Tak memiliki apa pun selain namanya, Kenzo bertahan hidup di dunia yang kejam. Bagi orang lain, mimpi adalah sesuatu yang bisa dikejar. Baginya, mimpi hanyalah kemewahan yang selalu direnggut oleh kenyataan.
Hingga suatu hari, sebuah antarmuka emas muncul di hadapannya.
Sistem Gacha.
Jaminan 100%.
Setiap putaran selalu menghadiahkan sesuatu yang nyata. Kemampuan, artefak, teknik, bahkan kekuatan yang sanggup mengubah takdir. Dengan sistem itu, Kenzo tak lagi sekadar bermimpi. Ia akan menapaki jalan menuju puncak dan menyingkirkan siapa pun yang berani menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Tiga hari berlalu sejak malam berhujan di atas atap apartemen kumuh itu. Sektor B hancur tanpa menyisakan berita besar di televisi.
Kecelakaan struktur bangunan tua menjadi alasan utama yang disebar media. Kebohongan rapi untuk menidurkan masyarakat awam dalam ketidaktahuan.
Duduk santai di kursi luar sebuah kafe premium, Kenzo memandangi ponsel pintar baru di genggamannya. Ia menyesap perlahan secangkir espresso hangat miliknya.
Membeli alat komunikasi canggih itu terasa mudah berkat uang rampasan melimpah dari markas musuh yang kini telah rata dengan tanah.
Kepalanya terasa sangat jernih dan ringan. Efek dari Esensi Peningkatan Fisik Dasar membuat otak pemuda itu mampu memproses informasi sangat cepat.
Sempat ia menyalin data penting dari komputer pusat Sektor B sebelum seluruh tempat itu dihancurkan oleh kekuatan hitam Azzy.
Membaca baris informasi itu membuat rahangnya mengeras seketika. Konspirasi di dalam kota ini ternyata jauh lebih gurita dari bayangannya.
Membeli hukum bukanlah hal mustahil bagi organisasi kriminal tersebut. Aliran dana raksasa mengalir lancar ke saku para pejabat dan pengusaha elit.
Perdagangan manusia berkekuatan supernatural ditutupi dengan sangat rapi agar roda bisnis haram mereka terus berputar tanpa hambatan dari luar.
"Dunia ini tidak dikendalikan oleh hukum," gumam Kenzo lirih. Dipandanginya pantulan wajah sendiri pada layar ponsel yang gelap.
"Hukum dikendalikan oleh mereka yang memiliki kekuatan."
"Kenzo, kopi itu pahit. Kenapa kau suka sekali meminum air hitam yang rasanya mirip aspal gosong?"
Mengalun jenaka suara anak-anak milik Azzy di dalam kepalanya. Penguasa hampa itu sedang meringkuk nyaman di dalam bayangan bawah meja kafe.
"Kopi ini membantuku tetap sadar bahwa dunia ini tidak pernah manis, Azzy," sahut Kenzo santai dalam komunikasi batinnya.
Berkedip sekilas cahaya emas di sudut pandangannya. Sebuah antarmuka sistem yang familier muncul melayang dengan latar berkilau.
[Peringatan: Jatah Jaminan 100% Hari Ini telah di-reset.]
[Jatah Jaminan 100% Saat Ini: 3/3.]
Tiga koin kepastian mutlak kini siap digunakan kapan saja. Namun, Kenzo memilih tidak terburu-buru membuang peluang berharga tersebut untuk Gacha.
Ditatapnya lurus pintu masuk restoran bintang lima bernama Le Ciel di seberang jalan. Tempat berkumpul favorit bagi para penguasa kota.
Seorang pengusaha muda yang menjadi penerima dana gelap terbesar sedang menjadi target utamanya malam ini.
Terbuka lebar pintu kaca restoran mewah itu. Seorang pelayan bergegas membentangkan payung hitam untuk memayungi sepasang kekasih yang melangkah keluar.
Sombong sekali langkah pria berjas mahal itu. Rambut klimis serta jam tangan berlian miliknya berkilau terang di bawah lampu jalanan.
Sambil tertawa keras, ia berbicara lewat telepon genggam tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitar trotoar.
Kenzo menajamkan pendengaran miliknya. Bisingnya jalanan malam dan jarak 30 meter bukan lagi penghalang bagi telinga barunya.
"... ya, Pak. Polisi sudah mengamankan area itu. Kerugian Sektor B memang menjengkelkan, tapi pasokan barang baru akan segera tiba."
Mendengar itu, Kenzo mengangguk pelan. Adrian, pria sombong di seberang sana, adalah kaki tangan penting dari organisasi induk tersebut.
Namun, perhatian Kenzo mendadak tersita oleh sosok wanita yang bergelayut manja pada lengan kiri Adrian.
Mengenakan gaun merah marun yang sangat mewah, wanita itu tersenyum bangga seolah dunia berada di bawah telapak kakinya yang berhak tinggi.
Kenzo menyipitkan mata. Ia mengenali wajah itu dengan sangat baik.
Siska. Mantan kekasihnya yang dulu membuangnya begitu saja di tengah guyuran hujan hanya karena ia miskin dan tidak punya nama.
Ironis sekali melihat takdir bekerja. Pria kaya yang dipilih Siska ternyata hanyalah kriminal kerah putih penjual manusia berkekuatan khusus.
Tiada amarah maupun dendam di hati Kenzo saat ini. Rasa dingin mutlak menguasai dirinya. Siska kini tak lebih dari sebutir debu.
Bangkit dari duduknya, Kenzo berjalan santai menyeberangi jalan. Langkahnya teratur, berniat mengikuti mobil mewah Adrian secara diam-diam.
Berputar cepat kepala Siska ke arah trotoar. Tatapan mereka bertemu secara tidak sengaja di bawah temaram lampu jalan.
Membeku sesaat wanita itu. Raut wajahnya langsung berubah menjadi kombinasi rasa terkejut yang bercampur dengan kejengkelan mendalam.
Melepaskan rangkulan dari lengan Adrian, Siska berjalan mendekati Kenzo dengan melipat kedua tangan di depan dada.
"Kenzo?" tegur Siska ketus. Dipandangnya penampilan Kenzo dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan yang sama seperti dahulu.
"Mau apa kau di kawasan elit seperti ini? Kau ... sedang menguntitku, ya?"
Berhenti tepat di hadapan perempuan itu, Kenzo hanya menunjukkan wajah datar yang dingin tanpa riak emosi sedikit pun.
"Sayang, siapa pengemis di depanmu ini?" tanya Adrian yang menyusul cepat, mematikan sambungan teleponnya dengan pandangan penuh rasa jijik.
"Hanya masa lalu yang tidak tahu tempatnya, Adrian," jawab Siska dengan nada manja sebelum kembali menatap Kenzo secara tajam.
"Dengar, Kenzo. Aku tahu kau sakit hati, tapi menguntitku sampai ke sini sungguh memalukan. Sadarlah, kita sudah berbeda dunia sekarang."
Merembes perlahan hawa dingin yang luar biasa dari bawah kaki Kenzo. Bayangannya di aspal tampak bergetar tidak wajar.
"Kenzo," bisik Azzy dari dalam kegelapan batin. Nada suaranya terdengar sangat haus darah. "Mulut perempuan ini berisik. Boleh aku potong pita suaranya?"
"Diam, Azzy. Tarik kembali auramu," perintah Kenzo tegas dalam pikirannya. "Jangan memancing perhatian orang berkekuatan khusus di tempat terbuka."
Surut seketika hawa membunuh itu, menyisakan dengusan kesal dari sang penguasa hampa yang kembali tenang di dalam kegelapan bayangan.
Kenzo mengabaikan ocehan Siska sepenuhnya. Sorot matanya beralih menganalisis detail pada tubuh Adrian dengan ketajaman yang luar biasa.
Tampak sebuah pin emas berbentuk ular melingkar di kerah jasnya. Simbol itu persis dengan penanda rahasia milik petinggi Sektor B.
Juga noda ungu tipis di ujung jari telunjuknya, membuktikan pria ini bersentuhan langsung dengan zat supernatural berkonsentrasi tinggi.
"Kau tuli, ya?" bentak Adrian, melangkah maju untuk menekan Kenzo dengan tinggi tubuhnya yang lebih tegap.
"Pacarku sudah menyuruhmu pergi. Gelandangan sepertimu hanya merusak pemandangan di depan restoran Le Ciel."
Kenzo menarik sudut bibirnya, mengukir senyum tipis yang terasa begitu asing dan mengerikan bagi siapa pun yang melihatnya.
"Kau benar. Ini memang bukan duniaku lagi," ucap Kenzo dengan suara yang sangat tenang namun sarat akan ancaman mutlak.
Mata Kenzo menusuk langsung ke dalam pupil Adrian, mengalirkan tekanan psikologis murni dari seorang predator yang baru saja membantai puluhan nyawa.
"Nikmati saja panggung megahmu sekarang, Adrian. Karena lampu sorot itu ... tidak akan menyala lebih lama lagi."
Tersentak mundur satu langkah kaki Adrian secara refleks. Tubuhnya gemetar tanpa sebab, seolah instingnya mendeteksi ujung belati dingin di lehernya.
Melewati mereka begitu saja tanpa sepatah kata lagi untuk Siska, Kenzo melenggang santai, membiarkan tubuhnya melebur bersama kerumunan pejalan kaki malam.
Siska berdiri kaku dengan napas memburu karena kesal. Kenzo bahkan tidak menganggap kehadirannya ada, mengabaikannya layaknya angin kosong.
"Dasar orang tidak waras," umpat Adrian lirih, mencoba memulihkan harga dirinya yang sempat runtuh sebelum merangkul kasar pinggang Siska.
"Ayo pergi, Sayang. Pertemuan dengan para dewan direksi perusahaan tidak boleh terlambat."
Dari kejauhan, Kenzo berbalik sekilas untuk melihat mobil mewah Adrian yang perlahan melaju pergi membelah jalanan kota yang dingin.
Raut wajah target sudah terekam. Nama telah didapat. Jalur menuju dalang raksasa di balik layar kini terbuka lebar di hadapannya.