NovelToon NovelToon
Pengasuh Manis Sang Direktur

Pengasuh Manis Sang Direktur

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengasuh
Popularitas:827
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.

Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.

Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**

Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.

Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.

Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.

Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26

Keluarga yang Memandang Rendah

Sekar

Sepuluh hari kemudian, Fajar benar-benar datang bersama orang tuanya.

Bu Tumi membersihkan rumah sejak Subuh. Sarung bantal diganti, lantai dipel dua kali, dan meja kecil di ruang depan ditutup kain putih yang hanya dipakai saat Lebaran. Aku membantu membuat teh dan membeli kue, meski berkali-kali mengatakan kunjungan ini tidak perlu dianggap lamaran.

"Mereka datang membawa niat," kata Bu Tumi. "Kita sambut dengan baik. Keputusan tetap milikmu."

Aku mengenakan gamis biru sederhana. Tidak ada kebaya sempit, tidak ada orang yang mengatur tubuhku sebagai pajangan. Namun ketika suara motor berhenti di depan gang, tanganku tetap dingin.

Fajar masuk lebih dulu membawa buah. Di belakangnya, Bu Yanti mengenakan gamis rapi dengan tas kulit, sementara suaminya membawa kotak kue. Mereka mengucapkan salam dan duduk di ruang sempit yang langsung terasa lebih kecil karena tatapan Bu Yanti menyapu setiap sudut.

Awalnya semuanya sopan.

Bu Yanti menyerahkan buah kepada Bu Tumi dan memuji rumah yang bersih. Dia bertanya apakah aku bisa memasak. Ketika kujawab bisa, dia tersenyum seolah jawabanku memenuhi satu kotak kecil dalam daftar. Ayah Fajar memuji teh buatanku, sedangkan Fajar sesekali menyelipkan cerita tentang pekerjaannya agar percakapan tidak terasa seperti wawancara.

"Fajar bilang kamu ingin berdagang," kata ayahnya.

"Masih belajar, Pak. Saya dan teman ingin mulai dari kecil."

"Bagus. Sekarang banyak yang jualan lewat internet."

Aku merasa sedikit lega. Kertas berisi hitungan modal yang kubuat bersama Yuni ada di dalam tas. Aku hampir mengeluarkannya ketika Bu Yanti bertanya apakah usaha itu sudah punya izin, pemasok, dan rekening bisnis. Satu per satu kujawab belum.

"Berarti baru angan-angan," simpulnya.

"Semua usaha dimulai dari rencana, Bu," kata Fajar.

"Rencana harus disesuaikan kemampuan."

Senyumnya tetap ada, tetapi sejak saat itu aku mulai melihat cara matanya menilai. Dia memperhatikan jahitan gamisku, perabot Bu Tumi, bahkan merek biskuit di meja. Kesopanan awalnya bukan penerimaan. Itu pemeriksaan sebelum harga ditentukan.

Bu Tumi menjelaskan bahwa dia bukan keluarga sedarahku, tetapi sudah menganggapku seperti keponakan. Fajar beberapa kali tersenyum memberi semangat. Ayahnya bertanya tentang lalu lintas Surabaya dan harga sewa rumah. Aku mulai percaya pertemuan ini bisa selesai tanpa luka.

Kemudian Bu Yanti meletakkan cangkir.

"Sekar asalnya dari desa mana?"

Aku menyebut daerah dekat Solo.

"Orang tua masih di sana?"

"Bapak masih. Ibu sudah meninggal."

"Bapak kerja apa?"

Fajar bergeser gelisah. "Bu, kita kan sudah bicara..."

"Ibu cuma mengenal calon menantu. Wajar." Bu Yanti menatapku lagi. "Kerja apa, Nak?"

Aku bisa saja berbohong. Namun pernikahan yang dimulai dengan kebohongan akan menjadi rumah lain yang membuatku takut setiap hari.

"Tidak punya pekerjaan tetap, Bu."

"Petani?"

"Bukan."

"Usaha?"

"Tidak."

Setiap jawaban mengikis keramahan di wajahnya.

"Sekolah terakhir?"

"SMP."

Alisnya naik. Suaminya menunduk pada teh.

"Sekarang kerja di mana?"

"Saya bekerja sebagai ART dan mengasuh bayi di Rumah Adiwijaya."

Ruangan hening.

Bu Yanti menatap Fajar seolah putranya baru menyembunyikan utang besar. "Kau bilang dia bekerja di rumah keluarga baik."

"Memang. Saya tidak pernah bilang jabatannya lain."

"Ibu kira administrasi atau pendamping anak."

"Mengasuh anak itu pekerjaan juga, Bu," kata Fajar.

Bu Yanti mengabaikannya. "Sudah berapa lama?"

"Hampir dua bulan."

"Sebelumnya?"

"Membantu orang di desa."

"Jadi tidak ada pengalaman kerja resmi, tidak ada ijazah, dan keluarga juga tidak jelas."

Bu Tumi meletakkan piring sedikit keras. "Sekar anak rajin. Dia sampai Surabaya sendirian dan langsung cari kerja halal."

"Saya tidak bilang dia tidak rajin." Nada Bu Yanti berubah semakin dingin. "Tapi menikah bukan cuma soal rajin."

Fajar mencondongkan tubuh. "Bu, saya yang ingin mengenalnya."

"Kau diam dulu."

Aku mengenali pola itu. Pertanyaan yang tampak seperti rasa ingin tahu, lalu jawaban dijadikan tangga untuk berdiri lebih tinggi dariku.

"Apa Bapakmu punya masalah?" tanya Bu Yanti. "Saya dengar dari orang sekitar Bu Tumi, kau lari karena utang."

Bu Tumi pucat. "Siapa yang bicara begitu?"

"Gang kecil, Bu. Orang tahu." Tatapan Bu Yanti kembali kepadaku. "Benar atau tidak?"

"Utang itu milik Bapak. Saya tidak ikut meminjam."

"Tapi namanya tetap keluarga. Kalau nanti penagih datang ke rumah kami? Kalau mertua harus menanggung malu?"

"Saya tidak meminta siapa pun membayar."

"Masalah tidak selalu meminta izin sebelum ikut masuk."

Kata-kata itu mirip dengan ucapan Pak Suryo, tetapi tanpa keinginan sedikit pun untuk menilai tindakanku sendiri. Hanya asal-usul yang dilihat.

Bu Yanti menarik napas, lalu berkata kepada putranya, "Fajar, bibit, bebet, bobot itu penting. Ibu sudah mengajarimu. Kita bukan orang terkaya, tapi keluarga kita jelas. Ayahmu bekerja puluhan tahun. Kakakmu sarjana. Kau punya masa depan."

"Sekar juga punya masa depan."

"Apa yang bisa dibanggakan dari dia?"

Kalimat itu jatuh tepat di tengah meja.

Aku menunggu Fajar menyebut kerajinanku atau caraku bertahan, lalu sadar betapa menyedihkannya harapan itu. Nilai diriku tidak seharusnya bergantung pada lelaki yang baru dua kali menemuiku. Aku sendiri yang harus menyebutkannya, walau suaraku hampir hilang.

"Saya bisa dibanggakan karena tidak ikut mengambil utang Bapak," kataku. "Karena saat dipaksa menikah untuk membayar utang, saya memilih pergi dan mencari kerja. Saya menjaga anak orang dengan baik. Saya menabung dari gaji halal. Mungkin itu kecil bagi Ibu, tapi saya tidak malu."

Bu Tumi menggenggam tanganku. Fajar menatapku dengan rasa hormat yang justru membuat ibunya semakin tidak suka.

"Perempuan yang baik tidak lari dari orang tua," kata Bu Yanti.

"Perempuan juga tidak wajib menyerahkan hidup kepada ayah yang hendak menjualnya."

Wajahnya menegang. "Mulutmu berani sekali."

"Karena Ibu bertanya apa yang bisa saya banggakan. Keberanian saya termasuk jawabannya."

Fajar berdiri. "Bu, cukup."

"Ibu sedang menyelamatkanmu."

"Dengan menghina orang di rumahnya?"

Bu Tumi ikut berdiri. "Kalau Ibu datang untuk merendahkan Sekar, lebih baik kunjungan selesai."

Bu Yanti tertawa pendek. "Rumahnya? Ini rumah sewaan Bu Tumi. Bahkan tempat menerima keluarga calon suami saja dia menumpang."

Panas naik ke mataku. Aku menggenggam tangan sendiri di pangkuan agar tidak gemetar.

"Bu Yanti benar soal satu hal," kataku. "Saya tidak punya keluarga yang bisa dibanggakan menurut ukuran Ibu. Saya juga belum punya rumah. Tapi saya bekerja, tidak mencuri, dan tidak meminta Mas Fajar menyelamatkan saya."

"Kalau begitu tahu diri."

"Bu!" Fajar memukul telapak ke pahanya. "Saya yang datang. Mbak Sekar sudah menolak sejak awal."

Bu Yanti menoleh tajam. "Dia menolak, tapi tetap duduk menerima kita?"

"Karena saya meminta kesempatan."

"Kau sudah dibutakan perempuan ini."

Aku melihat sesuatu runtuh di wajah Fajar. Dia mungkin berharap ibunya akan lunak setelah mengenalku. Sebaliknya, kebaikannya sendiri dipakai untuk menuduhku.

Ayah Fajar akhirnya bicara. "Sudahlah. Kita pulang."

"Betul," kata Bu Yanti sambil meraih tas. "Cari yang sepadan saja untuk anakku. Tidak perlu memaksakan orang yang bibitnya sudah bermasalah."

Fajar menahan lengan ibunya. "Minta maaf dulu."

"Kepada siapa?"

"Kepada Sekar dan Bu Tumi."

"Kau mau mempermalukan ibumu demi perempuan yang baru dua kali kau temui?"

"Ibu mempermalukan diri sendiri."

Suaminya menarik Fajar ke samping. Suara mereka meninggi. Tetangga mulai muncul di pintu rumah masing-masing. Aku tidak ingin pertemuan yang salah ini menjadi tontonan seluruh gang.

"Mas Fajar," kataku. "Bawa orang tua Mas pulang."

Dia menatapku dengan wajah penuh penyesalan. "Mbak, saya tidak tahu Ibu akan..."

"Saya tahu. Tapi setelah hari ini, saya tidak ingin melanjutkan apa pun. Bukan karena pekerjaan atau keluarga saya. Saya tidak bisa masuk ke rumah yang sejak awal meminta saya malu atas hidup sendiri."

Bu Yanti mendengus. "Seolah kami masih menginginkanmu."

Bu Tumi melangkah maju, tetapi aku memegang tangannya.

"Biarkan, Bu."

Fajar menunduk. "Saya minta maaf."

"Mas tidak melakukan semua ucapan itu. Tapi Mas juga tidak bisa memperbaikinya dengan memaksa saya mencoba lagi."

Dia mengangguk pelan. Lalu dia membantu ayahnya membawa Bu Yanti keluar. Suara perempuan itu masih terdengar di gang, mengeluh bahwa niat baik dibalas penghinaan.

Pintu tertutup.

Bu Tumi langsung memelukku. "Maaf. Ini salahku."

"Bukan salah Bu."

"Aku kira mereka keluarga baik."

"Mungkin Fajar baik. Tapi kebaikan satu orang tidak selalu cukup membuat seluruh rumah aman."

Air mataku jatuh saat mengucapkan kata aman. Aku buru-buru menyekanya. Bu Tumi ingin membawaku duduk, tetapi ruangan itu terasa penuh oleh setiap pertanyaan yang baru saja dilemparkan.

Aku keluar lewat pintu samping dan berjalan ke ujung gang.

Di dekat tembok kosong, kakiku kehilangan tenaga. Aku berjongkok, menutup mulut dengan telapak tangan agar tangisku tidak terdengar tetangga.

Aku sudah tahu Bapak buruk. Aku tahu ijazahku rendah dan pekerjaanku dianggap kecil. Namun mendengar seluruh hidupku dihitung satu per satu, lalu dinyatakan tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan, tetap terasa seperti dicabut dari tanah.

Tangisku tidak bersuara. Bahuku saja yang bergerak.

Aku tidak tahu berapa lama berjongkok di sana. Debu menempel pada ujung gamis, telapak kakiku kebas, dan suara kendaraan dari jalan besar terdengar jauh seperti berasal dari kota lain.

Lalu dari ujung gang terdengar langkah kaki mendekat, cepat dan berat.

Langkah itu berhenti tepat di hadapanku.

Aku mengangkat wajah yang basah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!