Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.
Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.
Seharusnya ia ikut kabur.
Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.
“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”
Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Pandangan Elena jatuh ke bagian paling bawah halaman. Di sana, tertulis satu kalimat yang membuat darahnya membeku. Pihak yang wajib dilindungi secara khusus: Elena Arvienne.
Suaranya bergetar. "Kenapa namaku? Saat itu aku masih anak-anak. Kenapa aku?"
Sebastian menggeleng pelan. "Aku tidak tahu. Aku pernah bertanya pada ayahku, tapi dia tidak pernah menjawab. Itulah bagian yang paling ingin kucari tahu."
Elena berjalan perlahan menuju jendela, menatap kota yang berkilauan di kejauhan. Dunia di luar sana tampak begitu tenang, padahal hidupnya sedang berantakan.
"Jadi sejak aku kecil... namaku sudah ada di dalam dokumen ini, tanpa aku tahu apa-apa. Dan kau ada di sana malam itu. Victor ada di sana. Ayahku menandatangani semuanya. Lalu dua belas tahun kemudian... aku menikah denganmu." Ia berbalik menatap suaminya. "Apakah semua ini memang sudah direncanakan sejak awal?"
Sebastian menatapnya dalam-dalam. "Aku tidak tahu rencana siapa yang sedang berjalan. Tapi satu hal yang ku tahu, aku tidak pernah merencanakan pernikahan ini untuk mengendalikanmu."
Elena tersenyum tipis. "Aku tahu. Orang yang ingin mengendalikan seseorang tidak akan memberikan kartu kredit tanpa batas, membiarkannya membeli apa saja, dan tidak pernah menuntut balas apa pun."
Sebastian tertawa kecil, senyum yang tulus dan hangat. "Jadi kau menilai ketulusanku berdasarkan kartu kreditku?"
"Aku menilai ketulusan dari tindakan. Dan kartu kreditmu adalah tindakan yang sangat meyakinkan," jawab Elena dengan senyum yang mulai kembali.
Namun suasananya segera berubah ketika Sebastian mendekat, menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam. "Tapi ada satu hal yang harus kau percayai, Elena. Apa pun yang terjadi, apa pun isi perjanjian itu... aku tidak akan meninggalkanmu. Bahkan jika perjanjian itu batal. Bahkan jika keluargaku bangkrut. Bahkan jika kau tidak punya apa-apa."
Elena tercekat. "Kau tetap akan memilihku?"
"Kau tetap istriku. Dan itu tidak akan pernah berubah."
Hening kembali menyelimuti ruangan, namun kali ini bukan keheningan yang menegangkan, melainkan keheningan yang penuh dengan perasaan yang tak terucap. Hingga ponsel Sebastian berdering tajam, memecah keheningan itu.
Sebastian mengangkatnya, dan seketika ekspresinya berubah tegang. "Di mana?... Jangan lakukan apa pun sebelum aku datang." Ia menutup telepon, lalu menatap Elena.
"Ada apa?" tanya Elena segera.
"Timku menemukan jejak Victor Armand. Dia ada di kota ini."
Elena membeku. "Dia masih hidup?"
"Ya. Dan mereka melihatnya beberapa jam yang lalu."
Sebastian mengambil jasnya, berniat pergi. Namun Elena tiba-tiba meraih tangannya dengan erat. "Tunggu. Jangan pergi sendirian."
Sebastian berhenti, menatap tangan Elena yang menggenggam tangannya. "Aku akan baik-baik saja."
"Aku bukan khawatir kau terluka," ucap Elena pelan, jujur tanpa bermaksud menyembunyikannya. "Aku... hanya tidak ingin kau pergi."
Sebastian menatapnya lekat-lekat, lalu senyum tipis kembali muncul di wajahnya. "Aku akan segera kembali. Janji." Ia mengusap kepala Elena pelan, lalu melangkah keluar ruangan.
***
Malam telah merayap turun, menyelimuti kawasan tua di pusat kota dengan kegelapan yang pekat. Di antara gedung-gedung tinggi yang berkilauan, terdapat sebuah bangunan tua yang tampak nyaris ditinggalkan — cat dindingnya mengelupas, jendelanya kusam, dan lorong-lorongnya hanya diterangi lampu yang berkedip-kedip seolah tak sanggup lagi menyala. Namun Sebastian melangkah masuk tanpa ragu sedikit pun, diikuti dua orang asistennya yang berjalan di belakang dengan waspada.
"Dia ada di lantai tiga, Tuan," lapor salah satu asistennya.
Sebastian mengangguk singkat. "Tidak ada orang lain di sekitar sini?"
"Sejauh pengawasan kami, tidak."
Ia mulai menaiki tangga, langkah kakinya terdengar jelas dan berat di lorong yang sunyi. Sesampainya di lantai tiga, ia berhenti di depan sebuah pintu kayu yang sudah kusam. Ketika asistennya hendak mendahului masuk, Sebastian mengangkat tangan untuk menghentikannya.
"Biarkan aku sendiri."
"Tuan, ini bisa berbahaya."
"Aku tahu. Tapi tetap saja."
Asisten itu akhirnya mengangguk dan mundur. Sebastian membuka pintu itu perlahan.
Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi sebuah lampu meja yang menyala di sudut ruangan. Di dekat jendela, seorang pria tua duduk diam di kursi. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, namun tatapannya tetap tajam dan penuh perhitungan. Begitu Sebastian masuk, pria itu tersenyum tipis.
"Sudah lama tidak bertemu, Sebastian."
"Victor Armand." Sebastian menyebut nama itu dingin, tanpa selamat datang.
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘