Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sindiran di Meja Makan
Langkah kaki Eda terasa berat saat menyusuri gang menuju rumah kontrakannya. Sinar matahari sore khas Kota Solo menyengat tengkuknya yang tertutup jilbab. Di sepanjang jalan, pikiran Eda bercabang-cabang. Bayang-bayang tumpukan kertas soal ujian anak-anak kelas empat SD Harapan Bangsa berseliweran, beradu dengan pesan WhatsApp dari Rini yang tadi pagi membuat dadanya panas.
Begitu membuka pintu depan, aroma minyak kayu putih yang menyengat langsung menyambut hidungnya. Ibu Ratna sedang duduk selonjoran di atas karpet plastik yang gambarnya sudah banyak yang mengelupas. Tangan tua wanita itu sibuk memijat kakinya yang tampak agak bengkak di bagian pergelangan.
"Assalamu’alaikum, Ma," sapa Eda pelan sambil melepas sepatu pantofelnya di sudut pintu.
"Wa’alaikumsalam," jawab Ibu Ratna. Suaranya agak serak. Ia mendongak, menatap Eda dengan raut wajah yang kurang enak dipandang. "Sudah pulang kamu, Ed?"
"Sudah, Ma. Tadi ada rapat guru sebentar di sekolah," balas Eda seraya meletakkan tas kerjanya di atas meja. Ia melirik ke arah dapur, mendapati situasi rumah sunyi senyap. "Agus ke mana, Ma?"
"Keluar. Dari tadi siang cuma diam saja di kamar, terus pergi naik sepeda motor pas Asar. Enggak tau ke mana, paling ya nyari angin gara-gara pikirannya sumpek," sahut Ibu Ratna. Nada bicaranya menyimpan sindiran yang sangat halus, tapi Eda cukup peka untuk menangkap maksudnya.
Eda menghela napas panjang. Bagus, batinnya. Berarti aksi diam Agus dari pagi tadi masih berlanjut sampai detik ini.
Belum sempat Eda masuk ke kamar untuk berganti pakaian dinas, Rini keluar dari arah dapur membawa segelas air putih. Begitu melihat Eda, wanita itu menyunggingkan senyum yang terkesan dipaksakan.
"Eh, Mbak Eda sudah pulang," panggil Rini. Ia melangkah mendekati Ibu Ratna lalu duduk di samping ibu mertuanya. "Iki lho, Mbak... tadi si Bagas menangis pulang sekolah. Katanya malu sama temen-temennya gara-gara cuma dia sendiri di kelas yang belum beli buku LKS baru. Ibunya temen-temennya pada ngeliatin."
Eda menghentikan langkahnya di ambang pintu kamar. Ia membalikkan badan, menatap Rini lurus-lurus.
"Mbak Rini," suara Eda terdengar datar tapi tegas. "Tadi di sekolah kan aku sudah WhatsApp. Uang gajiku bulan ini benar-benar tidak ada sisa. Potongan gaji buat angsuran bank itu langsung dipotong otomatis dari dinas, belum lagi biaya listrik sama belanja dapur minggu lalu."
Rini memutar bibirnya, meletakkan gelas air minum di lantai dengan dentingan yang agak keras.
"Ya tapi kan Mbak Eda guru PPPK, ASN resmi. Masa iya uang dua ratus ribu saja tidak ada pegangan sama sekali?" cercah Rini dengan nada sewot. "Mas Doni kan lagi sepi tarikan mobil, Mbak. Harusnya sebagai tante ya dibantu sikit buat keponakan sendiri. Wong bukan buat siapa-siapa juga."
"Rini..." potong Ibu Ratna ikut bersuara, matanya melirik Eda dengan tatapan menuntut. "Sudah-sudah. Jangan bikin ramai. Tapi kamu juga, Ed... kalau ada rezeki ya ditolong dulu keponakanmu itu. Kasihan si Bagas kalau sampai tidak boleh ikut ulangan. Nanti Mama yang malu sama tetangga kalau cucu Mama tidak bisa sekolah gara-gara masalah uang."
Dada Eda serasa dihantam batu besar. Rasanya sesak sekali sampai ia sulit bernapas. Dua wanita di hadapannya ini bicara seolah-olah gajinya sebagai guru adalah mata air yang tidak akan pernah kering. Mereka tidak mau tahu bagaimana rasanya Eda harus memutar otak, menahan lapar saat jam istirahat sekolah, dan meremas jemarinya sendiri saat melihat saldo rekeningnya yang selalu tersisa dua digit di pertengahan bulan.
"Ma," kata Eda, suaranya gemetar menahan emosi yang sudah menumpuk di ubun-ubun. "Eda ini bukan tidak mau bantu. Tapi memang uangnya tidak ada! Selama lima belas tahun ini, siapa yang bayar cicilan utang keluarga? Siapa yang belikan obat Mama tiap bulan? Eda, Ma! Mas Doni itu laki-laki, dia kepala rumah tangga. Masa untuk buku anak sendiri selalu Eda yang disuruh tanggung jawab?"
Seketika suasana ruang tamu jadi hening mencekik. Ibu Ratna melotot tidak percaya mendengar anak perempuannya yang biasa penurut kini berani menjawab dengan nada tinggi.
"Oalah... dapet gaji PPPK sedikit saja suaramu sudah berani meninggi ya, Ed?!" sahut Ibu Ratna dengan nada terluka yang dibuat-buat. "Lupa kamu siapa yang membesarkan kamu? Masa sama saudaramu sendiri hitung-hitungan begitu!"
"Sudah, Ma, tidak usah dilayani," timpal Rini sambil mengelus pundak ibu mertuanya, menyiram minyak ke dalam api. "Mbak Eda kan sekarang sudah jadi orang sukses di SD Harapan Bangsa. Mana mau lagi memikirkan keluarga yang susah."
Eda mengepalkan tangannya rapat-rapat sampai kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Ia tidak membalas lagi. Percuma. Bicara dengan orang yang selalu merasa paling benar dan selalu memosisikan diri sebagai korban hanya akan menguras sisa energinya.
Eda memutar badan, masuk ke kamarnya, lalu menutup pintu rapat-rapat.
Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur busa yang tipis itu. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes juga membasahi bantal leceknya. Dalam kegelapan kamar yang pengap, Eda memeluk dirinya sendiri. Rumah ini bukan lagi tempat untuk pulang dan beristirahat, melainkan penjara dingin yang perlahan-lahan menggerogoti jiwanya sampai habis.