Setelah akhirnya memasuki masa pensiun, Raya memutusakan menghabiskan hari tuanya seorang diri di sebuah vila mewah yang telah ia beli dengan hasil kerja keras selama puluhan tahun.
Namun, nasib seolah mempermainkannya. Baru sehari menikmati kehidupan sebagai pensiunan kaya, keesokan paginya ia terbangun di dunia yang sama sekali asing.
Bukan hanya itu, ia kini menghuni tubuh seorang wanita berusia tiga puluhan yang terkenal genit dan mesum.
Beruntung, ia mengetahui satu rahasia besar.
Halaman belakang rumah reyot yang tak diinginkan siapa pun itu ternyata terhubung dengan zaman lain.
Dalam ruangan penghubung dimensi, ternyata menyimpan kekuatan yang mengubah nya selangkah demi selangkah menjadi abadi.
2 Agustus 2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Ceramah Hu Zheng
"Hmmm..."
Hu Zheng berjalan ke arah jendela dan membukanya, entah mengapa Shen Yuzhi liat sikap nya jadi agak berbeda dengan gambaran pria lugas yang blak-blakan.
"Padahal aku dan Bai Rongxin yang selalu menurut padanya, tapi entah mengapa aku merasa nyonya lebih menyukai mu." Hu menatap Shen Yuzhi. "Sepertinya wajah tampan mu masih menjadi hal yang nyonya sukai."
"Kau cemburu padaku? Ambil saj--"
"Shen Yuzhi" potong Hu Zheng, dan Shen Yuzhi seketika terdiam. "Nyonya menghabiskan banyak uang untuk berobat mu, bahkan nyonya mungkin memikirkan sikap dingin mu akhir-akhir ini."
"Aku tahu apa yang terjadi padamu dan apa kesalahan nyonya," lanjut Hu Zheng dengan nada datar. "Aku juga tahu kau tidak mungkin melupakannya begitu saja."
Shen Yuzhi terdiam.
"Kalau kau masih membencinya karena kejadian itu, aku tidak akan menyalahkanmu. Hampir kehilangan nyawa bukan sesuatu yang bisa dilupakan hanya karena seseorang tiba-tiba bersikap baik."
Hu Zheng berhenti sejenak, lalu menatapnya tajam. "Tapi jangan bodoh."
Alis Shen Yuzhi berkerut.
"Jangan menilai seseorang hanya dari apa yang pernah dilakukannya. Lihat juga apa yang dia lakukan setelahnya."
"Hu Zheng..." Panggil Shen Yuzhi namun Hu Zheng tidak berhenti sedikitpun.
"Sejak nyonya berubah, pernahkah dia menyakitimu lagi?"
Shen Yuzhi terdiam.
"Tidak."
"Dia mengusirmu?"
"Tidak."
"Membiarkanmu kelaparan?"
Shen Yuzhi kembali diam.
"Atau mengambil pakaianmu dan menyuruhmu tidur di luar?"
"Tidak."
Hu Zheng mendengus. "Sebaliknya, kita bertiga diberi makanan setiap hari. Pakaian yang layak. Tempat tinggal. Bahkan ketika kau sakit, nyonya langsung memanggil tabib dan membayar mahal untuk pengobatanmu."
Shen Yuzhi menundukkan pandangan.
"Dan jangan bilang itu hanya karena dia merasa bersalah. Kalau hanya rasa bersalah, ada banyak cara untuk menebus kesalahan tanpa harus repot-repot mengurus kita seperti ini."
Perkataan itu membuat Shen Yuzhi perlahan mengangkat kepalanya. Hu Zheng tetap melanjutkan secara blak-blakan.
"Apalagi kau sendiri yang paling sering bersikap dingin kepadanya. Kau hampir tidak pernah berbicara baik-baik dengan nyonya. Kalau aku menjadi nyonya, mungkin sejak lama aku sudah membiarkanmu mengurus dirimu sendiri, sakit pun tidak akan di urus."
"Dan soal kejadian dahulu..." Hu Zheng menghela napas. "Aku tidak menyuruhmu melupakannya. Tapi jangan gunakan kesalahan masa lalu untuk menutup mata terhadap apa yang terjadi sekarang."
Tatapan Shen Yuzhi perlahan berubah.
Ia teringat bagaimana Su Wanwan akhir-akhir ini selalu bersikap datar. Tidak terlalu banyak bicara, tidak pula berusaha mendekatinya lagi.
Makanan, pakaian, tempat tinggal, obat dan bahkan tabib. Semua diberikan tanpa banyak penjelasan.
Hu Zheng menatapnya beberapa saat sebelum berkata, "Kalau dia masih seperti dulu, kau pikir dia akan menghabiskan uang sebanyak itu hanya untuk menyelamatkanmu?"
"Kau tahu berapa yang nyonya habiskan?" Hu Zheng mengangkat lima jarinya. "50 tael!"
Shen Yuzhi agak terkejut, apakah obatnya itu emas sampai semahal itu?
Hu Zheng tentu tahu bayaran itu adalah bayaran untuk hutang nyonya pada tabib Sun, namun dia memang sengaja tidak mengatakan nya.
Hu Zheng mengangkat bahu nya, dan berbicara dengan santai. "Memangnya kau gadis? Kenapa begitu lemah hanya karena seseorang bersikap baik kepadamu?"
Shen Yuzhi langsung menatapnya tajam.
"Hei, jangan menatap ku seperti itu. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."
Hu Zheng terkekeh kecil. "Kalau kau masih ingin membencinya, silakan itu urusanmu. Tapi setidaknya jangan membenci orang yang sekarang berdasarkan dosa orang yang dahulu."
Shen Yuzhi tidak mengindahkan ucapan Hu Zheng lagi, pikiran nya saat ini tengah memikirkan keajaiban semalam. Sesuatu yang membuat tubuhnya sejuk dan bertenaga serta sentuhan hangat yang menenangkan di keningnya... Apakah itu Su Wanwan?
Meskipun ia tidak ingin memikirkan itu, namun insting nya hanya tertuju padanya. Lalu siapa dia? Suara yang ia dengar dapat membuktikan 80% jika itu Su Wanwan.
Namun darimana dia mendapatkan keajaiban itu? Ia yakin hal yang ia rasakan semalam bukanlah efek dari obat tabib.
Bai Rongxin masuk ke dalam kamar dengan tampang lemas dan lesu. "Kakak Hu, nyonya mencarimu."
"??" Hu Zheng mengangkat alisnya, lalu dengan senyum kecil ia berjalan pergi.
Bai Rongxin sedikit mendengus, padahal dia yang paling bersikap penurut dan baik. Namun kenapa nyonya nya selalu mengandalkan Hu Zheng, kemarin nyonya mengajak Hu Zheng ke pasar, membiarkan nya keahlian menyetir dan sekarang Hu Zheng di panggil lagi.
Apakah dia tidak lebih berguna? Meskipun begitu tidak ada sedikitpun rasa iri benci, hanya sedikit ketidakpuasan hati dan perasaan seperti di abaikan.
Shen Yuzhi menatap Hu Zheng yang pergi, dan Bai Rongxin secara bergantian. "Apakah..."
'Apakah nyonya tidak mencariku?'
Ucapan itu hanya bisa sampai di ungkapkan di hati, tidak sampai keluar dari mulut. Shen Yuzhi kembali diam dan menunduk, tidak mengerti dengan perasaan nya yang mulai tidak menentu.
**
Tok!
Tok!
"Nyonya, Hu Zheng datang"
"Masuklah" ucap Su Wanwan dari dalam.
Hu Zheng sedikit tersentak, masuk? Pikiran nya jadi agak tidak nyambung, wajahnya memerah. Namun meskipun begitu ia segera masuk ke dalam.
Ia yakin pertama kali masuk ke kamar nyonya nya, dan saat pertama kali masuk. Hidungnya mencium aroma wangi yang lembut, bukan bau apek dari kamar tuannya yang dulu-- di kediaman utama.
"Nyonya..."
"Duduklah" ucap Su Wanwan.
Hu Zheng sedikit banyak nya merasa kagum dengan ruangan yang di tata dengan nyaman. Meskipun ruangan kamar ini terbilang kecil untuk tambahan meja dan kursi, namun tuan nya bisa sampai membuat ruang tamu sendiri di dalam kamarnya tanpa terlihat sempit sama sekali.
Tempat tidurnya juga di halangi sebuah tirai, membuat Hi Zheng tidak bisa melihat isi dari ruangan yang di tutupi tirai itu.
"Nyonya, ada apa nyonya memanggil Hu Zheng."
"Aku ada tugas untukmu."
"Silahkan katakan nyonya."
Su Wanwan memberikan sebuah gulungan kertas berisi banyak tulisan di sana. "Ini adalah hutang ku pada orang-orang desa, tolong bantu aku bayarkan dan sampaikan permintaan maaf ku. Jika ada yang ragu dan bertanya, katakan saja aku mulai sadar dan ingin mulai menjalani hidup dengan baik."
"Ini 3.000 tael perak."
"Nyonya, hutang anda tidak sampai 3.000 tael perak kan?" Tanya Hu Zheng terkejut.
Su Wanwan tersenyum kecil. "Aku tahu, kau pikir aku akan memberikan mereka semua uang ini?"
"Beberapa hari ke depan aku akan pergi menemui teman lama, jangan mencari ku jika aku tiba-tiba menghilang. Ambil uang ini, cari orang untuk perbaiki rumah. Ingat, kamu boleh mengubah rumah ini seluas dan sebesar yang kau mau asalkan uangnya cukup. Namun jangan pernah bongkar ataupun menghancurkan kamar ku ini."
"Baik nyonya, perintah nyonya akan Hu Zheng laksanakan."
Su Wanwan tersenyum tipis. "Sudahlah pergilah, mintalah bantuan Bai Rongxin ataupun Shen Yuzhi."
"Baik."