NovelToon NovelToon
Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Semua Orang Di Hidupku Dibayar Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / CEO / Kontras Takdir / Pernikahan rahasia
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.

Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.

Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.

Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.

Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.

Mereka dibayar oleh suaminya.

Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.

Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.

Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:

tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 — Nama yang Dihapus

BAB 12 — Nama yang Dihapus

Nama Raka Wicaksana muncul dalam surat yang dikirim Damar Santosa kepada Kalyana Group pukul sepuluh lewat tujuh belas menit.

Surat itu bukan tuduhan. Isinya permintaan resmi agar perusahaan tidak menghapus catatan transaksi, komunikasi, kontrak, ataupun data akses yang berhubungan dengan beberapa nama dalam buku abu-abu.

Tara Savitri.

Mira Handayani.

Gilang Adiputra.

Raka Wicaksana.

Aku membaca nama terakhir itu dua kali.

Elsa berdiri di depan meja kerjaku sambil menyilangkan tangan. Ia tidak duduk sejak memasuki ruangan, mungkin karena sudah tahu aku akan memintanya melakukan sesuatu yang tidak ingin ia lakukan.

“Dari mana Damar memperoleh nama Raka?” tanyaku.

“Suratnya tidak menjelaskan.”

“Kau sudah bicara dengannya?”

“Tidak. Dia pengacara Nadira, bukan teman minumku.”

“Cari tahu.”

Elsa menatapku datar.

“Kau baru bertahan kurang dari dua hari untuk tidak mengatur penyelidikan Nadira.”

“Aku tidak meminta kau mengambil dokumen darinya.”

“Kau meminta aku mencari sumber informasinya.”

“Karena Raka bekerja untuk ayahku.”

Keheningan jatuh di antara kami.

Elsa menurunkan tangannya perlahan.

“Kau yakin?”

“Dulu.”

“Dulu kapan?”

“Sebelum kebakaran arsip.”

Aku mengambil tablet dari meja, membuka daftar pegawai lama, lalu memasukkan nama Raka. Tidak ada hasil.

Aku sudah menduganya.

Raka tidak pernah tercatat sebagai pegawai tetap. Orang-orang seperti dirinya ditempatkan melalui vendor, yayasan, kantor konsultan, atau perusahaan yang umurnya terlalu pendek untuk meninggalkan jejak pajak yang mudah dibaca. Mereka tidak membawa kartu nama Kalyana. Mereka hanya datang ketika seseorang perlu diawasi, diarahkan, atau dibuat berhenti tanpa menimbulkan skandal.

Elsa memperhatikan layar kosong di tanganku.

“Kalau dia orang Surya, kenapa namanya tidak ada?”

“Karena daftar ini sudah dibersihkan.”

“Maksudku, kenapa tidak ada di buku Laksmi?”

Itulah pertanyaan yang sejak tadi berputar di kepalaku.

Buku abu-abu mencatat orang-orang yang dibayar untuk berada di sekitar Nadira. Raka sudah menghubungi Tara selama enam bulan dan menawarkan pembayaran tiga kali lipat. Artinya, ia bukan orang baru. Ia tahu pekerjaan Tara, jumlah yang mungkin diterima, dan jenis informasi yang dianggap berharga.

Tapi namanya tidak tercantum.

“Ada buku lain,” kataku.

Elsa mengernyit.

“Kau pernah melihatnya?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Buku Nadira hanya mencatat jaringan yang dikelola Laksmi, kemudian aku. Kalau Raka bekerja langsung untuk ayah, dia tidak akan masuk ke sana.”

“Keluarga kita punya jaringan paralel?”

Aku memandang Elsa.

“Kau terdengar terkejut.”

“Aku tahu Surya membayar informan. Aku tidak tahu dia membangun sistem yang mengikuti struktur Lingkar Aman.”

“Itu cara paling mudah mengambil alih sesuatu. Jangan hancurkan sistem lama. Buat salinannya, lalu masukkan orang yang tidak diketahui pengelola pertama.”

Aku kembali memeriksa surat Damar. Permintaan penyimpanan dokumen berlaku pada seluruh perusahaan anak, yayasan, dan vendor yang pernah terhubung dengan Raka. Secara hukum, surat itu luas. Secara praktis, ayah dapat membuat sebagian besar berkas menghilang sebelum sore.

“Elsa, kirim perintah pembekuan penghapusan data.”

“Sudah dilakukan.”

Aku menoleh kepadanya.

“Surat Damar masuk ke bagian hukum sebelum sampai kepadamu,” katanya. “Aku langsung membekukan sistem karena itu kewajibanku, bukan karena kau meminta.”

“Bagus.”

“Jangan terdengar terlalu kecewa.”

“Aku tidak kecewa.”

“Kau terlihat seperti orang yang baru kehilangan kesempatan menjadi penyelamat.”

Aku tidak menanggapinya.

Elsa benar. Aku mulai membenci betapa sering orang-orang mengatakan sesuatu yang benar kepadaku sejak Nadira menemukan buku itu.

Aku membuka arsip keamanan lama. Nama Raka tidak ditemukan, tetapi nomor identitas vendor pernah digunakan beberapa kali untuk masuk ke gedung utama. Akses pertamanya terjadi sebelas tahun lalu, dua bulan setelah kematian Aditya.

Akses terbaru terjadi enam bulan lalu.

Lokasinya lantai tempat kantor ayah berada.

“Dia masih aktif,” kataku.

Elsa bergerak ke sampingku.

“Enam bulan lalu.”

“Waktu yang sama ketika dia mulai mendekati Tara.”

“Apa yang berubah enam bulan lalu?”

Aku membuka kalender keluarga, catatan rapat, serta arsip keamanan Nadira. Semuanya bersih dari ancaman baru, perpindahan dana besar, maupun orang asing yang menghubunginya.

Lalu aku menemukan satu kejadian.

Enam bulan lalu, Nadira menjadi mediator dalam perceraian seorang mantan direktur keuangan Kalyana Logistics.

Nama kliennya disamarkan dalam catatan kantor, tetapi tanggal mediasi cocok dengan hari ketika ayah membatalkan dua rapat dan meminta laporan lengkap mengenai kegiatan Ruang Tengah.

Aku tidak pernah mempertanyakannya. Saat itu aku mengira Surya hanya takut mantan direkturnya membuka informasi perusahaan dalam proses perceraian.

Mungkin bukan itu yang ia takutkan.

“Ayah menduga mantan pegawainya memberikan sesuatu kepada Nadira,” kataku.

“Apa?”

“Aku belum tahu.”

“Apakah Nadira tahu kliennya terhubung dengan perusahaan?”

“Kemungkinan besar. Dia selalu melakukan pemeriksaan konflik kepentingan.”

“Lalu kenapa tidak memberitahumu?”

Pertanyaan itu memancing tawa hambar.

“Karena kliennya punya hak atas kerahasiaan.”

Elsa menatapku.

“Kau mengatakan itu seperti baru mempelajari konsepnya.”

Aku menutup kalender.

Kalau mantan direktur itu memberikan dokumen Aditya kepada Nadira, ayah akan membutuhkan seseorang yang dapat mengetahui apakah Nadira menyimpannya. Raka kemudian mendekati Tara dan menawarkan uang untuk laporan rutin.

Bukan sekadar mengawasinya.

Ia sedang mencari tahu seberapa jauh Nadira sudah menemukan sesuatu.

Dan karena aku terlalu yakin semua orang di dekat Nadira bekerja dalam sistemku, aku tidak pernah mencari sistem lain.

“Aku perlu bicara dengan ayah,” kataku.

“Jangan.”

“Dia tahu di mana Raka.”

“Dan sekarang dia tahu kau mengenali namanya.” Elsa menunjuk surat Damar. “Kalau kau datang dengan marah, Surya akan memindahkan Raka sebelum kau keluar dari ruangannya.”

“Aku tidak akan datang dengan marah.”

“Wajahmu bilang sebaliknya.”

Aku berdiri dan mengambil jas.

Elsa menghalangi jalan tanpa menyentuhku.

“Rendra, dengar. Nadira sedang membangun kasusnya sendiri. Kalau kau menyerbu rumah utama, ayahmu akan menggunakan itu sebagai bukti bahwa kau masih mengambil keputusan atas namanya.”

“Ini bukan hanya tentang Nadira.”

“Justru itu. Raka juga mengawasimu.”

Aku berhenti.

Elsa menarik tablet dari tanganku dan membuka catatan akses terbaru. Selain lantai ayah, kartu vendor Raka beberapa kali dipakai di gedung investasiku, garasi rumah, dan kantor keamanan pribadi.

Ia masuk ke ruang sistem tiga minggu lalu.

Ruangan yang menyimpan protokol pelacakan Nadira.

“Dia bisa melihat semua akses yang kau punya,” kata Elsa. “Termasuk kapan kau mematikan dan menyalakannya.”

“Pelacakan Nadira sudah kumatikan.”

“Tapi jejaknya tetap ada. Raka tahu kau kehilangan pandangan atas Nadira setelah dia meninggalkan rumah.”

Aku mengambil kembali tablet.

Baru saat itu aku melihat sistemku dari sudut pandang orang lain. Selama bertahun-tahun aku membuat jalur untuk mengetahui lokasi, kebiasaan, dan kelemahan Nadira. Aku menyebutnya perlindungan.

Bagi Raka, semua itu sudah seperti peta yang tinggal dipakai.

Ia hanya perlu mengambilnya.

Aku menelepon kepala keamanan sistem.

“Ganti seluruh akses administratif,” kataku. “Putus sambungan vendor lama dan audit semua akun yang dipakai enam bulan terakhir.”

“Apakah perlu mengaktifkan kembali perlindungan terhadap Bu Nadira?”

Pertanyaan itu datang seperti jebakan.

“Tidak.”

“Kalau ada risiko kebocoran—”

“Berikan hasil audit kepada Elsa dan pengacara Nadira. Jangan aktifkan apa pun tanpa persetujuan tertulis Nadira.”

Aku mengakhiri panggilan.

Elsa masih berdiri di dekat pintu.

“Itu keputusan yang benar.”

“Tidak terasa benar.”

“Karena kau tidak memegang hasil akhirnya.”

Ia akhirnya keluar setelah memastikan perintah pembekuan data terkirim. Aku tinggal sendiri, memeriksa seluruh akses Raka satu per satu.

Nomor telepon pada kartu nama yang diberikan kepada Tara tidak aktif. Alamat perusahaan mengarah ke ruangan kosong di gedung perkantoran lama. Rekening pembayaran menggunakan perusahaan konsultasi yang dibubarkan empat bulan lalu.

Profesional.

Tapi tidak sepenuhnya bersih.

Satu kamera parkir menangkap wajah Raka saat memasuki gedung investasiku. Lelaki berusia sekitar empat puluh tahun, rambut pendek, kemeja polos, tanpa ciri yang membuat orang mudah mengingatnya. Ia berjalan seperti pegawai yang tahu tidak akan ditanya.

Aku mengambil gambar tersebut dan mengirimkannya kepada Elsa untuk diteruskan kepada Damar.

Bukan kepada Nadira langsung.

Keputusan kecil itu masih membuatku menahan napas.

Ponsel pribadiku bergetar.

Nomor yang tidak tersimpan mengirim satu foto.

Nadira keluar dari gedung Ruang Tengah bersama Damar. Foto diambil dari dalam kendaraan yang berhenti di seberang jalan. Wajah mereka tidak terlalu jelas, tetapi waktu pada papan digital gedung menunjukkan gambar tersebut baru diambil tiga menit lalu.

Pesan kedua masuk.

Jangan libatkan keamananmu. Jangan datang mencarinya.

Aku segera mencoba menelepon. Nomor tidak dapat dihubungi.

Lalu pesan ketiga muncul.

Bu Nadira akan tetap aman selama dia berhenti menggali kematian ayahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!