Anindya (22 tahun) terpaksa menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Vane (28 tahun), CEO kejam dari Vane Group, demi membayar biaya pengobatan adiknya. Adrian hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluarga Anindya yang ia tuduh memfitnah keluarganya di masa lalu.
Adrian bersikap dingin, arogan, dan menetapkan batasan ketat: tidak boleh ada rasa cinta. Namun, saat rahasia masa lalu yang sebenarnya perlahan terkuak dan musuh bisnis Adrian mulai menargetkan Anindya, Adrian sadar bahwa wanita yang ia benci telah menjadi pelindung jiwa dan takdir hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gastor Gaming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Sang Ratu Terkuak
Suasana di kamar perawatan VVIP seketika mencekam. Sepuluh petugas kepolisian federal berseragam lengkap menyebar di seluruh sudut ruangan. Ketua tim kepolisian, seorang pria berwajah tegas dengan seragam penuh bintang tanda jasa, melangkah maju mendekati Nyonya Besar Vane.
Nyonya Besar Vane, ucap ketua tim kepolisian itu dengan suara berat yang memenuhi ruangan. Berdasarkan bukti forensik baru dan perintah resmi Mahkamah Federal, Anda dinyatakan sebagai tersangka utama.
Nyonya Besar memegang erat tongkat berkepala emasnya, berusaha mempertahankan sisa-sisa keanggunannya meski matanya menyiratkan kepanikan yang luar biasa. Berani sekali Kau melangkah masuk ke mari dan menuduhku! Apakah Kau tahu siapa aku?!
Kami sangat tahu siapa Anda, Nyonya, jawab polisi itu tenang. Anda adalah dalang di balik sindikat medis gelap yang melibatkan nama Vane Group selama sepuluh tahun terakhir.
Adrian mendudukkan tubuhnya di ranjang dengan bantuan Anindya, matanya menatap tajam ke arah neneknya. Penyelidikan sepuluh tahun lalu... Kematian Kakek yang mendadak... Jadi semua itu perbuatanmu, Nenek?
Nyonya Besar menoleh cepat ke arah Adrian, matanya menyipit penuh kecurigaan. Jangan mendengarkan bualan polisi ini, Adrian! Mereka dipengaruhi oleh musuh-musuh bisnis kita!
Musuh bisnis? Anindya menyela, melangkah berdiri di samping Adrian seraya memegang erat tangan suaminya. Bagaimana dengan pesan terakhir di ponsel Clara? Bagaimana dengan sampel DNA janin di rahimnya yang baru saja terungkap di teleponmu tadi?!
Wajah Nyonya Besar semakin pucat pasi. Lidahnya mendadak kelu untuk membalas ucapan Anindya.
P
Bicara, Nenek! bentak Adrian, suara beratnya bergema memenuhi ruangan hingga memicu rasa nyeri di perutnya. Apakah Kakek benar-benar sudah meninggal sepuluh tahun lalu?! Atau Kau menyembunyikannya selama ini untuk menguasai seluruh aset keluarga Vane?!
Polisi itu melangkah mendekati Nyonya Besar dan mengeluarkan borgol besi dari pinggangnya. Tuan Kakek Anda tidak pernah meninggal dunia sepuluh tahun lalu, Tuan Adrian. Beliau disembunyikan di sebuah fasilitas medis rahasia di pinggiran kota di bawah pengaruh obat bius dosis tinggi secara berkala.
Apa?! jerit Anindya, menutup mulutnya dengan tangan tak percaya. "Disembunyikan selama sepuluh tahun?!
Dan soal Nona Clara, lanjut polisi itu seraya menatap Nyonya Besar dengan pandangan jijik, Nona Clara adalah anak hasil hubungan gelap antara suami Anda yang Anda sembunyikan itu dengan sekretaris pribadinya puluhan tahun lalu. Anda memelihara Clara, menjadikannya umpan donor untuk Adrian, hanya untuk memastikan mereka berdua saling menghancurkan!
Cukup! teriak Nyonya Besar histeris, memukul lantai marmer dengan tongkat emasnya. Tutup mulutmu, Polisi Keparat!
Borgol dia! perintah ketua tim kepolisian tanpa belas kasihan.
Dua petugas polisi maju dan langsung mengunci kedua pergelangan tangan Nyonya Besar dengan besi dingin. Tongkat emas yang selalu dibanggakannya terjatuh dan menggelinding di lantai marmer.
Adrian! Bantu Nenekmu! jerit Nyonya Besar saat diseret menuju pintu. Kau adalah seorang Vane! Jika aku jatuh, nama besar Vane Group akan hancur lebur di mata dunia!
Nama besar yang didirikan di atas darah dan penderitaan orang lain? sahut Adrian dingin, menatap neneknya tanpa sedikit pun rasa belas kasihan. Biarkan nama itu hancur bersama kejahatanmu, Nenek.
Kau akan menyesali ini, Adrian! Kau tidak akan pernah bisa menguasai Vane Group tanpa aku! teriak wanita tua itu sebelum akhirnya diseret keluar menyusuri koridor oleh petugas kepolisian.
Suasana kamar VVIP kembali hening setelah rombongan polisi dan pengawal pergi. Sarah menghembuskan napas lega yang panjang di dekat pintu, sementara Anindya terduduk lemas di tepi ranjang, memegang dadanya yang berdegup kencang.
"Tuan Adrian... panggil Sarah dengan suara pelan. Surat penyitaan aset dari Mahkamah Internasional tadi... ternyata adalah surat perintah pembekuan sementara untuk memisahkan aset Anda dari rekening pribadi Nyonya Besar.
Adrian menatap Sarah. Maksudmu, asetku tidak disita?
Tidak, Tuan, geleng Sarah seraya tersenyum tipis. "Seluruh saham dan aset Vane Group yang sah kini sepenuhnya jatuh ke tangan Anda sebagai satu-satunya pewaris yang bersih dari tindak kejahatan.
Adrian menarik napas panjang, lalu perlahan menoleh menatap Anindya yang terdiam di sampingnya. Pria itu meraih jemari Anindya, menggenggamnya hangat.
Anindya...panggil Adrian dengan suara lembut yang sangat jarang ia gunakan.
Anindya menoleh, menatap mata hitam suaminya. Ya, Adrian?
Aku minta maaf, ucap Adrian tulus, menatap lurus ke dalam mata Anindya. Atas semua ancaman, perlakuan dingin, dan neraka yang kubuat untukmu sejak hari pertama kita menikah. Aku memanfaatkan keadaanmu saat adikmu sakit.
Anindya tersenyum pahit, membalas genggaman tangan Adrian. Awalnya aku sangat membencimu, Adrian. Tapi di saat kau mempertaruhkan dadamu di depan peluru untuk melindungiku... aku tahu ada pria baik di balik topeng motormu itu.
Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu atau anak kita lagi, janji Adrian seraya mengelus lembut perut Anindya. Besok, aku akan menyiapkan berkas pembatalan kontrak pernikahan kita. Kau tidak lagi terikat oleh aturan konyol tiga ratus enam puluh lima hari itu.
Anindya mengernyitkan dahi. Pembatalan kontrak? Maksudmu kita akan bercerai?
Tidak, sahut Adrian cepat dengan senyuman miring yang hangat. Aku ingin merobek kontrak perjanjian bisnis itu, dan menggantinya dengan pernikahan sesungguhnya. Tanpa uang tiga miliar, tanpa jaminan organ tubuh, dan tanpa paksaan.
Hati Anindya mencelos bahagia mendengarnya. Namun sebelum Anindya sempat menjawab ucapan manis suaminya, pintu kamar VVIP kembali diketuk dengan sangat cepat.
Ketuk! Ketuk! Ketuk!
Dokter Kenzie berlari masuk ke dalam kamar dengan wajah yang tertutup peluh dingin dan napas yang terengah-engah.
Dokter Kenzie? panggil Anindya cemas melihat raut wajah sang dokter. Ada apa lagi? Bukankah Nyonya Besar sudah ditangkap?
Dokter Kenzie memegang lututnya, berusaha mengatur napasnya yang memburu. Tuan... Tuan Adrian! Ada kabar buruk dari tim medis penyelamat yang baru saja tiba di fasilitas rahasia Kakek Anda!
Adrian mendadak menegang. Kakek? Apakah Kakek berhasil diselamatkan?!
Tim medis berhasil menembus fasilitas itu, Tuan! teriak Dokter Kenzie dengan suara panik.
Tapi Kakek Anda... Kakek Anda tidak ada di sana!
Apa maksudmu tidak ada di sana?! bentak Adrian, mencoba bangkit berdiri lagi.
Fasilitas medis itu sudah kosong melompong! jelas Dokter Kenzie seraya menyerahkan sebuah foto yang baru dikirimkan lewat ponselnya. Dan di dinding kamar perawatan Kakek Anda... ada tulisan yang dibuat menggunakan darah segar!
Anindya mendekat dan melihat layar ponsel Dokter Kenzie. Di foto itu, terlihat sebuah dinding putih yang dicoret dengan pesan darah yang mengerikan:
Cucuku Adrian... Terima kasih telah membebaskan istriku yang jahat... Sekarang, giliranku yang akan mengambil kembali takhtaku dan anak di dalam kandungan istri mudamu...
Bzzzt!
Tiba-tiba seluruh lampu di dalam kamar perawatan VVIP padam total. Kegelapan pekat seketika menyelimuti ruangan, diiringi oleh suara dentuman keras pintu lift pribadi yang terkunci dari luar.
Adrian! jerit Anindya dalam kegelapan, meraba-raba mencari tubuh suaminya.
Di tengah kegelapan pekat itu, sebuah suara tawa pria tua yang sangat berat dan dingin bergema lembut dari pengeras suara langit-langit kamar:
Selamat malam, Cucuku... dan selamat datang di permainan sesungguhnya...