Alina adalah seorang mahasiswa semester akhir yang tiba-tiba dijodohkan dengan anak sahabat orang tua nya yang merupakan dosen di tempatnya menimbah ilmu.
Sayangnya Farhan sudah memiliki kekasih yang sangat ia cintai.
Suatu hari Alina tidak sengaja melihat Farhan dan kekasihnya melakukan sesuatu hal yang menjijikan.
Bagaimana reaksi Alina saat tau laki-laki yang akan menjadi suaminya adalah orang yang sangat dia benci.
Ikuti cerita dari Mengejar Kesempatan ke dua setelah perceraian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Azka terkejut melihat Farhan keluar dari mobil.
"Pak Farhan? Kenapa bapak ada di depan rumah Alina?." dengan spontan Azka mengeluarkan pertanyaan.
"Saya ada perlu." jawab Farhan dengan tenang.
"Dengan siapa? Orang tua Alina? Alina?." lagi-lagi Azka bertanya.
"Dengan Alina." menurut Farhan jawabannya tidak ada yang aneh tapi bagi Azka itu terasa sedikit Janggal, kalau Alina? Jangan ditanya dia ingin menghindari muka bumi.
"Ada urusan apa bapak dengan Alina sampai harus bertemu di rumah?." Azka ingin mendapatkan jawaban yang menurut nya memuaskan,tapi bagi Farhan Azka terlalu ingin tahu.
Akhirnya Alina buka suara.
"Pak Farhan mau bahas masalah skripsi,iya kan pak?." Alina memberikan kode agar Farhan mengangguk.
Farhan melihat Alina yang berbohong.
"Iya,saya kesini karena ada beberapa bab yang harus di perbaiki." wajah tenang Farhan tidak memancarkan kebohongan sama sekali.
"Skripsi? Di rumah? Sejak kapan bapak bermurah hati sampai mendatangi rumah seorang mahasiswi?." Rasa curiga Azka semakin besar.
"Kak Azka kayak nya udah malam, aku juga mau revisi skripsi." Alina tidak berniat mengusir tapi melihat Azka yang mengeluarkan banyak pertanyaan untuk Farhan membuat Alina merasa tidak enak.
Akhirnya Azka menyadari jika dia terlalu curiga.
"Kalau gitu kakak pulang dulu, kalau ada apa-apa kamu langsung telpon aja ya." mendengar ucapan Azka Alina mengangguk.
Sebelum pergi Azka mengelus rambut Alina, kebiasaan yang sudah dia lakukan selama ini sebelum berpisah dengan Alina.
Azka akhirnya meninggalkan rumah Alina, meskipun hatinya diliputi keresahan tapi dia percaya kepada Alina.
Setelah kepergian Azka, Alina langsung menarik nafas panjang menandakan jika dia merasa lega.
Farhan melihat kelakuan Alina menjadi penasaran akan satu hal.
"Dia pacar kamu?." tanya Farhan.
Alina yang sedang bersandar di mobil Farhan langsung terkejut mendengar pertanyaan spontan itu keluar dari mulut Farhan.
"Hah?." saking terkejutnya hanya itu yang Alina katakan.
"ada yang salah dari pertanyaan saya?." melihat respon Alina, Farhan menjadi bingung.
"Kenapa bapak bisa menyimpulkan kalau kak Azka pacar saya?." bukannya menjawab Alina malah melontarkan pertanyaan balik.
"Saya cuma menebak saja." ucap Farhan.
"Kak Azka bukan pacar saya, tapi sahabat saya." dengan bangga Alina memperkenalkan Azka sebagai sahabatnya.
"Sahabat? Mana ada laki-laki dan perempuan bersahabat." dari nada bicara Farhan terselip nada yang terdengar seperti ejekan.
"Ada. Buktinya saya." Farhan tidak membalas ucapan Alina dengan kalimat tapi dengan senyuman kecil yang membuat Alina jengkel.
"Terserah kalau bapak tidak percaya." Dengan kesal Alina membuka gerbang rumah nya.
"Bapak mau masuk atau tidak? Kalau tidak saya tutup gerbangnya." dari nada bicara Alina dapat disimpulkan jika dia sedang kesal.
"Itu mempersilahkan masuk atau mengusir?." melihat kekesalan Alina, terasa sedikit menyenangkan bagi Farhan.
"Pikir aja sendiri. Awas." Alina menyalakan motornya melewati Farhan yang masih menahan tawanya.
Kemudian Farhan mengikuti Alina dari belakang.
Alina membuka pintu rumahnya. Alina mempersilahkan Farhan untuk duduk.
"Silahkan duduk, bapak mau minum apa?." Tanya Alina.
"Tidak perlu, saya takut kamu memasukkan racun kedalam minuman saya." seperti tidak ada puasanya, Farhan kembali menganggu Alina.
"Apa maksud bapak, enak aja main tuduh." Alina menjawab dengan kesal.
"Saya tidak menuduh tapi berjaga-jaga." saut Farhan.
"Yaudah kalau ga mau minum." Alina pergi ke dapur, meskipun Farhan menyebalkan tapi Alina tetap membuatkan minum.
Setelah Alina meninggalkan Farhan,dia melihat interior rumah Alina yang terlihat sangat rapi. Rumah yang terasa sangat hangat didalamnya karena beberapa ornamen membuat siapapun tau jika penghuni rumah ini sangat harmonis, apalagi saat Farhan melihat foto Alina bersama orang tuannya. Tawa lepas yang tidak dibuat-buat menambah kesan 'cemara'.
Farhan menjadi paham kenapa Alina bisa membuat keputusan yang terbilang ekstrim dengan melakukan pernikahan dadakan ini.
Saat sedang melihat sekeliling rumah,ponsel Farhan berdering, dia melihat nama Renata tertera disana, senyumnya langsung merekah.
"halo sayang,ada apa?." Farhan bertanya dengan nada lembut.
"Aku lagi belanja buat makan malam. Kamu mau dimasakkan apa?."
"Apa aja,semua yang kamu masak aku suka."
"Selalu aja ini jawabannya, sekali-kali kamu request mau makan apa."
"Makan kamu aja." Farhan menjawab dengan nada menggoda.
"Farhan kamu jangan aneh-aneh,aku lagi ditempat umum." Renata berkata sambil berbisik.
Melihat itu tawa Farhan tidak dapat di tahan. Alina yang hendak memberikan secangkir teh untuk Farhan berhenti sejenak melihat Farhan sedang melakukan telpon dan dia tau jika itu adalah Renata, dari perkataan Farhan yang menurut Alina terdengar 'mesum' membuat Alina merasa jijik dengan Farhan.
Setelah Farhan mematikan teleponnya barulah Alina mendekat.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun Alina langsung meletakkan teh tersebut di depan Farhan.
Farhan sendiri tidak mengira jika Alina akan menyuguhkan minum untuk nya karena dia pikir Alina merasa kesal, rupanya dia salah mengira.
Kemudian Alina duduk dihadapan Farhan. Mereka berdua diliputi rasa canggung, untuk beberapa detik hanya keheningan yang ada.
Akhirnya Farhan membuka suara.
"Kenapa kamu berbohong?."
"Berbohong terkait apa?." Alina merasa dia tidak melakukan kebohongan.
"Masalah skripsi tadi." Akhirnya Alina paham apa yang dimaksud Farhan.
"Saya tidak berbohong, beberapa saat lalu Bu Renata memberikan rekomendasi saya untuk melakukan bimbingan kepada bapak." Alina menekan nama Renata pada ucapan nya.
"Renata? Kenapa?." Farhan merasa bingung karena Renata tidak membicarakan hal ini dengannya.
"Kalau bapak tidak percaya bisa langsung tanya aja, menurut Bu Renata saya memilih tipe metode penelitian yang sama dengan bapak." Alina mengatakan sesuai apa yang dikatakan oleh Renata.
"Kalau saya menolak untuk melakukan bimbingan dengan kamu?." Farhan ingin tau seberapa jauh keberanian Alina.
"Ya saya tinggal bilang ke Bu Renata kalau bapak menolak dengan alasan yang tidak jelas." Alina tersenyum tapi lebih ke arah pengancaman.
Farhan melihat hal tersebut,dia tidak ingin melibatkan Renata kedalam situasi yang ada dia dan Alina didalamnya, akhirnya mau tidak mau Farhan menyetujui untuk menjadi dosen pembimbing Alina.
"Baiklah kalau begitu,kamu bisa kirim proposal kamu. Selain itu ada beberapa aturan yang harus kamu lakukan selama masa bimbingan dengan saya. Saya juga tidak akan memberikan kelonggaran hanya kerena kamu istri saya." Kalimat istri saya terlontar begitu saja dari mulut Farhan.
Mereka menyadari perkataan Farhan.
"Kalau bisa jangan menyebut kata itu pak,saya takut ada yang mendengar." Farhan paham apa yang dimaksud Alina.
"Maaf saya hanya spontan mengatakannya,mulai sekarang saya akan berhati-hati." Alina mengangguk.
"Bapak tidak perlu merasa terbebani dengan pernikahan ini, bapak bisa melanjutkan hidup bapak seperti biasa, setelah ayah sembuh kita akan mengakhiri pernikahan ini." Alina tidak ingin membuat keterikatan dengan Farhan.
"Baiklah." Farhan menyetujui apa yang Alina katakan, karena dia juga ingin menjaga hubungannya dengan Renata.