NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Menikah Dengan Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami / Teen
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).

Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).

Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.

Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.

Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pusaran Cinta Segitiga 16.

Zara berjalan menyusuri koridor menuju ruang Osis di ujung lantai dua. Langkah kakinya agak ragu, namun dia hanya ingin mengembalikan apa yang bukan miliknya.

Begitu sampai di depan pintu ruangan, Zara melihat Ulfa sedang merapikan catatan di meja kerja nya.

"Ulfa," panggil Zara pelan, hampir tenggelam oleh suara riuh koridor.

Ulfa mendongak. Matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai tipis menatap Zara datar. Tidak ada keramahan di sana.

Zara mengulurkan tangannya, membuka telapak tangan yang menyembunyikan miniatur teleskop tersebut. "Ini... punya lu, kan? Tadi jatuh di bawah meja kantin."

Ulfa menatap benda di tangan Zara. Sedetik kemudian, ekspresinya berubah—bukan lega, melainkan kilatan defensif yang aneh.

Dia merebut gantungan kunci itu dengan cepat, seolah Zara baru saja menyentuh sesuatu yang sakral tanpa izin.

"Terima kasih," ucap Ulfa. Namun, nadanya begitu ketus, dingin, dan sarat akan kecurigaan.

Zara tertegun. Keramahan tulusnya mendadak terasa murah. "Gue cuma mau balikin. Enggak usah ketus begitu bisa, kan?"

Ulfa menaruh benda itu ke dalam sakunya, lalu bersedekap. "Gue bilang terima kasih, kan? Apa perlu gue sujud di depan lu supaya terdengar ikhlas? Lain kali, enggak usah sok peduli."

Kalimat itu memantik sumbu pendek di kepala Zara.

Beberapa siswa yang berada di luar ruangan mulai menoleh di balik jendela, merasakan ketegangan yang merayap naik.

"Sok peduli?" Zara tertawa hambar, suaranya meninggi. "Kalau tahu bakal diginiin, mending tadi gue buang ke tempat sampah! Gue cuma berniat baik, Ulfa. Tapi sepertinya lu memang punya masalah personal sama semua orang yang mencoba bersikap manusiawi di dekat lu."

"Zara, jaga mulut lu," desis Ulfa, matanya berkilat marah. "Lu enggak tahu apa-apa soal gue."

"Dan gue juga enggak minat tahu!" balas Zara tajam.

Keributan kecil itu langsung mengundang perhatian di luar ruangan sebelum akhirnya bel tanda istirahat berakhir berbunyi nyaring, memutus konfrontasi yang hampir membakar ego keduanya.

Zara berbalik dengan hentakan kaki penuh amarah, sementara Ulfa kembali ke meja kerjanya dengan dada yang kembang kempis menahan dongkol. Sebelum akhirnya ia akan kembali bertugas.

Sepuluh menit setelah bel masuk, suasana sekolah mendadak tegang.

Pengumuman dari pengeras suara menggema: “Diberitahukan kepada seluruh siswa, setelah ini akan diadakan sidak penertiban atribut oleh pengurus OSIS.”

Bisikan keluhan langsung terdengar di kelas tempat Langit berada. Langit, yang sejak tadi hanya menatap malas ke luar jendela dengan satu earphone terpasang di telinga, menghela napas panjang.

Dia tahu hari ini akan merepotkan.

Benar saja, lima menit kemudian pintu kelas digeser. Ulfa masuk bersama dua anggota OSIS lainnya, membawa papan jalan dan pena. Wajah Ulfa masih sekaku beberapa menit lalu, sisa kekesalan dari insiden bersama Zara tampaknya belum sepenuhnya menguap.

Pemeriksaan berjalan satu per satu. Hingga akhirnya, Ulfa tiba di barisan belakang, tepat di depan meja Langit.

Langit tidak bergerak. Dia tetap duduk bersandar dengan gestur tubuh yang menantang. Seragam putihnya tidak dimasukkan ke dalam celana abu-abu, dan dasinya terpasang longgar di leher.

"Berdiri, Langit," perintah Ulfa tegas.

Langit berdiri perlahan, menjulang di depan Ulfa. Perbedaan tinggi badan mereka membuat Ulfa harus sedikit mendongak, namun perempuan itu tidak gentar. Ulfa melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka untuk memeriksa kelengkapan seragam cowok itu secara detail.

Jarak mereka kini sangat dekat—kurang dari tiga puluh sentimeter. Ulfa bisa mencium samar aroma parfum dari tubuh Langit.

Tangan Ulfa bergerak meraih ujung dasi Langit yang berantakan untuk melihat logo sekolah yang terjahit di sana.

Di tengah keheningan kelas yang mencekam, Langit tiba-tiba menundukkan kepalanya. Dia memiringkan wajahnya, mendekatkan bibirnya tepat di samping telinga Ulfa. Jarak yang begitu intim, namun atmosfernya justru terasa sedingin es.

"Gue tahu apa yang terjadi di ruangan osis mu tadi," bisik Langit. Suaranya rendah, berat, dan sarat akan ancaman yang terukur.

Ulfa menghentikan gerakan tangannya pada dasi Langit. Jantungnya berdesir, bukan karena romansa, melainkan karena intimidasi yang mendadak mengunci pergerakannya.

"Jangan pernah cari masalah lagi sama Zara," lanjut Langit, napas hangatnya menerpa kulit leher Ulfa, kontras dengan kalimatnya yang membekukan. "Sidak ini, atau urusan OSIS apa pun yang lu pegang... jangan pernah pakai itu buat mempersulit dia. Kalau sampai gue dengar lu bikin dia nangis atau kesal lagi, gue sendiri yang bakal bikin posisi lu di OSIS jadi enggak nyaman. Paham, Bu Ketos durhaka?"

Ulfa menegang. Tangannya yang memegang papan jalan terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia bisa saja berteriak dan melaporkan Langit atas tindakan tidak sopan atau ancaman fisik saat ini juga. Namun, sorot mata Langit yang begitu dekat dan mengunci pandangannya membuat kata-katanya tertahan di tenggorokan. Ada keseriusan yang berbahaya di mata cowok itu. Langit bukan tipe orang yang menggertak tanpa bukti.

Ulfa menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya yang sempat goyah. Dia mundur satu langkah, memutus jarak intim yang menyesakkan itu. Dengan tangan yang sedikit bergetar namun berusaha tetap terlihat profesional, Ulfa menulis sesuatu di papan jalannya.

"Langit. Seragam tidak rapi, dasi tidak sesuai standar," ucap Ulfa dengan suara yang diusahakan selangit mungkin agar terdengar keras oleh seisi kelas, mengabaikan bisikan ancaman tadi seolah itu hanya angin lalu. "Potong poin pelanggaran. Rapikan seragammu sekarang."

Langit hanya menaikkan satu alisnya, sebuah senyum miring yang meremehkan terukir di sudut bibirnya. Dia tahu, meski Ulfa bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, pesannya sudah tersampaikan dengan sangat jelas.

Ulfa berbalik dengan kaku, melanjutkan pemeriksaan ke meja berikutnya tanpa menoleh lagi.

Sementara di sudut kelas lain, Zara yang melihat interaksi tegang dari kejauhan hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Dia tahu, gantungan kunci yang ia temukan di kantin tadi kini telah berubah menjadi ombak yang siap menyeret mereka bertiga ke dalam pusaran masalah yang jauh lebih rumit.

......................

...****************...

Tbc,

1
falea sezi
banyak bacot ini tua bangka🤣 cucu lu selingkuh woy goblok
falea sezi
uda jatuh talak. lo. ini
Alex
mampossssss lu ngit
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳
Alex
sukurin maknya jadi cowok itu tegas bertanggung jawab jngn pling plan, gemes deh
Alex
jahat bgts langit Sam zahra itu, pngen geplak
Alex
ya Allah sesakit ini rasanya jahat bgts loe sebagai cowok, karma apa yg akan menantimu
Alex
udahlah Thor, biar ketahuan aja, biar Ulfa bahagia kasihan nyesek terus tiap hari🤭
Rofiwan: done kak😃
total 1 replies
Alex
syedih tapi sweet🥰
Alex
nah bgus tor biar pikirannnya terbuka lebar🤭
Alex
pengen geplak pala langit ,boleh thor
Rofiwan: silahkan, tuh orang emang plin plan hahaha
total 1 replies
Alex
lnjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!