Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.
Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.
Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.
Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?
Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.
Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.
“Kau... masih hidup?”
Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Menolak Kebenaran
Raka menghela napas. “Sayangnya, setelah malam ini, tidak ada yang bisa kembali seperti semula.”
Sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka. Raka membuka pintunya. “Masuk.”
Alena ragu. “Ke mana?”
“Tempat yang aman.”
“Aku tidak percaya padamu.”
“Tidak apa-apa.” Raka menatapnya. “Kau tidak harus percaya padaku malam ini.”
Ia membuka pintu lebih lebar. “Tapi percayalah bahwa aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu.”
Alena akhirnya masuk. Raka menyusul. Mobil langsung melaju meninggalkan museum. Beberapa menit kemudian, Alena menatap keluar jendela. Kota malam bergerak cepat di luar sana. Namun pikirannya masih tertinggal di museum. Kerajaan, portal, kalung, Raka sebagai raja, dan dirinya sebagai ratu. Semuanya terlalu mustahil.
“Raka.”
“Hm?”
“Kalau semua itu benar...” Alena menelan ludah. “Berarti aku benar-benar pernah hidup di dunia lain?”
“Ya.”
“Dan aku meninggalkan dunia itu?”
“Bukan karena keinginanmu.”
Alena menoleh. “Lalu siapa yang membuatku pergi?”
Raka terdiam. Alena langsung menyadari bahwa pria itu menyembunyikan sesuatu. “Jawab aku.”
Raka masih diam.
“Raka.”
Akhirnya pria itu berkata, “Aku.”
Alena membeku. “Kau?”
Raka menatap lurus ke depan. “Aku yang mengirimmu ke dunia ini.”
“Kenapa?”
“Karena saat itu aku tidak punya pilihan.”
Alena menatapnya dengan dada sesak. “Pilihan apa?”
Raka tidak menjawab. Mobil terus melaju hingga memasuki sebuah jalan yang sepi. Tidak lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah rumah besar yang tersembunyi di balik pepohonan.
Beberapa penjaga berdiri di sekelilingnya.
Raka turun terlebih dahulu. “Ini tempat aman.”
Alena ikut turun. Ia menatap bangunan tersebut. “Di sini tidak ada yang bisa masuk?”
“Tidak tanpa izinku.” Raka berjalan masuk.
Namun sebelum Alena mengikutinya, sebuah suara terdengar dari belakang. “Yang Mulia.”
Seorang anak buah Raka muncul dari bayangan. Raka menoleh, “Katakan.”
“Kami menemukan sesuatu di museum.”
“Apa?”
Pria itu menyerahkan sebuah benda kecil. Raka menerimanya. Wajahnya seketika berubah. Alena memperhatikan benda tersebut. “Apa itu?”
Raka menggenggamnya erat. “Simbol kerajaan.”
“Lalu?”
Raka menatap Alena. “Orang-orang yang mengejarmu bukan hanya ingin membawamu kembali.”
“Apa maksudmu?”
Raka menarik napas. “Mereka ingin menggunakanmu untuk membuka gerbang antar-dimensi secara permanen.”
Alena membeku. “Kalau mereka berhasil?”
“Dua dunia akan terhubung.”
“Bukankah itu bagus?”
“Tidak.” Tatapan Raka menjadi serius. “Karena jika gerbang terbuka sepenuhnya, pasukan dari kedua dunia bisa saling menyerang.”
Alena terdiam. Raka kemudian berkata pelan, “Dan perang yang dulu membuatmu kehilangan ingatan akan dimulai kembali.”
Alena menatapnya dengan wajah pucat. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa dirinya bukan sekadar wanita yang terseret ke dalam rahasia masa lalu. Ia mungkin adalah kunci yang bisa menentukan nasib dua dunia.
Pagi-pagi sekali, Alena sudah tiba di kantor. Dia sengaja datang lebih awal. Setelah kejadian semalam, dia tidak ingin bertemu Raka dalam suasana yang terlalu pribadi. Dia membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran dan mencoba memahami semua hal yang terjadi.
Alena baru saja duduk ketika Mira muncul dari belakang sambil membawa dua gelas kopi. “Pagi, Nona Cantik.”
Alena langsung menoleh tajam. “Jangan mulai.”
Mira meletakkan kopi di meja. “Kenapa? Aku cuma mau bertanya.”
“Apa?”
Mira mendekat dengan wajah penuh rasa ingin tahu. “Bagaimana kencanmu semalam dengan bos baru yang ganteng?”
Alena menatapnya datar. “Kencan apaan sih?”
Mira tertawa. “Bukannya kalian datang bersama?”
“Itu acara perusahaan.”
“Berdua?”
“Ya.”
“Pulang bersama?”
Alena menghela napas. “Mira.”
“Oke, oke. Aku berhenti.” Mira duduk di kursinya, tetapi senyum jahilnya belum hilang. “Jadi?”
“Tidak ada apa-apa.” Alena membuka komputer.
“Benar-benar tidak ada apa-apa.”
Mira mengangkat kedua tangannya. “Baiklah.”
Namun beberapa detik kemudian, ia kembali berbisik. “Tapi kalau bosku tampan seperti Raka, aku mungkin tidak akan menolak kalau dia mengajakku ke acara.”
Alena menatapnya, “Silakan ambil.”
Mira tertawa, “Wah, marah.”
“Aku tidak marah.”
“Wajahmu bilang sebaliknya.”
Alena hendak menjawab ketika suara langkah kaki terdengar dari arah pintu masuk. Suasana kantor perlahan berubah. Beberapa karyawan berdiri dan menyapa. “Selamat pagi, Pak Raka.”
Raka masuk ke kantor dengan setelan jas hitam. Di belakangnya Dito berjalan tenang sambil membawa beberapa dokumen.
Raka hanya mengangguk kepada para karyawan sebelum berjalan menuju ruangannya. Namun sebelum masuk, tatapannya sempat bertemu dengan Alena. Hanya beberapa detik. Alena segera mengalihkan pandangan. Raka kemudian masuk ke ruang direktur. Begitu pintunya tertutup, bisik-bisik mulai terdengar.
“Lihat. Mereka benar-benar dekat.”
“Pantas saja Alena dipilih mendampingi Pak Raka semalam.”
“Jangan-jangan memang ada hubungan khusus.”
Alena mencoba mengabaikannya. Ia tetap menatap layar komputer. Namun beberapa meja dari tempatnya duduk, Tina tiba-tiba berbicara cukup keras. “Ya jelas dekat.”
Beberapa karyawan langsung menoleh. Tina menyilangkan tangan di depan dada. “Kalau tidak ada apa-apa, mana mungkin pegawai baru langsung dipilih mendampingi direktur?”
Alena menarik napas panjang. Ia berusaha tidak menanggapi. Tina melanjutkan. “Menurutku dia memang sengaja mendekati Pak Raka.”
Mira langsung menoleh, “Tina.”
Tina tidak peduli. “Semua orang juga bisa melihatnya.” Ia menatap Alena. “Baru masuk kerja, langsung dekat dengan direktur. Malam-malam pergi berdua ke acara pelelangan.”
Beberapa karyawan mulai berbisik. Tina tersenyum sinis. “Kalau aku boleh jujur, caranya cukup licik.”
Alena mengepalkan tangan di bawah meja. Ia tidak ingin meladeni. Tidak ada gunanya berdebat. Apalagi ia sendiri tidak memahami hubungan sebenarnya antara dirinya dan Raka.
Namun Mira berdiri, “Licik?”
Tina menatapnya, “Iya. Kenapa?”
Mira berjalan mendekat, “Kalau kamu iri, bilang saja iri.”
Tina tertawa sinis, “Aku hanya mengatakan fakta.”
“Fakta apa?” Mira berdiri di depan Tina. “Bahwa Alena sengaja mendekati Pak Raka?”
“Iya.”
“Memangnya kamu melihat sendiri?”
Tina terdiam. Mira melanjutkan. “Atau kamu cuma mengarang cerita karena tidak suka melihat orang lain mendapat kesempatan?”
“Aku—”
“Alena baru masuk. Kalau memang Pak Raka memilihnya, itu keputusan Pak Raka.”
Mira menunjuk dokumen di meja Tina. “Dan kalau kamu merasa pilihan itu tidak adil, seharusnya kamu bicara langsung kepada Pak Raka. Bukan menyebarkan gosip.”
Tina mulai kesal, “Jangan sok membela!”
“Aku bukan sok membela.” Mira tersenyum. “Aku cuma tidak suka orang yang berisik tetapi tidak punya bukti.”
Beberapa karyawan menahan tawa. Wajah Tina memerah, “Kamu!”
Suasana kantor mulai memanas. Alena akhirnya berdiri, “Mira, sudah.”
Ia tidak ingin masalah itu semakin besar. Namun sebelum Mira sempat menjawab, suara dingin terdengar dari belakang. “Ada masalah apa ini?”
Semua orang langsung terdiam. Raka berdiri di ambang pintu ruangannya. Dito berada beberapa langkah di belakangnya. Tatapan Raka menyapu seluruh ruangan. Tidak ada satu pun karyawan yang berani berbicara. Tina langsung menundukkan kepala. Raka menatapnya, “Tadi aku mendengar namaku disebut.”