Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Brummm!
Suara mesin tiga truk tronton berukuran raksasa memecah kesunyian kawasan industri utara Jakarta di pagi hari yang cerah.
Truk-truk besar itu berjalan beriringan masuk ke dalam halaman gudang milik Raka yang gerbangnya sudah terbuka lebar.
Raka berdiri di depan pintu gudang sambil memegang segelas kopi hitam hangat yang ia beli di jalan tadi.
Pintu truk terdepan terbuka dan Bima turun dengan wajah datarnya yang khas mengenakan kacamata hitam.
"Selamat pagi Tuan Raka, semua pesanan bahan bangunan Anda sudah kami bawa sesuai instruksi Nona Sasa."
"Pagi Bang Bima, kalian kerjanya cepat sekali ya rasanya baru semalam saya minta tolong."
Bima memberi isyarat tangan dan belasan kuli panggul langsung turun dari bak truk bersiap bekerja.
"Kami membawa lima ratus sak semen kualitas premium, ratusan batang besi beton ulir, dan puluhan gulung kawat duri tajam."
Bima menunjuk tumpukan barang yang menggunung di dalam bak truk tersebut.
"Semuanya sudah dibayar lunas oleh Nona Sasa, jadi ke mana para kuli ini harus menurunkan barangnya Tuan?"
"Tumpuk saja semuanya di sudut paling ujung gudang sana Bang, susun yang rapi biar tidak makan tempat."
Para kuli itu langsung bekerja dengan cepat memanggul sak semen yang beratnya masing-masing lima puluh kilogram.
Raka memandangi proses bongkar muat itu sambil memikirkan berapa kali ia harus bolak-balik menggunakan sistem gerbangnya.
Kapasitas penyimpanan sistemnya saat ini hanya sepuluh meter kubik yang cukup untuk membawa beberapa ton barang dalam sekali jalan.
Ia harus mengangkut material ini secara bertahap setiap hari ke dunia kuno agar proyek bentengnya tidak kekurangan bahan.
Dua jam kemudian seluruh barang sudah berpindah ke dalam gudang dan truk-truk itu bersiap untuk pergi.
"Tugas kami sudah selesai Tuan Raka, apakah Anda butuh bantuan pengawalan lagi hari ini?" tanya Bima sopan.
"Tidak usah Bang Bima, bilang sama bos cantikmu itu kalau saya mau mengurus proyek pribadi dulu seharian ini."
Bima mengangguk patuh lalu naik kembali ke dalam truk dan memimpin rombongan itu keluar dari kawasan gudang.
Setelah gerbang besi gudang ditutup rapat, Raka berjalan mendekati tumpukan sak semen yang tingginya mencapai tiga meter tersebut.
"Waktunya kerja bakti jadi kuli panggul antar dimensi," keluh Raka meregangkan otot bahunya.
"Buka penyimpanan sistem."
Sring.
Layar biru transparan muncul melayang di depan matanya.
Raka menempelkan kedua tangannya pada tumpukan puluhan sak semen dan besi beton di dekatnya.
"Simpan semua barang yang saya sentuh ini."
Wush.
Puluhan karung semen dan besi panjang itu lenyap dalam sekejap tersedot ke dalam ruang gaib tanpa sisa debu sedikit pun.
[Kapasitas Penyimpanan: 10 Meter Kubik. Terisi: Penuh]
Raka merasa sedikit pusing saat melihat notifikasi kapasitasnya sudah mencapai batas maksimal dalam sekali angkut.
Ia harus segera membuang barang ini di dunia kuno agar bisa mengambil sisa tumpukan yang masih sangat banyak.
Raka merogoh saku jaketnya dan menggenggam erat gagang pintu naga.
"Buka gerbang dunia."
Sring.
Celah cahaya keemasan terbuka merobek udara di dalam gudang yang pengap itu.
Raka melangkah masuk dan membiarkan tubuhnya ditarik oleh lorong waktu lintas dimensi tersebut.
Wush.
Angin hutan yang sejuk langsung menyapa wajah Raka saat ia mendarat di pinggir alun-alun desa dunia kuno.
Pemandangan di depannya kini jauh lebih rapi dibandingkan sisa kebakaran kemarin malam.
Ctak! Ctak!
Terdengar suara pukulan palu kayu dan gesekan gergaji batu dari arah batas desa.
Puluhan bandit gunung yang bertelanjang dada sedang bekerja keras menggali parit dan memotong batang pohon raksasa.
Kaki mereka diikat menggunakan tambang kasar agar tidak bisa lari ke dalam hutan.
Cetar!
"Ayo kerja yang cepat kalian semua anjing gunung! Jangan malas-malasan atau kucambuk lagi punggung kalian!"
Kepala Desa Boris berdiri arogan memegang cambuk rotan sambil mengawasi para bandit itu tanpa belas kasihan.
Warga desa lainnya berjaga di sekitar area menggunakan senjata rampasan dari para bandit tersebut.
Melihat kedatangan Raka yang tiba-tiba muncul dari balik pohon, Boris langsung menjatuhkan cambuknya.
Bruk.
Boris berlutut hingga dahinya menyentuh tanah menyambut dewa pujaan mereka.
"Selamat datang kembali Tuan Dewa Petir! Kami sedang membangun pagar kayu sesuai perintah Anda!" teriak Boris lantang.
Para bandit yang sedang bekerja juga langsung menjatuhkan alat mereka dan ikut bersujud ketakutan.
Mereka masih trauma berat mengingat kilatan petir biru yang menyengat teman-teman mereka sampai mati kemarin.
"Bangunlah Kepala Desa Boris, kumpulkan warga laki-laki yang kuat ke tengah alun-alun sekarang juga."
Raka berjalan santai menuju area tanah lapang yang kosong di tengah desa tersebut.
Boris buru-buru berlari memanggil para pria desa dan membariskan mereka dengan rapi di depan Raka.
Karta yang masih diperban pundaknya juga berjalan tertatih dipapah oleh Lin mendekati kerumunan itu.
"Tuan Dewa Raka sudah kembali, apakah Anda membawa petunjuk baru untuk kami?" sapa Karta menunduk hormat.
"Tentu saja Karta, aku membawa sihir pelindung yang akan membuat desa ini tidak bisa dihancurkan oleh senjata apapun."
Raka mengangkat tangan kanannya ke udara lalu memanggil sistem gaibnya.
"Keluarkan semua semen dan besi beton."
Wush! Bruk! Bruk!
Puluhan karung kertas tebal berisi bubuk semen dan tumpukan besi beton panjang jatuh berdebum dari udara kosong.
Debu abu-abu mengepul tebal membuat beberapa warga terbatuk kaget melihat benda aneh itu.
Mata Boris nyaris keluar dari sarangnya melihat benda panjang lurus berwarna hitam yang berjatuhan itu.
"I-itu logam hitam murni yang sangat lurus dan panjang! Darimana Tuan Dewa bisa memanggil pusaka sebanyak ini?" gagap Boris takjub.
Besi di dunia kuno sangat langka dan biasanya hanya berbentuk pendek tidak beraturan bekas tempaan manual.
Besi beton ulir buatan pabrik yang ukurannya seragam dan panjang belasan meter ini terlihat seperti tongkat dewa perang bagi mereka.
"Itu namanya tulang naga hitam, dan bubuk abu-abu di dalam karung ini adalah debu sihir pembeku wujud."
Raka mengarang nama yang terdengar magis agar orang-orang primitif ini lebih mudah mencerna perintahnya.
Raka berjalan mendekati salah satu karung semen lalu menyobeknya menggunakan pisau lipat.
Sret.
Bubuk semen abu-abu yang sangat halus terlihat di dalam karung tersebut.
"Boris, suruh orang-orangmu membawa ember berisi air sungai dan pasir halus ke mari sekarang juga."
Meski kebingungan setengah mati, Boris langsung memerintahkan warganya untuk berlari mengambil air dan pasir.
Tidak butuh waktu lama, beberapa ember kayu berisi air dan keranjang pasir sudah tersedia di depan Raka.
Raka mencampurkan bubuk semen, pasir, dan air itu di atas selembar papan kayu besar.
Ia mengaduknya menggunakan cangkul batu milik warga hingga campuran itu berubah menjadi lumpur kental berwarna abu-abu.
"Kalian lihat lumpur abu-abu yang lembek ini?" tunjuk Raka pada adonan beton yang baru saja ia buat.
"Itu terlihat seperti lumpur rawa biasa Tuan Dewa, apa fungsinya untuk pertahanan desa kami?" tanya Karta ragu-ragu.
Raka tersenyum misterius lalu mengambil sebuah kerikil dan melemparkannya ke dalam adonan itu hingga tenggelam.
"Lumpur ini sekarang memang lembek dan mudah dihancurkan pakai tangan kosong."
Raka menatap wajah semua orang yang masih penuh tanda tanya di sekelilingnya.
"Tapi besok pagi saat matahari terbit, lumpur ajaib ini akan mengeras menjadi batu karang yang tidak bisa ditebas oleh pedang manapun."
Suara gumaman kaget langsung terdengar bersahut-sahutan dari mulut warga desa dan para bandit pekerja paksa.
Sihir macam apa yang bisa mengubah air lumpur menjadi batu karang dalam waktu satu malam?
"Kalau kita menanamkan tulang naga hitam itu di dalam lumpur ini, kekuatan batunya akan menahan serangan ratusan gajah gila sekalipun."
Raka menunjuk tumpukan besi beton ulir yang tergeletak di tanah.
"Mulai hari ini, buang semua batang pohon kayu lapuk itu dan buat cetakan pagar dari papan kayu."
Raka mulai menggambar sketsa sederhana di atas tanah menggunakan ranting pohon.
Ia menjelaskan cara mengikat besi beton membentuk kerangka dinding lalu mengecornya dengan adonan semen.