NovelToon NovelToon
Kesatria Merah

Kesatria Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: PrinceArslan

Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Eksekusi Batas Maksimal

Darah yang mengalir di pembuluh nadi Arya terasa seperti timah mendidih.

Lion Breathing yang selama ini ia tahan di batas aman, kini ia paksakan naik melewati ambang batas. Udara bertekanan merobek pembuluh darah kecil di paru-parunya. Urat-urat di lehernya menonjol tegang, dan uap tipis kemerahan mulai mengepul dari pori-pori kulitnya.

Saat Ironscale Basilisk itu membuka rahang untuk menghabisi Max, Arya melesat membelah lumpur. Dengan letupan tenaganya, ia langsung menabrakkan bahunya ke tubuh Max, mendorong bawahannya itu keluar dari jalur gigitan raksasa tersebut.

BRAAAK!

Rahang Basilisk itu menghantam tanah kosong tempat Max berbaring sedetik lalu, mengunyah bongkahan batu kapur dan lumpur hingga hancur berkeping-keping.

Monster itu mendesis marah, memutar moncong masifnya ke arah Arya. Mata kuning vertikalnya kini mengunci sang pemuda.

Arya menaikkan pedangnya. "Tarik Max menjauh! Jangan ada yang mendekat!" raungnya, suaranya serak menahan sakit dari paru-parunya sendiri.

Basilisk itu tidak menunggu. Ia menerjang maju, mengayunkan cakar depannya yang seukuran batang pohon untuk merobek tubuh Arya.

Arya menolak mundur. Ia menggunakan The Crimson Crest Edge Style. Bukannya menahan serangan secara frontal—yang sudah pasti akan meremukkan tulangnya—Arya memiringkan bilah pedangnya, menyambut cakar itu pada sudut miring, dan membiarkan dorongan kuat monster itu tergelincir melewati bilah bajanya.

Klang! Srattt!

Percikan api menyambar terang. Arya berhasil membelokkan arah cakar itu, namun bobot dan tenaga sang monster terlalu raksasa. Kaki Arya terseret mundur sejauh tiga meter, membelah genangan lumpur. Getaran dari benturan baja itu membuat telapak tangannya robek, membasahi gagang pedangnya dengan darah segar.

Belum sempat Arya memperbaiki pijakannya, Basilisk itu kembali membuka rahangnya. Bau belerang busuk menyengat udara.

"Tuan Muda, awas!" jerit Kin dari kejauhan.

Cairan hijau kental menyembur bagai air bah. Arya melempar tubuhnya ke samping, berguling kasar di atas lumpur. Cipratan asam itu mengenai ujung jubah dan pelindung kaki kirinya. Kain dan kulit pelindung itu langsung mendesis, meleleh hingga menyisakan luka bakar yang membuat Arya menggertakkan gigi menahan teriakan.

Monster itu tidak memberinya kesempatan bernapas. Ekor raksasanya menyapu tanah dengan kecepatan mengerikan.

Mata Arya melebar. Menghindar sudah tidak mungkin. Ia memutar pedangnya ke bawah, menancapkan setengah bilah bajanya ke tanah berlumpur sebagai penahan, dan menyilangkan lengannya di belakang pedang itu untuk menerima benturan.

BAM!

Ekor berlapis duri besi itu menghantam pedang dan tubuh Arya sekaligus. Baja pedangnya melengkung ekstrem, nyaris patah. Tubuh Arya terpental keras, berguling beberapa kali di atas lumpur basah sebelum punggungnya menghantam akar pohon raksasa.

Napas Arya terputus. Darah segar menetes dari hidung dan sudut bibirnya. Tubuhnya bergetar hebat. Lion Breathing sedang memanggangnya dari dalam, sementara hantaman fisik dari luar nyaris meremukkan rusuknya.

"Dia... tidak bisa menahannya sendirian..." bisik Josh dengan wajah pucat pasi.

"Kin, panah! Tembak matanya sekarang!" raung Erson. Ia berlari ke sisi kanan sambil memungut sebongkah batu seukuran kepala manusia, lalu melemparkannya keras-keras ke arah rusuk monster itu.

Panah Kin melesat, memantul di dekat kelopak mata sang Basilisk. Meski serangan itu tidak melukai, gangguan kecil itu sukses membuat Basilisk menoleh murka ke arah Erson dan Kin.

Arya memaksa dirinya berdiri. Pandangannya mulai buram. Otot betisnya menjerit, namun ia tahu ini adalah satu-satunya kesempatan yang diciptakan oleh pasukannya. Ia harus menjadi umpan yang lebih menggiurkan agar monster itu menunjukkan kelemahannya.

Arya memompa sisa udara di paru-parunya, memaksakan Lion Breathing ke titik paling mematikan—fase overheat.

Ia berlari menerjang ke arah wajah Basilisk sambil berteriak serak. Monster itu kembali mengalihkan pandangannya, mendesis beringas. Sang penguasa zona transisi itu mengangkat separuh tubuh depannya tinggi-tinggi ke udara, mendongak bersiap menjatuhkan seluruh bobot masifnya untuk meremukkan pemuda di bawahnya.

Saat monster itu meregangkan lehernya secara maksimal, sisik tebal di pangkal rahang bawahnya bergeser, mengekspos celah selebar tiga jari. Titik buta absolut.

Waktu seolah melambat di mata Arya.

Ia menanamkan kakinya kuat-kuat di lumpur untuk menahan terjangan, memutar pinggulnya, dan menyalurkan seluruh sisa letupan tenaganya ke bahu kanannya.

Bleeding Crest Thrust.

Bilah pedang abu-abu yang sudah bengkok itu melesat lurus ke atas, bagai jarum yang menembus celah di antara lempengan zirah. Baja itu merobek kulit lembut di balik sisik, menembus saluran napas, dan menancap dalam hingga menghancurkan saraf utama di pangkal tengkorak monster itu.

CRAS!

Bersamaan dengan tertancapnya pedang itu, bobot kepala Basilisk jatuh menghantam tubuh Arya.

Brak!

Darah berwarna merah gelap menyembur deras dari leher monster itu, mengguyur tubuh Arya. Rahang sang monster terpelanting ke samping, ambruk menghantam bumi hanya sejengkal dari wajah Arya. Tubuh masif itu kejang-kejang brutal selama belasan detik, mematahkan pepohonan di sekitarnya, sebelum akhirnya kaku tak bernyawa.

Hutan Kuno kembali hening, menyisakan deru napas yang patah-patah.

Arya terbaring di atas lumpur, separuh tubuhnya tertindih oleh moncong berat monster itu. Ia melepaskan genggamannya dari pedang yang masih menancap di leher Basilisk.

Lion Breathing berhenti secara paksa.

Rasa sakit yang ribuan kali lipat lebih menyiksa dari hantaman ekor tadi kini menagih utangnya. Serat otot di kedua lengan dan kakinya seolah dicabik dari dalam. Ia terbatuk, memuntahkan segumpal darah pekat ke dadanya sendiri.

Warna dunia di matanya memudar menjadi abu-abu.

"Tuan Muda!" jerit Josh dan Erson, berlari menerobos genangan darah, menancapkan kaki mereka ke lumpur untuk mendorong rahang berat monster itu dari tubuh Arya.

Kulit Arya terasa sedingin es, dan napasnya sangat tipis. Sang komandan telah menaklukkan sang predator, namun harganya adalah tubuhnya sendiri yang hancur. Di tengah Hutan Kuno yang mulai menggelap, empat prajurit yang tersisa kini harus menghadapi malam paling mengerikan tanpa pedang pelindung mereka.

1
palupi
semangat thor👍🥰
palupi
semakin seru...👍🥰
palupi
❤️
PrinceArslan: halo kak' Jika kaka suka karya ku.. aku akan merekomendasikan karya ku yang lain yaitu "Goblin Emperor" barangkali kaka tertarik terimakasih
total 1 replies
palupi
semakin seru 👍
palupi
👍
palupi
langsung tertarik ceritanya 🥰
👍
PrinceArslan: terima kasih 👍
total 1 replies
marsabat hindom
sangat bagus
PrinceArslan: terima kasih 🙏
total 1 replies
Sung Jin Woo
bagus
Akagami Shanks
suka cerita yg seperti ini 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!