Lusia Irene seorang dokter yang sedang sekolah spesialis onkologi di salah satu rumah sakit polisi. Karena dokter pembinanya adalah seorang polisi. Di usianya yang sudah dua puluh tujuh tahun Lusia belum perna membuka hatinya buat hadirnya seorang laki - laki. Karena traumanya atas rumah tangga orangtuanya yang berpisah karena adanya orang ketiga. Papanya berselingkuh di usianya sudah enam belas tahun. Apakah Lusia Irene bisa merasakan cinta hadir di kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resmi Dilamar
Gio sudah menyampaikan rencananya kepada kedua orangtuanya. Dan rencana keluarga Gio akan ke Papua untuk melamar Lusi di orangtuanya. Lusi sudah berada di Papua di kota kelahirannya. Yang jaraknya, jauh dari kota tempat konflik kemarin.
"Mama beritahu papa kamu ya sayang."
"Iren ngak mau ma." di kota dia dilahirkan dan dibesarkan, dokter Lusia Irene biasa di panggil dengan nama Iren. Di Jakarta baru dia dipanggil dengan nama Lusi.
"Tetapi itu papa kandungmu. Walaupun dia berbuat salah, dia tetap papa kandungmu. Kecuali kalau dia sudah meninggal baru kita tidak usah memberitahukannya."
Papanya Iren setahun sejak berpisah dari mamanya. Akhirnya menikah lagi dengan mantan pacarnya itu. Seorang janda juga. Yang selama ini menjadi pelakor dalam rumah tangga mamanya. Semenjak itu Iren menutup komunikasi dengan papanya. Meskipun om - om dan tante - tante dari papanya selalu menasehatkan dia bahwa biar bagaimana pun perbuatan papanya dia itu tetap papa kamu. Bahkan mereka sampai mengutuk Iren untuk tidak sukses.
Saat iren mau menikah dengan Gio Abraham, dia sangat tidak menginginkan papanya ada bersama dia. Akibat luka yang papanya tinggalkan. Seharusnya papanya bisa membela mamanya didepan saudara - saudaranya, bukan membiarkan mamanya di pojokan. Karena mama yang mengajukan perceraian. Sampai dia dan mamanya keluar dari rumah yang lima belas tahun dia tumbuh dan dibesarkan. Dalam perceraian mama juga tidak menuntut harta gono gini. Puji Tuhan, mama di tolong dengan om Pede teman mama. Sehingga mama bisa punya usaha yang sampai sekarang usahanya berkembang dan sukses.
AKP Gio Abraham begitu tahu orangtua Lusi kekasihnya tinggal di mana, dia langsung menghubungi kesatuannya di sana. Keluarga Gio sudah datang dengan pesawat jet pribadi mereka. Dalam pesawat itu ada papi, mami, kakaknya Rahel dengan suaminya dokter Roland Lemo dan si kecil Kellen juga Dion asisten Gio. Mereka menginap di sebuah hotel mewah yang ada di kota ini.
Rumah kediaman Lusi sudah ada tante - tantenya bersama keluarga mereka, juga papanya bersama dengan saudara - saudaranya. Atas nasehat mamanya Lusi mengijinkan papanya ada dalam acara lamaran ini. Acara lamaran ini di atur oleh keluarga mama Wiske Nope perempuan asli Dili Timor - timor. Papanya Lusi adalah laki - laki asli Makassar dengan marga Pong. Jadi Lusi Irene perempuan beradah Makassar Dilli.
Tenda sudah terpasang di rumah Iren. Istri papanya tidak ikut hadir, informasi yang Iren terima papanya tidak mengijinkan untuk ada disana, karena dia tidak mau Iren putrinya kecewa.
Keluarga Abraham sudah datang, Gio dan Lusia Irene mengunakan baju dengan motif batik yang sama. Gio di bantu oleh letting brimob serta komandan brimob dikota ini datang melamar dokter Lusia Irene Pong, Sp. (B) K Onk selama ini tidak banyak yang tahu marganya. Bahkan Gio kekasihnya baru tahu, ketika Mereka pulang dari daerah konflik. Saat itu Lusi baru menceritakan semua tentang keluarganya.
Orang - orang besar kepolisian hadir, komandan Brimob dan Polres ada dalam rombongan keluarga besar Abraham. Karena perwira terbaik mereka sedang melamar calon istrinya. Acara yang berlangsung secara kekeluargaan. Keluarga Abraham datang membawa seserahan. Selain itu kalung berlian dan gelang berlian pasangan cincin yang sudah dikenakan Gio di Tangan kanan kekasihnya juga di pasangkan di tubuh Lusi oleh maminya Gio dokter Hany sedangkan mama Wiske Nope memasangkan cincin di tangan Gio.
Rencananya Gio dan Lusi akan menikah di Bali bulan depan. Gio dan Lusi sudah mempersiapkannya dibantu oleh Dion asisten Gio. Tidak di publikasi, karena Gio adalah seorang intel. Jadi undangannya hanya terbatas. Tetapi semua prosedur pernikahan dari nikah dinas, pemberkatan sampai resepsi serta acara pedang poranya tetap berlangsung. Besoknya orang tua Gio bersama kakaknya kembali ke Jakarta Gio dan Lusi mengantar.
Tidak banyak yang tahu bahwa Lusi sudah di lamar oleh seorang perwira kepolisian dari kesatuan Brimob, dia adalah komandan intelejen Brimob AKP Gio Abraham. Gio masih punya waktu tiga hari untuk mengenal keluarga Lusi. Saat ini Gio tinggal di rumah Lusi.
"Kalau Lusi tidak di rumah mama sendiri."
"Kalau Iren tidak ada, mama biasa di temani dengan keponakan mama."
"Sayang, kamu di panggil Iren."
"Iya nama panggilan sayang mama."
"Ma, di Jakarta saja sama Iren dan Gio."
"Usaha mama gimana. Ini hiburan mama. Nanti kalau kamu dan Iren punya anak baru mama ke sana."
Sebelum balik ke Jakarta, Gio dan Lusi pamit ke papanya. Sebenarnya Lusi ngak mau di ajak kesana. Namun kekasihnya, tunangannya memaksanya untuk kesana.
"Sayang, dia papa kamu loh."
"Dia punya kelakukan yang membuat saya binggung, laki - laki seperti apa yang akan aku pilih menjadi suamiku nanti."
"Sayang, laki - laki seperti aku yang cocok jadi suamimu."
Gio melihat bahwa papanya Lusi dan kekasihnya sangat menjaga image mereka.
"Papa akan hadir di nikahan kami."
"Papa belum tentu bisa hadir. Karena Irene kan ngak suka sama papa."
"Terima kasih ya pa, sudah sadar. Tetapi lebih baik begitu." Suara Lusi begitu pelan, agar apa yang dia ucapkan tidak di dengar oleh orang lain.Terlihat muka sinis mama sambung Lusi.
"Tetapi......"
"Papa akan merestui kalian."
"Terima kasih ya pa."
"Bisa kualat kamu Iren begitui papa kamu."
"Maksud tante."
"Sayang......" Gio coba menenangkan calon istrinya.
"Ma, sudah kamu ngak punya hak ngomong begitu buat anakku."
"Bela terus......"
"Tante ngak suka."
"Saya ini istri sah papa kamu. Kami sudah menikah."
"Catatan sipil kan. Gereja tidak mengakui Pernikahan tante dengan papakan. Tuhan hanya tahu mamaku Wiske Nope perempuan Dili itu istri sahnya."
"Nak, papa mohon maaf. Ini kesalahan terbesar papa, membuat kamu kecewa."
"Papa ingat, bagaimana mama dan aku keluar dari rumah ini. Rumah dimana aku dilahirkan dan dibesarkan." Gio sudah memeluk kekasihnya itu. Terlihat papanya Lusi hanya bisa menangis. Gio merasa bersalah datang pamit kerumah papanya.
"Maafkan mas sayang."
"Sekarang mas sudah tahu bagaimana sakit hatiku kan. Penghianatan papa itu sampai kapan pun tidak akan aku maafkan."