Ranti merasa hidupnya sempurna. Suaminya, Sony, adalah pria idaman—penyayang, sukses, dan setia. Bahkan, Ranti begitu percaya pada Sony hingga tak pernah sekalipun menaruh curiga.
Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap. Kejadian tak terduga mengungkap kenyataan pahit. Ternyata menyimpan makna lain yang menyakitkan. Nama Raya, guru TK anak mereka.
Kekecewaan dan pengkhianatan mengguncang dunia Ranti. Kebohongan Sony selama ini tak hanya menghancurkan biduk rumah tangga mereka, tapi juga persahabatan Ranti dengan Raya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: AKAR LUKA
lKamar kerja pribadi Ranti di lantai teratas gedung PT Anindita Gemilang Utama diterangi pendar hangat lampu meja. Di balik dinding kaca tebal yang menembus pemandangan gemerlap lampu kota Jakarta malam itu, Ranti duduk memandangi sebuah foto hitam-putih berukuran sedang di dalam bingkai kayu.
Foto seorang wanita anggun berwajah tegas—Ibu kandungnya, mendiang Kirana.
Setiap kali suasana hening melingkupinya usai memenangkan pertempuran hukum dan bisnis, memori Ranti tak pernah gagal ditarik kembali ke akar masa lalunya. Ke sebuah rumah megah berdinding kayu jati di area Menteng puluhan tahun silam, tempat pertama kali ia mengenal pahitnya kata "lelaki".
Dua Puluh Tahun Lalu – Rumah Menteng
Suara pecahnya vas bunga porselen di ruang tamu lantai bawah membangkitkan Ranti kecil dari tidurnya. Dengan langkah gemetar, gadis cilik berusia delapan tahun itu mengintip dari balik celah balustrade tangga lantai dua.
Di bawah sana, ayahnya—Tirta—berdiri dengan kemeja yang berantakan dan aroma alkohol yang membumbung. Di hadapannya, Kirana berdiri dengan tubuh gemetar menahan tangis.
"Pikirkan Ranti, Mas!" jerit Kirana dengan suara parau yang menyayat hati. "Kamu menguras rekening usaha tekstil yang kubangun dari nol hanya untuk membelikan mobil wanita simpananmu itu?! Kurang apa aku padamu, Mas?"
Tirta malah terkekeh dingin, membuang muka dengan tatapan meremehkan. "Kamu itu terlalu sibuk di pabrik, Kirana! Kamu kaku, tidak pernah bisa memanjakan suami! Jangan salahkan aku kalau aku mencari kehangatan di luar!"
"Aku bekerja siang malam untuk menopang keluarga ini karena usahamu selalu bangkrut!" tangis Kirana pecah, terduduk di atas lantai yang tertutup pecahan porselen. "Semua rumah, tanah, dan jaringan bisnis ini berdiri atas keringatku sendiri! Tapi kamu tega membaginya dengan wanita murahan itu!"
"Cukup, Kirana! Aku ini suamimu! Aku laki-laki, aku berhak melakukan apa pun!" bentak Tirta keras sebelum menghempaskan pintu depan dengan dentuman menggelegar, meninggalkan Kirana yang meratap sendirian di atas lantai dingin.
Ranti kecil berlari turun dari tangga, memeluk tubuh ibunya yang berguncang hebat.
"Ibu... jangan menangis, Bu..." cicit Ranti kecil seraya menyapu air mata di pipi ibunya dengan jemari mungilnya.
Kirana merengkuh Ranti erat-erat. Pelukan yang begitu kencang hingga Ranti bisa merasakan detak jantung ibunya yang teramat sakit. Malam itu, dalam isak tangis yang pilu, ibunya membisikkan sebuah kalimat yang tertanam abadi di dalam benak Ranti kecil.
"Ranti... dengarkan Ibu," bisik Kirana dengan napas tersengal-sengal. "Laki-laki itu semuanya sama saja. Mereka lemah, narsistik, dan akan selalu membalas ketulusan kita dengan pengkhianatan begitu mereka merasa berkuasa. Jangan pernah menggantungkan hidupmu pada laki-laki. Kamu harus kaya, kamu harus kuat, supaya tidak ada pria yang bisa menindasmu."
Beberapa tahun kemudian, Tirta pergi meninggalkan mereka begitu saja demi wanita selingkuhannya. Pria itu pergi tanpa membawa apa-apa, sebab seluruh legalitas hukum warisan dan usaha tekstil telah diamankan dengan sangat rapat oleh Kirana yang cerdas.
Kirana membesarkan Ranti sendirian, bekerja tanpa kenal lelah membangun kerajaan bisnis keluarga hingga akhir hayatnya. Kirana mewariskan kekayaan melimpah dan petunjuk hukum yang matang—termasuk pesan wajib Perjanjian Pra-Nikah jika Ranti kelak memutuskan untuk menikah.
Bagi Ranti remaja, figur ayah telah mati. Di dalam benaknya yang tumbuh dewasa, tertanam sebuah stigma mutlak: semua laki-laki di dunia ini adalah pengkhianat yang berpotensi menghancurkan hidup wanita.
Delapan Tahun Lalu – Perpustakaan Kampus
Stigma dan benteng pertahanan Ranti yang begitu kokoh mulai diuji saat ia memasuki masa akhir kuliah Sastra Indonesia di salah satu universitas ternama.
Ranti muda adalah sosok mahasiswi yang dingin, menyendiri, dan terkenal sangat sulit didekati oleh pria mana pun. Tampang kaya dan paras anggunnya tak pernah membiarkan pria-pria berkendara mobil mewah di kampusnya mendekat. Bagi Ranti, pria beruang dan tampan hanyalah cerminan dari almarhum ayahnya.
Hingga suatu sore di sudut perpustakaan kampus yang sepi, Ranti tak sengaja menjatuhkan tumpukan buku referensi tebalnya dari atas meja.
Seorang pemuda dengan kemeja flanel sederhana yang agak pudar kelimnya bergegas membantunya merapikan buku-buku tersebut. Pria itu memakai kacamata berbingkai tipis, berpenampilan sangat bersahaja, dan memegang sebuah tas kain lusuh.
Pria itu adalah Sony.
"Maaf... ini bukunya," tutur Sony pelan dengan senyum canggung dan tatapan mata yang sangat polos. tidak ada tatapan tebar pesona atau kesombongan di matanya.
"Terima kasih," sahut Ranti singkat, hendak mengambil bukunya kembali.
Namun, bukannya pergi seperti pria-pria lain yang biasa menyerah saat Ranti bersikap dingin, Sony justru duduk beberapa meter di mejanya, tekun mengetik tugas di laptop tuanya yang berbunyi bising.
Minggu demi minggu berlalu, Sony selalu berada di sana. Pria itu tidak pernah bertindak agresif. Ia hanya menunjukkan perhatian-perhatian kecil: meninggalkan sebotol air mineral saat Ranti tertidur di meja perpustakaan, atau menyisipkan catatan kecil berisi kalimat penyemangat saat Ranti menghadapi ujian skripsi.
Hingga pada suatu malam berhujan deras di teras perpustakaan, saat Ranti sedang menunggu jemputan yang tak kunjung datang, Sony memberanikan diri mendekatinya seraya membawa sebuah payung lipat yang agak rusak.
"Ranti... mau pakai payungku?" tawar Sony lembut, berdiri agak jauh untuk menjaga jarak. "Aku bisa berjalan menerobos hujan sampai ke perhentian bus."
Ranti menatap pria di hadapannya. Pakaian Sony biasa saja, ekonominya tergolong pas-pasan, dan latar belakang keluarganya sangat sederhana.
"Kenapa kamu selalu baik sama aku, Sony?" tanya Ranti dengan nada curiga, pandangannya menelisik. "Kamu tahu kan banyak pria lain yang coba mendekatiku karena keluargaku kaya?"
Sony tersenyum manis—sebuah senyuman polos yang malam itu berhasil menembus benteng pertahanan Ranti.
"Aku tidak peduli kamu kaya atau tidak, Ranti," jawab Sony dengan suara jernih dan penuh ketulusan yang tampak sangat meyakinkan. "Aku cuma melihat seorang wanita yang selalu kelihatan kesepian dan memikul beban berat sendirian. Aku orang biasa, Ranti. Aku tidak punya mobil mewah atau harta untuk dipamerkan. Tapi aku janji, kalau kamu izinkan aku ada di sampingmu... aku tidak akan pernah membuatmu menangis seperti pria-pria di luar sana."
Kata-kata Sony menghantam dada Ranti.
Dia orang biasa, batin Ranti kala itu dengan napas bergetar. Dia tidak bergelimang harta seperti Ayah. Dia polos, sederhana, dan menggantungkan cita-citanya pada kerja keras. Pria seperti ini... tidak mungkin punya keberanian atau alasan untuk mengkhianatiku.
Hari itu, Ranti melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Ia membiarkan logikanya terkecoh oleh kesederhanaan. Ia percaya bahwa pria miskin dan biasa tidak akan pernah berselingkuh—sebuah kekeliruan fatal yang menyamakan kesederhanaan dengan kesetiaan.
Masa Persiapan Pernikahan – Rumah Ranti
Beberapa tahun kemudian, ketika bisnis yang dirintis Sony mulai berjalan atas bantuan koneksi dan modal awal dari Ranti, rencana pernikahan pun disusun.
Siang itu, di ruang tamu rumah Ranti yang megah, pengacara keluarga menyodorkan seberkas dokumen tebal di atas meja kayu mahal. Dokumen Perjanjian Pra-Nikah yang dirancang berdasarkan amanat mendiang Ibu Kirana.
Ibu Hendrawan yang hadir mendampingi Sony tampak membelalak kaget saat membaca poin-poin ketat di dalamnya.
"Ranti... ini maksudnya apa ya?" tanya Ibu Hendrawan dengan nada keberatan yang tertahan. "Kenapa harus ada surat perjanjian pra-nikah segala? Kamu tidak percaya sama Sony? Ini kan terkesan seperti menyudutkan anak Ibu, seolah-olah Sony cuma mau menumpang hidup!"
Ranti menatap ibu mertuanya dengan tenang, namun sebelum Ranti sempat menjawab, Sony lebih dulu memegang tangan ibunya dan menggelengkan kepala.
"Ibu, tidak apa-apa," potong Sony dengan raut wajah sangat suportif. Sony lalu menatap Ranti dengan pandangan mata yang dipenuhi pendar pengabdian palsu.
"Ran, aku sangat paham," ujar Sony mantap. "Ibumu membangun semua kekayaan ini dengan air mata dan darah. Sangat wajar kalau kamu memproteksi harta warisan keluargamu. Bahkan kalau seluruh aset ini dialihkan 100 persen atas namamu dan kamu meminta 85 persen harta bersama jika aku berselingkuh... aku akan tanda tangani detik ini juga!"
Sony meraih pulpen emas di atas meja tanpa keraguan sedikit pun.
"Kenapa, Mas?" tahan ibunya panik.
"Karena Sony tidak akan pernah berselingkuh, Bu!" tegas Sony seraya menatap mata Ranti dalam-dalam. "Di dunia ini, cuma Ranti wanita yang aku cintai. Ranti yang mengangkat derajatku dari pria biasa menjadi seseorang yang dihargai. Aku tidak akan pernah mengkhianati malaikatku ini. Perjanjian ini cuma selembar kertas yang tidak akan pernah berguna, karena aku setia seumur hidupku."
Dengan gerakan tegap, Sony menandatangani berkas tersebut di atas materai, lalu tersenyum hangat pada Ranti.
Malam itu, Ranti menangis bahagia di dalam kamarnya. Ia merasa telah menemukan pengecualian dari nasihat ibunya. Ia merasa Sony adalah hadiah dari Tuhan untuk menyembuhkan luka masa kecilnya akibat kelakuan almarhum ayahnya.
Kembali ke Masa Kini – Kantor PT Anindita Gemilang Utama
Usapan angin malam yang berhembus melalui ventilasi menghentikan lamunan Ranti.
Ia meletakkan foto ibunya kembali ke atas meja dengan gerakan perlahan. Senyum dingin mengulas di bibir Ranti saat memikirkan betapa naifnya ia di masa lalu.
"Ibu benar..." bisik Ranti pada kehampaan ruang kerjanya. "Laki-laki itu semuanya sama saja. Yang kaya mengkhianati karena merasa berkuasa, dan yang biasa mengkhianati begitu merasa punya sedikit kesempatan."
Sony tidak bersetia karena ia baik; Sony bersetia di masa lalu hanya karena ia belum memiliki panggung dan kesempatan untuk bertindak bejat. Begitu harta, status, dan dorongan ego itu hadir melalui bantuan Ranti, topeng kesederhanaannya seketika tanggal, memunculkan sosok pengkhianat yang bahkan lebih rakus dan licik daripada almarhum ayahnya.
Tetapi Ranti tidak lagi menangisi takdir itu.
Ibu Kirana telah membekalinya dengan senjata hukum dan kekuatan mental untuk bertarung. Dan Ranti telah membuktikan bahwa ia bukan sekadar korban dari silsilah pengkhianatan pria, melainkan pemenang yang berhasil menumpas para pengkhianat itu hingga ke akar-akarnya.
Ranti mematikan lampu mejanya, berdiri tegak menyebarkan pendar kebangkitan di dalam kegelapan. Ia meraih tas kerjanya dan melangkah keluar dari ruangan pimpinan. Masa lalu dari ayahnya dan bekas suaminya telah resmi mati, digantikan oleh kejayaan abadi yang ia bangun atas namanya sendiri.
pengacara ranti abal abal cm butuh duit Tok mkne keder mengjadapi pengacara Sony. mkne ranti kalah sidang.
pdhl Sony jelas selingkuh Dan korupsi tp masih bisa dpt hak asuh. 👍
farhan Dan pengacara ranti memang memgalah agar farhan bebas mndekati ranti tanpa bima. 🤣.
pdhl jelas jelas Sony napi kan 🤣
ranty pengacara ne goblok 🤣
farhan kayak nya gk mau bima, cm mau ranti mkne suruh ranti nyerah.
pengacara ranti yg kurang keren
trus sekarang bpk nya nikah dng selingkuh annya apa gk di Banting tu anak.
ranti punya kerjaan hidup mapan knp gk dpt hak asuh. pdhl anak di bawah umur itu dng ibunya 🤣.
hrse dng status napi Dan gk punya penghasilan gk dpt hak asuh kan.
bukan kah kemarin hak asuh resmi ke ibunya. kok mulek.