar, Reyhan menengok dari balik pintu. "Oh ya, kalau si kembar tidur sebelum kami kembali, tidak apa-apa kalau kamu mau langsung pergi ke rumah sakit. Tapi tolong jagain dulu, ya. Jangan malah sibuk pacaran hanya karena dikasih waktu berduaan," seloroh Reyhan

​Kalimat kelakar itu disambut keheningan dari Arkan maupun Aira.

​Usai keberangkatan Reyhan dan Dinda, kecanggungan yang membeku menguasai ruang keluarga. Arkan meratapi nasibnya yang mendadak menjadi pengasuh bayi. Beruntung ia amat akrab dengan Dinda, jika tidak, mungkin ia sudah memilih angkat kaki sejak tadi.

​"Kak Arkan mau minum apa? Biar Aira ambilkan," tutur Aira mencoba memecah kesunyian.

"Tidak usah, tidak perlu. Saya tidak haus," sahut Arkan dingin.

Aira yang merasa tak nyaman dengan atmosfer dingin itu memutuskan bangkit, membawa Noah berjalan-jalan ke area taman belakang rumah seraya menyanyikan lagu anak-anak.

​Sementara Arkan bertahan di ruang keluarga, sebenarnya, ada kekesalan yang mengganjal di dadanya semenjak kejadian semalam di persimpangan jalan. Namun, melihat Aira yang justru menarik diri dan enggan menatapnya, Arkan dibuat makin serba salah.

❀ ─── 𖤣𖥧𖥣𖡡𖥧𖤣 ─── ❀ ─── 𖤣𖥧𖥣𖡡𖥧𖤣 ─── ❀

​Waktu merayap pelan. Saat jam menunjukkan waktu tidur siang, Nora mulai rewel dan menangis di pangkuan Arkan. Pria itu tampak kikuk mencoba menenangkan sang bayi.

​Aira yang baru masuk dari pintu belakang untuk membuatkan susu bagi Noah, tak sengaja melihat Arkan yang mulai kerepotan.

​"Kak... sepertinya Nora mengantuk. Sebentar, Aira buatkan susu sekalian untuk mereka berdua," ujar Aira lirih.

​Arkan hanya mengangguk singkat. Aira meletakkan Noah secara perlahan di atas karpet berbulu tebal tak jauh dari Arkan, lalu bergegas melangkah ke dapur.

​Tak butuh waktu lama, Aira kembali membawa dua botol susu hangat. Ia menyerahkan satu botol kepada Arkan untuk diberikan pada Nora, sementara dirinya memangku Noah dan membawanya masuk ke kamar Reyhan untuk ditidurkan.

​Beberapa menit berlalu. Ketika Aira kembali melangkah ke ruang keluarga, ia melihat Nora telah tertidur pulas dalam pelukan Arkan. Botol susu yang telah kosong masih menempel pelan di bibir mungil bayi perempuan itu.

​"Sini, Kak... biar Aira pindahkan Nora ke kamar," bisik Aira lembut. Ia mengambil alih tubuh mungil Nora dengan sangat hati-hati lalu membawanya masuk.

​Begitu keluar dari kamar, Aira menghentikan langkahnya di hadapan Arkan. "Kak Arkan kalau mau pergi sekarang tidak apa-apa. Anak-anak sudah tidur."

​"Saya menunggu di sini saja sampai Bang Reyhan kembali," sahut Arkan datar.

​Aira menggeleng pelan. "Tidak perlu, Kak. Sebentar lagi Mama juga pasti pulang. Kak Arkan bisa pergi sekarang kalau ada urusan."

​Melihat penolakan tersirat dari Aira, Arkan akhirnya beranjak dari sofa. Namun, baru melangkah beberapa langkah menuju pintu depan, ia menghentikan tungkainya. Pria itu membalikkan badan, menatap lurus pada netra Aira.

​"Saya ingin menanyakan sesuatu soal kemarin," tutur Arkan memecah keheningan.

​Aira menatapnya bingung. "Kenapa, Kak?"

​"Bagaimana bisa... kamu berada di jalanan bersama teman laki-lakimu semalam?"

​Aira sempat tertegun, sebelum akhirnya menyadari maksud pertanyaan Arkan. "Oh... kemarin itu Aira dan Bayu baru saja pulang dari rumah Zara untuk menjenguk kondisinya. Bayu tidak tahu letak rumah Zara, makanya dia menjemput dan meminta Aira mengantarnya."

​Mendengar penjelasan yang mengalir jujur itu, sebaris kelegaan yang tak kasatmata mendadak menyapu dada Arkan. Beban absurd yang mengganggunya sejak semalam menguap begitu saja.

​"Saya pikir... kalian berpacaran," gumam Arkan pelan.

​Aira membelalakkan matanya. "Hah? Mana mungkin? Aira tidak punya perasaan apa-apa pada Bayu!"

​"Saya hanya menduga," Lirih Arkan, berusaha menutupi binar lega di wajahnya.

​Aira hanya mengangguk-angguk paham, meski ada kehangatan tipis yang mendadak menjalar di dadanya. "Kak Arkan... semalam baru selesai bertugas di rumah sakit, ya?"

​"Iya. Kalau begitu, saya pamit dulu," pangkas Arkan, berusaha menjaga wibawanya kembali.

​"Hati-hati di jalan, Kak," bisik Aira mengantar langkah Arkan hingga ke depan gerbang.

​Aira berdiri mematung memandangi mobil hitam itu melaju hingga menghilang di belokan jalan. Begitu langkahnya kembali menjejak ke dalam rumah, lengkingan tangis bayi membubung dari arah kamar.

​"Pantas saja menangis... ternyata mengompol," gumam Aira terkekeh pelan begitu memeriksa popok Noah.

​Dengan jemari telaten, Aira mengganti popok keponakannya, menyanyikan nada-nada lembut hingga sang bayi kembali terlelap dalam buaian hangat.

​Bersambung__

_____

ini contoh pakaian Aira saat dirumah yaa klo ada pandangan lain tidak apa-apa🌻🌻

1
Best
jangan lupa mampir balik😁
id IG: sabia.sky: ditunggu✨
total 1 replies
Best
semangat up kak..
Best
lanjut Thor.. ✨
Best
maksa ya aira🤣
Best
kalau aku sih jadi Aira udah aku gampar mulutnya
Best
negosiasi kaya jualan aja ya aira
Best
parah nih Aira. kasian mamanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!