Selama tiga tahun, Anisa menjadi istri pengganti Galang Gondokusumo—menggantikan posisi cinta pertamanya yang menghilang. Tiga tahun melayani, tiga tahun diabaikan, tiga tahun diperlakukan seperti bayangan orang lain.
Sampai akhirnya, Galang melemparkan surat cerai ke wajahnya.
"Tanda tangani. Sherly sudah kembali."
Malam itu, Anisa ditabrak mobil yang dikirim oleh Sherly Permata—perempuan yang merebut suaminya. Darah membasahi aspal. Galang melintas di lokasi kecelakaan tanpa menoleh.
Dia pikir Anisa sudah mati.
Tapi yang mati malam itu bukan Anisa.
Yang mati adalah **kebohongan**.
Karena benturan itu mengembalikan seluruh ingatannya. Nama aslinya bukan Anisa.
**Namanya Keira Hartono.**
Pewaris tunggal Hartono Group—konglomerat terbesar di Indonesia. Nona besar yang diculik empat tahun lalu dan dianggap hilang selamanya. Perempuan yang dicari oleh sepuluh kakak laki-laki, kakek yang menguasai setengah Jakarta, dan seorang pria misterius yang sudah menunggunya sejak dia berusia satu tahun.
Pria itu bukan Galang.
Pria itu adalah **Rayhan Tanuwijaya**—kepala keluarga Tanuwijaya, penguasa empat keluarga besar Jakarta. Dingin kepada semua orang. Kecuali kepada Keira.
Sekarang Keira kembali. Dengan ingatan yang utuh, identitas yang sesungguhnya, dan daftar panjang orang-orang yang harus membayar.
Sherly Permata? Akan kehilangan segalanya.
Galang Gondokusumo? Akan berlutut memohon.
Dan dunia yang pernah menginjak-injaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Bisik-bisik Surabaya
Surabaya mulai berbisik lebih cepat daripada yang Galang bisa kendalikan.
Awalnya hanya foto malam amal. Lalu muncul kabar baru: perempuan yang datang bersama Bryan Liem terlihat memasuki gedung pertemuan milik Hartono Group di Surabaya. Bukan sebagai tamu biasa. Ia duduk satu meja dengan beberapa direktur senior, sementara mereka menunggu ia bicara sebelum mengambil keputusan.
Seorang rekan bisnis Galang menceritakan itu sambil tertawa kecil di ruang VIP sebuah restoran.
"Aku lihat sendiri," katanya. "Bryan bahkan tidak banyak bicara. Perempuan itu yang memimpin diskusi."
Galang menahan gelas di tangannya. "Siapa namanya?"
"Belum diumumkan. Tapi orang-orang Hartono memanggilnya Nona."
Nona.
Satu kata itu membuat ingatan Galang bergerak ke arah yang tidak ia inginkan.
Bryan pernah berkata, kau bahkan tidak tahu siapa yang pernah tidur di sebelahmu selama tiga tahun.
Engkong pernah berkata, Keira Hartono kembali.
Perempuan di malam amal punya mata yang mirip Anisa.
Galang menaruh gelas tanpa minum. "Kamu yakin dari Hartono?"
"Sangat. Yang duduk di sebelahnya itu direktur legal Hartono Group. Di belakangnya ada pengawal pribadi. Kau tahu sendiri, keluarga Hartono tidak akan menempelkan orang mereka pada perempuan sembarangan."
Rekan lain ikut menimpali, suaranya diturunkan seperti sedang membicarakan rahasia mahal.
"Kemarin di Club Elysium juga ada yang menyebut dia perwakilan muda Hartono. Katanya bukan sekadar staf. Semua orang memanggilnya dengan nada terlalu hormat."
"Nama?"
"Ada yang dengar Keira. Tapi belum pasti."
Nama itu jatuh ke meja seperti batu kecil yang membuat air tenang beriak.
Galang tidak langsung bereaksi. Ia mengambil serbet, mengusap sudut bibir yang sebenarnya tidak kotor. Dalam kepalanya, nama Keira menempel pada mata perempuan malam amal, lalu bertabrakan dengan wajah Anisa saat hujan.
"Keira Hartono?" tanya Galang.
Rekan bisnisnya mengangkat bahu. "Mungkin. Kalau benar, berarti dia cucu kesayangan Engkong Hartono yang hilang itu. Kau tahu sendiri ceritanya. Empat tahun keluarga itu mencari seperti orang gila."
Orang gila.
Galang tiba-tiba teringat Bryan yang duduk di depannya di kafe, matanya dingin saat menyebut Anisa.
Jika Bryan tahu sejak awal...
Jika Hartono tahu...
Jika perempuan itu benar Anisa...
Galang merasakan keringat dingin di punggungnya meski ruangan restoran sejuk.
Percakapan di meja berlanjut, tetapi Galang tidak lagi mendengar.
Malam itu, ia meminta asistennya mengumpulkan semua informasi tentang Keira Hartono.
Hasilnya datang bertahap. Sulit, karena Hartono menutup banyak data pribadi. Namun justru penutupan itu berkata lebih banyak daripada informasi terbuka. Ada catatan lama tentang cucu perempuan Hartono yang hilang empat tahun. Ada foto buram remaja di acara keluarga. Ada potongan berita bisnis yang menyebut Hartono Group tiba-tiba memperkuat kantor Surabaya setelah kabar kepulangan seseorang dari keluarga inti.
Galang duduk sendirian di ruang kerjanya, menatap layar laptop.
Foto remaja itu tidak jelas.
Namun bentuk matanya...
Ia menutup laptop dengan keras.
"Tidak mungkin."
Kata itu keluar untuk ketiga kalinya dalam seminggu, dan setiap kali terdengar lebih lemah.
Ponselnya bergetar. Pesan dari asistennya.
`Pak, ada undangan rapat lintas perusahaan pekan ini. Hartono Group mengirim perwakilan baru. Nama belum dicantumkan di agenda publik.`
Galang menatap pesan itu.
Rapat lintas perusahaan. Hartono Group. Perwakilan baru.
Jantungnya berdetak tidak nyaman.
Ia hampir menolak undangan itu. Lalu egonya, atau mungkin ketakutannya, menahan jarinya di atas layar.
Kalau ia tidak datang, ia akan terus dihantui dugaan.
Kalau ia datang, mungkin semuanya akan runtuh.
Galang membalas singkat.
`Konfirmasi hadir.`
Setelah pesan terkirim, ia duduk lama tanpa bergerak. Di luar jendela restoran, mobil-mobil lewat di bawah cahaya kota. Di antara pantulan kaca, ia seperti melihat wajah Anisa berdiri di belakangnya, basah kuyup, membawa dua koper kecil.
Ia menoleh cepat.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya dirinya sendiri, pucat dan mulai ketakutan.
Di sisi lain Surabaya, bisik-bisik yang sama mencapai telinga Sherly. Temannya mengirim foto gedung Hartono Group dengan lingkaran merah pada sosok perempuan berbaju putih yang masuk bersama Bryan.
`Ini perempuan itu. Katanya orang Hartono. Kamu yakin mau cari masalah?`
Sherly membaca pesan itu dengan tangan dingin.
Orang Hartono.
Kalimat Keira di apartemennya kembali terdengar.
`Kamu memilih orang yang salah untuk dikubur.`
Sherly mematikan layar ponsel, tetapi wajah Keira tetap tinggal di kepalanya.
Sementara itu, Galang membuka kembali laptopnya. Ia memperbesar foto remaja Keira Hartono, lalu meletakkan di sebelah foto malam amal yang dikirim rekannya.
Dua wajah. Tahun berbeda. Satu garis mata yang sama.
Lalu, tanpa sadar, ia mengambil foto lama dari laci. Foto pernikahannya dengan Anisa, salinan yang pernah ia simpan tanpa tahu kenapa.
Tangannya berhenti.
Tiga foto itu berbaris di meja.
Anisa.
Perempuan malam amal.
Keira Hartono.
Udara di ruang kerja terasa habis.
"Tidak mungkin," bisik Galang.
Namun kali ini, suara di dalam kepalanya menjawab lebih dingin.
Bagaimana kalau mungkin?
Ia menatap foto pernikahan itu sampai matanya terasa panas.
"Anisa... bagaimana mungkin kamu..."
Kalimat itu berhenti di tenggorokan.
Galang membuka agenda digital dan menandai rapat lintas perusahaan dengan warna merah. Besok lusa. Pukul sepuluh pagi. Ruang konferensi utama.
Ia menatap jadwal itu lama, lalu kembali pada foto Anisa yang sudah sedikit pudar di sudut.
Untuk pertama kalinya, ia takut datang ke sebuah rapat bisnis.