Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN PERTAMA
Belum lama berselang, muncul seorang pemuda yang berjalan santai melangkah menuju gedung MAPALA tersebut. Langkah kakinya tenang dan lebar, seakan tak terburu-buru oleh waktu. Sesekali ia mengangkat tangan kanannya mendekat ke bibir, lalu menghembuskan kepulan asap putih yang perlahan memudar terbawa angin pagi. Asap rokok mengepul pelan dari mulutnya, menandakan pemuda itu sedang merokok sepanjang jalan menuju ke sana.
Semakin dekat ia melangkah, penampilannya semakin terlihat jelas. Ia mengenakan kaos oblong berwarna gelap yang kerahnya sudah tampak sedikit melonggar, sama sekali tak rapi seperti pakaian mahasiswa pada umumnya. Celana pendek selutut berwarna kusam melilit kakinya yang jenjang, dan di kakinya hanya terpasang sepasang sandal jepit yang terlihat biasa saja. Di telinga kirinya, terpasang anting kecil berwarna perak yang berkilau sesekali terkena cahaya matahari. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin, menambah kesan bahwa pemuda ini sama sekali tak peduli dengan kerapian penampilan.
Sesampainya di depan gedung, ia berhenti tepat di hadapan Kevin dan Rangga. Dengan santai, ia menurunkan sebatang rokok yang masih menyala dari bibirnya, lalu menepuk-nepukkan ujung jari agar abu rokok jatuh ke tanah. Wajahnya tenang, matanya menatap kedua temannya itu dengan pandangan yang tajam namun tetap terlihat santai, seakan tak ada beban sedikit pun di pundaknya.
"Apakah kakak senior dan teman kita yang lain belum datang?" tanyanya kepada Kevin sambil kembali mendekatkan ujung rokok ke bibirnya dan menarik napas pelan, lalu menghembuskan asapnya perlahan ke samping.
Kevin tersenyum ramah menjawab pertanyaan itu. "Tadi aku sempat berpapasan dengan Kak Billy dan Kak Nisa. Mereka sedang sibuk mengurus skripsi, jadi sepertinya hari ini belum bisa datang ke sini."
Pemuda itu — yang bernama Doni — mengangguk pelan. Ia menyisakan rokoknya di sela-sela jari tangan kanannya, lalu mengalihkan pandangannya kepada Cintya dan Kristin yang berdiri tak jauh dari sana. Matanya menatap mereka berdua sekilas, lalu bertanya dengan nada yang datar, "Kalau begitu, kalian berdua siapa?"
Cintya segera melangkah maju, menyambut uluran tangan pemuda itu dengan sopan sambil tersenyum ramah. "Perkenalkan, nama aku Cintya. Selamat pagi, Kak."
Doni mengangguk pelan, lalu beralih menatap Kristin yang sedari tadi hanya diam memperhatikannya lekat-lekat. Kristin menatap penampilan Doni dari ujung kaki hingga wajahnya, lalu kembali menatap rokok yang masih mengepul di tangan kanannya. Di matanya, pemuda ini sama sekali tak terlihat seperti mahasiswa yang sopan dan tertib. Penampilannya yang berantakan, telinga yang ditindik, serta asap rokok yang terus mengepul dari tangannya, membuatnya terlihat lebih seperti pemuda jalanan daripada seorang mahasiswa.
Menyadari dirinya sedang ditatap, Doni menatap balik lurus ke dalam manik mata Kristin sambil tetap memegang rokoknya, lalu bertanya dengan nada yang sedikit mengangkat satu alisnya, "Kenapa kau menatapku seperti itu? Ada yang aneh dengan penampilanku?"
Kristin seketika tergagap mendengar pertanyaan itu. Wajahnya seketika memerah padam karena tertangkap basah sedang memperhatikannya. Dengan terburu-buru, ia segera menyambut uluran tangan pemuda itu sambil memperkenalkan dirinya dengan sopan. "Aku... aku Kristin. Maaf, Kak. Bukan bermaksud tidak sopan."
Melihat tingkah Kristin yang tampak gugup begitu, Kevin dan Rangga seketika tertawa tertahan. Rangga melangkah mendekat sambil tersenyum lebar, lalu berkata kepada Doni, "Mungkin dia melihatmu bukan sebagai mahasiswa, Doni. Melainkan sebagai pemuda nakal dan pemberontak yang tak suka aturan."
Doni hanya tersenyum miring mendengar candaan itu. Ia kembali memasukkan rokoknya ke bibir, menarik napas dalam, lalu menghembuskan asapnya perlahan ke arah samping sebelum kembali menatap Kristin. "Jadi, apa yang sebenarnya kau pikirkan dengan penampilanku ini?"
Kristin menunduk sejenak, tak berani menatap mata Doni yang begitu tajam menantangnya. Ia hanya tersenyum tipis, berusaha menutupi rasa gugupnya dengan senyum yang terasa kaku di bibir. Melihat Kristin yang tak berani menjawab dan hanya tersenyum begitu, Rangga pun segera membantu menjelaskan.
"Begini, di mana-mana mahasiswa itu berpakaian rapi. Memakai kemeja atau kaos berkerah, bercelana panjang yang rapi, dan sepatu yang bersih. Sedangkan kau..." Rangga menunjuk penampilan Doni dari atas ke bawah sambil tersenyum geli. "Kau memakai kaos oblong yang kerahnya sudah melonggar, telinga kiri tertindik anting, tangan kanan masih menggenggam rokok yang menyala, bercelana pendek selutut, dan melangkah santai memakai sandal jepit. Tentu saja dia terkejut melihat penampilanmu yang begitu berbeda."
Doni tersenyum tipis mendengar penjelasan itu. Ia kembali menatap mereka berdua dengan pandangan yang tenang, lalu berkata dengan nada yang tetap datar, "Inilah ciri khasku. Aku bukan orang yang suka terikat dan dikungkung oleh aturan yang tak perlu." Sambil berbicara, ia menatap rokok di tangannya sejenak, seakan tak merasa ada yang salah dengan apa yang ia lakukan.
Kristin mendengarkan setiap kata yang terucap dari mulut pemuda bernama Doni itu. Dalam hatinya, ia tak henti-henti berbisik, Amit-amit... jangan sampai aku harus bergabung ke dalam organisasi ini dengan adanya spesies bernama Doni yang berpenampilan begini dan merokok sembarangan.
Doni seakan tak peduli dengan pandangan Kristin terhadapnya. Ia kembali menatap Cintya dan Kristin secara bergantian, lalu bertanya dengan nada yang mulai terdengar lebih serius, "Kalau begitu, apa tujuan kalian berdua datang ke sekretariat kami?"
Cintya segera menjawab dengan antusias, "Aku berminat sekali untuk bergabung menjadi anggota organisasi ini."
Sedangkan Kristin hanya menunjuk ke arah Cintya, lalu berkata singkat, "Aku... aku hanya ikutan dengan ajakan Cintya."
Seketika itu juga, Kevin dan Rangga kembali tertawa mendengar jawaban Kristin yang begitu jujur dan polos. Hanya Doni yang diam saja, tak ikut tertawa. Ia menatap Kristin lekat-lekat dalam diam, lalu perlahan mendekatkan rokoknya ke bibir sekali lagi sebelum berbicara.
"Kalau hanya ikut-ikutan, lebih baik pulang saja dan tidur di rumah. Di sini tak ada tempat bagi orang yang tak punya kemauan sendiri."
Mendengar perkataan yang begitu tajam dan menyakitkan itu, hati Kristin seketika memanas. Rasa kesal seketika menguasai dirinya. Ia menatap lurus ke wajah Doni, lalu berkata dengan suara yang sedikit meninggi, "Kau tidak pantas berkata begitu! Walau kau seorang senior, tak seharusnya kau berbicara seenaknya seperti itu."
Kristin menarik napas panjang untuk menahan emosinya, lalu menambahkan dengan tegas, "Dan aku sama sekali tidak tertarik bergabung dengan organisasi yang anggotanya terlihat urakan dan berpenampilan seperti preman sambil merokok sembarangan sepertimu!"
Suasana seketika hening. Doni menahan amarahnya, rahangnya mengeras sejenak. Ia menatap Kristin dalam waktu yang cukup lama, lalu perlahan mematikan rokoknya dengan menekan ujungnya ke tembok samping pintu gedung. Setelah itu, ia menghela napas panjang, membuang pandangannya ke samping, lalu tanpa berkata sepatah kata pun, berbalik badan dan melangkah masuk ke dalam gedung sekretariat tersebut, meninggalkan mereka berempat yang masih terdiam di tempat.
Rangga menghela napas pelan melihat kepergian Doni, lalu menoleh kepada Kristin dengan senyum yang tampak berusaha menenangkan. "Jangan ambil hati perkataannya. Sebenarnya apa yang dikatakan Doni ada benarnya juga."
Rangga kemudian menjelaskan dengan sabar, "Untuk bergabung bersama kami, dibutuhkan fisik yang kuat dan mental yang tak mudah lelah maupun mengeluh. Karena kami beraktivitas di alam bebas — di mana tak ada kenyamanan, tak ada pelayanan, dan tak ada kata lemah. Siapa yang lemah, dia yang akan tertinggal."
Tak lama kemudian, Kevin yang sedari tadi diam pun berpamitan sebentar masuk ke dalam gedung. Tak lama berselang, ia kembali membawa dua lembar kertas berisi formulir pendaftaran. Kevin menyerahkan selembar formulir itu kepada Cintya dan selembar lainnya kepada Kristin.
"Ini formulir pendaftaran untuk kalian berdua," ucap Kevin ramah. "Silakan diisi dan dikembalikan paling lambat besok."
Kevin menatap mereka berdua dengan senyum yang penuh arti, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit menantang namun tetap sopan, "Hanya orang yang lemah yang tak tertarik menaklukkan ketakutan dan berpetualang di alam bebas. Maka, aku ingin bertanya... apakah kalian berdua orang yang lemah? Atau sebaliknya, kalian siap membuktikan keteguhan hati kalian?"