Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 Yang Terdengar dari Balik Sekat
Selasa pagi, Navin turun ke pantry lantai tiga pukul 07.55 dengan alasan yang sangat masuk akal: ia ingin mencoba mesin kopi yang ia pesan.
Bukan karena ia berharap bertemu seseorang di sana. Bukan. Ia bahkan sengaja datang lima menit sebelum jam kerja, supaya tidak bertemu siapa pun. Ia hanya ingin memastikan anggaran perusahaan tidak terbuang percuma.
Pantry itu masih sepi. Mesin kopi berkilat di sudut, dan di sisinya sebuah sekat setengah tinggi memisahkan area seduh dari meja makan. Navin menekan tombol kopi hitam, menunggu cairan gelap mengalir, dan baru ketika ia hendak mengambil cangkir, ia mendengar suara-suara dari seberang sekat.
"...katanya sudah dilamar diam-diam."
"Serius? Kamu dengar dari siapa?"
"Dari Pak Rangga. Katanya Pak Bastian nanya-nanya soal cincin di toko emas dekat kantor."
"Ih, romantis banget."
Navin membeku dengan cangkir setengah terangkat. Ia mengenali dua suara itu: Widya dan Rini dari administrasi. Ia pernah melihat mereka membisikkan sesuatu setiap kali ia lewat, dan biasanya ia mengabaikannya. Hari ini ia tidak bisa.
"Tapi Bu Lia bilang bukan pacaran," bisik Rini.
"Dia juga bilang tidak ada tunangan bulan depan. Tapi kalau bukan pacar, kenapa pipinya merah setiap kali Pak Bastian lewat?"
"Iya juga ya."
"Dan hari Jumat kemarin, Pak Bastian mengantar dia pulang. Naik motor."
"Wah, dibonceng."
"Katanya nanti setelah masalah kontrak selesai mereka mau umumin."
"Kasihan Pak Navin ya, tiap hari panggil-panggil Bu Lia, padahal Bu Lia sudah ada yang punya."
"Hush! Nanti kedengaran."
"Pak Navin kan tidak peduli soal begituan. Dia kan robot."
Dua tawa kecil terdengar, lalu suara sendok beradu dengan gelas. Navin berdiri diam dengan cangkir kopi yang mulai dingin di tangannya. Ada hal aneh yang terjadi pada tubuhnya: ia tidak merasakan kakinya, dan hanya ada gema samar dari kalimat kenapa pipinya merah. Ia teringat pipi merah itu, dan bertanya-tanya berapa kali ia sendiri membuatnya, tanpa pernah menyadari bahwa itu bukan karena malu, melainkan karena marah.
Ia meletakkan cangkir tanpa suara, berbalik, dan berjalan keluar dari pantry lewat pintu belakang. Seluruh langkahnya terkendali, tegak, tanpa emosi. Hanya ketika pintu ruangannya tertutup di belakangnya, ia berdiri kaku di depan meja dan menyadari tangannya sedikit gemetar.
"Dimas."
Asistennya muncul dari balik pintu samping seolah sudah menunggu. "Ya, Pak?"
"Apa hubungan Bastian dengan Ophelia?"
"Teman kecil, Pak. Seperti yang sudah saya laporkan."
"Ada rumor mereka akan bertunangan."
"Saya sudah dengar, Pak."
"Kamu sudah dengar?"
"Sejak Jumat. Tapi itu rumor." Dimas menekan kata terakhir dengan hati-hati. "Berdasarkan pengamatan saya, Pak, tidak ada bukti yang mendukungnya."
"Pengamatan seperti apa?"
"Saya mengamati mereka. Kadang. Tidak sengaja."
Navin menatapnya lama. "Kamu mengintai staf saya."
"Saya melakukan apa yang Bapak minta, Pak. Kalau Bapak ingin memastikan sesuatu secara langsung, saya bisa bertanya pada Ibu Ophelia."
"Jangan."
"Baik, Pak."
"Jangan bertanya. Jangan mengintai. Jangan menyebutnya lagi."
"Baik, Pak."
Dimas mundur ke pintu, tapi Navin memanggilnya lagi.
"Dimas."
"Ya, Pak?"
"Kalau seseorang... cincin. Toko emas. Itu berarti apa?"
Dimas menahan ekspresinya dengan susah payah. "Cincin bisa banyak arti, Pak. Untuk hadiah ibu, misalnya. Atau untuk keperluan lain."
"Keperluan lain."
"Ya, Pak."
"Keluar."
Pintu menutup. Navin duduk di kursi dan menatap dinding kaca. Di sana, di meja kelima dari kiri, Ophelia sedang menunduk membaca berkas dengan sebelah tangan menopang pipi. Sinar pagi jatuh di rambutnya. Ia tidak tahu apa yang sedang ia baca, tapi alisnya sedikit mengerut, dan Navin, tanpa sadar, ingin tahu apa yang membuat alis itu mengerut.
Dan di situlah ia menyadari sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Selama tiga minggu ia mengawasi perempuan itu dari balik kaca. Ia tahu jam ia datang, cara ia menggigit pipi bagian dalam ketika berpikir, bahwa ia minum kopi hitam tanpa gula dan menaruh stabilo kuning di saku kiri blazernya. Tapi ia tidak tahu hal-hal yang jauh lebih penting: apakah ia punya adik, film apa yang ia suka, apakah ia takut petir, apa yang membuatnya tertawa sampai menangis.
Ia tidak tahu, apakah perempuan itu punya seseorang yang ia cintai. Dan yang paling mengganggunya, ia tidak punya hak untuk bertanya.
Ponselnya berdering di meja. Ibu.
Ia mengangkat dengan suara datar. "Ya, Ma."
"Navin! Akhirnya. Ibu sudah telepon lima kali." Suara ibunya, seperti biasa, menembus ruangan meski tanpa pengeras suara. "Kamu di Bandung sampai kapan? Ibu sudah atur makan malam Sabtu. Putri Pak Hartanto, Nadya. Dia baru pulang dari Inggris. Cantik sekali, pintar, keluarganya sangat baik."
"Saya tidak datang."
"Navin."
"Ma, saya sedang menangani krisis pasokan."
"Kamu bisa menyerahkannya pada orang lain."
"Tidak."
Ibunya menghela napas panjang. "Umur kamu dua puluh delapan, Nak. Sebentar lagi tiga puluh. Ayahmu sakit, dan Ibu ingin melihat kamu punya pendamping yang setara. Bukan sembarang orang. Ibu tidak mau kamu terlalu larut dalam pekerjaan sampai lupa."
"Saya tidak lupa."
"Atau jangan-jangan ada yang kamu sukai di sana?"
Ruangan itu mendadak sangat sunyi. Navin menatap kaca. Ophelia sedang mengangkat kepala, menoleh ke seorang pria tinggi berjaket denim yang menghampiri mejanya dengan dua cangkir kopi, dan tersenyum.
Senyum yang sama seperti yang dulu ia berikan kepada Sinta. Senyum yang tidak pernah untuknya.
"Tidak ada," jawab Navin.
"Bagus. Kalau begitu Sabtu, ya. Ibu kirim alamatnya lewat Dimas."
"Ma..."
Telepon sudah terputus. Ia meletakkan ponsel dengan pelan, hampir hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang bisa meledak.
Di luar, Ophelia dan pria itu tertawa. Tawa yang tidak terdengar dari balik kaca tebal, tapi bisa ia lihat dari cara bahu Ophelia bergetar.
Navin berdiri. Ia mengambil jasnya dari sandaran kursi.
"Dimas!"
Asistennya muncul lagi dalam tiga detik. "Ya, Pak?"
"Jam makan siang."
"Bapak biasanya makan siang di ruangan, Pak."
"Hari ini saya makan di kantin karyawan."
Dimas berkedip. Sekali, dua kali. "Kantin, Pak? Kantin karyawan di lantai dasar?"
"Ya."
"Yang kadang bau gorengan?"
"Dimas."
"Baik, Pak. Saya siapkan meja."
"Tidak perlu meja."
"Bapak tidak mau meja?"
"Saya akan duduk di mana saja yang kosong."
Dimas mundur pelan-pelan, dengan ekspresi orang yang baru diberi tahu bahwa matahari akan terbit dari barat. Di ambang pintu ia berhenti sekali lagi.
"Pak, boleh saya catat ini?"
"Catat apa?"
"'Untuk pertama kali dalam sejarah, Navin Sundara makan siang di kantin.'"
"Silakan," jawab Navin datar, dan untuk pertama kalinya, ia tidak menyembunyikan bahwa ia sudah terlalu lelah untuk menyangkal.
Di koridor, Dimas membuka tabletnya dan mengetik: Selasa: Bapak makan di kantin. Alasan: cemburu (belum diakui).