Aku membencinya begitu aku tahu dia seorang janda! Tapi, seiring berjalannya waktu, dia mengubah kebencian itu jadi cinta yang luar biasa. Saat cinta hadir ditengah-tengah kami. Suami pertama nya yang kata nya hangus terbakar saat kecelakaan dulu, kembali dengan sehat walafiat. Yang paling membuat dada ku sakit, ternyata selama ini dia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sanayaa Irany, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Layar ponsel Gea yang diletakkan di pangkuannya mendadak menyala terang, disusul deretan nada dering dan notifikasi pesan yang masuk tanpa henti. Manajernya, akun-akun gosip, hingga rekan sesama selebritas bertubi-tubi mengirimkan tangkapan layar berita panas yang baru saja terbit.
"Arya... lihat ini..." bisik Gea dengan suara gemetar yang dibuat seolah memendam keputusasaan mendalam. Ia menyodorkan ponselnya yang memperlihatkan foto mereka di lantai restoran dengan headline panas. "Beritanya sudah menyebar ke mana-mana! Semuanya menuduh kita melakukan hal tak senonoh... Bagaimana ini, Arya? Karir yang aku bangun bertahun-tahun... hancur dalam sekejap!"
Gea kembali menutup wajahnya, terisak makin keras hingga tubuhnya berguncang.
"Tenang, Gea. Aku akan minta tim humas dan tim hukum BRTV untuk menurunkan berita itu sekarang juga. Ini cuma salah paham!" tegas Arya seraya menepi di bahu jalan yang agak lengang.
Dengan tangan yang makin dingin oleh desakan situasi, Arya menekan tombol panggilan cepat ke kepala tim hukum BRTV, Pak Gunawan. Panggilan langsung terhubung pada dering pertama.
"Pak Gunawan! Saya mau tim hukum bergerak detik ini juga. Take down seluruh artikel dan foto dari restoran tadi! Itu murni kecelakaan, baju Gea tersobek karena pelayan dan saya hanya menolongnya!" cecar Arya tanpa basa-basi.
Dari seberang telepon, hela napas berat Pak Gunawan terdengar cukup jelas.
["Mohon maaf, Pak Arya. Berita ini berkembang terlalu cepat. Bukan cuma satu atau dua media kecil yang memuatnya, tapi portal berita nasional dan jaringan stasiun TV saingan sudah menjadikannya headline utama. Klip videonya bahkan sudah viral di media sosial,"] papar Pak Gunawan dengan nada tertekan.
"Lalu apa gunanya tim hukum kalau tidak bisa meredam berita tak berdasar seperti ini?!" bentak Arya, mengusap kasar wajahnya.
["Jika kita menuntut atau memblokir media secara paksa sekarang, publik justru akan menganggap BRTV sedang melakukan pembungkaman atas tindakan asusila. Reputasi perusahaan dan harga saham keluarga Bratadikara bisa merosot tajam esok pagi saat bursa dibuka,"] jelas Pak Gunawan lugas. ["Satu-satunya langkah konkrit untuk menyelamatkan reputasi Anda, Nona Gea, dan nama besar Bratadikara... adalah dengan memberikan narasi pertanggungjawaban."]
Arya mengerutkan keningnya rapat-rapat. "Maksud Pak Gunawan?"
["Nyatakan kepada publik bahwa Anda dan Nona Gea memang menjalin hubungan serius dan akan segera meresmikan pernikahan dalam waktu dekat. Dengan mengumumkan rencana pernikahan, narasi 'skandal asusila' otomatis runtuh dan berubah menjadi iktikad baik seorang pria yang bertanggung jawab melindungi kehormatan kekasihnya."]
Arya bungkam seketika. Cengkeramannya pada ponsel melonggar.
Menikahi Gea?
Kepalanya terasa berdenyut hebat. Bukankah ini yang selama ini ia inginkan? Menikahi Gea, wanita yang ia cintai dan anggap pantas bersanding dengannya? Selama ini penghalangnya hanyalah restu dari Ibunya dan status pernikahan siri di atas kertas dengan Gendis. Namun dengan adanya skandal besar ini, Ibunya tidak akan punya celah lagi untuk menolak Gea tanpa mengorbankan nama baik keluarga Bratadikara.
Arya melirik ke arah Gea yang masih meringkuk ketakutan dengan sisa air mata di pipinya. Rasa kasihan dan dorongan ego laki-lakinya makin membakar keyakinan Arya.
Toh, aku memang mencintai Gea. Untuk apa lagi aku ragu? pikir Arya dalam hati, mencoba membenarkan keputusan spontannya.
"Baik, Pak Gunawan," putus Arya dengan napas berat. "Siapkan draf pernyataan resminya. Katakan bahwa saya dan Gea akan menggelar konferensi pers untuk mengumumkan pernikahan kami dalam waktu dekat."
Panggilan terputus. Arya menghela napas panjang, lalu menoleh menatap Gea dengan tatapan mantap.
"Kamu dengar kan, Gea? Kamu nggak usah takut lagi. Aku akan bertanggung jawab penuh. Kita akan menikah secara resmi," ucap Arya mantap.
Gea perlahan mengangkat wajahnya. Di balik sisa-sisa isak tangisnya yang perlahan mereda, sebuah kilatan kepuasan tak tertahankan berbinar di matanya. Perangkapnya berhasil total.
Setelah mengantarkan Gea pulang ke Apartemen nya, Mobil yang dikendarai Arya akhirnya berhenti di pelataran rumah utama Bratadikara, bukan rumah pribadinya melainkan rumah Ibunya. Lampu ruang tamu masih menyala terang benderang meski waktu sudah menunjukkan larut malam. Arya tahu betul, badai besar sudah menunggunya di balik pintu itu.
Begitu Arya melangkah masuk, suara dentingan cangkir yang diletakkan kasar di atas meja kaca menyambutnya. Bu Sonya berdiri seketika dari sofa, matanya memancarkan kemarahan luar biasa. Di meja, layar televisi memperlihatkan tayangan berita hiburan yang terus diulang-ulang—menampilkan foto Arya dan Gea di lantai restoran.
"Arya! Apa-apaan semua berita murahan ini?!" bentak Bu Sonya dengan suara bergetar menahan amarah. "Kamu benar-benar sudah hilang akal?!"
Arya memijat pelipisnya yang berdenyut, melangkah mendekat tanpa niat menghindar. "Mama tenang dulu. Itu murni kecelakaan. Baju Gea robek karena pelayan tersandung, dan aku cuma berusaha menolong dia dari sorotan media."
"Kecelakaan?" Bu Sonya tertawa sumbang, penuh ironi. "Kamu ini polos atau pura-pura buta, Arya?! Itu jelas-jelas rencana licik perempuan itu! Dia sengaja menyewa wartawan untuk jebak kamu supaya dia punya alasan menekan keluarga kita! Itu tempat VIP kan? dari mana asal wartawan sebanyak itu kalau tidak ada yang beri tahu?"
"Cukup, Ma!" potong Arya, suaranya meninggi membela Gea. "Jangan selalu menyudutkan Gea seolah dia penjahatnya! Gea itu korban di sini. Mentalnya terguncang hebat, karirnya terancam hancur cuma karena berusaha ketemu aku!"
Bu Sonya menatap putranya dengan tatapan tak percaya. "Lalu sekarang kamu mau apa? Ikut permainan kotornya?"
"Aku akan bertanggung jawab penuh," tegas Arya tanpa ragu. "Tim hukum BRTV sudah menyiapkan konferensi pers. Aku akan meresmikan hubunganku dengan Gea dan menikahi dia secepatnya."
Napas Bu Sonya tertahan seketika. "Menikahi Gea? Terus bagaimana dengan Gendis?! Dia istri sah kamu, Arya!"
"Pernikahan aku dan Gendis itu cuma siri, Ma! Cuma di atas kertas!" jawab Arya dingin, seolah status hubungan yang baru seumur jagung itu tidak berarti apa-apa baginya. "Lambat laun aku juga bakal ceraikan Gendis secara baik-baik. Sejak awal yang aku cintai itu Gea, bukan Gendis. Pernikahan ini cuma untuk menyelamatkan reputasi keluarga saat itu, dan sekarang keputusan terbaik adalah aku menikahi Gea secara resmi."
Bu Sonya mundur satu langkah, menggeleng-gelengkan kepalanya. Tatapannya berubah menjadi kepedihan dan kekecewaan yang amat mendalam terhadap putra tunggalnya.
"Kamu benar-benar sudah dibutakan oleh perempuan itu, Arya..." bisik Bu Sonya dengan suara serak, tak habis pikir dengan jalan pikiran anak kandungnya sendiri. "Kamu menukar emas demi batu kerikil. Suatu hari nanti, kamu bakal menyesal setengah mati karena sudah membuang wanita setulus Gendis demi ular berkepala dua seperti Gea!"
Arya hanya mengepalkan tangannya rapat-rapat, tidak mengindahkan peringatan ibunya. Sejujurnya hatinya merasa ada yang salah, tapi dia tak tau apa itu.
"Gendis baru jadi istriku beberapa Minggu, Ma..Darimana mama tau kalau dia sebaik itu? Hanya karena dia menggunakan kerudung sedang Gea tidak?"
Bersambung...