Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenzie Demam
"Kamu beneran nggak tahu malu Zidan. Nggak ibu kamu nggak kamu bisanya bikin malu aja." ketus Rosa usai mendaratkan cap lima jari di wajah Zidan.
"Jangan bawa-bawa mommyku." kesal Zidan mengepalkan tangannya. Perih di pipinya tak berarti sama sekali.
"Kenapa? Memang ada yang salah? Saya sudah bilang sekolah yang bener, tapi apa yang kamu lakukan? Rusuh, tawuran, balapan. Bikin malu Arkan kamu itu." geram Rosa.
"Daddy nggak masalah dengan kelakuanku. Hanya Daddy yang berhak mengkritik, Oma nggak berhak." Tegas Zidan, menatap tajam Rosa.
"Kamu lupa, selama Arkan di luar negeri, saya yang wajib disiplinin kamu. Kalau kamu masih inget Kenzi, jaga sikap kamu." ancam Rosa.
Nenek-nya dari pihak ayah itu selalu bisa membuat Zidan tak berkutik dengan Kenzi, adiknya. Zidan akan lemah jika itu menyangkut Kenzi.
"Sana masuk ke kamar, Kenzi nyariin kamu." sinis Rosa usai berhasil membuat Zidan terdiam.
...****************...
Jepang.
"Cek ulang jadwal gue, Nat. Ada yang perlu gue urus lagi, nggak?" Tanya Arkan pada Nathan, asisten sekaligus sahabat baiknya.
"Gue udah pastiin kerjaan lu kelar minggu ini, Ar. Jadi lu bisa balik ke Indonesia sebulan lebih cepet dari rencana awal." jawab Nathan sembari mengecek kembali jadwal kerja Arkan di ipadnya.
"Oke." Arkan mengangguk lega. "Tanya Axel, Zidan bikin ulah nggak satu bulan ini. Gue nggak dapat laporan apapun dari mommy" suruh pria 38 tahun tersebut Arkan Bimantara.
"Gue juga nggak dapat laporan apa-apa dari wali kelasnya. Berarti anak lu itu nggak bikin ulah." gumam Nathan sambil mengirim pesan ke Axel sesuai intruksi Arkan.
"Tumben." gumam Arkan, malah merasa tak nyaman jika putra pertamanya terlihat tenang tanpa masalah.
"Tumben?" ulang Nathan, sambil menggeleng kecil. "Cuman lu bapak yang anaknya nggak bikin ulah tapi tumben."
"Gue ngerasa aneh aja, Nat. Nggak biasanya Zidan setenang ini." ujar Arkan, mendesah kecil.
Nathan menepuk pelan bahu Arkan, "Mungkin anak lu itu udah tobat. Makanya jadi bocah kalem sekarang."
Arkan hanya mengangguk dan kembali fokus pada laporan yang sempat dikirim Nathan ke emailnya.
...****************...
Zidan baru saja pulang pukul sepuluh malam dan tiba-tiba merasa kangen dengan adik kecilnya. Sudah beberapa hari ini dia tak menemui Kenzi karena sibuk dengan basket dan urusan lain.
Ia mendorong pelan pintu kamar Kenzi dan masuk ke dalam, berjalan mendekati tempat tidur. Namun, begitu mendekati tempat tidur, ia mendengar suara Kenzi tengah mengigau memanggil Daddy mereka.
"Daddy...Kenzi kangen." ucap Kenzi tak sadar. Bocah 5 tahun itu mengigau.
"Kenzi..." Panggil Zidan pelan mencoba membangunkan adiknya itu, tetapi Kenzi tak terbangun dan saat Zidan mengecek suhu tubuhnya, ia tersentak kaget. "Demam." gumam Zidan tanpa mengatakan apapun langsung menggendong Kenzi keluar kamar sambil memanggil pengasuh Kenzi.
"Manggil saya, Den?" tanya pengasuh Kenzi sembari berjalan mendekat dengan mengantuk.
"Adek gue sakit, bangsat. Lo malah dari mana?" sentak Zidan emosi.
Pengasuh Kenzi mengerjap kaget, "Ya?" tanyanya bingung.
"Gue bilang Kenzi sakit. Jangan bilang lo nggak tahu apa-apa." curiga Zidan.
"Ta... tapi tadi baik-baik saja, Den. Makanya saya tidur di kamar bawah. Bu Rosa juga pesan nggak usah manjain Kenzi." jawab pengasuh itu, gugup.
"Yang gaji lo itu bokap gue bukan Bu Rosa." kesal Zidan menatap tajam pengasuh Kenzi, "Nggak becus lo. Mulai hari ini lo dipecat." tegas Zidan kemudian berlalu pergi sambil menggendong adiknya yang demam.
"Sa...saya kerja sama Bu Rosa dan Pak Arkan. Den Zidan nggak bisa asal mecat saya." kata pengasuh itu mengejar Zidan.
Zidan menghentikan langkahnya dan menoleh dengan dingin pada Pengasuh Kenzi, "Mana Bu Rosa yang lo agungkan itu. Panggill ke sini. Biar gue yang ngomong kalau lo dipecat." katanya tak main-main.
Pengasuh itu gugup dan terdiam.
"Panggil!"
"Bu-bu Rosa lagi ke Bali, Den." jawabnya takut.
Zidan menggeram kecil, "Emang anjing semuanya." lalu meneruskan langkahnya.
Zidan membawa Kenzi ke rumah sakit terdekat. Untunglah anak itu baik-baik saja. Dokter hanya meresepkan obat untuk diminum Kenzi.
"Ke mana gue harus bawa Kenzi?" Gumam Zidan berpikir cepat. Dia tak mau membawa Kenzi kembali ke rumah dan diasuh oleh pengasuh yang sudah dipecatnya. Neneknya juga berada di Bali. Ah, meskipun tidak di Bali, Rosa juga tak peduli padanya dan Kenzi karena mereka cucu yang tak diinginkan Rosa.
Namun, besok masih hari sekolah. Zidan tak mungkin membawa Kenzi ke sekolah. Lalu dia harus membawa Kenzi ke mana? Menitipkan Kenzi ke siapa? Tidak ada satupun orang yang bisa ia percayai untuk mengasuh Kenzi saat ini.
Cukup lama Zidan merenung sampai ia teringat satu nama. "Ah, Galang." gumamnya mengangguk yakin.
Mobil yang dikemudikan Zidan berhenti di depan gerbang rumah Galang. Dia menelepon Galang untuk membuka gerbang. Tak lama setelah panggilan itu, gerbang dibuka oleh Galang. Zidan segera melajukan mobilnya ke halaman rumah, sementara Galang menutup kembali gerbang rumahnya.
"Kita di mana, abang?" cicit Kenzi, terbangun. Dia menoleh ke luar kaca mobil dan mendapati lingkungan yang asing.
"Rumah Bang Galang." jawab Zidan sambil melepas sabuk pengaman Kenzi dan menggendong adiknya itu lalu turun dari mobil.
"Lah, ngapain lo bawa si Kenzi malam-malam gini?" tanya Galang begitu melihat Zidan turun dari mobil sambil menggendong Kenzi.
"Adek gue sakit." jawab Zidan, singkat.
Kenzi yang berada di gendongannya menyender pada dada Zidan dengan mengantuk.
"Kalau sakit ngapain lo bawa ke sini? Bukannya istirahat di rumah." heran Galang sambil membukakan pintu untuk Zidan.
"Nanti gue ceritain. Gue sama Kenzi nginep malam ini, sana lo minta izin ke tante Rania!" Suruh Zidan.
"Ngapain minta izin? udah jelas boleh. Lagian ini rumah peninggalan kakek gue, gue juga punya hak." kata Galang, songong. Padahal jelas-jelas rumah itu bagian untuk Rania si bungsu.
"Tapi kata tante Rania lu numpang di sini." kekeh Zidan menanggapi.
Galang mendengus malas, "Ayo ke kamar gue. Kenzi perlu tidur." ajaknya cepat.
Zidan dan Galang duduk di tepi tempat tidur sambil menunggu Kenzi yang malah tidak mau tidur.
"Kenzi, udah malam. Ayo tidur." bujuk Zidan.
Kenzi hanya menggeleng kecil dengan tatapan polosnya itu.
"Jangan-jangan dia lapar." celetuk Galang membuat Zidan tersentak kaget.
Mungkinkah Kenzi lapar? Zidan memang tak sempat bertanya pada adiknya itu. Padahal dia sudah memberikan obat untuk Kenzi. Ceroboh.
"Kenzi lapar, abang." cicit Kenzi tiba-tiba membuat Zidan dan Galang saling pandang sejenak lalu menganggukan kepala.
Segera Galang beranjak dari duduknya dan melangkah keluar kamar. Sudah jelas ke mana Galang akan pergi. Kamar Rania! Mau tak mau harus merepotkan tantenya itu.
"Bener-bener deh, Lang. Kamu itu kebiasaan lapar tengah malam. Ngerepotin tau nggak." omel Rania pada Galang tapi dia tetap membuatkan makanan untuk keponakannya itu.
"Ya kalau lapar masa Galang harus puasa, Tan?" jawab Galang, duduk di kursi pantri menyaksikan Rania memasak.
Rania mendengus, "Untung kamu cucu bapakku, kalau nggak udah tante buang kamu, Lang." Rania terus mengomel dengan mulutnya itu sambil menyelesaikan masakan sederhananya.
"Iya, maap," jawab Galang mengalah. "Jangan pedes, Tan. Telor mata sapi aja, sama kecap."
"Emang kamu bocil mau makan telor mata sapi sama kecap?" cibir Rania.
"Iya, di mata mamaku." jawab Galang tak jujur jika makanan itu untuk Kenzi karena ia memang tak berencana memberitahu Rania tentang Zidan dan Kenzi. Biar besok pagi saja.
"Nih, sana makan. Jangan ganggu tante lagi." tegas Rania lalu melangkah pergi dari dapur usai membuatkan makanan yang Galang minta.
...****************...
Kenzi makan dengan lahap dan baru bisa tidur.
"Loh kok ada bocil?" tanya Rania bingung melihat anak kecil bermain di ruang keluarga menonton kartun.
Kenzi yang mendengar suara Rania itu menoleh, "Tante siapa?" tanya Kenzi dengan wajah polosnya.
"Kamu sendiri siapa?" tanya balik Rania.
"Aku Kenzi." jawab Kenzi.
Rania mendekat lalu jongkok di depan Kenzi. "Aku Rania." katanya memperkenalkan diri. "Kenzi sama siapa ke sini?"
"Sama abangnya." Galang yang menjawab sambil mendekati keduanya, ia sudah mengenakan seragam sekolahnya lengkap.
"Siapa?" tanya Rania, bingung.
"Aku, Tan." jawab Zidan. "Kita hari ini harus berangkat pagi, Tan. Titip adekku dulu. Nanti aku jelasin." kata Zidan serius.
Rania menoleh pada Galang seakan meminta pendapat dari keponakannya dan Galang pun mengangguk.
"Yaudah, kalian sarapan di kantin aja. Tante nggak masak. Mbak juga ambil libur hari ini." ucap Rania, lembut.
"Terus adekku makan apa?" tanya Zidan khawatir. "Kenzi perlu minum obat setelah makan." tambah Zidan.
"Ya, tante makan di luar juga." jawab Rania lalu menatap lembut Kenzi. "Em, sarapan bubur di depan komplek, mau nggak Kenzi?"
Kenzi mengangguk kecil, patuh.
"Titip ya, Tan. Nanti kita beliin tante skincare." ujar Galang, menjanjikan.
"Skincare tante mahal tahu, kek mampu aja kamu." cibir Rania.
Sementara itu, Arkan baru saja tiba di kediamannya dan mencari Kenzi. Dia sudah sangat merindukan putra kecilnya itu tapi...
Tbc..