Aku mulai tertarik dengan sosok wanita yang duduk disebelah ku dibangku delapan delapan C dalam penerbangan pesawat Jakarta ke Makassar. Dia duduk diam, mengunakan baju serba hitam, sepintas ku melihat ada air mata yang membasahi pipinya. Hatiku mulai ibah, siapa kamu manis, ingin rasanya aku mau menenangkanmu.
Ini perasaan yang dirasakan oleh Kapten Marinir Martinus Revelino. Yang sedang dalam perjalanan menuju tempat tugas baru di Papua. Saat ini dia ditugaskan sebagai Komandan Intel pada kesatuan angkatan laut di Papua.
Dalam penerbangan ini, dia bertemu dengan Gracia Natasya, seorang apoteker yang harus kembali ke papua karena duka yang dia alami.
Apakah Ino dan Cia bisa menjalin hubungan cinta??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesawat
Tamu - tamu VIP sudah lebih dahulu naik ke pesawat, kemudian di susul oleh penumpang lainnya. Hari ini penerbangan padat banyak sekali penumpang. Cia menggunakan celana jins dan kaos berwarna putih dan sepatu sneaker berwarna putih. Tas punggung hitam yang berisi laptop, ipad dan juga perlengkapan lainnya. Cia memilih tidak menaruh tas itu di bagasi atas pesawat.
Waktu cek in, Cia mendapat kurisi empat B. tidak menyangka dia duduk di apiti oleh dua orang tentara. Kedua tentara itu adalah Kapten Ino dan ajudannya sertu Gerson.
"Permisi saya bangku empat B."
"Oooo silahkan." Gerson sudah berdiri, dan di ikuti oleh komandannya.
"Kamu bisa duduk dekat jendela." Ino mempersilahkan Cia duduk di paling ujung. Kemudian dia yang duduk di kursi Cia. Gerson begitu kaget. Dalam hatinya kenapa begitu serakah ya bosnya. Namun dia tidak berani protes.
"Kembali......"
"Kembali Jakarta saya."
"Kuliah??"
"Umur saya kuliah, berarti mahasiswa abadi dong. Tidak saya bekerja." Ino tersenyum.
"Di Jakarta??"
"Iya rumah sakit Siloam." Cia menyebut tempat bekerjanya sebagai apoteker di rumah sakit tempat papi, mami dan usinya bekerja. Hatinya sangat senang. Terus terang Ino jatuh cinta kepada perempuan ini, sejak pertama bertemu.
Perjalanan dua jam mereka tempuh, akhirnya mereka tiba di bandara Hasannudin di maros Sulawesi Selatan. Di bandara ini mereka akan menunggu sekitar lima jam. Karena penerbangan selanjutnya menuju Jakarta baru terbang jam lima sore.
Mereka harus mengambil bagasi dan cek in ulang karena akan berganti pesawat yang lain. Satu maskapai namun beda pesawatnya. Ino menawarkan diri mengambil bagasi Cia, dan Cia tidak menolak pertolongan orang baik. Hal ini membuat Gerson sedikit dongkol karena barangnya di urus oleh ajudan tetapi dia mau mengurus barang penumpang lain.
"Modus ni komandan." Gerson menggerutu. Sesama ajudan yang ikut dalam penerbangan ini hanya tersenyum. Bahkan komandan kesatuan bersama istri juga tersenyum melihat tingkah komandan intel.
"Maju Ino, jika ada maksud." Ino kaget dan tersenyum dia tidak menyangka apa yang dilakukannya membuat komandan kesatuan melihat.
"Siap, doain ya Komandan." salam komando di berikan oleh Komandannya agar Ino anggotanya semangat.
Martinus Revelino Rehata adalah anggota terbaik milik kesatuannya. Dia juga lulusan terbaik akademik militer surat kelulusannya dia terima di istana negara di serahkan langsung oleh Presiden. Selesai menjalankan tugas penempatan, dia kembali sekolah khusus marinir. Kariernya di kesatuan sangat bagus. Awal menjalankan kariernya dia sudah ikut bersama rombongan dalam operasi militer di pulau terluar berbatasan Nusa Tenggara Timur dengan negara Timor Leste. Sebagai komandan tempur. Mereka berhasil mempertahankan pulau dan mengusir para perampok. Dia kemarin di tugaskan pada kesatuan angkatan laut di Biak dengan jabatan komandan intel. Sepak terjangnya agar bisa pindah pangkat dari Kapten ke Mayor.
Menghabis waktu lima jam, Cia diundang ikut bersama rombongan makan siang di pantai losari yang ada dikota Makassar. Komandan Angkatan Laut ini kenal dengan mamanya Cia, dan selama dia bertugas di Biak, dia perna melihat Cia dan mamanya bernyanyi di gereja.
"Terima kasih pak, ibu atas jamuan makan siangnya. Saya permisi ke ruang tunggu."
"Disini saja sama kami."
"Maaf pak ngak enak, biar saya bergabung dengan penumpang lainnya saja."
"Ngak masalah Cia, kamu temani saya." Akhirnya ibu komandan membujuk Cia. Sekarang Cia bersama rombongan angkatan laut di ruangan tunggu VIP bandara. Karena sudah keringat, Cia ke kamar mandi menganti baju kotornya dengan kaos yang baru. Karena terbang sore, Cia sudah mempersiapkan woody berwarna hitam untuk dia ganti.
"Komandan lihat itu nona Cia sudah tambah cantik."
"Menurut kamu nona cantik begitu cocok sama saya atau sama kamu."
"Komandan menghina saya ya." Ino tertawa. Itu pertanyaan yang mengharuskan Gerson untuk tahu diri, bahwa seorang Gracia Anastasya tidak cocok buat dirinya.
Sudah boarding, tamu VIP di persilahkan lebih dahulu, posisi duduk tidak berubah, tetapi kali ini Cia benar menduduki kursinya, begitu juga dengan Ino dan Gerson. Penerbangan dua jam menuju Jakarta mengalami turbulensi yang hebat karena cuaca di atas laut jawa tidak baik. Guncangan terjadi terus menerus. Tanpa sengaja Cia yang ketakutan mengenggam tangan Ino sangat erat. Mukanya sudah memucat.
"Berdoa ya. Ini cuacanya lagi tidak baik." Ino keyakinkan Cia. Dan dalam ketakutan Cia hanya menganggukan kepalanya. Selesai berdoa dia mencoba untuk tidur namun tanpa Cia sadar lagi, dia menaruh kepalanya di pundak Ino, hal yang bisa dilakukan jika di ketakutan waktu kecil, dia akan menyembunyikan kepalanya di bahu, papa atau mamanya.
Ditengah cuaca yang masih buruk dan turbulensi, tentu Ino sangat suka sekali, melihat apa yang dilakukan oleh Cia. Dia tahu bahwa sikap Cia ini, berarti dia sedang ketakutan dan membutuhkan perlindungan. Ino mengeratkan genggamannya dan memberi rasa nyaman kepada gadis disampingnya. Aksi ini dilihat oleh Gerson dan anggota lainnya yang juga ikut berangkat dengan rombongan ini.
Satu jam sebelum pesawat akan mendarat di bandara Soekarno Hatta, Cia masih tertidur di pundak Ino. Laki - laki yang belum lama dia kenal ini. Setelah dua kali mengitari langit kota Jakarta, akhirnya pesawat yang membawa Ino bersama penumpang lainnya mendarat di bandara itu dengan selamat. Ketika posis pesawat sudah aman. Ino membangunkan Cia.
"Maafkan saya Mas Ino."
"Kamu berutang budi sama saya." Cia melihat Ino.
"Berutang budi???"
"Iya masukan nomor kontak kamu disini." Ino sengaja meminta nomor kontak Cia, karena jika sudah di Jakarta dia akan sibuk dengan aktivitasnya. Selesai mendapat nomor kontak Cia, Ino langsung menghubungi nomor itu, yang baru di hidupkan ketika pesawat sudah terparkir sempurna.
"Itu nomor saya. Sebelum saya kembali ke Biak, kamu harus mentraktir saya makan. Deal."
"Oke."
Gracia Anastasya berpamitan kepada komadan dan istrinya, mengucapkan terima kasih karena sudah mengijinkannya makan siang enak bersama rombongannya di Makassar, juga sudah memperbolehkannya ada di ruang VVIP bandara, yang seumur hidupnya baru pertama kali ada di ruangan VVIP itu. Semua tersenyum melihat sikap ramah dari Cia. Sekarang dia sudah menuju ke tempat mengambil bagasinya. Cia membawa satu koper sedang dan satu kecil berisi jajanan kesukaannya yang dia susah peroleh di Jakarta.
"Ngak kamu antar Ino."
"Siap komandan. Mau, tetapi takut dia canggung."
"Kamu ikut di hotel atau di rumah orangtuamu."
"Ijin komandan saya ke rumah orangtua. Tetapi pagi hari saya sudah di tempat kegiatan."
"Oke. Kamu dijemput."
"Siap. Iya komandan."
Ino melihat, Cia sudah berada di taksi yang dia pesan. Saat ini dia sudah berada di mobilnya sendiri. Dia di jemput oleh usinya sendiri.