NovelToon NovelToon
Kapten Hatiku

Kapten Hatiku

Status: tamat
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:9.5k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

Keira Liem cuma mau hidup tenang.
Setelah dikhianati mantan pacar dan dijebak rekan kerja, pilot muda ini nyaris kehilangan segalanya—karier, reputasi, bahkan harga diri. Satu-satunya jalan keluar? Nikah siri dengan pria asing yang ditemuinya di parkiran bawah tanah SCBD di malam terburuk hidupnya.
Pria itu bilang namanya Kai. Katanya pengangguran. Senyumnya menyebalkan, mulutnya pedas, tapi entah kenapa... Keira merasa aman di dekatnya.
Yang tidak Keira tahu: "Kai" adalah Kaizan Tanujaya—CEO Nusantara Airlines, pewaris konglomerat Tanujaya, dan legenda penerbangan yang fotonya sudah ditempel Keira di dinding kamar sejak SMA.
Setiap hari, Keira memuja Kapten Kaizan Tanujaya di kantor.
Setiap malam, Keira memarahi "suami kontrak pengangguran"-nya di rumah.
Mereka adalah orang yang sama.
Dan Kaizan? Dia menikmati setiap detiknya.
Tapi rahasia tidak bisa bertahan selamanya. Ketika topeng terbuka, ketika masa lalu yang kelam menyerang, ketika satu-satunya orang yang pernah membuatnya jatuh cinta berbalik pergi—Kaizan harus membuktikan bahwa cinta yang dimulai dari kebohongan bisa menjadi hal paling nyata di hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16

Kartu Tarot

Kai baru menjawab setelah mobil keluar dari Bandung.

"Aku pernah mendapat bayaran bagus dan berinvestasi dengan benar."

"Sebagus enam miliar dalam satu transaksi?"

"Lebih bagus dari yang kamu bayangkan."

"Pekerjaan apa?"

"Penerbangan dan restrukturisasi bisnis."

Itu kebenaran yang sengaja dibuat kabur. Keira menangkapnya, tetapi pengemudi di depan membuat percakapan tidak nyaman diteruskan.

"Nanti di rumah kita bicara lagi," katanya.

Namun sesampainya di Jakarta, Mochi menyambut dengan tali popok yang tersangkut kaki meja, kotak-kotak Cloud memenuhi ruang tamu, dan telepon kerja Keira terus berbunyi. Pembicaraan tertunda. Kai tidak pernah membukanya kembali.

Satu minggu kemudian, ruang istirahat NusAir ramai menjelang briefing siang. Seorang rekan membawa kartu tarot untuk mengisi waktu. Karyawan berkumpul mengelilingi meja kopi, lebih tertarik pada hiburan daripada ramalan.

"Satu kartu untuk Keira," kata rekan itu. "Pikirkan pertanyaan, jangan diucapkan."

Keira mengocok kartu. Yang ada di kepalanya hanya Kai, ciuman di bawah kunang-kunang, dan jawaban tentang uang yang tidak pernah lengkap.

Dia menarik satu kartu.

The Lovers.

Sorakan kecil pecah.

"Cocok sekali," goda seorang pramugari. "Setelah video pesta, sekarang semua orang tahu ada suami misterius."

Keira memasukkan kartu kembali. "Tarot bukan laporan resmi. Jangan percaya terlalu banyak."

"Tapi wajahmu merah."

"Ruangannya panas."

Wenny masuk tepat ketika tawa membesar. Bekas skandal membuat orang-orang berhenti berbicara di dekatnya. Dia menaruh tas di meja dan memaksa senyum.

"Aku juga mau."

Kartu yang ditariknya adalah The Tower. Gambar menara disambar petir terpampang di depan semua orang.

"Artinya perubahan mendadak," kata pembaca kartu hati-hati. "Sesuatu yang dibangun di atas dasar rapuh bisa runtuh."

Wenny mendorong kartu itu. "Kebetulan bodoh."

Tatapannya jatuh pada liontin Cloud di leher Keira. Semua orang kini tahu itu asli karena foto pembelian di butik Bandung bocor ke akun penggemar perhiasan.

"Kalau perusahaan serius soal etika," kata Wenny, "mereka seharusnya memeriksa hadiah miliaran yang diterima pilot dari pria tanpa pekerjaan."

Keira berdiri. "Kalau kamu punya tuduhan, gunakan saluran resmi. Jangan menyebarkan insinuasi di ruang istirahat."

"Mungkin sudah ada yang menggunakan saluran resmi."

Dua jam kemudian, HR memanggil Keira. Sebuah surat anonim menuduhnya menerima fasilitas dari pihak luar, memakai hubungan pribadi untuk memengaruhi manajemen, dan mencemarkan nama perusahaan di acara resmi.

"Apakah saya dinonaktifkan lagi?" tanya Keira.

"Tidak," jawab petugas kepatuhan. "Surat anonim bukan bukti. Kami memberi Anda kesempatan menjawab dan akan memeriksa sumber informasi. Selama tidak ada risiko keselamatan, jadwal Anda tetap."

Keira menyerahkan faktur Cloud yang menyatakan pembeli adalah Kai, bukan vendor NusAir, serta kontrak pribadi yang menunjukkan tidak ada pertukaran dengan keputusan perusahaan. Dia tidak menyukai pemeriksaan itu, tetapi setidaknya prosedur baru tidak langsung menghukumnya.

Petugas kepatuhan memeriksa faktur dan bukti pembayaran yang sudah disamarkan bank untuk melindungi data nasabah. Sumber dana berasal dari rekening privat, tidak terhubung dengan vendor, pemegang saham, atau anggaran NusAir.

"Kami juga perlu mencatat sifat hubungan Anda," katanya.

"Nikah siri, belum terdaftar di Catatan Sipil. Tidak ada hak hukum atas harta satu sama lain. Hadiah itu keputusan pribadi pemberi dan tidak berkaitan dengan pekerjaanku."

"Apakah pemberi pernah meminta Anda memengaruhi keputusan penerbangan, pengadaan, atau evaluasi?"

"Tidak."

"Apakah Anda mengetahui dia bekerja untuk pihak yang memiliki kontrak dengan NusAir?"

Keira terdiam sepersekian detik. "Setahu saya tidak."

Jawaban itu mengganggunya. Dia bahkan belum tahu nama lengkap, pekerjaan, atau asal kekayaan Kai. Perasaan cinta yang baru diakuinya kepada diri sendiri berdiri di atas beberapa ruang kosong.

Petugas tersebut menutup berkas. "Untuk saat ini tidak ada dasar pelanggaran. Surat anonim dikirim dari jaringan kantor melalui terminal unit layanan kabin. Kami akan memeriksa siapa yang menggunakan perangkat itu."

"Apakah Bu Wenny?"

"Kami belum menyimpulkan. Metadata menunjukkan unit, bukan orang."

Keira menghargai jawaban itu. Proses yang adil harus tetap adil, bahkan kepada orang yang dia benci.

Setelah keluar, dia menelepon Vera dari tangga darurat.

"Ve, aku pikir kartu tadi benar."

"Wenny akan disambar petir?"

"Bukan. Lovers."

Vera terdiam, lalu menjerit kecil. "Akhirnya! Kamu cinta sama Kai?"

Keira menyandarkan kepala ke dinding. "Sepertinya aku jatuh cinta."

Mengatakannya membuat dada Keira ringan sekaligus takut. Enam bulan. Rahasia pekerjaan. Kartu hitam. Semua hal itu tetap ada, tetapi perasaannya tidak hilang hanya karena rumit.

"Sudah bilang kepada dia?" tanya Vera.

"Belum."

"Kenapa?"

"Karena aku belum tahu apakah aku jatuh cinta pada orang yang benar-benar kukenal."

Sebelum Vera menjawab, pengeras suara meminta seluruh kru ke papan pengumuman.

Hasil evaluasi kompetensi triwulanan telah terbit. Penilaian mencakup simulator, disiplin prosedur, manajemen ancaman, laporan keselamatan, dan performa penerbangan.

Nama teratas tertulis besar.

Keira Liem, nilai 96,8.

Kapten Hendra menyerahkan sertifikat di depan rekan-rekan. "Nilai ini diperiksa dua penguji independen. Selamat."

Layar di samping papan menampilkan komponen penilaian tanpa data medis pribadi. Keira mendapat nilai tertinggi pada manajemen ancaman, disiplin daftar periksa, dan keputusan deviasi cuaca. Nilai terendahnya tetap berada di atas batas kelulusan.

Pilot cadangan yang pernah menyindirnya saat penerbangan pertama kembali berdiri di barisan depan. Dia membaca angka-angka itu, lalu menjadi orang pertama yang mengulurkan tangan.

"Nilainya tidak memberi ruang untuk rumor," katanya. "Selamat, Bu Keira."

"Terima kasih."

Kapten Hendra menghadap seluruh kru. "Mulai bulan ini, ringkasan metode penilaian diterbitkan bersama hasil. Siapa pun boleh mengajukan verifikasi melalui jalur resmi. Tidak ada lagi nilai yang bisa dinaikkan atau diturunkan melalui satu meja."

Tepuk tangan memenuhi area kerja. Beberapa orang yang sempat termakan rumor kini mengucapkan selamat langsung.

Keira mengangkat sertifikatnya, kali ini tanpa merasa perlu mengecilkan cahaya agar orang lain nyaman.

Wenny berdiri di belakang kerumunan. Wajahnya kaku. Surat anonim yang diharapkan menghentikan Keira justru terbit pada hari kemampuan perempuan itu dibuktikan dengan angka.

Petugas kepatuhan mendekati Wenny. "Bu Wenny, kami perlu berbicara tentang metadata surat anonim."

Wenny memucat.

Sore itu, portal NusAir memuat foto Keira memegang sertifikat. Di layar besar auditorium, Kaizan berdiri di samping foto tersebut saat memberi komentar singkat kepada media internal.

"Prestasi harus dinilai dari kerja," katanya. Ketika ditanya tentang Keira, sudut bibirnya terangkat tanpa sadar. "Dia memang pantas mendapatkannya."

Foto senyum langka itu sampai ke Surabaya.

Oma Suhui memperbesar layar tabletnya. Dia mengenal setiap senyum cucunya, termasuk senyum yang tidak pernah muncul saat membahas angka perusahaan.

Oma langsung menelepon Moreno.

"Moreno," katanya tanpa salam. "Siapa gadis di foto yang membuat Kaizan tersenyum begitu?"

"Oma melihat berita internal?"

"Jangan alihkan topik. Suruh dia ketemu Oma."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!