Amira Anastasya, yang setia menunggu janji dari Glen Anggara yang akan segera pulang dalam dua tahun setelah menyelesaikan pendidikannya di Eropa dan menikahi nya. Namun tidak sesuai dengan ala yang Amira harapkan.
Bertahun-tahun Amira menunggu akan tetapi Glen tidak kunjung datang, bahkan tidak pernah menghubungi Amira setelah satu bulan di Eropa tiba-tiba saja dia menghilang tanpa kabar, dan Amira pun tidak dapat menghubunginya.
Hingga lima tahun kemudian, ketika Amira dibandara dan hendak pergi keluar negeri tanpa sengaja mereka bertemu. Saat itu juga Glen pulang dari luar negeri.
Melihat kepergian Amira, Glen merasa sedih ketika dia hendak menemui Amira tetapi kenapa malah amira pergi keluar negeri dan tidak mau mendengarkan Glen saat itu.
Selama di Indonesia Glen berusaha mencari tahu kehidupan Amira selama ini, apakah dia baik-baik saja selama dia tidak ada atau malah sebaliknya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penpena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Minta maaf
"Ah, iya saya sendiri Alvero. Saya yang membuat janji temu dengan mu." Ucap Alvero berusaha mengubah suasana.
"Kamu bisa keluar sekarang." Ucap MIra datar.
"Ha?, Sa-saya?." Tanya Alvero salah paham.
Mira menatapnya heran, kenapa bisa dia semerasa itu padahal jelas-jelas bukan dia yang Amira maksud.
"Maaf kan saya, bukan anda yang saya maksud tapi orang ini, sepertinya dia salah masuk ruangan."
"Oh." Alvero terkekeh merasa sedikit malu.
"Tapi, Mir." Glen berusaha menghentikan Amira yang berjalan kearah kursi.
Alvero menatap Glen bingung, dia merasa tidak enak pada Glen. Andai dia tahu kalau orang yang akan dia temui adalah Amira yang Glen kenal, bisa jadi dia tidak mengajak nya tadi. Dan lebih baik dia memberi tahu Glen diwaktu yang tepat. Tapi bagaimana bisa Alvero mengenal Amira kalau bukan karena Glen ikut sekarang?, dia serba bingung.
"Oh iya, Amira. Dia adalah Glen, asisten ku, aku mengajaknya kesini untuk membantuku menjelaskan banyak hal." Ucap Alvero berbohong. Tentu saja mata Glen langsung melotot padanya, dia tidak menyangka kalau Alvero akan mengatakan dia adalah asistennya. Tapi kalau dipikir-pikir Alvero sudah berusaha menolongnya saat ini.
Amira diam, kalau dia tahu yang bertemu dengannya ada lah Glen, dia sudah akan menolaknya dari kemaren-kemaren, tapi ini sudah terlanjur, dan sangat tidak baik bagi perusahaanya kalau dia membatalkan kerja sama ini hanya karena alasan masa lalu mereka. Lagi pula, orang yang bekerja sama sengannya bukan ah Glen melainkan Alvero, Glen hanya bekerja untuknya saja, bagaimana bisa dia bertindak tidak profesional.
Tapi Amira bingung kenapa Glen bisa bekerja diperusahaan lain, sementara yang dia tahu kalau Glen mempunya perusahaan orang tuanya yang cukup besar dan besar kemungkinan akan diwariskan padanya karena Glen adalah anak satu-satu nya dikeluarga mereka.
"Kalau kamu tidak keberatan, bisakah dia tetap berada disini?, A-untuk membantuku." Ucap Alvero terbata.
Dengan berat hati, Amira menyetujui nya. "Baik lah." Ucapnya datar, dan profesional.
"Sini duduk." Ajak Alvero berbisik dan duduk di hadapan Amira.
Glen sangat bingung, apa yang akan dia katakan, bagaimana dia menjelaskan. Memang Alvero tidak berpikir dulu sebelum berbicara, ya itulah salah satu ciri khas sahabatnya itu.
"Jadi, kami ingin mengajak anda bekerja sama selama satu minggu ini, kami ingin menyewa tempat ini untuk acara keluarga. dan untuk lebih detailnya akan dijelaskan asisten saya." Tutur Alvero menatap Glen dan mengedipkan mata nya seperti memberikan isyarat.
Alvero bisa melihat tatapan Glen yang akan menghajarnya setelah ini selesai, tapi apa yang boleh dia buat. Dia melakukan ini supaya Amira tidak mengusirnya dari sini.
Amira hanya mendengarkan sebagai bentuk ke profesionalan nya.
"Em, jadi kita ingin menyewa tempat ini untuk pesta koktail bersama keluarga dan kerabat dekat, kisaran jumlah tamunya itu hanya dibawa seratusan orang saja. Dan kami memilih cafe ini karena suasananya yang klasik dan mewah sangat sesuai dengan kebutuhan kami, selain itu juga Cafe ini sangat besar. Dan oh iya, ini untuk proposalnya." Ucap Glen mengambil proposal itu dari hadapan Alvaro lalu menyerahkan kepada Amira.
Amira mengambil dan membukanya, disana terlihat detail konsep, rangkaian maupun anggaran.
"Oh iya, kami sangat terbuka untuk penambahan Budget kalau yang tertera disana kurang. Kebetulan bos ku ini sangat royal masalah keuangan, jadi santai ajah." Usul Glen.
lalu Alvero memelototi Glen karena mengatakan itu, karena yang sudah dirancang keluargannya, budget itu sudah terlalu besar dan menurutnya sesuai. Amira bisa melihat kalau apa yang dikatakan Glen hanya bercanda.
"benarkah?, kalau begitu saya ingin ditambah."
"Ha?." Alvero sontak kaget. "Em, maksudnya baik lah. Silahkan ditulis saja nanti akan kami tambahkan." Alvero menatap Glen sinis.
"Oke." Ucap alte lalu menandatangi surat itu dan menyerahkan kembali kepada Alvero.
"Baik lah, saya setuju bekerja sama dengan anda. dan kami akan mengusahakan memberi pelayanan yang terbaik untuk acara Anda."
"Oke terimakasih, Amira. kalau begitu, saya pamit." Ucap Alvero dan menyalam tangan Amira dan dibalas oleh Amira. Lalu Glen ikut mengulurkan tangganya dan menatap Amira serius. Dan dengan berat hati Amira membalasnya dan cepat-cepat melepaskan tangannya dari tangan Glen, namun Glen menahannya.
"Aku ingin berbicara dengan mu sebentar."
"Maaf, saya sibuk. Saya kira tidak ada hal lain yang perlu dibahas lagi karena tadi semuanya sudah Clear."
"Tapi bukan masalah itu, Amira. Aku ingin membicarakan hal lain, tentang hubugan kita." Ucap Glen serius. Alvero yang melihatnya pun bingung harus apa dan dia langsung pamit izin keluar.
"Kalau begitu, saya pamit keluar." Ucap Alvero.
Amira menarik paksa tangannya dari genggaman Glen dan menatapnya kesal.
"Saya sibuk." Ucapnya dan hendak beranjak pergi.
"Amira, tunggu. Aku mohon maafkan aku, Mir. Aku akan menjelaskan semua yang terjadi." Ucap Glen mengejar dan menghalangi Amira supaya tidak keluar dari ruangan itu.
Amira lalu berhenti. "Tidak ada yang perlu dijelaskan, Glen. Semua sudah jelas. Dan tidak ada lagi artinya itu semua. Kuharap kamu mengerti maksud ku."
"Tapi ini berarti bagi ku, Mir."
Amira terdiam, dia masih sangat membenci Glen, dan bahkan tidak ingin menatapnya. Namun entah kenapa saat ini perasaanya berbeda, dia melihat Glen sangat berusaha untuk menjelaskan sesuatu. Tapi, tidak!. Selama ini Amira sudah sangat terpukul dengan perbuatannya, dia tidak akan bisa memaafkan Glen begitu saja.
tanpa berkata sepatah kata pun, Amira langsung pergi meninggalkan Glen.
"Amira, tunggu." Panggil Glen namun tidak ada balasan dari Amira.
"Sial!." Ucap Glen mengacak rambutnya prustasi.
"Aku akan berusaha, Mir. Akan berusaha memperbaiki semuanya. Maafkan aku sudah mengecewakan mu selama ini, sekarang aku akan kembali dan membuat mu selalu bahagia tanpa sedikit pun rasa sedih yang kamu alami. Aku berjanji."
**
"Kamu sialan sih bro."
"Kenapa?."
"Kenapa kamu malah menawarkan dananya bisa ditambah?." Ucap Alvero kesal sambil menyetir mobilnya.
"Hahaha!." Glen tertawa puas melihat ekspresi kesal Alvero.
"Malah tetawa, itu anggaran sudah paling besar dan bahkan itu sudah melebihi dari harga yang seharusnya Glen. Dan lebih parahnya, wanita itu meminta penambahan setengah dari total yang tercatat diproposalnya."
"Itu salahmu, kenapa tadi kamu tidak mendiskusikannya lagi?. Amira itu orang yang pintar masalah uang, dia menulis segitu karna kamu tidak berkomentar, andai kamu memberitahunya berapa yang bisa ditambah, maka dia tidak akan menuliskan segitu."
"Sama saja dia licik."
"Dia pintar, kamu yang bodoh." ketus Glen
"Kurang ajar."
"Lagian kenapa kamu malah menyuruhku menjelaskan tadi? kamu bahkan mengatakan aku asisten mu, aku tidak tahu menahu tentang ini. Yasudah sekalian ajah ku menggunakan kesempatan ini untuk menguntungkan seseorang yang aku cintai."
"Ya aku mengatakan itu karna aku ingin menyelamatkan mu Glen, supaya dia tidak mengusir kita." jelas Alvero
"Oh, emang begitu?." Tanya Glen merasa bersalah.
"Ternyata kamu sebodoh itu." Kesal Alvaro.
"Ya, maaf bro. aku tidak tahu niat mu sebaik itu, memang kamu teman terbaik ku." Puji Glen untuk mengubah suasana hati Alvero yang sudah kesal. "Lagian kan, kamu kaya raya. Gak apa-apa memberi sama orang biar rejekinya semakin lancar." Tabahnya
"Hem, terserah kamu deh." Ucap Alvero pasrah. "Oh iya, Bagaimana tadi?."