NovelToon NovelToon
Antara Sunyi Dan Riuh

Antara Sunyi Dan Riuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Keluarga & Kasih Sayang / Persahabatan / Romansa
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: winda Whyn

Bagi Kirana Putri, rumah megah milik Orang tuanya adalah museum kaku yang sunyi. Hidup di bawah bayang-bayang prestasi kakaknya, Kanaya, membuat Kirana harus selalu tampil sempurna dan pendiam. Satu-satunya tempat ia bisa menjadi gadis riuh penuh tawa adalah saat bersama ketiga sahabatnya di sekolah.
Dunia sunyi Kirana mendadak terusik oleh kehadiran Keenan Abimara, si genius rebel dari kelas MIPA-1. Berbeda total dengan Kirana, Keenan hidup di tengah keluarga kaya yang super santai bersama Ayah Abimara dan Ibu Karina. Meski hobi melanggar aturan sekolah bersama geng cowoknya, Keenan perlahan membawa warna baru yang hangat ke hidup Kirana lewat perhatian kecil dan investasi susu cokelatnya.
Namun, kedekatan dua juara umum ini memicu badai gosip anonim di mading sekolah yang menuduh Keenan mendekati Kirana hanya demi taruhan murahan dua minggu. Diuji oleh aturan kaku rumah dan kepercayaan yang goyah, mereka harus bekerja sama membongkar kebenaran lewat rekaman CCTV sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda Whyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Obrolan diperpustakaan

Aroma khas kertas tua, kayu lemari yang kokoh, dan sejuknya pendingin ruangan menyambut Kirana saat dia mendorong pintu kaca perpustakaan SMA Nusa Bangsa. Suasana di dalam sini sangat tenang, hanya diisi oleh suara helaan napas beberapa siswa yang sedang membaca atau ketukan pelan jari di atas keyboard komputer sekolah.

Berkat dispensasi khusus dari Bu Endang untuk karantina bimbingan awal persiapan seleksi tingkat kota, Kirana (MIPA-2) dan Keenan (MIPA-1) dibebaskan dari dua jam pelajaran pertama kelas reguler sepanjang minggu ini. Mereka ditempatkan di meja pojok yang agak tersembunyi di balik rak buku referensi tebal—sebuah tempat yang mendadak terasa seperti dunia kecil milik mereka berdua untuk memulai langkah pertama kompetisi.

Kirana meletakkan tasnya, mengeluarkan buku catatan bergaris rapi dan deretan highlighter warna-warni. Belum sempat dia duduk tegap, sebuah keriuhan kasual langsung bergeser di sebelahnya.

"Pagi, Tuan Putri. Udah siap otaknya diperas pakai materi dasar mekanika hari ini?" sapa Keenan dengan cengiran bandel andalannya yang tidak pernah absen.

Cowok itu duduk dengan gaya santai, menyampirkan jaket denimnya di sandaran kursi kayu. Anehnya, alih-alih membawa tas tebal seperti Kirana, Keenan hanya membawa satu buah buku tulis yang digulung dan sebuah kotak pensil kecil. Namun, Kirana tahu betul di dalam kepala acak-acakan cowok itu, tersimpan kapasitas otak yang sanggup melibas materi seleksi tingkat kota dengan sangat mudah.

"Pagi, Keenan. Gue gak mau ya di bimbingan awal ini lo malah tidur atau mainan penggaris besi kayak kemarin di tempat les," tegor Kirana dengan nada mendikte, mencoba memasang mode belajar yang serius.

"Beres. Hari ini gue bakal jadi partner belajar yang paling penurut," kilat Keenan, tangannya bergerak membuka lembar soal latihan materi pertama dari Bu Endang.

Selama dua jam pertama, perpustakaan itu benar-benar menjadi saksi bisu awal mula kerja sama mereka. Mereka adalah kombinasi yang sangat luar biasa. Kirana dengan ketelitiannya yang luar biasa, menata setiap langkah penyelesaian rumus dengan rapi dan runtut. Sementara Keenan dengan kecepatan berpikirnya yang tak terduga, sering kali menemukan jalan pintas logis yang memotong setengah waktu pengerjaan soal rumit. Saling melengkapi, saling beradu argumen dengan cerdas, dan sesekali tertawa kecil tertahan agar tidak ditegor oleh petugas perpustakaan yang bermata elang.

Memasuki jam istirahat siang, suasana perpustakaan semakin sepi karena sebagian besar siswa memilih berhamburan ke kantin. Kirana meregangkan jari-jarinya yang mulai kaku karena terus menulis sejak pagi. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, mengembus napas panjang.

Keenan melirik ke arah Kirana, lalu diam-diam merogoh kantong jaket denimnya. Dengan gerakan cepat yang jail, dia menjatuhkan sekotak susu cokelat kecil dingin tepat di atas buku catatan Kirana.

"Investasi harian. Biar senyum lo gak hilang karena kebanyakan mikirin gaya gesek," bisik Keenan dengan kerlingan mata yang sangat manis.

Kirana menatap kotak susu cokelat itu, lalu beralih menatap Keenan yang sedang menopang dagunya dengan satu tangan, memandanginya lekat-lekat dari jarak dekat. Debaran jantung Kirana mendadak riuh, jauh lebih berisik daripada keheningan ruang perpustakaan ini. Sisi dirinya yang biasanya menahan diri di rumah kaku Ayah Baskara, kini merasa sangat bebas di bawah tatapan hangat Keenan.

"Makasih ya, Keenan. Lo gak bosen apa ngasih gue susu cokelat terus?" tanya Kirana dengan senyuman tipis yang manis, menusukkan sedotan plastik ke kotak susu tersebut.

"Enggak akan bosen. Kan udah dibilang pas kita di tempat les kemarin, cowok keluarga Abimara itu gigih kalau udah punya tujuan," jawab Keenan santai, namun ada nada keseriusan ganjil dalam suaranya yang membuat pipi Kirana mendadak terasa panas.

Untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya, Kirana buru-buru memalingkan wajah ke arah jendela besar di samping meja mereka. Dari kaca jendela yang menghadap ke arah koridor luar, dia bisa melihat Raina, Alya, dan Windy sedang berjalan bersama menuju kantin sambil tertawa heboh. Melihat para sahabatnya dari kejauhan membuat Kirana tersum hangat.

"Mereka seru banget ya," gumam Kirana tanpa sadar.

Keenan ikut menoleh ke luar jendela, memperhatikan geng perempuan. "Sahabat-sahabat lo itu keren, Kir. Kemarin pas gosip mading itu meledak, mereka yang paling depan pasang badan buat lo. Dan lo tahu gak? Si Danu sama Romeo sebenarnya kagum banget sama kekompakan geng lo."

"Gue beruntung banget punya mereka," bisik Kirana tulus. "Di saat rumah gue selalu kerasa sunyi dan penuh tekanan karena ekspektasi Ibu Saraswati, mereka itu... satu-satunya tempat gue bisa ngerasa riuh dan hidup."

Keenan memutar tubuhnya kembali menghadap Kirana. Wajah jailnya menghilang, digantikan oleh tatapan mata yang dipenuhi rasa empati yang dalam dan ketulusan mutlak. Dia mengulurkan tangannya di atas meja, ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya dengan sangat lembut meletakkan telapak tangan hangatnya di atas punggung tangan Kirana yang sedang memegang kotak susu.

Sentuhan kecil itu instan membuat Kirana tertegun, menatap jemari panjang Keenan yang kini mendekap tangannya dengan protektif.

"Sekarang... lo gak cuma punya mereka, Kir," bisik Keenan lembut, suaranya rendah namun bergetar penuh keyakinan. "Lo juga punya gue. Punya keriuhan gue, punya anak-anak geng cowok yang bakal selalu ada di belakang lo. Rumah lo boleh sunyi, tapi di luar sini, gue janji bakal selalu jaga keriuhan indah lo biar gak pernah redup lagi."

Kirana menatap mata Keenan dalam-dalam. Di sudut perpustakaan yang sepi itu, di antara tumpukan buku-buku bimbingan awal yang kaku, Kirana merasakan sekat pertahanan hatinya benar-benar runtuh seutuhnya. Kalimat Keenan bukan sekadar gombalan remaja biasa; itu adalah sebuah janji pelindung yang sangat dia butuhkan. Kirana tidak menarik tangannya. Dia membiarkan jemari hangat Keenan terus mendekapnya, menyalurkan energi keriuhan yang perlahan-lahan mulai memenuhi seluruh ruang kosong di hatinya.

Sore harinya, saat bel pulang berbunyi dan karantina bimbingan hari pertama selesai, Kirana melangkah keluar perpustakaan dengan perasaan yang jauh berbeda. Ujian seleksi tingkat kota beberapa bulan lagi mungkin akan terasa berat, dan tekanan di meja makan Ayah Baskara nanti malam pasti masih menunggunya dalam sunyi. Namun, dengan kotak susu cokelat kosong di tasnya, kehangatan jemari Keenan yang masih membekas di kulitnya, serta lambaian tangan heboh dari Raina cs yang sudah menunggunya di depan gerbang, Kirana tahu—dunia riuhnya kini telah menjadi jauh lebih kokoh,

1
winda Whyn
siap terimakasih kak... ayo kita saling membantu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!