Rey adalah manusia yang diubah menjadi anomali-monster kanibal yang sengaja dijadikan tameng oleh para penjajah halus di Paradise. Menganggap nasibnya sebagai hukuman atas dosa masa lalu, ia menemukan sosok yang ia anggap sebagai ibu keduanya. Namun, kasih sayang Dwi ternyata hanyalah manipulasi. Perlahan, jati diri dan kewarasan Rey dihancurkan hingga melahirkan The Luna, seorang psikopat yang rela mempertaruhkan sisa kemanusiaannya demi melindungi Dwi dari hukuman mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon likaa0_0, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 15 ingatan lama Eva
Michael sedang menemani Yuna yang tengah dirawat di sebuah kamar rumah sakit. Yuna mengalami patah tulang rusuk akibat insiden yang mereka alami sebelumnya.
Suasana kamar itu cukup sunyi. Hanya terdengar suara samar mesin-mesin medis dari luar ruangan dan sesekali langkah kaki para perawat yang melewati lorong Michael duduk di samping ranjang Yuna. Tatapannya tampak murung.
"Yuna... Maafkan aku." ujar Michael merasa bersalah
Yuna yang sedang berbaring membuka matanya perlahan. Dahinya sedikit berkerut mendengar tiba-tiba Michael mengatakan maaf karena ia merasa tidak bisa menjaga dan melindunginya.
"Michael? Untuk apa kamu mengatakan itu? Ini memang risiko dari pekerjaan kita. Tenang saja, kita kan memiliki asuransi kesehatan."
Michael hanya terdiam. Tatapannya masih tertuju pada Yuna seolah ada sesuatu yang membuat pikirannya terus dihantui rasa bersalah.
Tiba-tiba Rey membuka pintu kamar untuk menjenguk yuna
krekkk...
Rey muncul di ambang pintu sambil membawa sebuah kresek berisi kotak buah-buahan segar yang sudah dipotong.
"Rey?"(ujar Michael)
krekkk...brakkk
suara menutup pintu
Suara pintu yang tertutup terdengar cukup keras di dalam kamar yang sunyi. Rey kemudian berjalan mendekati ranjang Yuna.
"Yuna... selamat siang."
"Siang juga, Rey."
"Yuna... aku dengar kamu mengalami patah tulang rusuk. Jadi aku berinisiatif ingin menjengukmu."
Rey mengangkat kresek yang dibawanya.
"Sekalian membawakanmu buah-buahan segar yang sudah dipotong."
"Makasih, Rey. Letakkan kresek itu di atas meja."
Rey meletakkan kresek tersebut di atas meja yang berada di samping ranjang. Ia kemudian kembali menatap Yuna beberapa saat.
"Yuna... bagaimana kondisimu? Apakah sudah cukup membaik?"
"Syukurlah... kondisiku mulai membaik. Kata dokter, butuh sekitar empat puluh dua sampai sembilan puluh hari untuk kembali seperti semula."
"Untuk bernapas masih baik, tidak?"
"lumayan sih. Setiap kali aku menarik napas, selalu terasa nyeri. Tenang saja, aku masih bisa bernapas. Namun, ini cukup menyiksa."
"Begitu... Kalau begitu, get well soon, ya."
Rey melirik jam di dinding kamar rumah sakit. Jam dinding menunjukkan angka 11.15 mengingat Rey masih memiliki tugas yang harus di selesaikan segera mengatakan bahwa dirinya tidak bisa menjenguk Yuna lama-lama
"Yuna... aku harus pergi karena ada tugas yang harus kuselesaikan terlebih dahulu. Jadi, aku tidak bisa lama-lama di sini... Permisi."
Rey segera berjalan menuju pintu.
krekkk...
pintu terbuka
Rey keluar dari kamar, kemudian menutupnya kembali.
brakkk...
pintu tertutup
Langkah kakinya perlahan menghilang di sepanjang lorong rumah sakit.
"Huh... memang tidak enak menjadi seorang pemburu senior. Mereka benar-benar sibuk."
"Ya, mending begitu, Michael. Daripada orang-orang di luar sana yang sok sibuk, padahal aslinya tidak melakukan apa-apa."
"Kamu benar."
...****************...
NGEENGG
Suara mesin motor menggema di tengah jalan yang sepi. Eveline mengendarai motor dan memboncengi Eva yang duduk di belakangnya menuju tempat persembunyian Rahul.
Pepohonan besar dan rindang berdiri di kedua sisi jalan. Batang-batangnya menjulang tinggi, sementara ranting dan dedaunannya saling bertumpuk hingga menutupi sebagian besar langit Jalan itu terasa seperti membelah sebuah hutan tidak terlihat rumah,tidak ada lampu jalan,tidak ada kendaraan lain, Bahkan tidak ada seorang warga pun yang berlalu-lalang hanya suara mesin motor mereka yang memecah kesunyian.
Angin saing yang kencang menerpa wajah mereka. Semakin jauh mereka berkendara, semakin sepi pula jalan yang mereka lewati entah mengapa setiap Eva melihat pepohonan yang rindang rasa cemas menghantuinya
"Eveline, memang kamu tahu tempat persembunyiannya si Rahul?"
"Heh, Eva. Kamu lupa peranku di Revor adalah sebagai pengatur segalanya? Jadi, aku harus tahu semua hal itu."
"Oke, baiklah."
Perjalanan berlangsung cukup panjang Awalnya Eva tidak terlalu memperhatikan jalan yang mereka lewati. Namun perlahan, suasana di sekitarnya membuat Eva merasa tak nyaman
Eva mulai merasa tidak nyaman
"Eveline... kamu yakin arahnya ke sini?"
"Iya dong."
Eva kembali melihat ke sekeliling menengok kekanan-kekiri ada sesuatu dari tempat ini yang terasa aneh seolah-olah jalan yang mereka lewati bukan sekadar jalan biasa.Akhirnya, mereka tiba di sebuah bangunan Eveline menghentikan motornya di depan sebuah rumah yang ukurannya cukup besar.
Namun bangunan itu lebih menyerupai gudang tua daripada rumah dindingnya terlihat kusam. Beberapa bagian tampak kotor dan lapuk Eveline segera memarkirkan motornya.
Eva turun, berdiri diam sambil menatap bangunan tersebut Entah mengapa, sejak melihat jalan yang mereka lewati tadi, firasat buruk terus muncul di dalam pikirannya.
*Ini bukannya tempat...*
Eva terdiam Sebuah ingatan samar muncul di kepalanya. Namun sebelum ia sempat mengingatnya lebih jauh—
Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh bahunya
Bak...
Eva tersentak kaget Ia segera menoleh.
"Eveline?"
Eveline berdiri tepat di belakangnya Ia tersenyum tak menyadari bahwa Eva terkejut
"Ayo masuk, Eva."
Eveline setelah menepuk bahu langsung berjalan masuk duluan Eva menatapnya beberapa detik Kemudian ia mengikuti Eveline menuju pintu gudang tersebut Saat mereka sampai di depan pintu, Eveline mengetuknya.
Tok....Tok...Tok..
Tidak ada jawaban.
Eva menatap pintu itu dengan perasaan tidak nyaman entah mengapa pintu itu mengingatkan pada sesuatu yang entah apa
kreekkk...
Pintu tiba-tiba terbuka dengan cepat Rahul berdiri di baliknya tatapannya langsung tertuju kepada mereka berdua. Wajahnya terlihat waspada dan mencurigai.
Eveline justru menyambutnya dengan ramah.
"Hallo, Rahul." ujar Eveline sambil melambaikan tangannya.
Rahul terdiam Seolah mengenali suara tersebut, ekspresinya perlahan berubah.
"Suara ini..."
Ia menyipitkan mata dan mengingat-ingat suara
"Eveline?"
"Iya. Aku ini Eveline, Rahul."
Rahul terlihat lega setelah mengetahui bahwa itu adalah Eveline karena sebelum mereka tidak pernah bertemu secara kontak langsung. Rahul kemudian menyandarkan tubuhnya di sisi pintu.
"Akhirnya aku bisa bertemu langsung denganmu. Biasanya kita hanya berbicara melalui chat ataupun telepon."
Tatapan Rahul kemudian beralih kepada Eva Ia mengamati Eva dari atas sampai bawah.
"Emm... Eveline, siapa gadis cantik ini?"
Rahul menunjuk Eva
"Oh... dia Eva. Dia juga anggota Revor. Tenang saja, dia ada di pihak kita."
"Jadi bagaimana? Apakah kita boleh masuk?"
Rahul menggeser tubuhnya dari pintu.
"Masuklah."
Eveline dan Eva pun masuk ke dalam rumah gudang tersebut.
"Rahul, bagaimana dengan...."
"Shh..."
Rahul langsung memotong perkataan Eveline, ia menyadari tujuan kedatangan mereka berdua kesini
"Aku tahu maksudmu —"
Keduanya kemudian saling berbicara tanpa memperhatikan Eva Sementara itu, Eva berdiri beberapa langkah dari mereka Matanya perlahan menyapu seluruh ruangan.
Dan saat itulah ia menyadarinya tempat ini memang benar-benar sebuah gudang yang pernah ia temui sebelumnya Kardus-kardus tua memenuhi hampir seluruh sudut ruangan. Sebagian telah menguning dan kotor, sementara debu menempel tebal di permukaannya.
Beberapa kardus ditumpuk hingga menjulang tinggi, Sebagian lainnya bahkan terlihat nyaris roboh, Ruangan itu terasa pengap, Bau lembap dan debu memenuhi udara.
Eva menelan ludah entah mengapa tempat ini terasa begitu familiar ingatan lama tiba-tiba muncul kembali di kepalanya.
*Tempat ini mengingatkanku pada awal pertemuanku dengan Nathan.*
(Kilas balik)
Malam itu begitu gelap Eva mengendarai motornya seorang diri melewati jalan yang dipenuhi pepohonan besar dan rindang Cahaya lampu motor menjadi satu-satunya penerangan di jalan tersebut. tidak ada lampu jalan, tidak ada kendaraan lain,tidak ada seorang pun, hanya suara mesin motor dan suara angin yang sesekali menerpa dedaunan.
NGEENGGG...
Eva berkendara dengan santai namun dari kejauhan, samar-samar terlihat seseorang pria berdiri di tengah jalan Pria itu tidak bergerak di tangannya terdapat sebuah golok besar.
Eva belum menyadarinya Semakin dekat Semakin jelas sosok itu terlihat Cahaya lampu motornya akhirnya menyoroti tubuh pria tersebut.
Eva tersentak reflek segera mengerem mau tidak mau, ia harus berhenti Pria itu langsung bergerak berjalan menuju eva, tangannya meraih tas Eva, Eva berusaha mempertahankannya.
"Hei!" ujar Eva yang belum mengetahui bahwa pria terbaik adalah begal
Tarikan pria tersebut semakin kuat eva masih berusaha mempertahankan tasnya tiba-tiba pria itu mengangkat golok yang dibawanya Golok itu terangkat tinggi di atas kepalanya.
SRAWKKK!!!
Golok tersebut diayunkan ke arah kepala Eva. Eva refleks memiringkan tubuhnya tebasan itu meleset. namun gerakan mendadak tersebut membuat motor Eva kehilangan keseimbangan.
BRAKKK!!
Motor terjatuh ke tanah Saat itulah Eva menyadari siapa pria tersebut Seorang begal Pria itu kembali mengangkat goloknya Ia mencoba menebas Eva sekali lagi. Eva kembali memiringkan tubuhnya
SRAKKK!!
Ujung golok mengenai bahunya hingga membuat Luka parah terbuka di bahunya darah mulai mengalir. Eva merintih kesakitan tapi Pria itu sempat lengah segera Eva tidak menyia-nyiakan kesempatan, dengan sekuat tenaga, ia menendang selangkangan pria tersebut.
BUK!!
"AAARGHHH!!"
Pria itu langsung teriak kesakitan karena selangkangannya habis di tendang oleh eva tubuhnya tersungkur di hadapannya sambil memegangi bagian yang terkena tendangan.
Eva segera memanfaatkan kesempatan itu Ia berusaha membangunkan kembali motornya.
Namun sebelum berhasil Tangan pria itu meraih gagang spion.
Eva terkejut Begal tersebut perlahan-lahan mencoba bangkit napasnya terdengar berat. Eva yang panik segera mencabut kunci motornya lalu memasukkan kunci kedalam tas Kemudian mengalungkan tasnya ke tubuh tanpa menoleh lagi, Eva berlari sekuat tenaganya sambil memegangi bahu nya yang terluka parah.
Satu langkah, Dua langkah,Tiga langkah Ia terus berlari meninggalkan motor dan pria tersebut.
Namun...
Ada sesuatu yang tidak ia sadari Sesuatu yang berada di belakangnya dan ketika Eva akhirnya menoleh kebelakang ia menyadari bahwa......