NovelToon NovelToon
Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Romantis / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.

Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.

Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.

Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Monisha Affan 11.

Pasca keributan, Monisha dan Affan berada di ruang makan bersama kedua ibunya yang tiba-tiba datang.

Mereka menunjukkan sisi romantis mereka dengan saling menyuapi makan di hadapan ibu mereka.

Sedangkan dari sudut pandang Bu Anggun dengan Bu Sisi, melihat mereka akur adalah sebuah kepuasan tersendiri. Tapi mereka tetap khawatir kalau misalnya ada perang dingin lagi diantara mereka.

"Mona, Affan. Hari Jumat besok kan tanggal merah, kalian gak ada niatan untuk liburan gitu?" Tanya Mama Sisi yang mulutnya masih berisi makanan.

Secara, Mona mendadak berhenti mengunyah makanan, sementara itu Affan langsung menaruh sendok di samping piring untuk menatap sekaligus menjawab pertanyaan mama. "Besok paling ke Dufan mah"

"Jangan besok, besok saya mau nyuci seragam, nyuci sepatu sama bersihin kamar mandi mas" Timpal Mona langsung.

Sesuai jadwal yang tercatat, Hari Jumat nama Mona memang terpampang di jadwal nyuci seragam, nyuci sepatu, hingga sikat lantai kamar mandi.

Sedangkan besok, Affan sendiri ada jadwal menyapu dan mengepel lantai hingga masak makanan.

"Hari sabtu saja" Lanjut Mona. Sebagaimana hari sabtu itu bagian Affan yang direpotkan untuk mengurus rumah.

Tapi sepertinya Mona tidak akan mempersulit hidup suaminya. Gadis itu ingin membawa suaminya melihat dunia yang belum ia lihat selama hidup.

"Baiklah" Jawab Affan menurut.

Di jam sembilan malam, kedua ibu mereka sudah pulang dari rumah. Sedangkan Mona dengan Affan kini berada di kamar yang sama.

Affan yang fokus belajar di meja belajar, sedangkan Mona sibuk dengan dunia K-Pop nya di balik layar hp.

Dari suara keras yang terdengar lagu lemon tang membuat Affan beranjak dari meja belajar untuk menyita hp Mona tanpa ragu.

"Sayaaaang ih kok diambil? kalau dirumah mode suami aja dong, jangan jadi mode ketos juga." Mona langsung memberengut sebal hp nya di rampas oleh Affan.

"Mulai sekarang ada peraturan baru dari saya, setiap malam kamu wajib ikut saya belajar. Akhir-akhir ini nilai kamu anjlok parah, saya gak mau di akhir semester nilai rapot kamu dibawah tujuh" Tegas Affan.

"Sayaaang gak mau, apa lagi harus berurusan dengan matematika, saya benci rumus, saya benci mikir yang rumit-rumit." Keluh Mona.

"Sayang, saya menilai kamu itu sebenarnya pintar, cuma ya malas saja. Kalau kamu rajin belajar pasti nilai rapot kamu bagus. Percaya sama saya" Kata Affan.

"Iya-iya bawel!" Mona mengalah. sebagai bentuk rasa sayang, Affan mencium kening Mona sebelum menyuruh Mona untuk pergi ke meja belajar yang ada di kamar mereka.

Mona yang malas lantas pergi ke meja belajar Affan— hingga terciptalah belajar bersama di antara mereka.

**

Keesokan harinya.

Kedua pasutri itu seharian dirumah, bukan berarti bersantai dan bermalas-malasan. mereka menjalankan tugas masing-masing sebagai pasutri dibalik rentetan jadwal tugas rumah yang sudah dibuat.

Mereka terlihat kompak menjalani tugas nya masing-masing. Hingga rumah sederhana mereka terlihat tak ada yang kotor bagian luar dan dalam.

Untuk soal masak makanan, kali ini ada yang berbeda. Mona merubah jadwal seenak jidat. Yang semula ditugaskan untuk Affan, menjadi setiap hari akan masak bersama. Nampaknya selain belajar mengenai pelajaran sekolah, mereka akan belajar memasak bersama sebagai pasutri.

**

Di hari sabtu sesuai perkataan Mona.

Ancol sore itu sangat cerah, tapi tidak lebih cerah dari senyum Mona yang sejak tadi terus merekah.

Di sebelah kanannya, Affan berdiri sambil memegang dua tiket terusan yang baru saja lepas dari mesin pemindai. Bau air laut tipis berpadu dengan aroma berondong jagung manis menyambut langkah mereka.

"Jadi, kita mau mulai dari yang bikin jantungan atau yang santai dulu nih?" tanya Affan. Cowok itu merapikan topi hitamnya yang nyaris terbang tertiup angin pantai.

Mona menatap piramida raksasa ikon Dufan di depan mereka. Jantungnya juga sudah berdegup kencang.

"Kora-kora dulu. Biar kadar adrenalin kita naik pelan-pelan," tantang Mona dengan nada sok berani.

Lima belas menit kemudian, mereka sudah duduk di barisan tengah perahu kayu raksasa berwarna merah itu.

Pengaman besi dikunci dengan bunyi klik yang tegas. Mona mulai merasa sedikit ngeri saat melihat kemiringan ayunan Kora-kora yang legendaris ini.

"Eh, Affan... Ini tinggi banget, ya?" bisik Mona, suaranya hampir tenggelam oleh musik riang yang diputar dari pengeras suara area.

Affan menoleh. Tanpa diduga, pemuda itu mengulurkan tangan dan menggenggam jemari Mona erat-erat.

Hingga Mona merasakan telapak tangan Affan terasa hangat, mengalirkan rasa tenang yang langsung merayap ke dada Mona.

"Tenang. Kalau jatuh, kita jatuhnya bareng," ucap Affan diiringi cengiran usil.

Syuuung!

Kora-kora mulai berayun. Gravitasi seolah hilang saat perahu melesat ke udara. Jeritan tertahan meluncur dari bibir Mona. Namun, alih-alih menutup mata atau melepas tangan Affan, Mona justru balas menggenggam erat tangan cowok itu sambil tertawa di tengah terpaan angin kencang.

Rasanya aneh, menggelitik di perut, dan luar biasa menyenangkan.

Selesai di Kora-kora, langkah mereka melipir ke kedai es krim cone di dekat istana boneka. Napas Mona masih sedikit tersengal-sengal, tapi pipinya merona merah—bukan cuma karena lelah berjalan, tapi karena sisa debar di jantungnya.

Affan menyerahkan satu cone es krim vanila berbalut cokelat. "Nih, buat mendinginkan kepala setelah teriak-teriak kayak orang kesurupan."

"Enak saja! saya teriaknya elegan, ya," protes Mona sambil menjilat es krimnya yang nyaris meleleh.

Mereka duduk di bangku taman, memandangi pengunjung yang lalu-lalang dengan berbagai atribut lucu di kepala mereka. Affan menatap Mona lekat-lekat, membuat Mona salah tingkah dan pura-pura fokus pada sisa es krim di tangannya.

"Mon," panggil Affan pelan.

"Hm?"

"Makasih ya udah mau ke sini. Jujur, dari kecil saya terus diabaikan orang tua, orang tua selalu nuntut saya sempurna, sampai saya mau berlibur aja enggak diturutin" Affan tersenyum tulus. "Jalan sama kamu ternyata jauh lebih seru daripada naik arung jeram sampai basah kuyup waktu pertama datang kesini."

Mona mendengus, menahan senyumnya agar tidak terlihat terlalu lebar. "Iya, sama-sama suami kesepian"

......................

...****************...

To be continue,

1
Shabrina Darsih
keahuan juga sm sahabat mona
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan
Shabrina Darsih
mona. mennding jujir aja sm sahabat nya andini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!