NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Di Antara Penyesalan, Batas yang Hancur, dan Keheningan

Hujan deras yang mengguyur Kota Jakarta sore itu perlahan surut, menyisakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang dan genangan air yang memantulkan temaram lampu jalan. Namun, dinginnya cuaca di luar sana sama sekali tidak sebanding dengan kebekuan yang melingkupi hati dua insan yang kini terpisah jarak.

Di dalam kamar berkursi kayu dengan jendela yang mengembun, Alee duduk bergeming di tepi ranjangnya. Rambutnya masih sedikit basah terkena lelehan air hujan saat menaiki angkot tadi, namun ia bahkan tidak berniat untuk mengeringkannya atau sekadar mengganti seragam abu-abu yang menempel di tubuhnya.

Alee menatap kedua telapak tangannya sendiri yang bergetar pelan. Di dalam benaknya, bayangan wajah Rama yang basah kuyup, menatapnya dengan pandangan memohon di bawah atap pos satpam tadi, terus berputar bagaikan kaset rusak yang menyiksa. Rasa sakit di dadanya begitu sesak, hingga bernapas pun terasa membutuhkan usaha yang sangat besar.

Ini benar-benar cobaan yang terlalu berat. Sebuah ujian yang datang tanpa peringatan, merobohkan seluruh pondasi kebahagiaan yang selama dua tahun ini mereka bangun bersama secara perlahan.

Bagi Alee, keputusannya untuk bersikap dingin dan mendorong Rama menjauh bukanlah sebuah aksi drama atau bentuk amarah biasa. Ini adalah titik di mana Alee merasa benar-benar kehilangan pegangan atas dirinya sendiri.

“Gue udah melewati batas...” bisik Alee dalam hati, diiringi setetes air mata yang kembali meluncur diam-diam membasahi pipinya yang kelesuan.

Selama ini, Alee menyadari bahwa batas antara dirinya dan Rama memang selalu samar. Mereka tidak pernah secara resmi mengikat hubungan dengan status "pacaran", namun perhatian Rama, rasa cemburu cowok itu, hingga ketergantungan emosional Alee pada sang Ketua Kelas telah melampaui batas wajar dari sekadar hubungan antar-teman. Alee merasa bahwa dirinya telah terlalu lancang memasuki ruang hidup Rama, terlalu serakah menikmati perlindungan cowok itu tanpa pernah sadar akan beban besar yang harus dipikul Rama demi menjaganya.

Kedekatannya yang tanpa batas itu kini dirasakannya sebagai sebuah dosa besar. Keberadaannya di samping Rama tidak lagi menghadirkan hangat, melainkan berubah menjadi racun yang menggerogoti fokus, ketenangan, dan bahkan impian besar cowok itu. Omongan Zikri semalam tentang bagaimana Rama harus menguras pikiran dan kehilangan tabungan akibat perhatiannya yang terpecah telah menjadi cermin besar yang menelanjangi rasa bersalah Alee.

Alee merasa keberadaannya adalah sebuah kesalahan. Dan satu-satunya cara untuk membetulkan kesalahan itu adalah dengan menarik diri sepenuhnya, meremukkan hatinya sendiri agar Rama bisa bernapas dan menata kembali masa depannya yang sempat terkoyak.

Di tempat lain, di sebuah kamar beraroma buku dan kertas yang biasanya rapi, suasana tak kalah mencekam.

Rama duduk di kursi belajarnya dengan tubuh yang sudah berganti pakaian kering. Namun, penampilannya masih jauh dari kata baik-baik saja. Rambutnya yang masih setengah basah berantakan, dan kaca matanya tergeletak begitu saja di atas meja. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, seorang Ramaditya cowok yang selalu dikenal memiliki perencanaan matang, logika yang tajam, dan solusi atas segala masalah di kelas benar-benar merasa lumpuh.

Ia menatap layar ponselnya yang redup. Nama "Alee" tertera di daftar kontak teratas, namun Rama tahu, menelepon atau mengirimi cewek itu ratusan pesan malam ini hanya akan makin merusak keadaan.

Rama mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa frustrasi melingkupi dadanya. Ia tidak tahu lagi bagaimana cara mengembalikan keadaan seperti semula.

Selama ini, logika Rama selalu bekerja dengan rumus yang jelas: jika ada masalah, cari akar penyebabnya, lalu selesaikan langkah demi langkah. Jika nilai kelas turun, buat jadwal belajar. Jika tugas menumpuk, bagi tugas dengan adil. Tetapi bagaimana cara menyelesaikan masalah ketika seseorang yang paling kamu sayangi mengunci rapat pintu hatinya karena merasa bersalah atas hal yang tidak dilakukannya? Bagaimana cara menyembuhkan luka orang yang memilih untuk membenci dirinya sendiri demi keselamatanmu?

Rama menyadari kesalahannya. Ia terlalu lama berlindung di balik kenyamanan tanpa status, terlalu takut mengambil risiko untuk jujur menyatakan perasaannya secara tegas, hingga akhirnya keputusasaan dan kecemburuannya meledak di waktu yang salah. Dan kini, ketika benteng pertahanan Alee telah tertutup rapat, Rama merasa semua logikanya mendadak tumpul tak berguna.

Setiap kali ia membayangkan mata Alee yang dingin dan tatapan kosongnya di lorong sekolah tadi, dada Rama terasa seperti dihantam balok kayu yang berat. Keadaan ini adalah labirin tanpa jalan keluar bagi Rama.

Sementara itu, tak jauh dari rumah Rama, Zikri duduk di teras rumahnya sambil menatap lurus ke arah kegelapan malam. Rokok di jemarinya yang menyala redup dibiarkannya terbakar hingga hampir menyentuh kulit tanpa diisap.

Zikri dipenuhi oleh perasaan campur aduk yang meremukkan nuraninya. Penyesalan itu datang menghantamnya seperti gelombang pasang. Ia sadar betul bahwa lidah dan emosinya semalam adalah pematik utama yang meledakkan seluruh kekacauan ini. Kata-kata kasar dan tuduhan impulsif yang ia lontarkan pada Alee saat panik melihat Rama menangis telah menjadi racun yang merusak segalanya.

Namun, di tengah rasa bersalah yang teramat sangat itu, Zikri justru membeku. Ia tidak bergerak untuk merubah keadaan.

Ada ketakutan mendalam yang menahan langkah Zikri. Ia takut jika ia mencoba campur tangan atau menjelaskan pada Alee bahwa omongannya semalam hanyalah emosi sesaat, Alee justru akan makin muak. Ia juga takut menghadapi Rama—sahabat terbaiknya—yang kini berada di titik terendah dalam hidupnya akibat perbuatannya sendiri. Zikri merasa bahwa setiap kali ia mencoba memperbaiki keadaan dengan caranya yang kasar, hal itu justru akan memperkeruh suasana.

Akhirnya, Zikri memilih untuk bungkam dan tidak bergerak. Ia membiarkan rasa bersalah itu menggerogoti dadanya sendiri dalam keheningan, memilih untuk menjadi penonton dari kehancuran hubungan dua orang sahabat yang sebenarnya sangat ia sayangi.

Keegoisan, ketakutan, dan rasa canggung membuat Zikri mematok kakinya di tempat, membiarkan jurang pemisah antara Alee dan Rama makin menganga lebar tanpa ada upaya untuk menjembataninya kembali.

Malam makin larut, dan hujan kembali turun dengan ritme yang lebih pelan, membawa ketukan halus pada kaca jendela kamar Alee.

Alee menarik selimutnya hingga ke dada, meringkuk seperti bola di sudut tempat tidur. Di tengah kegelapan kamar, ia akhirnya membiarkan dirinya menangis kembali kali ini tanpa suara, hanya helaan napas yang patah-patah dan rasa sesak yang tak kunjung reda.

Ia merindukan Rama. Sungguh, hatinya menjerit menginginkan suara tenang cowok itu, menginginkan omelan kecil Rama saat Alee lupa mengerjakan tugas, dan menginginkan kehangatan yang selalu dihadirkan cowok itu di setiap hari-harinya. Namun, rasa bersalah yang besar bertindak sebagai penjara yang sangat kokoh, melarang Alee untuk melangkah kembali ke pelukan Rama.

Bagi Alee dan Rama, malam ini bukanlah sekadar malam yang berlalu setelah pertengkaran biasa. Ini adalah permulaan dari cobaan terberat dalam hidup mereka sebuah ujian tentang kedewasaan, batasan rasa, dan bagaimana dua orang yang saling mencintai harus belajar mengatasi luka di saat keadaan memaksa mereka untuk berjalan sendiri-sendiri dalam kegelapan.

1
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!