Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Masa Lalu yang Kembali
Alisha ikut menatap pria itu dengan kening berkerut.
Tatapan pria tersebut terasa familiar, tetapi Alisha tidak bisa mengingat di mana mereka pernah bertemu.
“Alisha?” tanya lelaki itu ragu.
Alisha memperhatikan jas putih yang dikenakannya, lengkap dengan stetoskop yang menggantung di leher.
“Iya, Dok.”
Pria itu kembali tersenyum. “Ternyata memang kamu.”
Alisha semakin bingung. “Maaf, Dok... apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
Pria itu mengusap tengkuknya. “Kamu bener-bener gak inget?”
Alisha menggeleng.
Dokter itu memasukkan kedua tangannya di saku celananya. “Aku sepupunya Dewi.”
Alisha seperti berusaha mengingat. “Sepupu Dewi?”
“Iya.” Pria itu tertawa kecil. “Dulu aku pernah nembak kamu, tapi kamu tolak.”
Mata Alisha melebar.
“Kamu bilang mau fokus sama pendidikanmu," imbuh sang dokter.
Alisha akhirnya teringat. “Oh...” Ia menunjuk pria itu pelan. “Kak Yudhis?”
Yudhis terkekeh. “Akhirnya ingat juga.”
Alisha tersenyum canggung. “Maaf, Kak. Udah lama banget.”
“Gak masalah.” Yudhis kemudian mengalihkan pandangan ke dalam kamar. “Ini kamar pasien bernama Raka?”
Raka mengangguk. “Iya, Dok.”
Yudhis lalu beralih menatap Alisha. "Kamu dan pasien?'
"Saya keluarga pasien, Dok," jawab Alisha. "Saya kakaknya."
“Oh, begitu ternyata.” Yudhis masuk beberapa langkah dan melihat Raka yang sedang duduk di atas ranjang.
“Saya Yudhis Pratama. Mulai hari ini saya yang akan menangani kondisi kamu.”
Raka tampak sedikit terkejut. “Dokter baru?”
“Bisa dibilang begitu.” Yudhis tersenyum. “Saya baru bergabung di rumah sakit ini. Menangani bidang hematologi-onkologi anak, termasuk kasus leukemia.”
Alisha langsung memerhatikan Yudhis lebih serius.
“Saya sudah menerima riwayat medis dan hasil pemeriksaan kamu," lanjut Yudhis. “Saya ingin melihat langsung kondisi kamu sebelum menentukan langkah berikutnya.”
Raka mengangguk patuh.
Yudhis mengambil berkas di ujung ranjang, lalu membacanya sekilas. “Setelah ini kita bahas hasil pemeriksaan terakhir dan respons Raka terhadap terapi sebelumnya. Kalau ada pemeriksaan tambahan yang diperlukan, akan saya jelaskan pada kalian.”
“Baik, Dok," ucap Alisha.
Beberapa menit kemudian, Yudhis selesai memeriksa kondisi Raka, lalu mencatat beberapa hal di berkasnya.
“Untuk sementara, lanjutkan obat yang sekarang. Nanti saya cek lagi hasil pemeriksaan terakhirnya.”
Raka mengangguk.
“Kalau ada keluhan, langsung bilang ke perawat. Jangan ditahan.” Tangan Yudhis masih terus menulis.
“Iya, Dok.”
Yudhis kemudian menutup berkasnya dan berdiri. Pandangannya beralih kepada Alisha. “Kalo ada yang ingin kamu tanyakan, jangan sungkan.”
Alisha tersenyum kecil. “Terima kasih, Dok.”
Yudhis menghela napas pendek. “Panggil Kakak aja kayak biasanya. Jangan kayak sama orang asing.”
Alisha terkekeh. “Iya, Kak.”
Raka ikut menyela, “Aku juga boleh panggil Kakak?”
Yudhis langsung tersenyum. “Tentu saja. Berarti mulai sekarang gak perlu formal lagi ya.”
“Kalo begitu enak deh,” ujar Raka ringan.
Yudhis mengangguk. “Aku juga lebih nyaman begitu.” Yudhis melirik jam di dinding. "Kalo begitu aku lanjut periksa pasien lain."
"Iya, Kak," sahut Alisha.
Yudhis tersenyum sebelum akhirnya keluar dari ruangan.
Beberapa detik setelah pintu tertutup, Raka menoleh kepada kakaknya. “Kak.”
“Hm?” sahut Alisha seraya mendekati nakas.
“Aku gak nyangka Kakak pernah ditembak sama dokter Yudhis.”
“Itu udah lama banget," sahut Alisha yang sedang merapikan barang.
"Beneran Kakak nolak dia karena pengen fokus sama pendidikan Kakak?"
“Iya," jawab Alisha singkat.
Raka mengangguk pelan, lalu tersenyum jail. “Menurutku Kak Yudhis masih suka deh sama Kakak.”
“Belum tentu," sanggah Alisha.
Raka kembali mengingat bagaimana ekspresi wajah Yudhis saat menatap kakaknya. “Kelihatannya gitu kok.”
Alisha menghela napas. “Itu 'kan menurutmu. Lagian sekarang dia udah jadi dokter spesialis. Mungkin sekarang udah nikah.”
“Kalau belum?” tanya Raka penasaran.
“Ya tetep sama aja," jawab Alisha tanpa menoleh.
Alis Raka naik sebelah. “Kenapa?”
Alisha terdiam sesaat. “Karena Kakak emang gak punya rasa sama dia. Kami cuma kenalan lama.”
Raka melipat tangan di depan dada. “Siapa tau nanti malah jadi masa depan.”
“Itu gak mungkin," kata Alisha cepat.
“Kenapa?”
Alisha hendak menjawab, tetapi kalimatnya tertahan. Entah kenapa, pertanyaan itu membuat pikirannya justru beralih pada pria yang kini terikat dengannya. Ia menggeleng kecil. “Pokoknya gak mungkin.”
Raka terkekeh. “Kakak aneh.”
“Udah, kamu istirahat aja. Jangan kepoin yang gak perlu."
“Iya, Bu Kakak.”
Alisha mengambil bantal kecil lalu melemparkannya ke arah Raka. Raka tertawa sambil menangkapnya.
***
Di kantor, Ares baru saja menutup laptop ketika Reki masuk membawa beberapa dokumen.
“Reki.”
“Ya, Tuan?”
“Dokter untuk adik Alisha?”
Reki langsung memahami maksudnya. “Rumah sakit sudah siapin beberapa kandidat. Ada satu yang cukup cocok buat kondisi Raka. Namanya Yudhis Pratama, spesialis anak konsultan hematologi-onkologi.”
Ares mengangkat pandangan. “Pengalamannya gimana?”
“Lumayan bagus." Reki meletakkan dokumen yang ia bawa di atas meja Ares. "Memang baru beberapa hari gabung di rumah sakit itu, tapi sebelumnya sudah pegang kasus leukemia anak dan remaja.”
Ares mengangguk kecil. “Riwayat medis Raka sudah dia terima?”
“Sudah," jawab Reki. "Hasil pemeriksaan sama catatan terapi sebelumnya juga sudah kami serahkan.”
“Terus penilaiannya gimana?” tanya Ares kemudian.
“Dia mau periksa Raka langsung, baru tentuin perlu pemeriksaan tambahan atau ada perubahan terapi atau gak.”
“Masuk akal.” Ares kembali melihat dokumen di mejanya. “Kalo gitu, biar dia yang tangani.”
“Baik.”
Reki hendak berbalik ketika Ares menambahkan,
“Kalo ada pemeriksaan yang dibutuhin, jangan dipersulit gara-gara administrasi.”
Reki menoleh. “Sudah saya pastikan.”
Ares hanya mengangguk.
Beberapa detik kemudian Reki bertanya, “Perlu saya bilang ke Nona Alisha?”
“Nggak usah.” Jawaban itu keluar cepat. Ares membalik halaman dokumen di hadapannya. “Urusan yang udah diselesaiin, dia gak perlu tau.”
Reki memerhatikan majikannya sesaat, lalu mengangguk. “Baik, Tuan.”
Ia keluar dari ruangan.
Ares kembali membaca dokumen di tangannya, tetapi kali ini pandangannya berhenti lama pada satu halaman.
Tanpa sadar, ia teringat perempuan yang pagi tadi berada dalam pelukannya dengan mata tertutup.
Ia mengembuskan napas pelan, lalu memaksa perhatiannya kembali pada pekerjaan.
***
Sore itu, Alisha kembali ke rumah Ares seperti yang diminta pria itu lewat pesan.
Begitu masuk, ia tidak langsung menuju kamar. Sambil menunggu Ares datang, Alisha berjalan pelan menyusuri ruang tengah.
Beberapa pelayan yang kebetulan berpapasan dengannya langsung menundukkan kepala. Tidak ada yang menatapnya lebih dari beberapa detik.
Alisha mengerutkan kening. "Mereka aneh banget, sih."
Ia sempat berhenti di dekat jendela besar. Pantulan dirinya terlihat samar di kaca. Alisha memerhatikan penampilannya sendiri.
Tidak ada yang aneh. Rambutnya masih rapi, pakaian yang dikenakannya juga biasa saja. Ia kembali berjalan.
"Kenapa mereka kayak takut natap aku?"
Pertanyaan itu hanya bertahan beberapa detik sebelum ia mengabaikannya.
Saat waktu makan malam tiba, Pak Darto kembali datang melayani.
“Silakan, Nyonya.”
Alisha menarik kursinya sendiri. “Pak, saya bisa ambil sendiri.”
“Nggak apa-apa, Nyonya.” Pak Darto tetap menuangkan air ke gelasnya sebelum berdiri di samping meja.
Alisha memerhatikan beberapa hidangan yang tersaji. “Pak Darto.”
“Ya, Nyonya?”
“Biasanya Tuan Ares makan di rumah?”
Pak Darto mengangguk. “Kalo gak ada urusan di luar, biasanya begitu.”
“Oh.” Alisha mengambil sedikit lauk. “Dia selalu makan sendirian?”
“Iya," jawab Pak Darto. "Tapi kadang Tuan makan sambil kerja."
Alisha mengangguk pelan. Berarti pria itu memang tipe yang bahkan saat makan pun masih memikirkan pekerjaan.
“Kalo Tuan belum pulang sampai malam, saya perlu menunggu?”
Pak Darto sempat terdiam sebentar sebelum menjawab. “Nggak perlu, Nyonya. Tuan gak pernah minta siapa pun menunggunya.”
“Begitu.” Alisha kembali menyantap makanannya.
Beberapa saat kemudian, ia melirik jam di dinding. “Tuan Ares biasanya pulang jam berapa?”
“Nggak tentu.”
Jawaban itu membuat Alisha menghela napas kecil. "Berarti aku harus terbiasa sama suami yang wajahnya gak boleh kulihat dan pulangnya gak tentu."
Ia kembali makan, berusaha tidak memikirkan hal itu.
Malam sudah larut ketika Alisha tertidur dalam posisi bersandar di kepala ranjang. Ponselnya masih menyala di tangan.
Suara pintu yang terbuka membuatnya perlahan terbangun. Langkah kaki terdengar mendekat.
Alisha mengerjapkan mata, masih setengah sadar. Namun begitu matanya terbuka sepenuhnya—
...✨“Masa lalu tidak selalu kembali untuk mengulang cerita yang sama. Terkadang, ia hadir hanya untuk menguji apakah seseorang masih berdiri di tempat yang sama, atau sudah memilih jalan yang berbeda.”...
...“Sebuah hubungan mungkin dimulai tanpa perasaan, bahkan tanpa keinginan untuk saling mengenal. Namun ketika dua kehidupan mulai bersinggungan, perasaan tidak selalu datang sesuai kesepakatan yang telah dibuat.”✨...
.
To be continued
Raka pengertian, kakaknya di suruh sering-sering tidur di rumah, tidak perlu nungguin dirinya.
Alisha jadi bisa punya waktu untuk suaminya, kalau tidak bisa nungguin Raka. Tidak harus cari alasan kalau Raka tanya-tanya.
Alisha setelah sarapan pergi ke rumah sakit.
Raka sudah dipindahkan ke ruang lain, masih di lantai yang sama.
Ares tetap memikirkan kenyamanan Raka dan Alisha dengan memindahkan ruang rawat serta ada sofa.
Pak Darto pengurus rumah memberikan sebuah kartu akses untuk masuk rumah kepada Alisha. Dan memberi tahu Alisha kalau pakaian sudah disiapkan di lemari, termasuk perlengkapan mandi, dan makeup atas perintah Ares.
Ares baik sekali. Alisha juga disediakan sopir untuk mengantarnya pergi. Tapi Alisha memilih naik ojek online.
Ares juga menuruti kemauan Alisha untuk tidak memindahkan adiknya ke kamar perawatan VIP.
Ares memberikan surat pernikahan mereka setelah mendengar penjelasan Alisha kenapa sampai minta surat itu.
Ares tak lupa mengelupas foto dirinya terlebih dahulu, sebelum memberikan surat itu kepada Alisha.
Sampai segitunya, biar Alisha benar-benar nggak mengenal wajahnya.
kalo iya, itu sangat berbahaya, dalam kondisi tertentu, dia bisa berbuat nekat....
semoga Alisa dan Raka masih dalam pengawasan orang-orangnya Ares
cukup mantan mu si Reni yg ribet
kamu jangan ikutan res
Semangat Kak Nana.. Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
kacau ini orang 🤣🤣
takut ga bisa tanggung jawab sama tatapan mu.
pengecut dia takut kalah sama rasa bersalah nya🫣😔