NovelToon NovelToon
Mantan Oh Mantan

Mantan Oh Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garda Depan Penghadang Carlo

Satu bulan telah berlalu sejak Dean memindahkan seluruh poros kehidupannya ke unit apartemen nomor 1501. Dalam kurun waktu tiga puluh hari itu, koridor lantai lima belas telah berubah menjadi medan pertempuran sunyi. Setiap pagi, tepat pukul tujuh, Dean akan membuka pintunya secara presisi bersamaan dengan saat Valerie keluar untuk berangkat kuliah. Tidak ada sapaan hangat yang dibalas, tidak ada senyuman yang terukir. Valerie selalu melangkah melewati Dean seolah-olah pria itu hanyalah kepulan asap kosong yang tidak kasat mata.

Namun, ketegangan sunyi itu pecah berkeping-keping pada suatu Selasa sore yang diguyur hujan lokal.

Pintu lift di ujung lorong berdenting terbuka dengan sentuhan yang kasar. Langkah kaki yang terburu-buru dan berat bergema di atas lantai marmer, memutus keheningan koridor lantai lima belas. Sosok yang melangkah keluar dari lift adalah Carlo.

Pria jangkung itu tampak jauh lebih kurus dan mengenaskan dibanding satu bulan lalu. Setelan jaket denim yang dulu menjadi simbol kehangatannya kini tampak kusam. Di duniakahnya saat ini, Carlo sedang dikepung oleh tekanan mutlak dari Dirgantara Group dan ancaman hukum dari keluarga Sarah yang menuntut pernikahan paksa dalam waktu dua minggu ke depan. Keputusasaan yang mendalam dan rasa takut kehilangan Valerie untuk selamanya membuat Carlo nekat menerobos pengamanan lobi bawah apartemen mahasiswa [local] demi mencari satu celah pengampunan.

"Valerie! Val, tolong dengarkan aku sekali saja!" seru Carlo dengan suara parau yang bergetar hebat saat dia berlari mendekati pintu unit nomor 1502.

Namun, sebelum jemari tangan Carlo sempat menyentuh gagang pintu atau menekan bel kamar Valerie, sebuah pintu di seberang lorong—unit nomor 1501—terbuka dengan sentuhan kaku yang cepat.

Dean melangkah keluar, langsung memangkas jarak di antara mereka. Tubuh tegap sang CEO berdiri kokoh tepat di tengah koridor, menjadi barikade mutlak yang memisahkan Carlo dari pintu kamar Valerie. Wajah Dean mengeras seperti pahatan batu karang, sepasang mata elangnya berkilat penuh amarah yang tenang namun mematikan.

"Langkah kakimu sudah melewati batas aman, Carlo," ucap Dean, suaranya sangat rendah, dingin, dan sarat akan intimidasi psikologis yang pekat yang sanggup membekukan nyali siapa pun.

Carlo tertegun sejenak, langkahnya terhenti secara paksa. Matanya melebar penuh frustrasi saat melihat sosok Dean yang kini berdiri sebagai tetangga depan kamar Valerie. "Dean?! Kenapa bajingan kaku sepertimu bisa ada di sini?! Singkirkan tubuhmu dari depan pintu kamar kekasihku!" bentak Carlo, emosinya meledak seketika. Dia maju satu langkah, mencoba mencengkeram bahu tegap Dean untuk menggesernya.

Dean tidak bergeser satu senti pun. Sebelum tangan Carlo sempat menyentuh pakaian kasualnya, Dean bergerak dengan kecepatan refleks yang luar biasa. Tangan kanannya mencengkeram pergelangan tangan Carlo dengan cengkeraman fisik yang begitu kuat hingga menimbulkan bunyi gemertak halus, sementara tangan kirinya mendorong dada Carlo menjauh dengan sentuhan kaku yang mutlak.

"Saya sudah memperingatkanmu satu bulan lalu di rumah saya, Carlo," desis Dean, matanya menatap lurus ke dalam manik mata senior tingkat akhir yang berantakan itu. "Hak moralmu sebagai kekasih sudah mati rasa di duniakah nyata sejak menit pertama kamu membiarkan benih kehamilan wanita lain merusak jiwa Valerie. Kehadiranmu di sini hari ini hanya akan mengusik proses penyembuhan lukanya, dan sebagai garda depan, saya tidak akan membiarkan sepotong sampah emosional sepertimu menyentuh pintu kamarnya lagi."

"Kamu tidak tahu apa-apa tentang cintaku pada Valerie, Dean!" jerit Carlo dengan keputusasaan yang memuncak, air matanya mulai luruh membasahi pipinya yang pucat. "Aku dijebak! Aku tidak pernah menginginkan Sarah atau anak itu! Valerie adalah duniakahku... aku rela membuang seluruh harta keluarga Dirgantara Group demi bersamanya! Biarkan aku bicara padanya, aku mohon..." Carlo merosot, memegangi lengan tegap Dean dengan gestur memohon yang teramat sangat pekat.

"Rela membuang harta tidak akan bisa menghapus fakta draf medis kandungan milik Sarah, Carlo," potong Dean kaku, tanpa selembar rasa iba sedikit pun di wajahnya. "Logika bisniemu yang lemah telah membuatmu kalah oleh konspirasi duniakah orang dewasa. Jika kamu benar-benar mencintai Valerie, hal paling dewasa yang bisa kamu lakukan sekarang adalah pergi dari hidupnya, hadapi konsekuensi hukum pernikahanmu dengan Sarah, dan biarkan Valerie bernapas tanpa bayang-bayang kesalahan motormu."

Di balik pintu unit nomor 1502 yang tertutup rapat, Valerie sebenarnya berdiri mematung di balik daun pintu kayu putihnya. Tangan kanannya meremas erat tali tas kuliahnya, sementara pergelangan tangan kirinya yang memakai gelang daisy pemberian Carlo terasa begitu kebas.

Valerie mendengar setiap teriakan frustrasi Carlo, setiap tangisan penyesalan seniornya, dan setiap kalimat dingin tak terbantahkan yang dilemparkan oleh Dean di luar sana. Namun, di dalam lubuk hatinya yang terdalam, tidak ada lagi letupan emosi yang meledak-ledak. Tembok tinggi yang dia bangun selama satu bulan ini telah mengunci seluruh duniakah rasanya rapat-rapat. Dia menatap kosong ke arah lantai apartemennya, merasakan sebuah ketetapan mutlak bahwa kisah manisnya bersama Carlo memang telah selesai diarsip oleh takdir, dan kehadiran Dean di luar sana hanyalah sesosok garda kaku yang sedang menjalankan tugas karmanya sendiri.

Valerie memilih untuk tidak membuka pintu. Dia membalikkan tubuhnya dengan langkah yang lambat, berjalan menuju ruang tengah dan menyalakan pemutar musik dengan volume sedang untuk meredam sisa-sisa kegaduhan di koridor luar.

Kembali ke lorong apartemen yang mencekam, Dean melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan tangan Carlo dengan satu sentakan kaku yang membuat pria jangkung itu terhuyung mundur ke belakang menabrak dinding koridor.

"Dua menit dari sekarang, petugas keamanan gedung yang sudah saya bayar akan naik ke lantai ini untuk menyeretmu keluar jika kamu masih berdiri di sini, Carlo," ucap Dean, seraya merogoh ponsel pribadinya dari saku celana untuk memberikan perintah final kepada tim agensi pengawasannya di lobi bawah. "Dan jangan lupa... draf berkas penarikan saham gabungan dan pembatalan investasi dari perusahaan saya untuk bisnis keluargamu di luar kota sudah berada di meja pengacara. Sekali saja kamu menginjakkan kaki di lantai lima belas ini lagi, aku sendiri yang akan menekan tombol eksekusi kebangkrutan Dirgantara Group."

Carlo menatap sepasang mata elang Dean yang memancarkan aura kekuasaan mutlak yang sedingin es di kutub utara. Di depan ketelitian hukum, kekuatan materi, dan ketegasan protektif sang CEO kaku, Carlo menyadari bahwa posisinya telah hancur tanpa sisa celah pembelaan. Dia telah kalah oleh waktu, kalah oleh manipulasi Sarah, dan kini kehilangan seluruh haknya untuk mendekati wanita yang teramat sangat dicintainya.

Dengan bahu yang merosot lesu, napas yang tersengal-sengal menahan sesak di dada, dan air mata penyesalan yang tak kunjung mengering, Carlo perlahan membalikkan tubuh jangkungnya. Dia berjalan gontai menjauh menyusuri koridor koridor menuju lift, meninggalkan jejak penyesalan bisu yang terlambat yang tak akan pernah bisa mengubah garis takdir yang telah robek.

Setelah pintu lift berdenting tertutup membawa pergi sosok Carlo, koridor lantai lima belas kembali dikuasai oleh keheningan yang kaku. Dean tidak langsung kembali ke dalam unit kamarnya nomor 1501. Dia berjalan dua langkah mendekati pintu putih nomor 1502 milik Valerie. Pria kaku itu berdiri mematung di sana selama beberapa menit, menyandarkan telapak tangan kanannya pada permukaan kayu pintu yang dingin, seolah mencoba menyalurkan setitik energi protektif dan draf maaf yang mendalam kepada gadis di balik dinding kedap suara tersebut.

"Saya akan tetap berdiri di sini, Valerie," bisik Dean sangat pelan, suaranya sarat akan ketetapan mutlak yang tak akan pernah goyah oleh waktu. "Menghadang setiap badai yang mencoba mendekatimu, sampai suatu hari nanti kamu bersedia membuka kembali celah kecil di pintu hatimu yang membeku ini."

Dean membalikkan tubuhnya, melangkah kembali masuk ke dalam unit apartemennya sendiri dan mengunci pintu, bersiap melanjutkan masa penantian panjang satu tahun penuhnya sebagai tetangga setia yang akan menjaga duniakah Valerie dari setiap dinginnya malam duniakah luar.

Dean telah berhasil mengunci pergerakan Carlo dan mempertegas posisinya sebagai garda terdepan pelindung Valerie.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!