Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.
Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.
akankah Bella menemukan sang Ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Gilang memegang tangan Bella saat menghampirinya, matanya menatap lekat gadis itu. “Hei, tunggu dulu.”
“Oh, iya, terima kasih atas roknya,” ucap Bella pelan sambil memalingkan wajah, hendak berbalik dan melangkah pergi.
Namun, genggaman tangan Gilang makin mengetat, menariknya kembali.
“Bukan itu maksudku saat aku bilang tunggu.”
Bella menatap pasrah tangannya yang terkunci, lalu pelan-pelan mengalihkan pandangan ke wajah Gilang, melirik lengan cowok itu, dan kembali menatap matanya. “Ada… hal-hal lain yang ingin kau katakan?”
Kedua pasang mata itu saling mengunci di tengah keheningan ruangan. Bella menunggu, diliputi rasa penasaran yang membuncah.
“Apa itu?”
“Katakan.”
Jari-jemari Gilang perlahan melonggar, melepaskan pergelangan tangan Bella. Napasnya berembus berat. “Aku… aku hanya…”
Bella tak mengalihkan pandangannya sedikit pun, matanya terbuka lebar, menuntut kepastian yang tertahan.
“Aku mau bilang, menurutku rencana ini terlalu gegabah, jadi… kita harus membuat rencana lainnya yang jauh lebih aman,” ucap Gilang akhirnya, mencoba menyembunyikan getar khawatir di dadanya.
“Kau yang bilang padaku sampai bunga sakura gugur. Yang aku tahu, bunga sakura mekar sepenuhnya dengan cepat, lalu bunga itu akan gugur saat kau kira semuanya sudah mekar,” ujar Bella datar, tatapannya menyipit tajam. “Kita tidak punya waktu lagi, atau alasan menunda.”
“Tapi aku rasa kalian tidak perlu berencana menginap di sini,” potong Gilang cepat, dadanya sesak membayangkan bahaya yang mengintai Bella.
“Prinsip bisa berubah tergantung situasi. Rencana berubah. Kenapa kau yang cemas? Bukankah ini yang kau sebut dengan fleksibilitas… kami sedang melakukan tugas kami. Lakukan tugasmu dan temukan Sachimoto.” Bella mengangguk pelan, mempertegas kata-katanya. “Setuju?”
Ceklek!
Suara selot pintu yang terdorong dari belakang punggung Bella memecah udara yang tegang. Sosok Ayah Bella mendadak muncul, menyembul dari balik pintu sambil mencengkeram gagang besi. Bella refleks melirik ke sumber suara.
“Bella,” panggil ayahnya singkat.
“Sebentar,” sahut Bella seraya berbalik cepat menuju pintu, menyusup masuk lalu menutupnya rapat-rapat.
Gilang terpaku sejenak di ruangan yang dingin dan berdebu itu, matanya menatap pintu kayu yang tertutup rapat. Dari balik punggungnya, Ujang mendekat pelan.
“Wah, mereka cepat mengambil inisiatif. Bukankah begitu, Mas Gilang?” ucap Ujang sambil memiringkan kepala, menatap bosnya yang mematung.
Gilang menoleh perlahan ke arah Ujang, lalu kembali melemparkan pandangan frustrasi ke arah pintu. Tanpa buang waktu, ia bergegas keluar menyusuri lorong, disusul Ujang yang setengah berlari di belakangnya. Namun, bayangan Bella dan ayahnya sudah menguap tanpa jejak.
Tiba-tiba, sebuah seruan berat menggema dari ujung koridor belakang mereka.
“Heiii! Kau! Ini adalah area terlarang bagi orang luar, siapa kau?” teriak seorang pria berkemeja hitam dengan langkah tegap.
Seketika Gilang dan Ujang berbalik badan. Senyum ramah langsung terpasang di wajah mereka, berusaha keras menyembunyikan kepanikan.
“Oh, maaf, kami sedang mencari toilet kecil,” sahut Ujang dengan nada polos, memberi alasan seadanya.
Sambil tetap memamerkan senyum, Ujang melirik Gilang di sampingnya. “Ayo pergi, Mas,” bisiknya halus seraya memutar tubuh.
“Ayo,” balas Gilang pendek, ikut berbalik.
“Tunggu sebentar!” teriak pria itu lagi, suaranya makin keras.
Langkah mereka terhenti paksa. Keduanya berbalik kembali, mendapati pria berkemeja hitam itu makin mendekat dengan mata menyipit penuh curiga. Tepat saat ketegangan memuncak, sesosok wanita berseragam putih menyelinap cepat di antara mereka.
“Wah, ternyata Anda di sini, Pak,” panggil suster itu ramah.
Tangannya membawa papan berisi lembaran catatan medis,Ia berjalan ke arah Gilang, “Sudah saya periksa dan Dokter Akashi tidak ada di ruangannya hari ini.”
“Oh, benarkah? Sepertinya ada kesalahpahaman…” ucap Gilang cepat, tangannya terangkat menggaruk kening yang sama sekali tidak gatal. “Ya ampun…” hela napas lega lolos begitu saja dari mulutnya. Kedatangan suster itu benar-benar sebuah penyelamat.
“Apa dia pasien?” tanya pria berkemeja hitam itu, menunjuk Gilang dengan dagunya.
Suster itu menoleh lembut, lalu melemparkan senyum meyakinkan pada pria kemeja hitam. “Iya, dia pasien Dokter Akashi.”
Gilang ikut melemparkan senyum tipis yang dipaksakan. Pria kemeja hitam itu berdeham pelan, berbatuk kecil sambil mengusap bagian belakang lehernya yang kaku.
Wungggg! Wungggg!
Sebelum situasi membaik, lolongan sirine tanda darurat tiba-tiba memekakkan telinga, melengking bergelombang memukul langit-langit rumah sakit. Kepanikan mendadak menyengat udara. Gilang mendongak dengan alis mengkerut rapat, jantungnya berdegup kencang memikirkan satu kemungkinan mengerikan, bahaya di balik sirine itu adalah ulah nekat Bella dan ayahnya.
Suster di depannya mendadak pucat. Matanya menatap Gilang dengan sorot cemas yang sangat jelas. Ia tahu betul Gilang bukan pasien Dokter Akashi, lagipula pria ini masuk menggunakan KTP milik Reyhan, tapi nalurinya memilih untuk melindungi cowok itu.
“Anda harus pergi,” bisik suster itu penuh penekanan.
Dalam sekejap, gelombang manusia mulai menuruni tangga. Orang-orang bergerak tergesa namun berusaha tetap tenang tanpa memicu kekacauan. Di tengah riak kerumunan itu, seorang pria berjas cokelat dengan kacamata tebal berdiri di atas undakan sambil menggenggam megapon. Gilang dan Ujang menyusup cepat, menyamarkan diri di dalam barisan warga.
“Semua pengunjung dan pasien dengan janji temu harus meninggalkan gedung! Saya ulangi, semua pengunjung dan pasien dengan janji temu harus segera meninggalkan gedung!” seru pria berjas cokelat itu melalui megapon. Suaranya bergema nyaring, memantul di tiap dinding lorong.
“Ada apa ya?” bisik seorang pria di tengah kerumunan pada wanita di sampingnya.
“Tidak tahu,” balas wanita itu panik sambil mempercepat langkah.
Di luar rumah sakit mendadak riuh dan sesak. Warga berhamburan keluar menghindari potensi bahaya yang mengancam di dalam gedung. Di tengah kepungan massa dan deretan kendaraan yang bergerak merayap, Gilang dan Ujang akhirnya berhasil mengamankan diri di dalam mobil.
Gilang menyandarkan bahunya lemah ke pintu mobil, wajahnya menempel dekat kaca jendela. Matanya tak lepas menatap bangunan megah yang kini dipenuhi sirine itu. Pikiran-pikiran liar tentang Bella menggerogoti kepalanya. Tanpa sadar, jemarinya naik ke bibir, menggigit kuku dengan gelisah.
“Aku yakin semuanya baik, hah? Bukankah mereka ahlinya? Sesudah memastikan Emma di sana, mereka pasti keluar,” tutur Ujang hangat, berusaha meredakan badai cemas di dada bosnya.
“Tentang dua orang itu…” gumam Gilang pelan, tatapannya kosong menembus kaca depan.
“Iya?” sahut Ujang merespons.
“Mereka berdua serius bekerja seperti aku kan?” ucap Gilang lirih, matanya menatap lurus ke jalanan di depan dengan raut wajah yang mendadak dingin dan datar.
Ujang yang sedang memegang kemudi melirik sebentar ke arah Gilang. Ia tak mampu membaca emosi asing yang berkecamuk di dalam diri bosnya itu, lalu pelan-pelan menekan pedal rem, memelankan laju mobilnya menembus kerumunan.