NovelToon NovelToon
DIKIRA MANDUL OLEH KELUARGA SUAMIKU

DIKIRA MANDUL OLEH KELUARGA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ARISAN

"Sudah tujuh tahun, Jeng. Kebun mangga di belakang saja sudah tiga kali panen, menantu saya nggak panen-panen!"

Tawa para ibu arisan pecah memenuhi ruang tamu. Ada yang menutup mulut dengan tisu, ada yang terang-terangan menepuk paha. Di tengah ruangan, Sinta berdiri memegang nampan berisi gelas es teh. Tangannya tetap stabil. Bertahun-tahun belajar menahan.

Sejak subuh ia sudah di dapur rumah Bu Retno, memotong, mengaduk, mencuci, mengangkat. Tujuh tahun jadi menantu, posisinya di setiap acara keluarga tak pernah berubah: koki, pelayan, dan bahan obrolan.

"Ini menantunya yang belum isi-isi itu, kan?" bisik Bu Ratna, bergelang emas sebesar borgol, sama sekali tak berusaha pelan.

Sinta meletakkan gelas satu per satu. Ia menggigit bagian dalam pipinya sampai terasa asin.

"Sin, duduk sini," panggil Bu Ratna dengan senyum manis yang beracun. "Tante cuma tanya. Sudah coba bayi tabung belum?"

"Sudah, Bu. Dokter bilang kondisi saya sehat."

"Sehat kok nggak hamil?" Bu Ratna mengangkat alis. "Jangan-jangan dulu kamu pernah... ya, anak muda zaman sekarang kan..."

Kalimat itu sengaja digantung. Seisi ruangan menahan napas, menikmati.

Sinta mengangkat wajah. "Maksud Ibu apa?"

"Eh, kok sensi? Saya kan cuma bertanya."

"Pertanyaan yang menuduh itu bukan bertanya, Bu."

Hening. Wajah Bu Retno memerah, lalu ia berdiri menunjuk muka menantunya.

"Kamu berani melawan tamu saya? Di rumah saya? Sudah mandul, sombong lagi! Makan di rumah anak saya, tidur di kasur anak saya, pakai uang anak saya, tapi satu-satunya yang keluarga ini butuhkan tidak bisa kamu kasih!"

"Parah juga, ya," bisik seseorang.

"Kasihan Damar."

"Perempuan nggak tahu diri."

Mata Sinta memanas. Ia menoleh ke pintu samping. Damar berdiri di sana, baru pulang dari toko, masih memegang kunci mobil. Ia melihat semuanya. Pandangan mereka bertemu.

Satu detik. Dua detik.

Damar membuang muka dan berjalan ke ruang belakang.

Dada Sinta seperti dihantam benda berat. Lebih sakit dari hinaan Bu Retno, lebih sakit dari tawa para ibu. Ia tahu, kali ini pun lelaki itu tidak akan membelanya.

"Ah, itu Damar," suara Bu Retno mendadak semanis madu. "Nak, sini! Ibu mau kenalkan seseorang."

Damar kembali dengan langkah berat. Di belakangnya masuk seorang perempuan muda berbaju krem, rambut tergerai, senyum malu-malu yang terlatih.

"Ini Melia, putri Pak Hendra," kata Bu Retno bangga, merangkulnya seperti anak sendiri. "Belum resmi sih. Tapi kami sudah sangat cocok."

Ruangan bergemuruh. Para ibu berebut memuji rambutnya, kulitnya, bahkan "pinggul bagus buat melahirkan". Tak ada yang menoleh pada Sinta lagi. Ia sudah jadi pajangan lama yang akan diganti.

"Sinta, ke dapur sana," perintah Bu Retno tanpa melihatnya. "Bikinkan teh untuk Melia. Dia nggak suka yang terlalu manis."

Sinta menatap Damar. Menunggu. Berharap.

"Mas?"

"Turuti Ibu dulu, Sin," jawab Damar tanpa mengangkat mata.

Satu kalimat. Tujuh tahun runtuh dalam satu kalimat.

Di dapur, Sinta mencengkeram tepi wastafel. Air matanya jatuh tanpa suara, bahunya tak bergetar. Tangis perempuan yang sudah terlalu sering menangis sampai lupa caranya bersuara. Teko mulai mendidih saat langkah pelan terdengar di belakangnya.

"Kak Sinta," suara Melia, terlalu lembut. "Aku nggak bermaksud merebut apa-apa."

"Kamu tahu aku istri Damar," jawab Sinta tanpa menoleh.

"Tahu." Melia mendekat, dan nadanya berubah dingin, hampir berbisik. "Tapi Kak, kalau Kakak memang sesehat yang Kakak bilang ke dokter... kenapa Kakak nggak berani periksa suami Kakak sendiri?"

Sinta membeku. Teko mendidih di atas kompor.

"Apa maksudmu?"

Melia tersenyum tipis, mengambil cangkir, dan menuang air panas itu sendiri. "Tanya saja Mas Damar. Tanya, kenapa dia selalu menolak kalau Kakak ajak ke dokter bareng."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!