NovelToon NovelToon
KEKASIH DARI KEGELAPAN

KEKASIH DARI KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:113
Nilai: 5
Nama Author: LailaHaidar

Di antara cahaya yang tak pernah cukup dan bayangan yang tak pernah padam, namanya terucap hanya dalam hening: Orion.

Ia bukan milik dunia yang kau kenal. Pangeran dari kedalaman kegelapan, sosok yang dikabarkan tak pernah menyentuh sinar matahari, yang berjalan di tempat di mana cahaya tak mampu menjangkau. Banyak yang gemetar menyebut namanya; banyak yang menganggapnya kutukan. Namun bagi Aruna—ia adalah satu-satunya keberkahan yang menyelamatkannya dari jurang.

Aruna, gadis yang hidup di antara keraguan dan bahaya yang datang tanpa peringatan, selalu menemukan dirinya ditarik ke tepi jurang—sampai sepasang tangan yang kuat, hangat meski berasal dari kegelapan, menariknya kembali. Orion selalu hadir tepat saat dunia tampak membelakanginya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LailaHaidar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Tak Seharusnya Ada

Udara pagi di lembah itu terasa berbeda. Bukan lagi sejuk dan tenang seperti biasanya, melainkan terasa berat, seolah ada tekanan halus yang menekan dada. Aku bangun lebih awal, atau setidaknya apa yang terasa seperti pagi di sini — cahaya perak di luar jendela sedikit lebih terang dari biasanya, namun tidak hangat.

Orion tidak ada di tempat tidur lagi. Sudah jadi kebiasaan belakangan ini. Dia selalu bangun lebih dulu, seolah tubuhnya tidak butuh istirahat sebanyak aku, atau mungkin dia hanya tidak tenang meninggalkanku sendirian terlalu lama.

Aku merapikan selimut, lalu melangkah keluar kamar. Kali ini aku tidak menemukannya di ruang tengah. Pintu depan sedikit terbuka, angin sejuk menyelinap masuk, membawa aroma rumput basah dan sesuatu yang lain — bau asap tipis, seperti tanah yang terbakar perlahan.

Aku melangkah keluar. Di depan rumah, di antara tanaman-tanaman yang biasanya memancarkan cahaya lembut, ada yang berubah. Beberapa batangnya layu, warnanya pudar menjadi abu-abu kusam, seolah ada sesuatu yang menyerap kehidupan dari dalam tanah itu sendiri.

Orion berdiri tak jauh dari sana, berlutut di samping sebatang tanaman yang daunnya sudah keriting dan kering. Punggungnya tampak tegang, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dia tidak menoleh saat aku mendekat, seolah sudah tahu siapa yang datang.

"Ini bukan angin biasa," katanya pelan, suaranya datar tapi sarat kekhawatiran yang tertahan. "Ini jejak. Sesuatu lewat di sini, sesuatu yang tidak seharusnya bisa masuk sejauh ini."

Aku berlutut di sebelahnya, menyentuh daun kering itu dengan ujung jariku. Rasanya seperti debu halus yang langsung hancur saat disentuh.

"Maksudmu... seseorang sudah sampai ke sini?"

"Bukan seseorang," jawabnya, berdiri perlahan dan menatap ke arah lembah yang dalam. "Sesuatu yang diciptakan untuk mencari. Tidak punya pikiran sendiri, tidak punya rasa kasihan. Hanya punya satu tujuan: menemukan jejak cahayamu dan membawanya pulang."

"Dikirim oleh ayahmu?"

"Siapa lagi yang punya alasan untuk mengganggu tempat yang terlupakan ini?" Dia menghela napas panjang, lalu menoleh padaku. Matanya yang biasanya lembut kini berkilau dengan waspada. "Kita tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi. Jika jejak ini ditemukan, tidak butuh waktu lama sebelum yang lain datang. Lebih banyak. Lebih berbahaya."

Hatiku mencelos. Tempat ini terasa seperti rumah. Baru saja aku mulai merasa aman, baru saja kami mulai menemukan cara hidup bersama... dan sekarang kami harus pergi lagi.

"Ke mana kita akan pergi?" tanyaku pelan. "Apakah ada tempat yang benar-benar aman?"

Dia menatapku lama sekali, lalu menyentuh pipiku dengan lembut. "Aku tidak akan membawamu ke tempat yang belum diketahui. Tapi aku tahu seseorang yang mungkin bisa melindungi kita. Dia tinggal lebih dalam, di perbatasan hutan purba. Namanya Mara. Dia bukan musuh, tapi dia juga bukan teman yang mudah dipercaya."

"Kau pernah tinggal bersamanya?"

"Pernah. Saat pertama kali aku diasingkan, aku hampir mati di hutan itu. Dia yang menemukanku, merawatku sampai pulih. Tapi dia tidak suka manusia. Dia tidak percaya pada duniamu. Jadi dia mungkin akan bersikap kasar padamu. Apa pun yang terjadi, jangan takut padanya. Dan jangan menatap matanya terlalu lama."

Itu terdengar seperti peringatan yang cukup serius, tapi aku mengangguk. "Aku tidak akan melakukan hal bodoh. Aku janji."

Dia tersenyum tipis, lalu mengusap rambutku pelan. "Aku tahu kau tidak akan. Tapi tetaplah di dekatku. Jangan berjalan sendirian, bahkan jika kau hanya ingin mengambil air. Hutan purba itu punya cara sendiri untuk memisahkan orang-orang yang tidak waspada."

Kami berkemas secepat mungkin. Tidak banyak yang kami miliki — beberapa bungkusan berisi makanan sederhana yang bisa dimakan di jalan, sebotol air, dan satu hal yang paling penting: kelopak bunga hitam yang masih tersimpan aman di jilid bukuku. Aku memastikan itu ada di dalam tasku sebelum kami berangkat.

Saat kami menutup pintu rumah kecil itu, aku menoleh sekali lagi. Tempat ini menyimpan begitu banyak hal — pertemuan kami yang pertama di dunianya, rahasia yang terungkap, momen di mana aku melihat masa lalunya. Rasanya seperti meninggalkan bagian dari diriku sendiri.

"Kita akan kembali," kataku lebih kepada diriku sendiri.

Orion merangkul bahuku erat. "Suatu hari nanti. Saat tidak ada yang mengejar kita. Saat namaku sudah bersih dan kita bebas pulang ke mana pun kita mau."

Perjalanan menuju hutan purba itu terasa jauh lebih berat daripada saat kami melintasi gerbang perbatasan. Langit di atas lembah yang biasanya jernih kini tampak tertutup kabut kelabu yang bergerak perlahan, seolah mengikuti langkah kami. Setiap kali angin berhembus, aku mendengar suara desisan halus di antara pepohonan — bukan angin, tapi sesuatu yang berbisik, mencoba mendekati pikiranku.

"Kau tidak perlu bersembunyi... datanglah... kami tahu di mana kau berada..."

Aku mempererat genggamanku pada tangan Orion. "Mereka masih mengikutiku."

Orion berhenti melangkah. Dia berbalik, menatap tajam ke arah pepohonan di sebelah kanan jalur kami. Matanya berkilau keemasan sejenak, dan aku melihat sesuatu yang berubah di udara di depannya — bayangan-bayangan kecil yang bergerak cepat seketika berhenti, lalu menghilang seperti diusir.

"Mereka hanya penakut," katanya tegas. "Mereka tidak berani mendekat selama aku bersamamu. Tapi mereka akan terus mengawasi, melaporkan ke mana pun kita pergi."

"Apakah Mara tahu kita datang?"

"Aku mengirim pesan lewat angin pagi tadi. Dia tidak menyukai tamu, tapi dia berhutang nyawa padaku. Dia tidak akan menolak."

Setelah berjalan berjam-jam yang terasa tak berujung, pepohonan di depan kami mulai berubah. Dahan-dahannya semakin rapat, daunnya berwarna hijau tua hampir hitam, dan batangnya begitu besar sampai aku tidak bisa melihat puncaknya. Di antara akar-akar besar yang menjalar di tanah, terlihat sebuah jalan setapak yang tersembunyi, ditumbuhi lumut tebal.

"Ini dia," bisik Orion. "Tetap di belakangku."

Kami berjalan masuk ke dalam hutan itu. Di sini cahaya bintang hampir tidak menembus, tapi anehnya aku tidak merasa gelap. Tanaman-tanaman di samping jalur memancarkan cahaya hijau kebiruan yang lembut, menerangi jalan kami dengan cahaya yang tenang namun dingin.

Tak jauh dari sana, di sebuah celah di antara dua pohon raksasa, berdiri sebuah gubuk kecil yang terbuat dari batang kayu dan anyaman akar. Pintu gubuk itu terbuka sendiri saat kami mendekat, seolah penghuninya sudah menunggu.

Dari dalam terdengar suara wanita — berat, rendah, dan terdengar seperti berbicara sambil mengunyah sesuatu.

"Kau terlambat, Pangeran Bayangan. Aku sudah berpikir kau tersesat atau sudah ditangkap oleh tuanku."

Orion melangkah masuk, dan aku mengikutinya perlahan. Di dalam gubuk itu, di dekat api unggun yang apinya berwarna biru lembut, duduk seorang wanita. Dia tidak tua seperti yang kubayangkan, tapi matanya terlihat seperti sudah melihat ribuan tahun berlalu. Rambutnya panjang, berwarna perak alami, dan di setiap jemarinya ada cincin yang terbuat dari akar dan batu.

Dia berdiri perlahan, menatapku dari ujung kepala sampai kaki. Tatapannya tidak ramah, tapi juga tidak bermusuhan — hanya menilai, seolah aku adalah benda asing yang baru saja masuk ke wilayahnya.

"Jadi ini dia," katanya, lalu berjalan mengelilingiku perlahan. "Cahaya yang membuat pangeran kita melupakan siapa dirinya. Kau terlihat rapuh. Terlalu rapuh untuk tempat yang keras ini."

"Mara, hentikan," tegur Orion lembut tapi tegas. "Dia bukan tamu biasa. Dia bagian dari keluargaku."

Mara berhenti berjalan, menatap Orion dengan senyum miring yang tidak sampai ke matanya. "Keluarga? Kau bicara seperti manusia, Orion. Manusia yang akan menua, mati, dan menghilang sementara kau tetap abadi. Kau sedang membangun rumah di atas pasir yang akan hanyut."

"Itu risiko yang aku ambil," jawab Orion mantap. "Dan dia bukan rapuh. Kau belum melihat apa yang dia mampu lakukan."

Mara tertawa pelan, suara yang bergema di dinding kayu gubuk itu. "Oh, aku sudah melihatnya. Itulah sebabnya aku terkejut. Cahayamu berbeda, gadis. Bukan cahaya yang membakar, tapi cahaya yang menenangkan. Itu yang membuat mereka takut padamu, bukan? Kau bisa meluluhlantakkan kebencian mereka hanya dengan keberadaanmu."

Dia berjalan ke sudut ruangan, mengambil dua buah kantong tidur yang terbuat dari bahan lembut namun hangat, lalu meletakkannya di dekat api.

"Kau boleh tinggal selama dua hari. Tidak lebih. Raja Valdris tahu wilayahku. Jika dia menduga aku menyembunyikanmu, dia akan menghancurkan hutan ini sampai ke akar tertua. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi."

"Terima kasih, Mara," ucapku tulus. Aku tahu itu sulit baginya, tapi dia tetap membantu.

Dia menoleh padaku, matanya menajam sejenak. "Jangan berterima kasih dulu. Aku tidak melakukannya untukmu. Aku melakukannya karena dia pernah menyelamatkanku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!