NovelToon NovelToon
AKU MILIKMU

AKU MILIKMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:422
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEMBALI DENGAN SELAMAT

Hujan masih turun dengan deras, membasahi wajah dan tubuh mereka yang berdiri terpaku di tepi jurang. Di hadapan mereka, sosok itu berdiri tegak mengenakan jaket parasut yang basah kuyup, dengan topi yang ditarik menutupi sebagian dahi, menyembunyikan perban yang melilit kepalanya. Tatapan matanya yang tajam menyapu ke arah Ari dan Kristin yang masih diam mematung tak percaya.

"Mau sampai kapan kalian berdua bengong seperti itu?" Suara Doni tiba-tiba terdengar lantang, nyaris menembus suara gemuruh hujan yang jatuh ke tanah. "Apa kalian mengira aku adalah hantu?"

Ari dan Kristin masih terpaku, menatap sosok itu dengan napas yang tertahan. Namun sebelum sempat mereka menjawab, dari arah belakang terdengar langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa. Seorang pemuda berlari menerobos hujan, napasnya memburu seolah telah menempuh perjalanan jauh. Sesampainya di dekat mereka, ia berhenti sejenak sambil menumpukan kedua tangannya di lutut, mencoba mengatur napas yang tersengal.

"Kau memang manusia paling gila, Don," ucap Adit sambil mendongak, matanya masih berusaha menenangkan irama napasnya sendiri. "Apakah kau terbang ke sini? Sekejap saja kau sudah hilang dari pandanganku."

Doni tidak menjawab. Ia hanya diam berdiri di sana, pandangannya kembali tertuju pada wajah Ari dan Kristin yang masih tampak terkejut luar biasa.

Ari dan Kristin pun perlahan melangkah mendekat, tubuh mereka masih terguncang hebat. "Tadi... tadi adalah kejadian yang sangat menakutkan," ucap Ari dengan suara yang masih bergetar, matanya beralih dari Doni ke Adit. "Kami pikir kami tidak akan pernah bisa naik ke atas lagi."

Adit segera melangkah maju, wajahnya tampak penuh kekhawatiran. "Kalian sudah aman sekarang. Jangan takut. Apakah ada yang terluka? Kalian butuh bantuan?"

Ari mencoba menggerakkan kakinya sedikit, namun seketika wajahnya meringis kesakitan. "Kakiku..." ucapnya pelan. "Sepertinya aku tidak bisa melangkah untuk sementara. Keseleo... saat berusaha memanjat tebing tadi."

Tanpa berkata banyak, Adit segera berdiri di samping Ari dan membiarkan lengan pemuda itu bertumpu pada bahunya.

"Berdirilah di sampingku," ucap Adit lembut namun tegas. "Aku akan memapahmu. Ayo kita berjalan pelan-pelan."

Maka berjalanlah mereka berdua di depan, mendahului Doni dan Kristin yang masih berdiri mematung. Hujan masih turun deras, menyisakan suara langkah kaki yang berirama di tanah yang mulai becek.

Begitu sosok Ari dan Adit menjauh, Kristin tak lagi mampu menahan perasaannya. Ia melangkah maju dan langsung memeluk Doni erat-erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang pemuda itu yang terasa dingin karena basah terkena air hujan. Air matanya kembali menumpah, bercampur dengan rintik air yang membasahi wajahnya.

"Maaf..." isak Kristin, suaranya terdengar tertahan. "Maafkan aku... maaf atas kekesalanku beberapa hari lalu. Maafkan aku yang membuat Kak Doni menjadi seperti ini..."

Doni berdiri diam, tangannya terangkat perlahan lalu jatuh kembali ke sisi tubuhnya. Namun suaranya terdengar begitu tenang dan lembut saat menjawab, "Tidak ada yang perlu dibahas. Aku tidak menyalahkanmu, Kristin."

Mendengar itu, tangis Kristin semakin menjadi-jadi. Pelukannya semakin erat seakan tak ingin melepaskan lagi. "Tadi... tadi itu sungguh menakutkan..."

Doni menghela napas pelan, lalu berkata dengan nada yang sedikit melembut, "Kau sudah dua kali mengatakan hal yang sama."

Kristin tertegun sejenak, lalu melepaskan pelukannya sedikit demi menatap wajah Doni meski tertutup bayangan topi. Ia mengerjap bingung. "Dua kali? Kapan aku mengatakannya selain sekarang? Aku baru saja mengucapkannya..."

Doni menatap lurus ke manik mata Kristin yang masih berkaca-kaca. "Bukankah tadi kau juga berkata demikian... saat kau memeluk Ari?"

Wajah Kristin seketika memerah meski tersembunyi sebagian oleh rambut dan air hujan. Matanya membelalak tak percaya, lalu bibirnya bergetar pelan saat ia kembali menunduk dan berkata dengan suara yang masih terisak, "Apakah... apakah Kak Doni cemburu?"

Doni tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Ia hanya melirik sekilas ke arah Ari dan Adit yang sudah berjalan cukup jauh di depan, lalu kembali menatap Kristin. "Ayo bergegas sebelum kita ketinggalan mereka," ucapnya sambil menunjuk sosok yang mulai menjauh di tengah kabut hujan.

Kristin menatapnya sejenak, lalu perlahan mengangguk. Maka berjalanlah mereka berdua di tengah hujan yang masih belum reda, menyusuri jalan setapak yang licin menuju kawasan tenda.

Sesampainya di lokasi perkemahan, mereka disambut oleh Billy, Rangga, Kevin, Nisa, serta keempat peserta baru yang tampak gelisah menunggu di depan tenda. Begitu melihat sosok Ari dan Kristin muncul, wajah-wajah yang tadinya pucat seketika berubah penuh kelegaan. Satu per satu mereka mendekat, memeluk dan menepuk bahu Ari serta Kristin sambil mengucap syukur berulang kali. Terlihat jelas betapa cemasnya mereka selama hilangnya kedua pemuda itu.

"Kalian sudah aman... syukurlah, syukurlah..." Rangga tampak terharu, suaranya nyaris bergetar.

Adit segera membuka suara di tengah keramaian itu. "Ari dan Kristin perlu membersihkan diri dan berganti pakaian. Biarkan mereka beristirahat sejenak di tenda peserta."

Mendengar itu, Billy pun segera mengangguk dan mengajak Doni, Rangga, Kevin, Adit, serta Nisa untuk masuk ke dalam tenda panitia guna membicarakan keadaan. Di dalam tenda yang diterangi cahaya remang itu, suasana seketika menjadi hening dan serius.

Kevin tampak menatap tajam ke arah Rangga. "Kesalahan ini terjadi karena kita tidak sigap membaca situasi," ucapnya dengan nada yang terdengar menyalahkan. "Seandainya kita lebih waspada, Ari dan Kristin tidak akan nyaris kehilangan nyawa di tepi jurang itu."

Rangga menunduk dalam, tampak sangat merasa bersalah. "Aku minta maaf... sepenuhnya ini kelalaianku. Aku tidak menyangka air akan naik sedemikian cepat."

Billy ikut angkat bicara, suaranya terdengar berat namun tenang. "Jangan saling menyalahkan. Aku juga ikut bertanggung jawab. Aku ikut serta dalam kegiatan tadi dan seharusnya aku lebih mengawasi keadaan air."

Doni yang sedari tadi hanya diam mendengarkan, akhirnya bersuara. "Tidak perlu membahas siapa yang salah. Yang penting, selama sisa beberapa hari ke depan, kita harus lebih sigap. Lebih kompak. Jika sesuatu terjadi, kita harus segera tahu apa yang harus dilakukan tanpa harus menunggu terlambat."

Adit langsung mengangguk setuju. "Benar kata Doni. Sekarang bukan waktunya saling tuduh. Kita harus saling menjaga dan saling mengandalkan."

Namun Kevin masih tampak menyimpan pertanyaan besar di benaknya. Ia menatap Doni dengan pandangan menyelidik. "Tapi satu hal yang masih aku heran... Bagaimana Doni dan Adit bisa tahu bahwa Ari dan Kristin masih berada di sana? Hampir saja kami menyerah dan berpikir yang tidak-tidak."

Doni hanya diam sejenak, lalu menjawab singkat, "Itu insting."

Adit pun ikut menambahkan, mencoba memperjelas. "Sebenarnya itu hal yang lumrah. Saat hujan dan air naik, Ari dan Kristin tidak terlihat di permukaan. Itu berarti mereka pasti merapat ke dinding tebing, mencari tempat yang lebih tinggi dan aman. Jika hujan sudah reda dan mereka belum juga ditemukan, rencana pencarian pertama kami adalah menelusuri dari dasar jurang. Dan syukurlah... mereka ternyata masih bertahan di atas tebing itu."

Rangga tampak bingung. Ia menatap Doni dan Adit bergantian. "Tapi... kapan kalian berdua tiba di hutan ini? Kami pikir Doni sedang beristirahat di rumah karena kepalanya terluka. Saat kami kembali ke tenda setelah pencarian pertama tadi, Nisa sudah berkata bahwa Doni dan Adit telah datang ke sini."

Doni melirik sekilas ke arah Adit, seakan memberi isyarat agar dialah yang menjelaskan. Adit pun mengerti, lalu menghela napas pelan sebelum bercerita.

"Sebenarnya... sejak subuh tadi Doni sudah memaksaku untuk segera berangkat," ucap Adit sambil menatap wajah-wajah di hadapannya. "Dia membangunkanku saat aku masih terlelap nyenyak, lalu membawa sepeda motorku untuk berangkat menuju pos pintu masuk hutan. Kami sempat mengurus administrasi dan menitipkan motorku di parkiran pos. Namun baru saja kami berjalan menuju lokasi kemah... tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras. Kami terpaksa berjalan cepat menerobos hujan. Begitu tiba di sini, Nisa langsung memberi tahu bahwa Ari dan Kristin belum kembali dan dikhawatirkan terjebak di tepi jurang."

Adit berhenti sejenak, lalu menatap Doni dengan pandangan yang masih tak percaya. "Dan setelah itu... Doni seakan terbang. Dia berlari lebih dulu meninggalkanku, menerobos hujan dan kabut menuju lokasi kejadian. Dia tiba duluan di sana... dengan kondisi kepala yang diperban dan belum sempat pulih sepenuhnya. Sementara aku yang sehat walafiat saja tertinggal jauh di belakangnya."

Suasana di dalam tenda seketika hening. Tidak ada yang menyangka bahwa Doni datang sejauh itu dalam kondisi yang belum pulih, hanya demi memastikan keselamatan dua orang yang terjebak.

 

Sementara itu, di tenda yang lain, Kristin telah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian yang kering. Bersama Cintya, Joel, Bobi, dan Jeki, mereka berenam duduk berkumpul di dalam tenda yang terasa hangat meski di luar masih terus turun hujan.

Kristin menceritakan kembali apa yang dialaminya bersama Ari di tepi jurang. Bagaimana air naik dengan cepat, bagaimana mereka terpaksa merapat ke dinding tebing dan memanjat dengan tenaga terakhir yang tersisa. Suaranya kadang masih bergetar, namun ia mulai bisa bercerita dengan tenang.

Cintya menyandarkan kepala di bahu Kristin pelan, lalu berkata lembut, "Sudah... jangan bersedih lagi. Semua sudah berlalu dan Kak Doni sudah tiba tepat waktu untuk kalian."

Mendengar nama Doni disebut, suasana di dalam tenda seketika menjadi sedikit lebih ringan. Bobi yang sedari tadi diam tiba-tiba tersenyum lebar, lalu dengan wajah serius namun nada bercandaan, ia mencoba menirukan suara dan gaya bicara Doni.

"Mau sampai kapan kalian berdua bengong seperti itu? Apa kalian mengira aku adalah hantu?" Bobi berdiri dengan tegak, lalu menatap tajam ke arah teman-temannya. Dan tiba-tiba dengan suara yang dibuat-buat berat dan tegas, ia berseru, "Lepaskan pelukan kalian!"

Spontan, tawa pun meledak dari mulut mereka berenam. Tawa yang lepas, yang seakan melepaskan seluruh ketegangan dan ketakutan yang tadi menyelimuti hati. Di tengah suara hujan yang masih terdengar dari luar tenda, mereka tertawa bersama, melupakan sejenak rasa takut yang baru saja melanda siang tadi. Segala kepahitan dan kecemasan seakan luruh, berganti dengan kehangatan persahabatan yang menguatkan hati masing-masing jiwa yang masih muda itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!