[Bukan Novel Terjemahan] [Original Karya Penulis]
Seorang mahasiswa melakukan penelitian di hutan, saat dia merasuk lebih dalam ke jantung hutan, dia menemukan sebuah lubang hitam besar. Karena rasa penasaran dia mendekat ke arahnya. Namun, siapa sangka dia akan terseret ke dalam.
Seorang gadis yang dianggap terkenal lemah berencana bunuh diri saat tau akan menggantikan kakak tirinya untuk dinikahkan dengan pangeran yang terkenal gila di seluruh kekaisaran.
***
Bagaimana jika mahasiswa itu menggantikan sang gadis untuk menikah? Akankah mereka berdua bekerja sama untuk balas dendam karena kemiripan wajah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 : Kembar?
Kediaman Jenderal Luo
Kamar Luo Huanran,
Luo Huanran diam-diam membawa Fang Hua ke kamarnya untuk mengganti busana. Entah apa yang ada dipikiran Fang Hua, dirinya sedari tadi menatap dengan heran setiap sudut dalam ruangan sempit itu.
Dia bahkan mengetuk-ngetuk bagian dindingnya.
Ia meletakkan tas ransel miliknya di ranjang yang ada.
"Ini, pakai saja ini." Ujar Luo Huanran mengulurkan sebuah hanfu berwarna hijau pada Fang Hua.
"Pakaian tradisional?" Heran Fang Hua sembari menempa hanfu pemberian Luo Huanran. Dia sebenarnya ingin mengabadikan momen di dinasti Tang ini, namun apa daya, handycam miliknya telah lenyap dilalap air.
"Bagaimana cara menggunakannya?" Tanya Fang Hua melirik hanfu di tangannya.
Luo Huanran tersenyum kecil, menertawakan. Bagaimana bisa ada gadis yang tidak bisa mengenakan hanfu dengan model paling sederhana.
"Ada apa, kenapa tertawa?" Selidik Fang Hua dengan mengangkat salah satu alisnya.
Menggelengkan kepala, Luo Huanran menjawab. "Tidak apa-apa."
"Cepat bantu aku. Tubuhku mulai kedinginan." Pinta Fang Hua.
Luo Huanran mengangguk, ia melangkah ke arah Fang Hua, membantunya berganti pakaian.Lalu gadis bernama Luo Huanran itu menuntun Fang Hua duduk di kursi kayu dengan ukiran sederhana. Mengambil sisir dan menata surai hitam milik Fang Hua.
"Nah sudah selesai." Ujar Luo Huanran dengan senyum mengembang di bibir mungilnya. Entah mengapa sejak bertemu dengan Fang Hua, suasana hatinya melambung tinggi. Seakan dia telah menemukan seorang pengganti untuknya.
"Aku butuh cermin." Tegas Fang Hua. Dirinya khawatir jika Luo Huanran menata rambutnya dengan gaya kuno.
"Ini." Rupanya Luo Huanran sudah menyiapkan cermin itu di dekat nya. Fang Hua menerima cermin itu. Ia arahkan ke wajahnya.
Sedetik kemudian dia terperanga kagum dengan hasil dandanan dari Luo Huanran. Bibirnya mulai merekahkan senyum.
"Kau hebat."Puji nya pada Luo Huanran.
Ternyata tidak buruk juga terjebak di dunia ini, pikir Fang Hua. Setidaknya dia menemukan orang yang baik disini.
"Terima kasih." Luo Huanran tersipu malu sehabis dipuji Fang Hua. Itu tidak mengherankan karena sepanjang hidupnya ia hanya mendapatkan cacian dan hinaan kejam dari ibu tiri dan dua saudari tirinya bahkan dari para pelayan.
Bagian terburuknya bukanlah itu, namun saat ayah kandung nya sama sekali tidak memperdulikan keadaan Luo Huanran. Padahal selama ini, Luo Huanran selalu berbuat patuh dan tidak mengeluh di depan ayahnya. Hanya kakak kandung laki-lakinya saja yang peduli dengan Luo Huanran.
Namun sayang, kakaknya itu sering pergi ke luar kota.
"Aku ingin keluar." Pinta Fang Hua. Tidak, itu hanya alasan. Tujuan sebenarnya adalah mencari suatu cara agar dapat kembali ke dimensinya.
Sesekali terlintas di benaknya untuk menghantamkan diri ke danau tempat dia muncul tadi.
"Tidak boleh, kupikir ini sudah cukup si--" Luo Huanran menghentikan kalimatnya setelah menyadari ketukan kasar di pintu.
"Hei, buka pintu nya!!" Titah orang dibalik pintu.
Fang Hua menatap tidak suka ke arah pintu. Dia ingin menengok siapa sosok tidak sopan yang mengetuk pintu sekeras itu. Namun, Luo Huanran menghentikan langkahnya. Luo Huanran mencekat tangan Fang Hua. Dia menggelengkan kepala, memberi sinyal agar Fang Hua tidak membukakan pintu.
"Hei cepat buka!!"Orang di luar sana berteriak semakin kuat.
"Sialan!"Maki Fang Hua.
"Lepaskan aku."Pinta Fang Hua berusaha
melepas cengkraman Luo Huanran. Kekuatan mereka berbanding jauh, Fang Hua lebih kuat. Maka, Fang Hua berhasil melepaskan tarikan Luo Huanran dan melanjutkan aktivitas untuk membuka pintu yang terkunci.
Luo Huanran tiba-tiba saja bersimpuh. "Kumohon jangan lakukan itu. Kumohon aku tidak mau dihukum." Ujarnya mulai terdengar isakan. "Membawa orang luar kemari tanpa seizin jenderal termasuk melanggar aturan." Imbuhnya
"Cepat lah dasar sampah! Jangan membuatku menunggu!" Orang diluar sana terus berkoar tidak sabar.
"Haih, baiklah kau sembunyi saja. Lagipula wajah kita serupa, orang lain pasti tak akan menyadarinya."Lontar Fang Hua yang dibalas anggukan kecil dari Luo Huanran.
"Sembunyi lah di bawah ranjang."Perintah Fang Hua.
Sementara Luo Huanran hanya menuruti.
Gadis dengan tinggi sekitar 158 cm itu mulai berjalan mendekati pintu dan membuka kunci yang sedari tadi bergemantung di sana.
Fang Hua membuka daun pintu dan mendapati seorang yang sepertinya pelayan, membawa sebuah nampan dan beberapa makanan.
"Lama sekali kau membukanya!" Ujarnya dengan bersungut-sungut.
"Ini, cepat! Ini makanan mu. Kalau bukan karena kakakmu yang memintanya, aku tak akan sudi mengantarkan ini padamu. Cih, biarkan saja mati kelaparan." Celetuk pelayan Yu dengan sombong sembari menyodorkan nampan perak.
Fang Hua tersenyum miring mendapat perlakuan itu. Berani sekali dia!
"Baiklah, aku akan mengambil makanan nya. Terima kasih." Celoteh Fang Hua dengan senyum yang dibuat-buat.
Setelah menerima nampan itu, Fang Hua dengan sengaja menjatuhkan makanan yang masih panas itu ke arah pelayan.
"Dasar Sialan, Tidak berguna!" Pelayan itu berteriak keras yang mampu membuat gendang telinga Fang Hua panas.
Dengan segera Fang Hua menampar telak pelayan dihadapannya hingga tubuh pelayan itu terperosok ke tanah dan bagian paling pinggir bibirnya mengelurkan darah.
"Ah maaf, pukulanku terlalu pelan rupanya. Kurasa aku harus berlatih agar bisa membuat lawanku mati dalam satu tamparan." Ujarnya dengan tatapan sangat dingin namun wajah sedih yang terkesan di buat-buat.
Fang Hua membungkuk, menyejajarkan tingginya dengan pelayan yang dia anggap rendah itu.
Gadis dengan surai hitam itu menekan tengkuk sang pelayan dan berkata,"Lain kali ketuklah pintu lebih sopan, dan juga bawakan aku makanan yang lebih bergizi. Kalau tidak, mungkin nyawamu akan melayang." Ancam Fang Hua tegas dengan serigaian.
Pelayan Yu itu hanya bisa diam, tidak berani berkutik sedikitpun. Namun, tiba-tiba dia mendapatkan sebuah kata-kata busuk.
"Heh, memang siapa kau berani sekali mengancamku. Dasar jala*g sampah! Selir Qin pasti akan menghukummu." Ejeknya.
"Selir Qin? Apakah dia begitu hebat?" Tanya Fang Hua dengan masih menekan tengkuk pelayan Yu.
"Iya dia sangat hebat." Balas nya dengan senyum licik.
"Seberapa hebat? Apakah sehebat ini?" Ujar Fang Hua sembari melempar kasar tengkuk pelayan Yu itu dan menendang tubuh pelayan itu.
"Tidak, maafkan aku, kau pasti kesakitan kan?" Celoteh Fang Hua dengan wajah sedih. "Hehehe, rasakanlah. Itu yang aku rasakan selama ini." Imbuhnya dengan senyuman puas yang tercetak jelas.
Meski bukan benar-benar aku yang merasakannya hehehe, batin Fang Hua.
Deg!
Kenapa aku merasa seperti ada yang mengawasiku? Batin Fang Hua
.
.
.
.
.
Istana Tang
"Lapor Pangeran, ternyata putri jenderal Luo yang terkenal lemah itu tidak benar." Ujar mata-mata milik Pangeran kedua, Wang Chunying.
"Lalu apa kebenarannya?" Tanya Wang Chunying menginterogasi.
"Dia bahkan membuat pelayan hampir sekarat. Dan juga tatapannya yang begitu dingin." Balas sang mata-mata dengan mengatupkan kedua tangannya.
"Jika begitu, maka dia tidak akan cocok dengan adikku yang gila itu." Lontar Wang Chunying dengan seringaian tajam
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih