Chandra adalah dewa jatuh yang turun ke bumi menjadi manusia, dia tidak menyadari kekuatan dewa nya tidak hilang. Kesehariannya adalah melukis dan menjualnya di pasar, hidupnya berubah setelah memasuki galeri teratai hitam menemukan banyak keberuntungan dan juga harem yaitu Yueji siluman rubah ekor sembilan cantik dan mempesona, . Apakah hubungan Chandra akan menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewa jatuh setelah bertemu Yueji?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Musang_Galau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keusilan Rubah Betina
Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk keluarga kecil Galeri Seni Teratai Hitam. Acara syukuran studio lukis milik Chandra yang baru saja selesai sedang digelar.
Semua orang hadir. Kakek Lubis tentunya datang bersama Sabrina dan cucu barunya, Anya. Begitu pula keluarga kecil Chandra yang ditemani Yueji dan Sisi.
"Selamat, Chandra. Studiomu sekarang sudah jadi. Perbanyak karya bagus biar kita sama-sama untung," ucap Kakek Lubis sembari berjabatan tangan.
"Tentu, Paman. Aku akan melakukan yang terbaik dan semaksimal mungkin membuat sebuah mahakarya."
"Ayoyoy, semangat kaum muda memang pantas diacungi jempol," pungkas Kakek Lubis menyanjung.
"Ayo kita mulai saja makan-makannya, Paman."
Semua orang tampak bahagia menikmati jamuan sederhana tersebut. Tiba-tiba, terdengar suara mobil terparkir di halaman galeri. Semua mata lantas tertuju ke arah pintu.
Seorang wanita dengan pakaian modis nan glamor melangkah masuk ke ruangan.
"Bagus, ya! Ada acara tapi tidak mengundangku!" serunya dari ambang pintu.
"Nona Meilina," gumam Kakek Lubis.
Dengan langkah melenggak-lenggok, Meilina masuk lalu berdiri di hadapan Kakek Lubis. "Kakek sudah melupakan klien teratas Kakek, ya?"
"Aih, tentu tidak, Nona. Ada gerangan apa ke sini pagi-pagi?"
"Ada acara di galeri kok tidak mengundangku?" ketus Meilina dengan mata mendelik ke arah orang-orang.
"Ayoyoy, ini bukan acara resmi, Nona Meilina. Hanya syukuran kecil dari Chandra untuk studio lukisnya."
"Aku tidak butuh penjelasan, Kakek! Aku ini klien terbesar Chandra, kenapa dia tidak mengundangku?" tanya Meilina menatap tajam ke arah Chandra.
"Sayang, dia siapa?" tanya Yueji keheranan.
"Dia yang membeli lukisan Phoenix milikku, Sayang," jawab Chandra sembari merangkul bahu istrinya.
"Sepertinya galeri ini sudah tidak membuhtuhkanku lagi," ucap Meilina lalu membalikkan badan hendak keluar.
Namun, baru sepuluh langkah berjalan, ia mendadak terdiam.
"Kok tidak ada yang menahanku, sih?!" bentak Meilina pada semua orang.
"Ayoyoy, acaranya saja baru mulai, Nona Meilina. Silakan ikut bergabung bersama kami," tawar Kakek Lubis ramah.
"Sudahlah, aku tidak selera!" Ia kembali membalikkan badan lalu berjalan ke arah luar.
Langkahnya tertahan lagi. Ia membalikkan badan dengan tatapan tajam yang berfokus ke arah Chandra.
"Chandra! Kalau kamu tidak menahanku, aku tidak akan pernah lagi membeli lukisanmu!" teriak Meilina yang sudah hampir sampai di pintu keluar.
"Mei, semakin ramai tentu semakin bagus. Aku mengundangmu untuk merayakan acara ini bersama-sama," ujar Chandra lembut.
Meilina kembali membalikkan badannya membelakangi mereka. Akhirnya dia mengerti juga apa mauku, batin Meilina kegirangan.
"Baiklah kalau kamu memaksa," jawab Meilina mengalah dengan congkak, lalu berjalan masuk kembali.
"Sayang, kamu tidak cemburu?" bisik Chandra pada Yueji.
"Cemburu ke siapa, Sayang?" tanya Yueji polos.
Chandra memberi isyarat dengan matanya ke arah Meilina.
"Sepertinya dia kurang waras, aku tidak mau cemburu pada orang gila," ucap Yueji yang kini mulai memilah makanan di piringnya.
"Ehh, wanita ini memang susah ditebak maunya," gumam Chandra pelan.
"Apa, Sayang?" tanya Yueji membalikkan badan.
"Tidak, tidak. Ayo makan. Hehehe..."
"Ummm, enaknya... Sayang, aaa..." Yueji menyuapi Chandra.
"Wah, iya, enak banget, Sayang," sahut Chandra dengan wajah berbinar.
"Cih, menjijikkan!" gumam Meilina dengan mata sinis menatap ke arah Chandra dan Yueji.
Yueji yang melihat hal tersebut seketika terdiam. Tiba-tiba, ide liar melintas di benaknya.
"Sayang..."
"Apa?"
"Sini, sini..." Yueji membisikkan sesuatu ke telinga Chandra.
"Tidak mau, ah! Nanti kamu marah."
"Kan aku yang menyuruh, Sayang."
"Beneran, nih? Kamu tidak marah?"
"Iya, asal jangan berlebihan saja."
"Tuh, kan! Tidak mau, ah."
"Iya... iya, aku tidak marah. Ayo lakukan, hihihi," ucap Yueji terkekeh.
Chandra menghela napas panjang. "Baiklah, aku lakukan," ujarnya lemas.
"Jangan begitu, dong. Aku marah, nih!" ancam Yueji.
"Iya, aku lakukan sekarang, ya."
"Hemm..." Yueji tersenyum puas.
Chandra merapikan kerah bajunya, lalu berjalan membawa makanan di piring kecil ke arah Meilina.
"Mei?"
"Iya, apa?" ketus Meilina.
"Aaaa..." Tangan Chandra menyodorkan makanan ke arah mulut Meilina.
Kejadian tersebut membuat Meilina membeku menatap Chandra. "Ka-ka-kamu?" Meilina gelagapan.
"Kamu tidak mau? Ya sudah, aku makan saja."
Seketika tangan Meilina menyergap lengan Chandra. "Aku mau..." ucap Meilina pelan.
"Apa?!" Chandra sengaja mengeraskan suaranya.
"Aku mau!" bentak Meilina.
"Hah, apa, Mei?"
"Ihh, Chandra!" Meilina merengek.
"Gitu, dong. Seorang presdir kok jutek terus," ucap Chandra sembari menyuapi Meilina.
Meilina tersenyum cengengesan dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu makan yang lahap di sini biar sehat. Presdir kok kurus," tutur Chandra lalu melangkah pergi meninggalkan Meilina.
Chandra diam-diam perhatian padaku. Sudah kuduga dia mulai suka padaku. Hihi, senangnya... batin Meilina kegirangan.
"Gimana, sudah puas mengerjai orang?" tanya Chandra pada Yueji.
"Hihihi, Sayang, lihat wanita itu begitu kegirangan."
"Kamu ini ada-ada saja. Kesannya suamimu ini suka pada wanita lain, loh."
"Sudah, kamu diam saja."
Yueji terus memperhatikan Meilina yang memegang pipinya yang memerah karena salah tingkah akibat ulah Chandra.
"Hihihi, tunggu pertunjukan selanjutnya, ya," ucap Yueji usil.
"Hey, kamu mau ngapain lagi, Sayang?" tanya Chandra penuh curiga.
"Ssst, diam!"
Meilina yang sedang berbunga-bunga terus mengedarkan pandangan mencari sosok Chandra. Yueji yang melihat hal itu langsung bersiap.
Tepat ketika mata Meilina mengarah pada Chandra, secepat kilat Yueji menarik wajah suaminya.
Mmmmuach!
Ciuman telak mendarat cukup lama dari Yueji untuk Chandra.
Sontak hal tersebut membuat hati Meilina hancur berkeping-keping. Piring kecil berisi tumpukan makanan di tangannya seketika jatuh berserakan. Tubuh Meilina bergetar tidak kuasa menyaksikan pemandangan itu. Ia menutup mulutnya dengan tangan, air matanya berderai deras.
"Leluhur ini benar-benar seekor rubah. Rubah murni berekor sembilan," ucap Kakek Lubis pada Sabrina.
"Kakek, dia jahat sekali."
"Siapa yang berani menghalanginya, Kakek? Kamu? Chandra saja suaminya cuma bisa pasrah."
"Bisa-bisanya Nenek Buyut punya guru seperti dia, Kek."
"Sudahlah, biarkan saja. Kamu jangan melihat biar Meilina tidak dendam pada kita."
"Baik, Kek."
Kakek Lubis dan Sabrina sengaja membalikkan badan, berpura-pura fokus mengurus Anya.
Di sisi lain, Sisi perlahan mendekati Meilina lalu menepuk pelan pundaknya. Dengan mata berkaca-kaca, Meilina menoleh. Wajah Sisi yang begitu damai menyambutnya dengan senyuman ramah, lalu merentangkan tangan memberi isyarat pelukan.
Tanpa menunggu lama, Meilina langsung menjatuhkan dirinya ke pelukan Sisi sambil menangis tersedu-sedu.
"Sudah, sudah..." ucap Sisi lembut sembari menepuk-nepuk punggung Meilina.
Chandra berusaha melepaskan pagutan istrinya. "Astaga, Sayang! Kamu mau membunuhku, ya?!" protes Chandra terengah-engah.
"Sayang, coba kamu menoleh ke belakang," ucap Yueji cengengesan.
Chandra perlahan membalikkan badan. Dilihatnya Meilina yang sedang dipeluk erat oleh Sisi sambil menangis histeris, sementara orang-orang berpura-pura acuh karena tahu itu ulah Yueji.
"Sayang, kamu usil banget, sih. Bikin anak orang menangis."
"Bukan salahku, wle!"
"Ehh, bandel, ya!"
"Ampun, Sayang, ampun! Hihi," tawa Yueji di dalam pelukan Chandra.
Tiba-tiba, wajah Yueji berubah drastis. "Aduhh, Sayang!" Yueji mengerang kesakitan sembari memegang perutnya.
"Akting apa lagi sekarang?" tanya Chandra malas.
"Aku sakit!" erang Yueji yang kini terkapar di lantai.
Semua orang seketika mengalihkan pandangan ke arah Yueji yang mengerang memegangi perutnya.
"SAYANG!" Chandra panik lalu segera membopong istrinya untuk dibawa ke kamar. "Panggil dokter!" teriak Chandra.